Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Keluarga, Benteng Pertama Pelestarian Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 04 Sep 2026 01:05 Admin NA
Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Keluarga, Benteng Pertama Pelestarian Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para penyimbang, keturunan Sai Bumi Ruwa Jurai, serta saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Izinkanlah saya, sebagai salah seorang yang diberikan amanah menjaga marwah adat, bertutur di beranda rumah panggung nan teduh ini. Angin malam berembus membawa wangi kopi tubruk, dan kita akan menyelami sebuah kisah tua, sebuah pengingat bahwa benteng pertama pelestarian adat bukanlah di balai adat, melainkan di ruang keluarga, di antara ibu dan ayah, kakak dan adik, serta petuah yang diwariskan turun-temurun.

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung bernama Buyut Ilir, hiduplah sebuah keluarga kecil dari Marga Buay Manik. Sang ayah, Puyang Suttan Ratu, adalah seorang tetua yang sangat disegani. Setiap malam, setelah seluruh penghuni rumah panggung berkumpul, ia akan memulai cerita. Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan piwulang, ajaran tentang jati diri.

Suatu malam, cucunya yang bernama Balak bertanya, "Puyang, mengapa kita selalu harus berbicara dengan bahasa Lampung di rumah? Di sekolah, teman-teman menggunakan bahasa Indonesia dan kadang bahasa gaul." Puyang Suttan Ratu tersenyum, lalu menunjuk ke arah sebuah lesung tua di sudut rumah. "Nak Balak, lihatlah lesung itu. Ia digunakan bertahun-tahun untuk menumbuk padi. Kini ia tua dan jarang dipakai, namun adakah yang bisa menggantikan fungsi dan bentuknya? Lidah adalah lesung bagi budaya. Jika kita berhenti menggunakannya, maka rusaklah ia, dan hilanglah rasa masakan yang kita sebut sebagai way atau seughano."

Puyang Suttan Ratu kemudian memulai sebuah cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Ia bercerita tentang Ting Gegenting, sebuah legenda yang mengajarkan kesabaran dan ketabahan. "Dahulu," katanya, "hiduplah seorang ibu dan anaknya. Sang anak terus merengek, 'Ting gegenting, perutku sudah genting, kelaparan ingin makan'. Sang ibu, dengan sabar, menjelaskan proses dari membersihkan ladang hingga menanak nasi. Anak itu akhirnya tertidur lelap dan tak terbangun lagi karena terlalu lemah menahan lapar. Kisah ini, nak, mengajarkan kita dua hal: kesabaran yang tak bertepi, dan pentingnya kerja keras yang diwariskan leluhur. Itulah bagian dari Piil Pesenggiri, harga diri kita untuk tidak mudah menyerah," jelasnya.

Dari cerita sederhana itulah, benih cinta pada adat mulai tertanam. Puyang Suttan Ratu tidak sekadar bercerita; ia mengajak seluruh keluarganya untuk menghidupi falsafah hidup orang Lampung. Ketika ada tamu datang, sekalipun hanya tetangga sebelah, keluarga itu menunjukkan Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Anak-anak diajari untuk menyapa dan melayani tamu dengan tulus, bukan karena pura-pura, melainkan karena itulah cermin pesenggiri keluarga.
Mereka juga mengamalkan Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi.

Setiap kali ada hajatan di kampung, sekalipun itu perayaan dari marga lain, keluarga ini selalu turun tangan. Mereka tak pernah sungkan untuk ikut serta dalam Sakai Sambayan, gotong-royong, memperbaiki atap rumah tetangga atau menyiapkan hidangan untuk pesta pernikahan yang diadakan tujuh hari tujuh malam. Bagi mereka, gotong-royong adalah wujud nyata bahwa seorang manusia Lampung tidak bisa hidup sendirian; ia adalah bagian dari Buway (perkampungan besar) dan marga yang lebih luas.

