Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Sekolah sebagai Ruang Pewarisan Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 03 Sep 2026 00:34 Admin NA
Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Sekolah sebagai Ruang Pewarisan Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Izinkan saya, sebagai seorang yang diberikan amanat untuk menjaga marwah adat, membawa kalian menyusuri jejak kampung halaman. 
Bukan dengan bahasa yang kaku, melainkan dengan tutur yang hangat, seperti kita duduk bersama di beranda. Hari ini, kita akan bercerita tentang bagaimana sekolah, yang kita pikir hanya tempat belajar angka dan huruf, sejatinya adalah benteng terakhir yang menyimpan api budaya Lampung. Mari kita mulai.

Di sebuah kampung tua di lereng Gunung Pesagi, hiduplah seorang gadis bernama Genta. Ia cerdas, namun perlahan ia merasa asing dengan gelar Juluk-Adok yang disandang ayahnya. “Untuk apa gelar pusaka itu di sekolah?” tanyanya suatu sore. Sang ayah, seorang Punyimbang bijak, hanya tersenyum. Ia lalu membawa Genta ke sebuah ruangan di sekolah kampung, tempat tersimpan naskah Kuntara Raja Niti salinan. “Inilah kitab hukum kita,” katanya sambil membuka lembaran lontar. “Di sini tertulis, ‘Ulun Lampung wat piil-pusanggikhi…’, yang artinya orang Lampung harus memiliki harga diri, gelar, keramahan, pergaulan, dan gotong royong. Sekolah adalah tempat kita menghidupkannya kembali.”

Kisah Genta bukanlah dongeng. Ia adalah cermin dari banyak anak muda kita. Padahal, di dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, yang merupakan salah satu puncak peradaban hukum adat, tersimpan falsafah yang sempurna. Di dalamnya terdapat falsafah Piil Pesenggiri, yang menjadi pilar identitas. 
Pesenggiri bukan sekadar gengsi, melainkan harga diri yang terpancar dari perilaku terpuji. Ini selaras dengan ajaran Islam tentang menjaga kehormatan diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Harga diri dalam Pesenggiri adalah cerminan takwa dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, ada Juluk-Adok, gelar adat. Ini bukanlah sekadar nama, melainkan tanggung jawab. Ketika seorang anak didik menyandang gelar, ia diingatkan untuk berperilaku sesuai dengan marwah gelar tersebut. Di sinilah sekolah berperan menjadi ruang pewarisan, mengajarkan bahwa gelar adalah amanat, bukan kebanggaan semu. Dalam konteks nasional, ini adalah cerminan nilai Pancasila, terutama sila kedua dan ketiga, tentang kemanusiaan yang adil dan persatuan. Falsafah ini secara natural menyatu dengan identitas kebangsaan kita.
Sekolah, melalui muatan lokal atau ekstrakurikuler, menjadi wadah untuk mengajarkan Nemui Nyimah (keramahan) dan Nengah Nyappur (keterbukaan). Di sini, anak-anak belajar untuk menyambut tamu dan perbedaan dengan lapang dada. Ini sejalan dengan nilai sila ke-3 Pancasila dan ajaran Islam tentang ukhuwah (persaudaraan). 
Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk saling mengunjungi dan memuliakan tamu. Nilai Sakai Sambayan atau gotong-royong juga diajarkan melalui kerja bakti di sekolah. Bukan sekadar membersihkan kelas, melainkan menanamkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan.

Jika kita telaah lebih dalam, falsafah hidup orang Lampung yang tercantum dalam Kuntara Raja Niti sejatinya adalah manifestasi dari syariat Islam dan pilar ideologi Pancasila. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang diajarkan di sekolah adalah napas dari Piil Pesenggiri. 
Ingatlah petuah Dalom Putekha Jaya Makhga, bahwa pangkal dari semua gelar dan harta adalah tutur kata yang santun. Kesantunan itu diajarkan di sekolah, di rumah, dan di tempat ibadah. Sekolah menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan akar budayanya, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Kembali ke kisah Genta. Sejak malam itu, ia dan teman-temannya mulai mendokumentasikan cerita rakyat, belajar Aksara Lampung, dan menampilkan tarian adat di pentas sekolah. Mereka tidak kehilangan identitas, justru menemukan jati diri. Mereka paham, bahwa memahami adat Lampung bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memiliki bekal untuk melangkah dengan percaya diri.

Marwah adat berdiri tegak bukan di atas batu, melainkan di dalam sanubari generasi penerus yang diajarkan melalui ruang-ruang belajar. Di sanalah, di dalam ruang kelas dan di bawah pohon rindang halaman sekolah, api budaya Lampung terus menyala, menerangi jalan menuju masa depan yang berakhlak dan bermartabat. <>

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 2 = ?
Berita Terkait