Omong Kosong Pelestarian Pemerintah Sibuk Bangun Mall, Membiarkan Rumah Adat Runtuh dan Tarian Punah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 02 Sep 2026 00:21 Admin NA
Omong Kosong Pelestarian Pemerintah Sibuk Bangun Mall, Membiarkan Rumah Adat Runtuh dan Tarian Punah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, sanak sekalian.
Izinkan saya, sebagai seorang punyimbang yang sudah menghabiskan enam puluh tahun lebih di tanah kelahiran ini, bercerita tentang negeri kita tercinta. Sai Bumi Ruwa Jurai. Tanah yang subur, kaya akan hasil bumi, dan lebih kaya lagi akan adat dan budayanya. Tapi kini, tanah itu mulai kehilangan denyutnya. Seperti seorang tua yang perlahan kehilangan penglihatan dan pendengarannya.

Di sebuah kampung di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang Punyimbang tua bernama Sutan Ratu Nata. Setiap senja, tanpa pernah absen, beliau duduk di beranda rumah panggungnya. Pandangannya tertuju ke kejauhan, ke arah Rumah Sesat, rumah adat tempat para tetua bermusyawarah sejak zaman nenek moyang, sejak sebelum penjajah Belanda menginjakkan kaki di tanah Lampung.
Dulu, Rumah Sesat itu ramai seperti pasar. Di bawah naungan tiga payung adat, putih di untuk tingkat marga, kuning untuk tingkat kampung, dan merah untuk tingkat suku, berkumpullah seluruh warga. Mereka duduk bersila, menghadap para punyimbang, membicarakan segala hal. Dari soal panen padi yang akan tiba, hingga upacara begawi yang akan digelar. Dari soal sengketa tanah antarwarga, hingga persiapan menyambut tamu kehormatan.
"Di sinilah kami belajar menjadi orang Lampung sejati," kenang Sutan Ratu Nata sambil mengusap lantai beranda yang mulai lapuk. "Di sinilah kami diajari Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan. Di sinilah kami mengenal Juluk-Adok sebagai tanggung jawab, bukan sekadar gelar kosong."
Kini, Rumah Sesat itu sepi. Sunyi. Atapnya bocor di sana-sini. Tiang-tiang kayu ulin yang dulu kokoh berdiri kini dimakan rayap. Hiasan ukiran khas Lampung yang dulu menghiasi dinding mulai pudar dan terkelupas. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang datang memperbaiki.
Sutan Ratu Nata menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Tabik puun," katanya pelan, hanya pada angin senja yang berbisik, "mengapa kita lebih sibuk membangun mal daripada merawat rumah adat? Mengapa anak-anak kita lebih hafal lagu Korea daripada tarian Jangget? Mengapa kita begitu mudah melupakan siapa kita sebenarnya?"

Tiga bulan yang lalu, Pak Gubernur datang ke kampung. Bukan dengan rombongan kecil, tapi dengan iring-iringan mobil mewah yang berderet sepanjang jalan kampung. Puluhan petugas keamanan berjaga-jaga. Spanduk-spanduk besar terpasang di mana-mana: "Lampung Berbudaya, Lampung Bermartabat."
Sebuah panggung megah didirikan khusus untuk acara itu. Biayanya, kata orang, cukup untuk memperbaiki tiga Rumah Sesat sekaligus. Tapi tidak ada yang berani bersuara.
Pawai budaya digelar meriah. Puluhan penari dengan busana adat lengkap menari di sepanjang jalan. Tari Jangget yang anggun, Tari Melinting yang dinamis, Tari Bedana yang penuh makna, semua ditampilkan. Anak-anak kampung berteriak kegirangan. Mereka tidak tahu bahwa ini hanya sandiwara.
"Saya berkomitmen melestarikan budaya Lampung!" seru Pak Gubernur dari atas panggung, dengan suara yang menggelegar melalui pengeras suara. Tangannya melambai-lambai ke arah kerumunan. Kamera televisi merekam setiap sudut. "Kita akan bangun museum budaya di setiap kabupaten! Kita akan revitalisasi tarian tradisional! Kita akan masukkan muatan lokal budaya Lampung ke dalam kurikulum sekolah!"
"Saya tidak akan tinggal diam melihat anak cucu kita kehilangan jati diri!" tambahnya, dengan air mata yang tampak sengaja ditahan.

