Seri Buku: Sai Bumi Ruwa Jurai, Harmoni Adat, Islam, dan Kebhinekaan. BUKU SERI 6: Kebhinekaan dan Kehidupan Harmonis. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 30 Aug 2026 00:38 Admin NA
Seri Buku:  Sai Bumi Ruwa Jurai, Harmoni Adat, Islam, dan Kebhinekaan. BUKU SERI 6: Kebhinekaan dan Kehidupan Harmonis. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, para penyimbang, para sesepuh, dan hadirin nan budiman.
Dahulu kala, di kaki Gunung Pesagi, hiduplah dua orang sahabat. Yang satu berasal dari suku Tumi, penghuni awal Bukit Pesagi yang masih menganut kepercayaan leluhur. Yang lainnya adalah putra seorang saudagar dari seberang yang datang membawa rempah dan ajaran baru. Meskipun berbeda asal, mereka tumbuh bersama, saling belajar bahasa dan adat. Pada suatu hari, mereka berjanji untuk saling melindungi, sebuah ikatan yang kemudian disebut Mewarei. Konon, dari persahabatan inilah lahir semboyan Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai, yang hingga kini menjadi identitas Lampung.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa sejak zaman leluhur, Bumi Lampung telah menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa. Perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan kekayaan yang patut disyukuri. Inilah yang akan kita telusuri bersama dalam seri kali ini: bagaimana kearifan lokal Lampung menjaga kerukunan dan kebhinekaan.

1. Bumi Lampung: Rumah bagi Semua
Sai Bumi Ruwa Jurai sebagai Simbol Persatuan
Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai, adalah semboyan yang melekat erat dengan identitas Provinsi Lampung. Semboyan ini mengandung dua makna penting. Pertama, melambangkan dua sistem adat yang hidup berdampingan: Pepadun di pedalaman dan Saibatin di pesisir. Kedua, menggambarkan keberadaan dua golongan masyarakat: penduduk asli Lampung dan para pendatang dari berbagai daerah di Nusantara.
Sebagaimana siger menjadi simbol pemersatu masyarakat Lampung, bentuk, warna, dan hiasannya menyiratkan persatuan antar suku dan sub-suku.

Siger tidak hanya menjadi mahkota kebesaran, tetapi juga sarana propaganda untuk mewujudkan integrasi. Melalui siger, masyarakat Pepadun dan Saibatin terikat oleh persamaan kebudayaan, silsilah, dan rasa senasib sepenanggungan.
Masyarakat Pendatang dan Penduduk Asli
Lampung adalah provinsi dengan masyarakat yang sangat multikultural. Sejak masa Kerajaan Sekala Brak, wilayah ini telah menjadi tempat singgah dan bermukim bagi berbagai bangsa, para saudagar Bugis, ulama Minangkabau, hingga pedagang Banten.

Masuknya para pendatang tidak pernah menjadi sumber konflik. Sebaliknya, masyarakat Lampung menyambut mereka dengan tangan terbuka melalui tradisi Mewarei, pengangkatan saudara dengan orang luar yang sebelumnya tidak memiliki ikatan darah. Tradisi ini pertama kali dilakukan pada abad ke-16 antara Keratuan Darah Putih dengan Kesultanan Banten, awalnya untuk kepentingan perdagangan rempah. Namun seiring waktu, Mewarei berkembang menjadi perekat persaudaraan yang kokoh.

Keberagaman Etnis, Agama, dan Budaya.
Provinsi Lampung kini dihuni oleh beragam etnis, Lampung, Jawa, Sunda, Bali, Bugis, dan lainnya, dengan agama yang beragam pula. Namun kerukunan tetap terjaga. Menurut para sesepuh, kunci kerukunan ini terletak pada falsafah Piil Pesenggiri yang mengajarkan sikap saling menghargai. Nilai muakhi, persaudaraan dalam bertetangga, menjadi landasan etika sosial yang kuat, sehingga masyarakat Lampung mampu membangun kerukunan dalam perbedaan.

2. Kearifan Lokal dalam Menjaga Kerukunan
Toleransi Antarmarga dan Antaragama
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, kitab hukum adat Lampung yang ditulis sekitar abad ke-17, termuat aturan tentang Mayuh Tiyuh, sepuluh hal yang harus dihindari oleh sebuah negeri. Salah satunya adalah "punyimbang lom tiyuh mak sai tungkul", artinya, dalam sebuah kampung tidak boleh ada pemuka adat yang bertindak sewenang-wenang. Kitab ini mengajarkan bahwa setiap pemimpin wajib bersikap adil terhadap semua warganya, tanpa memandang marga atau agama. Dengan demikian, toleransi bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban adat.

Integrasi Sosial melalui Tradisi Adat.

Tradisi adat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok. Hippun, misalnya, adalah forum musyawarah yang melibatkan seluruh warga, tanpa membedakan asal-usul. Dalam Hippun, setiap orang berhak menyampaikan pendapat sebelum keputusan diambil secara mufakat. Proses ini mengajarkan nilai demokrasi yang telah lama hidup di Bumi Lampung, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Mewarei dan Sakai Sambayan sebagai Perekai Sosial
Mewarei, persaudaraan tanpa ikatan darah, dan Sakai Sambayan, gotong royong, adalah dua pilar utama perekat sosial masyarakat Lampung.
Mewarei difungsikan sebagai pembangun persatuan daerah dan bangsa, sehingga terhindar dari konflik pemecah belah. Sementara Sakai Sambayan mengajarkan tolong-menolong dalam segala hal, dari membangun rumah hingga menggelar pesta adat. Kedua nilai ini tidak bertentangan dengan Islam; justru sejalan dengan ajaran ukhuwah dan semangat saling tolong-menolong.

