Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Tempoyak sebagai Cermin Piil Pesenggiri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 22 Aug 2026 04:57 Admin NA
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Tempoyak sebagai Cermin Piil Pesenggiri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Marilah kita duduk sejenak di beranda ini, sebagaimana para punyimbang adat dahulu kala membagikan kisah dan hikayat di antara anak buahnya. 
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kadang kita lupa bahwa secuil makanan pun menyimpan seribu makna. Hari ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenung, menilik sebuah warisan lezat yang bukan sekadar penggugah selera: Tempoyak. Lebih dari sekadar olahan durian fermentasi, tempoyak bagi masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai adalah cerminan dari Piil Pesenggiri, falsafah hidup yang menjaga harga diri dan martabat kita sebagai ulun Lampung.
Coba bayangkan, suatu sore di sebuah kampung di tepian Tulangbawang. Aroma durian yang legit masih tercium samar, berganti dengan wangi ikan baung yang baru saja dibakar di atas bara. Di atas pincuk daun pisang, tertata hidangan seruit yang menggugah. Ikan yang gurih, sambal yang pedas, dan lalapan segar. 
Namun, ada satu elemen yang menjadi jiwa dari hidangan ini: Tempoyak. Olahan durian yang difermentasi dengan garam ini, yang dibiarkan dalam wadah tertutup selama berhari-hari hingga muncul rasa asam yang khas, menjadi penanda bahwa kita sedang menyantap masakan yang sesungguhnya.

Bagi orang luar, tempoyak mungkin hanya sekadar bumbu. Namun bagi kami, masyarakat Lampung, tempoyak adalah lambang kebijaksanaan. Proses pembuatannya yang memerlukan kesabaran, menunggu durian masak sempurna, mengolahnya dengan tepat, dan memberi waktu bagi fermentasi untuk menghasilkan cita rasa, mengajarkan kita tentang hidup. 
Hidup juga seperti tempoyak. Tak ada hasil manis tanpa proses, tak ada kemuliaan tanpa perjuangan. Inilah awal dari pemahaman kita bahwa kuliner bukanlah sekadar perut kenyang, melainkan juga cermin dari kepribadian. Sebagaimana sebuah penelitian mengungkapkan bahwa gastronomi di Lampung memiliki peran yang lebih luas, yaitu memperkuat identitas lokal dan melestarikan kearifan, bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan semata.
Kita semua tentu akrab dengan falsafah Piil Pesenggiri. Inilah tiang penyangga kehidupan masyarakat Lampung, sebuah pandangan hidup yang menghargai kehormatan dan harga diri. Ada yang berpendapat bahwa kata Piil berasal dari bahasa Arab fiil yang berarti perbuatan, dan Pesenggiri diyakini terinspirasi dari semangat pantang menyerah Pasunggiri, pahlawan dari Bali Utara.

Namun, apapun asal-usulnya, inti dari Piil Pesenggiri adalah menjaga martabat, pantang menyerah, dan berbuat baik. Falsafah ini diuraikan secara indah dalam kitab Kuntara Raja Niti, sebuah rujukan utama adat Lampung yang mengajarkan kita tentang pentingnya harga diri dalam setiap tindakan.
Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ‌ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
Yaaa ayyuhal laziina aamanut taqul laa; waltanzur nafsum maa qaddamat lighadiw wattaqual laah; innal laaha khabiirum bimaa ta'maluun
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga perbuatan, karena itulah yang akan menentukan harga diri kita di hadapan Tuhan. Di sinilah tempoyak menjadi relevan. Membuat tempoyak tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Ia memerlukan perhatian dan kehati-hatian agar tidak rusak. Begitu pula dengan hidup, kita harus memperhatikan setiap langkah agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang hina, sebagaimana makna Piil-Pusanggiri yang berarti malu melakukan pekerjaan hina dan teguh memegang harga diri.
Piil Pesenggiri bukanlah konsep tunggal. Ia terdiri dari lima pilar utama yang saling menguatkan, bagaikan lima jari dalam satu genggaman. Dan menariknya, kelima pilar ini dapat kita temukan pula dalam tradisi kuliner tempoyak dan seruit. Mari kita telaah satu per satu.
* Bejuluk Beadek (Gelar Kehormatan): Ini adalah pilar yang berkaitan dengan identitas dan tanggung jawab. Memiliki gelar adat berarti seseorang memiliki beban moral untuk berperilaku sesuai dengan kehormatan tersebut. 
Dalam konteks kuliner, menyajikan tempoyak dalam jamuan adat adalah bagian dari menjaga martabat tuan rumah. Seorang tuan rumah yang baik akan menyajikan hidangan terbaiknya, termasuk tempoyak yang berkualitas, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan untuk menjaga nama baiknya.

* Nemui Nyimah (Keramahan dan Saling Memberi): Pilar ini mengajarkan kita untuk saling mengunjungi, bersilaturahmi, dan menerima tamu dengan ramah. Dalam tradisi seruit, makanan disajikan di atas hamparan daun pisang dan dinikmati bersama-sama. 
Tidak ada yang lebih hangat selain berbagi ikan bakar dan sambal tempoyak dengan sanak famili dan tetamu. Sikap nemui nyimah inilah yang membuat setiap orang yang datang ke rumah ulun Lampung merasa dihormati. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa dalam masyarakat Lampung, makanan disajikan untuk memperkuat hubungan sosial dan menunjukkan rasa hormat kepada tamu.

