Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Gulai Taboh, Rasa Pesisir dan Jejak Saibatin. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 06 Oct 2026 00:32 • Admin NA • 30 kali dibaca
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Gulai Taboh, Rasa Pesisir dan Jejak Saibatin. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun!
Kalau kita duduk sebentar di beranda rumah panggung menghadap muara, sambil menikmati angin laut yang membawa aroma daun jeruk dan serai, di situ kita akan tahu mengapa Gulai Taboh begitu lekat dengan masyarakat pesisir Lampung. Hidangan ini bukan sekadar santapan. Ia adalah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, menyatu dengan kehidupan keluarga nelayan dan para Punyimbang Saibatin.

Di sebuah kampung tepi pantai, hiduplah seorang nenek bernama Suti. Setiap sore, ia menyiapkan gulai untuk anak dan cucunya yang pulang melaut. Bahan-bahannya sederhana: ikan segar, santan, kunyit, lengkuas, dan cabai. Namun, ada satu hal yang membuat masakannya istimewa, kesabaran dan kasih sayang. “Gulai Taboh ini bukan cuma soal rasa,” katanya sambil mengaduk kuah yang menggelegak. “Ini soal bagaimana kita menerima apa yang laut berikan, lalu membaginya dengan orang lain.”

Gulai Taboh, bagi masyarakat Saibatin, adalah wujud dari falsafah Nemui Nyimah. Mereka percaya, rezeki yang datang harus dibagi, tidak boleh disimpan sendiri. Ikan yang baru ditangkap diolah bersama, lalu disantap bersama di beranda atau balai kampung. Di situ, gelak tawa bercampur aroma gulai, menyatukan keluarga dan tetangga dalam suasana Nengah Nyappur, keterbukaan dan keramahan.

Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, tercatat sebuah petuah: “Ikan di laut, santan di dapur, rempah di kebun. Semua itu titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibagi.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa alam dan manusia memiliki hubungan sakral. Menjaga laut sama dengan menjaga hidup. 
Ini sejalan dengan ajaran Islam: 
وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا‌ ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ
Wa laa tufsiduu fil ardi ba'da islaahihaa wad'uuhu khawfanw wa tama'aa; inna rahmatal laahi qariibum minal muhsiniin
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."  (QS. Al-A’raf: 56).

Laut adalah amanah, bukan sekadar sumber rezeki.
Saat gulai matang, Suti selalu mengajak cucunya membaca doa. “Bismillah,” ucapnya pelan. “Semoga yang kita makan ini menjadi berkah, bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk orang lain.” Doa ini sederhana, tapi menanamkan kesadaran bahwa setiap rezeki adalah karunia yang harus disyukuri dan dibagikan.

Keunikan Gulai Taboh terletak pada keseimbangan rasa. Santan yang gurih bertemu dengan asam dari belimbing wuluh atau jeruk nipis. Pedasnya cabai tidak mendominasi, hanya memberi kehangatan. Ikan yang digunakan biasanya tenggiri, kakap, atau tongkol, jenis yang banyak ditangkap nelayan pesisir. Setiap daerah punya versi sendiri.

Di Krui, gulai lebih kental dan pedas. Di Kota Agung, rasanya lebih ringan dengan tambahan daun kemangi. Perbedaan ini justru memperkaya, bukan memecah. Seperti kata pepatah Lampung: “Beda itu biasa, yang tidak biasa adalah jika perbedaan membuat kita saling menyakiti.”

Bagi masyarakat Pepadun yang tinggal di pedalaman, Gulai Taboh juga dikenal, tapi dengan sentuhan berbeda. Mereka menggunakan ikan air tawar seperti patin atau nila, dan menambahkan terong serta kacang panjang. Meski berbeda bahan, semangatnya sama: berbagi dan bersyukur. Inilah wujud Sakai Sambayan, gotong-royong dalam menyiapkan hidangan untuk acara adat seperti pernikahan atau khitanan.

Dalam sebuah halaqah di Surau Kampung Pardasuka, seorang Ustad pernah berkata, “Makanan yang halal dan baik adalah cermin iman. Jika kita menjaga cara memperolehnya dan membaginya, itu sudah bagian dari ibadah.” Pesan ini menegaskan bahwa kuliner bukan hanya urusan perut, tetapi juga hati dan akhlak.

Gulai Taboh juga mengajarkan tentang Pesenggiri, harga diri. Seorang tuan rumah yang baik akan menyajikan yang terbaik untuk tamunya. Ia tidak akan membiarkan tamunya pulang tanpa mencicipi gulai. “Kalau tamu tidak makan, kita merasa belum menghormati,” kata Suti. Sikap ini mencerminkan kehormatan yang dijaga melalui keramahan, bukan kekayaan.

Dalam bingkai Pancasila, Gulai Taboh mengajarkan banyak hal. Sila pertama, Ketuhanan, tampak dalam doa sebelum makan. Sila kedua, Kemanusiaan, tampak dalam berbagi rezeki. Sila ketiga, Persatuan, terlihat ketika berbagai marga dan suku berkumpul menikmati hidangan yang sama. Sila keempat, Kerakyatan, hadir dalam musyawarah menentukan menu untuk acara adat. Dan sila kelima, Keadilan Sosial, nyata ketika semua orang mendapat porsi yang sama, tanpa memandang status.

Hingga kini, di beberapa Lamban tua di Pesisir Barat dan Kalianda, resep Gulai Taboh masih dijaga. Bukan sebagai catatan tertulis, melainkan sebagai warisan lisan yang diturunkan dari dapur ke dapur. Setiap suapan membawa kita pada sejarah panjang hubungan manusia dengan laut, dengan sesama, dan dengan Tuhannya.
Maka, ketika kita menyantap semangkuk Gulai Taboh, kita bukan hanya menikmati rasa. Kita sedang menyelami jati diri Lampung, yang ramah, terbuka, dan penuh syukur. Seperti kata Suti, “Gulai ini bukan cuma untuk kenyang. Ini untuk mengingat siapa kita dan dari mana kita berasal.”
Tabik pun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 7 = ?
Berita Terkait