3. Pewarisan Adat kepada Generasi Muda
Menjaga Marwah Adat di Tengah Modernisasi
Di tengah arus modernisasi, menjaga marwah adat bukanlah perkara mudah. Para punyimbang mengakui bahwa banyak generasi muda mulai meninggalkan tradisi. Namun, mereka juga menyadari bahwa adat harus beradaptasi. Di sinilah Titie Gemattei, jalan atau kebiasaan leluhur yang dianggap baik, berperan.
Titie Gemattei berisi keharusan, kebolehan, dan larangan (cepalo) yang amat lentur dan fleksibel mengikuti tuntutan perubahan. Contohnya, pada masa lalu setiap punyimbang harus memiliki tempat mandi khusus di sungai (disebut kuwaiyan). Kini, seiring perkembangan zaman, hal itu diganti dengan kamar mandi. Namun esensinya tetap sama: menjaga kebersihan dan martabat.

Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Pewarisan.

Pewarisan adat tidak bisa hanya mengandalkan sekolah atau pemerintah. Peran keluarga dan masyarakat adat sangatlah penting. Dalam setiap upacara adat, anak-anak diajak serta, diajarkan makna di balik setiap ritual. Para orang tua menanamkan nilai bejuluk beadek, memiliki nama atau gelar yang baik, sejak dini. Dengan demikian, anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa adat adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri mereka.
Adaptasi Titie Gemattei terhadap Perkembangan Zaman
Titie Gemattei bukanlah aturan kaku yang membelenggu. Ia adalah kebiasaan yang berdasarkan kebaikan, yang terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa adat harus "bersendi syarak", berlandaskan syariat. Artinya, jika ada kebiasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, maka kebiasaan itu boleh ditinggalkan atau diubah. Inilah yang membuat adat Lampung tetap relevan hingga kini.

4. Lampung di Masa Depan: Harmoni yang Terjaga
Sai Bumi Ruwa Jurai sebagai Filosofi Hidup Berbangsa
Sai Bumi Ruwa Jurai bukan sekadar slogan. Ia adalah falsafah hidup yang mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat. Sebagaimana dua jurai adat, Pepadun dan Saibatin, hidup berdampingan, demikian pula berbagai etnis dan agama di Lampung dapat bersatu. Semangat inilah yang perlu ditanamkan tidak hanya di Lampung, tetapi di seluruh Indonesia.

Kearifan Lokal sebagai Aset Bangsa.

Kearifan lokal Lampung seperti Piil Pesenggiri, Mewarei, dan Hippun bukan hanya milik Lampung. Ia adalah aset bangsa yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kerukunan dan kebhinekaan. Sebagaimana penelitian menunjukkan, nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip keadilan dan kedamaian, bahkan dapat menjadi media resolusi konflik.

Pesan Para Punyimbang untuk Anak Cucu.

Para punyimbang berpesan: "Jangan pernah tinggalkan adat, karena adat adalah cermin jati diri. Namun, jangan pula kaku memegang adat jika ia bertentangan dengan ajaran agama dan kemanusiaan. Sebab adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah."
Mereka juga mengingatkan bahwa kebhinekaan adalah kekayaan, bukan ancaman. Bumi Lampung telah menjadi rumah bagi semua, Pepadun dan Saibatin, pendatang dan penduduk asli, muslim dan non-muslim. Harmoni yang telah terjaga selama berabad-abad harus terus dirawat oleh generasi muda, agar Sai Bumi Ruwa Jurai tetap menjadi semboyan yang hidup dan menginspirasi.

Harmoni yang Tak Pernah Padam.

Tabik puun, demikianlah kearifan lokal Lampung dalam menjaga kebhinekaan dan kehidupan harmonis. Dari Sai Bumi Ruwa Jurai yang menjadi simbol persatuan, Mewarei yang mengikat persaudaraan lintas suku, hingga Hippun yang mengajarkan musyawarah, semua adalah warisan luhur yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Sebagaimana ditulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti: "Senang negeri: Cawa sepuluh sudi cukup, Muli meranai lamon sai ranta sapun", cukup berbicara sepuluh kata, sopan santunlah yang utama. Pesan ini mengajarkan bahwa dalam keberagaman, sikap santun dan saling menghargai adalah kunci kedamaian.
Semoga warisan leluhur ini tetap terjaga, dan Bumi Lampung tetap menjadi rumah yang harmonis bagi semua anak bangsa. Mari kita jaga kebhinekaan bukan sebagai beban, melainkan sebagai karunia yang membuat bumi ini begitu istimewa.

Daftar Pustaka
1. Hasan, Z. "Mayuh Tiyuh, Kearifan Lokal dalam Kitab Hukum Kuntara Raja Niti untuk Membangun Kota." Repository LPPM Unila 
2. "Piil Pesenggiri as Peace Culture: A Local Wisdom Based Resolution of Land Conflicts in Mesuji, Lampung." DOAJ, 2018 
3. "Piil Pesenggiri." Perpustakaan Digital Budaya Indonesia 
4. "Piil Pesenggiri." Repository UIN Raden Intan Lampung 
5. "Mewarei." Repository UIN Raden Intan Lampung 
6. Yulianto. "Reformasi Birokrasi dan Kearifan Lokal." Repository LPPM Unila, 2018 
7. "Sejarah Dan Sistem Hukum Adat Masyarakat Lampung Utara." Repository UIN Jakarta 
8. "Etika Sosial dan Nilai Agama bagi Kerukunan Umat Beragama." Jurnal MPR, 2019 
9. Indra, G.L. & Mu'in, F. "Family Conflict Resolution Based on Lampung Customary Local Wisdom." Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya, 2025 
10. Ciciria, D. "Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung." Panggung, 2015

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 9 = ?
Berita Terkait