* Nengah Nyappur (Keterbukaan dan Bersosialisasi): Masyarakat Lampung diajarkan untuk aktif dalam pergaulan, tidak individualistis, dan mau bergaul dengan siapa pun. Lihatlah bagaimana tempoyak menyatukan berbagai elemen dalam sebuah hidangan. Ikan, sambal, lalapan, dan tempoyak, semuanya bercampur dan dinikmati bersama. 
Tidak ada sekat di antara mereka. Begitulah seharusnya kita sebagai manusia, saling berbaur, belajar dari perbedaan, dan membangun kebersamaan. Seperti yang tertuang dalam sebuah pantun adat, Nengah-nyampugh mak ngungkung, yang berarti bergaul tanpa terkungkung oleh batasan.

* Sakai Sambayan (Gotong-royong): Ini adalah semangat saling membantu, bahu-membahu dalam mengerjakan sesuatu. Membuat tempoyak dalam jumlah besar untuk sebuah hajatan tidak mungkin dilakukan sendirian. Istri-istri di kampung akan bahu-membahu mengupas durian, mengolahnya, dan menyiapkan hidangan. 
Bahkan, rasa tempoyak yang asam dan tahan lama sering kali menjadi andalan saat musim paceklik, di mana masyarakat saling memberi dan berbagi makanan.

Semangat sakai sambayan ini adalah cerminan dari ajaran agama untuk saling menolong dalam kebaikan.
Dalam setiap langkah kehidupan masyarakat Lampung, adat dan agama selalu berjalan beriringan. Falsafah Piil Pesenggiri sendiri sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Para tetua kita terdahulu bahkan menyelaraskan Piil dengan semangat fastabuqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), sebuah ajaran yang sangat fundamental dalam Islam.

Proses pengolahan tempoyak juga sejalan dengan prinsip halal. Durian, sebagai bahan baku, adalah buah yang halal dan baik untuk dikonsumsi selama tidak diolah dengan bahan-bahan yang haram.

Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa nilai-nilai Piil Pesenggiri merupakan perwujudan dari syariat Islam dan sekaligus menjadi tiang penyangga ideologi Pancasila. Ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Lampung tidak pernah bertentangan dengan ajaran suci. Justru, keduanya saling menguatkan. 
Tempoyak tidak hanya mengingatkan kita pada kearifan nenek moyang, tetapi juga mendekatkan kita pada pemahaman bahwa mengelola alam (seperti fermentasi durian) adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan nilai "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Masyarakat Lampung, misalnya, hanya mengolah durian menjadi tempoyak di musim panen, sebagai bentuk penghormatan terhadap siklus alam.

Jadi, Tabik pun, jangan pernah meremehkan seporsi tempoyak atau sepincuk seruit. Di balik rasa asam dan gurihnya, tersimpan filosofi hidup yang sarat makna. Tempoyak adalah cerminan dari Piil Pesenggiri, sebuah bukti bahwa orang Lampung adalah bangsa yang menjaga harga diri (pesenggiri), ramah (nemui nyimah), terbuka (nengah nyappur), dan gotong-royong (sakai sambayan).

Dengan melestarikan makanan tradisional ini, kita tidak hanya menjaga perut tetap kenyang, tetapi juga merawat marwah adat dan identitas kita sebagai ulun Lampung dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang ber-Pancasila.
Semoga kita semua, tua dan muda, pelajar maupun masyarakat umum, dapat terus bangga dengan warisan ini. Karena sebagaimana tempoyak yang rasanya semakin nikmat seiring proses fermentasi, demikian pula kehormatan kita akan semakin teruji dan berkilau seiring dengan kita menjalani kehidupan dengan teguh berpegang pada falsafah Piil Pesenggiri. Mari kita jaga, kita lestarikan, dan kita wariskan.

Daftar Pustaka:
1. Saputra, A., dkk. (2024). "Piil Pesenggiri: Building the Cultural Identity of the Lampung Community through Traditional Culinary." Garuda - Garba Rujukan Digital. 
2. Lestari, W. (2024). "Piil Pesenggiri dalam Perspektif Sejarah dan Budaya." Repository UIN Raden Intan Lampung. 
3. RRI. (2026). "Tempoyak, Pendamping Setia Seruit Lampung." RRI.co.id. 
4. "Sejarah Singkat Adat Lampung dan Rumah Adat Lampung." KASKUS. 
5. Al-Quran, Surat Al-Maidah ayat 3. 
6. Jurnal. (2025). "Piil Pesenggiri: Strategi Resolusi Konflik." Ejournal BRIN. 
7. Jurnal. (2024). "Piil Pesenggiri dan Nilai Agama Islam." International Journal Ihya' 'Ulum al-Din. 
8. RRI. (2026). "Ini Beda Tempoyak Padang dan Lampung." RRI.co.id. 
9. "Kuntakha Khaja Niti - Naskah Kuno dan Prasasti." Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. 
10. Lembaga Pemeriksa Halal. (2021). "Al-Qur’an Panduan Hidup Halal." LPPOM MUI. 
11. Safrudin, N. W. (2022). "Kearifan Lokal Islam Kultural Lampung." Repository UNUSIA. 
12. Jurnal. (2025). "Sustainability Practices in Lampung Gastronomy." Ejournal UPGRISBA. 
13. Masita, M. (2026). "Aktualisasi Nilai Falsafah Piil Pesenggiri." Repository UIN Raden Intan Lampung. 
14. Kompas. (2026). "Kisah Tempoyak, Fermentasi Durian Penuh Sejarah." Kompas.com.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 6 = ?
Berita Terkait