Jika ditilik dari sejarahnya, masyarakat Lampung yang dikenal dengan Sai Bumi Ruwa Jurai, berasal dari dua sistem adat besar, Saibatin dan Pepadun. Menurut catatan adat yang bersumber dari naskah kuno, asal muasal marga-marga Lampung, seperti Abung Siwo Mego, Pubian Telu Suku, dan Buay Lima Way Kanan, dapat ditelusuri hingga ke zaman Kerajaan Sekala Brak di sekitar Danau Ranau. Dalam sebuah manuskrip tua yang dijaga oleh para Punyimbang, disebutkan sebuah petuah yang sangat terkenal, "Lamban balak tempat mufakat, lamban kecil tempat sepakat". Artinya, rumah besar adalah tempat bermusyawarah, dan rumah kecil adalah tempat untuk mencapai kesepakatan. Ini menunjukkan bahwa tatanan rumah tangga (keluarga) adalah miniatur dari tatanan masyarakat (marga). Dari sanalah keputusan-keputusan besar diambil, dimulai dari musyawarah di ruang tengah rumah panggung.
Keluarga juga menjadi benteng pertama dalam pemberian gelar adat atau Bejuluk Beadek. Bukan sekadar nama, gelar adalah simbol tanggung jawab sosial dan spiritual. Gelar seperti "Khadin Mas Narapati Jaya Pamungkas" yang disematkan kepada mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kebijaksanaan, merupakan buah dari proses panjang yang dimulai dari pendidikan keluarga. Tradisi Angkon Muakhi (mengangkat saudara) pun memperkuat ikatan ini, memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar adat yang mengikat batin dan komitmen sosial.

Sangat penting untuk kita pahami, bahwa semua tradisi ini tidak pernah bertentangan dengan Islam. Justru, nilai-nilai adat menjadi pembungkus yang memperindah syariat. Dalam setiap upacara adat seperti Begawi, prosesi yang dijalankan sarat dengan nuansa keislaman, mulai dari doa bersama, tahlilan, hingga syukuran. Bahkan, falsafah Piil Pesenggiri sejalan dengan ajaran Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) ketika Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada keistimewaan seorang Arab atas non-Arab selain karena ketakwaan. Inilah ruhnya. Nemui Nyimah dan Sakai Sambayan adalah manifestasi dari perintah untuk saling mengenal dan tolong-menolong. Tidak ada dikotomi; ber-adat adalah bagian dari beribadah kepada Allah selama tidak menyekutukan-Nya.

Bagi kami, menjaga adat adalah menjaga amanah leluhur yang juga selaras dengan fitrah.
Nilai-nilai ini juga merupakan cerminan dari Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kita wujudkan dengan doa bersama. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terpancar dalam Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur. Sila Persatuan Indonesia, kita amalkan melalui Sakai Sambayan dan Bejuluk Beadek yang mengikat persaudaraan lintas golongan. Bahkan dalam acara-acara seperti tahlilan yang akrab bagi masyarakat Lampung, nilai-nilai persatuan dan musyawarah sangat kental terasa. Adat dan agama serta negara adalah tiga pilar yang menopang sendi kehidupan kami, Sai Bumi Ruwa Jurai.

Maka, tabik pun, saudara-saudaraku. Kembalikanlah fungsi rumah sebagai pusat pendidikan adat.

Ceritakanlah kisah "Ting Gegenting" kepada anak cucu. Ajarkan mereka arti Bejuluk Beadek. Biarkan lidah mereka fasih mengucapkan bahasa Lampung, karena di sanalah nyawa adat berdetak. Biarkan mereka melihat ibu dan ayah saling tolong-menolong (sakai sambayan) tanpa pamrih. Sebab, jika benteng keluarga runtuh, maka siaplah menyaksikan kabut melupakan asal-usul. Dan jika kita melupakan asal-usul, maka seperti kata pepatah, "cacing pun akan kembali ke tanahnya." Marwah kita, identitas kita, dan iman kita, dijaga dari rumah. Nyang (Semoga) Allah memberkati langkah kita semua. <>

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 5 = ?
Berita Terkait