Warga bertepuk tangan. Ada yang bersorak. Ada yang menangis haru.
Sutan Ratu Nata hanya diam. Beliau sudah terlalu sering mendengar janji serupa. Dari gubernur sebelumnya. Dari bupati sebelumnya. Dari camat sebelumnya. Semua berjanji. Semua berpidato. Semua tampak peduli. Tapi setelah panggung dibongkar dan rombongan pulang ke kota, semuanya lenyap seperti embun pagi.
Beliau teringat pada kitab warahan yang disimpan di rumahnya, ditulis tangan oleh kakek buyutnya. 
Di sana tertulis sebuah petuah: "Cakak pepadun, sekala bekukhu, mak pesikhing sanak, mak jelma kebuayan, tiyuh bepanggah, pusako bepuni."
Artinya: "Berdiri tegak di atas pepadun (singgasana adat), menaiki tangga kehormatan, jangan memutus silaturahmi dengan sanak saudara, jangan menghilangkan jati diri sebagai manusia, kampung harus kokoh, pusaka harus terjaga."
Sutan Ratu Nata menggelengkan kepala. "Di atas pepadun, seorang pemimpin seharusnya menjaga pusaka, bukan hanya berbicara," gumamnya. "Pepadun bukanlah panggung hiburan. Pepadun adalah simbol tanggung jawab."

Beberapa hari setelah acara besar itu, Sutan Ratu Nata bersama tiga orang tetua adat lainnya, Mpu Sakti, Ratu Mas, dan Haji Sulaiman, meminta audiensi ke kantor gubernur di pusat kota. Mereka membawa surat resmi dari marga, lengkap dengan stempel adat dan tanda tangan para tetua.
Dengan sopan, Sutan Ratu Nata membuka percakapan.
"Tabik puun, Pak Gubernur," katanya dengan suara lembut namun tegas. "Maaf kami mengganggu kesibukan Bapak. Kami datang dengan maksud yang mulia, yaitu menyelamatkan apa yang tersisa dari warisan leluhur kita."
Beliau mengeluarkan foto-foto Rumah Sesat yang mulai ambruk. Tiang miring. Atap bocor. Ukiran pudar.
"Rumah Sesat di kampung kami sudah hampir roboh, Pak," lanjutnya. "Tiang-tiangnya dimakan rayap. Atapnya bocor di mana-mana. Jika hujan deras, air masuk ke dalam. Kami tidak bisa lagi bermusyawarah di sana. Anak-anak muda tidak lagi mengenal bentuk rumah adat mereka sendiri. Kami mohon bantuan dana untuk perbaikan. Bukan untuk yang mewah-mewah, hanya untuk yang darurat saja."

Sekretaris gubernur, yang duduk di samping, langsung mengambil alih pembicaraan. Dengan senyum manis yang terlatih, ia berkata, "Maaf, Pak Sutan. Kami sangat memahami keprihatinan Bapak. Namun, kami harus jujur. Anggaran daerah kita sangat terbatas. Saat ini, prioritas pembangunan kami adalah infrastruktur dan pusat perbelanjaan. Itu untuk meningkatkan perekonomian rakyat."
"Tapi, Pak, " potong Ratu Mas.
"Kami paham, Bu," potong sekretaris lagi. "Kami juga mencintai budaya. Tapi tidak ada dana. Mungkin tahun depan kita bicarakan lagi."
Alasan yang sama. Lagi dan lagi. Selalu tidak ada dana.
Sementara itu, di pusat kota, tiga mal baru diresmikan dalam waktu bersamaan. Lampu-lampu neon berkelap-kelip. Eskalator naik turun mengangkut orang-orang yang berbelanja. Di dalam mal, tidak ada satu sudut pun yang mengingatkan pada budaya Lampung. Semua serba modern. Serba global. Serba asing.

