Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Lepot dan Semangat Persatuan Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 06 Sep 2026 02:42 Admin NA
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Lepot dan Semangat Persatuan Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca yang saya muliakan. Hari ini, izinkanlah saya, bagaikan seorang punyimbang yang duduk bersila di beranda sembari menyeruput kopi pahit, membawa kita semua menyelami sebuah tradisi yang mungkin sudah jarang terdengar di telinga generasi muda. 
Kita akan berbicara tentang Lepot, makanan sederhana dari beras ketan yang dibungkus daun aren, dan semangat persatuan yang mengiringi pembuatannya. Di balik gulungan daun yang sederhana itu, tersimpan pelajaran berharga tentang bagaimana masyarakat Lampung, baik dari Sai Bumi Ruwa Jurai, Pepadun maupun Saibatin, menjalin kebersamaan dan menjaga harmoni, sebagaimana falsafah luhur yang kita warisi turun-temurun.

Alkisah, di sebuah kampung adat di pesisir barat Lampung, tepatnya di Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, masyarakat masih teguh memegang tradisi Ngelepot Napai. Tradisi ini bukanlah sekadar kegiatan memasak biasa. Ia adalah rangkaian penting dalam upacara adat pernikahan masyarakat Lampung Saibatin, yang dilaksanakan sehari menjelang hari besar tersebut. Para ibu-ibu, remaja putri, bahkan tokoh adat, semuanya terlibat dalam kegotong-royongan membuat lepot dan napai (tape ketan).
Membayangkannya saja sudah hangat: di bawah tenda besar yang dilapisi tikar, puluhan tangan terampil bekerja bersama. Beras ketan yang sudah direndam sejak sehari sebelumnya, dimasak dengan santan kelapa hingga matang, lalu dibungkus rapi dengan daun aren yang telah dibersihkan. 
Bentuknya dibuat memanjang, sekitar sepuluh sentimeter, diikat dengan lidi agar tidak lepas saat dimasak. Ada yang menyebutnya Cupil, bentuknya lonjong dengan ujung runcing seperti tanduk kerbau. Namun, apapun namanya, esensinya sama: makanan ini adalah simbol kebersamaan yang dirajut dari kerja sama banyak orang.

Para ibu di kampung itu memiliki pembagian tugas yang teratur. Ada yang menyiangi daun kelapa muda, ada yang menanak ketan, dan ada pula yang khusus membentuk lepot. Sementara itu, pembuatan napai (tape ketan) biasanya dilakukan terpisah, di tempat lain, dan dikerjakan oleh para ibu yang sudah berpengalaman dalam proses fermentasi. 
Tokoh perempuan senior seperti Suwanah, yang dikenal sebagai "ibu napai" karena keahliannya dalam membuat tape sejak puluhan tahun lalu, menjadi penjaga tradisi dalam hal kualitas rasa dan penyajian makanan.

Di sinilah letak keindahannya. Tradisi Ngelepot Napai adalah wujud nyata dari pilar falsafah Piil Pesenggiri yang paling membumi, yaitu Sakai Sambayan. Falsafah gotong-royong ini mengajarkan bahwa setiap pekerjaan berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama. Dalam tradisi ini, tidak ada pamrih materi. Semua murni karena kebersamaan dan komitmen menjaga adat. 
Peran para ibu dalam kegiatan ini sangat vital. Mereka tidak hanya membuat makanan, tetapi juga menjaga kesinambungan budaya. Pelibatan warga secara luas dalam tradisi ini menunjukkan adanya struktur sosial yang kolektif dan berfungsi baik dalam komunitas.

Nilai Sakai Sambayan ini bukan hanya sekadar kata, melainkan nadi kehidupan masyarakat Lampung. Nilai ini mencakup keikhlasan, kesetiakawanan, kebersamaan, dan gotong royong. Bahkan dalam situasi kritis sekalipun, semangat ini selalu digaungkan untuk menjaga stabilitas dan keamanan bersama. Selain para ibu, dalam tradisi ini juga ada pihak laki-laki yang ikut terlibat, meskipun perannya lebih menonjol di malam harinya, pada acara yang disebut Manjau Kebayan.

Acara ini menjadi ajang para bapak-bapak kampung untuk berkumpul, melihat pengantin, dan ikut serta merayakan dengan menikmati lepot dan napai yang telah dibuat. Bahkan anak-anak dan remaja pun kadang dilibatkan untuk membantu menyiapkan logistik ringan seperti menyapu, membawa air, atau menyusun lepot yang sudah jadi. Ini menunjukkan bahwa tradisi Ngelepot Napai adalah sarana pendidikan sosial lintas usia.
Para tokoh masyarakat atau yang dituakan juga terlibat dalam tradisi ini. Mereka biasanya mengatur jalannya kegiatan, mengawasi proses pembuatan lepot dan napai, dan memastikan semuanya berjalan sesuai adat. Tidak jarang tokoh-tokoh ini juga bertindak sebagai penengah jika terjadi kekeliruan dalam pelaksanaan atau pembagian tugas.

Tokoh seperti Kazeli turut mengarahkan dan mengawasi jalannya tradisi agar tetap berjalan sesuai pakem budaya yang diwariskan.
Lepot juga mengajarkan kita tentang persatuan. Makanan ini hadir dalam Pangan Balak, tradisi makan besar bersama yang biasa digelar saat pesta adat di masyarakat Saibatin. Dalam acara ini, hidangan seperti Gulai Taboh dan Leppot Tapai disajikan di atas nampan bertingkat atau kain panjang yang digelar memanjang, untuk disantap bersama-sama. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang bagaimana duduk bersama, berbagi cerita, dan mempererat tali silaturahmi tanpa memandang status sosial.