Dan di kampung halaman, Rumah Sesat terus runtuh. Perlahan. Pasti.
Di kampung sebelah, Ibu Rasmini, seorang guru tari berusia lima puluh tahun, mengalami hal yang tak kalah menyedihkan. Setiap minggu, ia mengajar anak-anak di balai desa menarikan Tari Bedana. Tarian yang gerakannya lembut dan penuh makna ini sebenarnya mengandung nilai-nilai keislaman yang kuat, tarian ini menjadi media dakwah sejak zaman penyebaran Islam di Lampung. Tidak ada gerakan yang bertentangan dengan syariat. Semua halal. Semua baik. Tapi muridnya makin sedikit.
"Bu, kenapa kita harus belajar tarian ini?" tanya seorang murid. "Kan di YouTube ada tarian Korea yang lebih keren."
"Bu, tari Bedana itu kuno," kata murid lain.
Ibu Rasmini tersenyum getir. Di rumahnya, lemari berisi koleksi buku-buku tentang budaya Lampung. Ada yang sudah berdebu, bahkan ada yang dimakan tikus. Ia pernah mengusulkan pembuatan buku pelajaran budaya Lampung untuk sekolah-sekolah. 
Namun, Dinas Pendidikan mengatakan "tidak ada anggaran." Dinas Perpustakaan juga mengeluhkan hal yang sama: buku-buku tentang budaya Lampung tidak pernah dicetak ulang. Yang ada hanya buku usang dengan sampul robek.
"Anak-anak," ucap Ibu Rasmini dengan sabar, "tarian ini mengajarkan silaturahmi. Dulu, Tari Bedana menjadi media pertemuan pemuda-pemudi antar kampung. Mereka saling mengenal, saling menghormati, dan akhirnya banyak yang menikah karena perkenalan di acara tari ini. Tari Bedana bukan sekadar hiburan. Ini adalah identitas kita."

Beberapa waktu lalu, pemerintah mengeluarkan instruksi yang disebut "Hari Kamis Beradat." Semua ASN dan lembaga pendidikan diwajibkan menggunakan busana adat dan berbahasa Lampung setiap hari Kamis.
Di media sosial, berita ini dirayakan sebagai "bukti nyata" kepedulian pemerintah.
"Lihat! Pemerintah kita serius melestarikan budaya!" komentar salah satu pengguna Facebook.
"Luar biasa! Lampung bangkit kembali!" sahut yang lain.
Sutan Ratu Nata hanya tersenyum miring. Beliau bertanya-tanya: apakah semua ASN di Lampung bisa berbahasa Lampung dengan lancar? Berapa banyak dari mereka yang pernah belajar? Di mana pelatihannya? Di mana modul belajarnya?
Ternyata, sebagian besar ASN hanya mengikuti instruksi secara formalitas. Di hari Kamis, mereka memakai kain tapis atau kebaya, lalu berbicara bahasa Indonesia seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar menggunakan bahasa Lampung. Tidak ada pelatihan khusus. Tidak ada pengayaan materi.
"Kebijakan tanpa implementasi," kata Sutan Ratu Nata pada suatu malam dalam pertemuan adat. "Seperti membangun atap tanpa tiang. Seperti memasang ukiran tanpa rumah. Bagus dilihat, tapi tidak ada gunanya."
Beliau juga prihatin karena kebijakan ini hanya menyasar pemerintah dan sekolah, sementara masyarakat luas tidak disentuh sama sekali. Para petani, nelayan, pedagang di pasar, mereka tidak pernah mendengar tentang "Hari Kamis Beradat." Padahal, kebudayaan tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat, bukan dari instruksi dari atas.

Seorang pengamat budaya yang sering berkunjung ke kampung Sutan Ratu Nata pernah berkata, "Pak Sutan, Lampung ini kaya akan warisan budaya. Tradisi lisan, struktur keratuan, upacara adat yang unik, semua itu bisa menjadi kebanggaan nasional. Tapi tanpa dukungan struktural dan kelembagaan yang sungguh-sungguh dari pemerintah, semua hanya akan menjadi kenangan."
Sutan Ratu Nata mengangguk. Beliau teringat bait lain dari kitab warahan: "Sai bumi ruwa jurai, jama mak peghibak, tiyuh bepanggah, gham bepaksa."
(Masyarakat Lampung dari dua keturunan, Pepadun dan Saibatin, jika tidak diperhatikan, kampung akan kehilangan pijakan, dan kita akan kehilangan harga diri).