Tradisi Pangan Balak menampilkan hidangan khas Lampung yang disajikan dengan cara unik di atas nampan bertingkat, kemudian digelar memanjang untuk dimakan bersama. Hidangan melimpah seperti gulai taboh, lepot, dan lauk pauk, disajikan secara bergotong royong di atas talam (Nukhun Talam) atau kain panjang (Butanjakh) sebagai wujud budaya Mengan Jejama (makan bersama).

Kini, Pemerintah Kabupaten Tanggamus aktif menggelar Festival Pangan Balak sebagai upaya pelestarian budaya dan pangan balak pun saat ini sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda kabupaten Tanggamus.

Hal ini sejalan dengan pilar Piil Pesenggiri lainnya, yaitu Nengah Nyappur, yang mengajarkan keterbukaan dan hidup bermasyarakat. Dengan Nengah Nyappur, masyarakat Lampung diajarkan untuk bergaul, berbaur, dan menjaga kerukunan antar sesama, baik dengan sesama ulun Lampung maupun dengan pendatang dari berbagai suku dan agama. 
Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk saling mengenal dan tolong-menolong, sebagaimana firman Allah:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."  (QS. Al-Hujurat: 13).

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi rujukan utama adat Lampung, terdapat kaidah-kaidah tentang pandangan hidup, nilai-nilai etis, dan norma-norma yang menjadi pedoman bagi masyarakat Lampung, baik Pepadun maupun Saibatin. Kitab yang ditulis sekitar abad ke-17 ini menjadi panutan dalam mengatur kepentingan adat para warga adatnya. 
Salah satu ajaran dalam kitab ini menegaskan: "Jika ada pekerjaan yang baik lekas selesaikan, siapa tahu ada buruknya, perkara buruk sabar-sabarkan siapa tahu ada baiknya. Jika ada benang yang kusut itulah pegangan kaum putri, jika ada sesuatu perkara itulah urusan perwatin, maka diperlakukan adanya hukum Kuntara Raja Niti".

Namun, di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin kuat, tradisi-tradisi lokal menghadapi tantangan besar. Gaya hidup masyarakat yang semakin individualistis, urbanisasi, serta pengaruh budaya luar dapat mengikis nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi dari tradisi tersebut. 
Generasi muda cenderung kurang mengenal bahkan mengabaikan tradisi-tradisi lokal karena dianggap ketinggalan zaman atau tidak relevan dengan kehidupan masa kini. Jika tidak ada upaya pelestarian dan penguatan terhadap tradisi ini, maka bukan tidak mungkin Ngelepot Napai akan perlahan-lahan ditinggalkan, dan bersamaan dengan itu, nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya pun ikut memudar.
Penelitian menunjukkan bahwa individualisme, pengaruh media sosial, dan urbanisasi merupakan faktor utama yang melemahkan penerapan nilai-nilai Piil Pesenggiri di kalangan generasi muda. Selain itu, menurunnya peran keluarga dan kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam pendidikan juga mempercepat degradasi budaya ini.

Oleh karena itu, strategi pelestarian seperti pendidikan budaya, penguatan peran keluarga, revitalisasi tradisi, dan pemanfaatan teknologi digital harus diimplementasikan agar nilai-nilai ini tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Tabik pun, dari kisah sederhana tentang lepot ini, kita bisa memetik pelajaran berharga. Tradisi Ngelepot Napai bukan sekadar warisan kuliner yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebuah simbol tentang bagaimana kebersamaan (Sakai Sambayan) dan keterbukaan (Nengah Nyappur) mampu melahirkan persatuan yang kokoh. Tradisi ini menjadi contoh konkret dari bentuk interaksi sosial yang positif di tengah masyarakat, di mana solidaritas mekanik terbentuk karena kesamaan nilai, norma, dan kegiatan bersama.

Di tengah arus zaman yang kerap memecah belah, mari kita jaga api persatuan ini, sebagaimana para leluhur kita menjaga nyala api di dapur tradisi. Ajak anak-anak muda untuk belajar membuat lepot, kenalkan mereka pada makna filosofis di balik prosesnya. Karena dengan begitu, kita tidak hanya melestarikan cita rasa, tetapi juga merawat marwah adat dan identitas kebangsaan yang berlandaskan gotong-royong dan musyawarah, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan syariat Islam. <>

Daftar Pustaka:
1. Jurnal Sosialitas. (2025). Tradisi Ngelepot Napai sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Lampung Saibatin. 
2. Garuda - Garba Rujukan Digital. (2025). Interaksi Sosial dan Solidaritas dalam Tradisi Ngelepot Napai. 
3. Kemdikbud. (n.d.). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Lampung (Kutipan Kitab Kuntara Raja Niti). 
4. Digilib Unila. (n.d.). Nilai Piil Pesenggiri Sakai Sambayan dan Nemui Nyimah dalam Tradisi Sekura. 
5. RRI. (2026). Pangan Balak, Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Tanggamus. 
6. Jurnal Sosialitas. (2025). Solidaritas Sosial dalam Tradisi Ngelepot Napai. 
7. Publikasi UBL. (n.d.). Kitab Kuntara Raja Niti dan Nilai Mayuh Tiyuh. 
8. Lampung Traveller. (2014). Wisata Kuliner: Lepot Tapai, Kue khas Lampung yang lezat. 
9. Garuda - Kemdiktisaintek. (2025). Penerapan Nilai Piil Pesenggiri bagi Generasi Muda di Era Globalisasi.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 6 = ?
Berita Terkait