Seiring waktu, kelima falsafah hidup orang Lampung, yang disebut Piil Pesenggiri, mulai memudar dari ingatan generasi muda. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena tidak ada yang mengajarkan. Tidak ada kurikulum. Tidak ada kegiatan. Tidak ada teladan.
Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Di mana pesenggiri seorang pemimpin yang membiarkan rumah adatnya roboh? Di mana pesenggiri seorang pejabat yang hanya pandai berpidato tetapi tidak pernah bertindak?
Juluk-Adok, gelar kehormatan. Gelar bukan sekadar hiasan. Bukan sekadar yang membuat nama terdengar lebih mulia. Juluk-Adok adalah tanggung jawab. Setiap gelar yang disandang harus dipertanggungjawabkan dengan perbuatan nyata. Jika gelar "Sutan" disandang, jagalah adat. Jika gelar "Ratu" disandang, lindungilah rakyat.
Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Orang Lampung dikenal ramah. Tapi keramahan tanpa perhatian terhadap budaya hanya akan menjadi kepura-puraan. Apa gunanya ramah kepada tamu dari luar, sementara rumah adat sendiri dibiarkan mati?
Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi. Keterbukaan terhadap dunia luar memang penting. Namun, tidak berarti melupakan jati diri. Keterbukaan harus dibarengi dengan keteguhan identitas.
Sakai Sambayan, gotong-royong. Inilah yang paling menyedihkan. Semangat gotong-royong yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Lampung kini mulai luntur. Orang-orang lebih sibuk di mal, sibuk di ponsel, sibuk dengan urusan masing-masing. Padahal, Sakai Sambayan mengajarkan bahwa pembangunan adalah tanggung jawab bersama.

Hari itu, senja turun lebih cepat dari biasanya. Sutan Ratu Nata duduk di beranda, ditemani cucu kesayangannya yang baru pulang dari kota.
"Kek, kenapa di kota banyak mal?" tanya cucunya polos.
"Karena pemerintah ingin rakyatnya senang," jawab Sutan Ratu Nata.
"Terus kenapa Rumah Sesat tidak diperbaiki, Kek?"
Sutan Ratu Nata terdiam. Pertanyaan sederhana dari seorang anak kecil sering kali menjadi pertanyaan paling sulit untuk dijawab.
"Karena... pemerintah bilang tidak ada dana, Nak," jawabnya akhirnya.
"Tapi kan ada dana untuk mal, Kek?"
Sutan Ratu Nata mengusap kepala cucunya. "Kadang, orang dewasa lupa apa yang benar-benar penting, Nak. Mereka sibuk mengejar yang terlihat mewah, tapi melupakan yang berharga."

Di kejauhan, Rumah Sesat itu masih berdiri, meskipun miring. Mungkin besok, lusa, atau tahun depan, rumah itu akan benar-benar roboh. Tapi Sutan Ratu Nata tidak kehilangan harapan.
"Tabik puun," katanya pada angin senja. "Laporan yang tidak ditindaklanjuti adalah omong kosong. Pidato tanpa aksi adalah omong kosong. Janji tanpa realisasi adalah omong kosong. Mari kita bangun kembali dengan Sakai Sambayan. Karena jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?"
Dan dalam kitab warahan, tertulis penutup yang menjadi pesan terakhirnya: "Sai bumi ruwa jurai, iwa peghibak, gham bepaksa, mak paghi lamban, ghik mak paghi suluh."
(Masyarakat Lampung dari dua keturunan, jika diperhatikan dan dijaga, kita akan kembali tegak berdiri, tidak akan kehilangan rumah, dan tidak akan kehilangan cahaya).
Wallahu a'lam bisshawab. Tabik puun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 5 = ?
Berita Terkait