Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Makanan di Tengah Musyawarah Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca sekalian.
Hari ini saya ingin mengajak Anda duduk bersama saya di balai adat yang sederhana, di tengah harumnya masakan yang mengepul dari dapur. Seorang punyimbang tua suatu ketika berkata, “Orang Lampung tidak pernah makan sendirian dalam kegelisahan; kita selalu mencari solusi sambil menikmati hidangan.”
Cerita ini akan membawa kita menyelami makanan di tengah musyawarah adat. Bukan sekadar soal rasa, melainkan soal bagaimana masyarakat Lampung menyelesaikan persoalan secara bersama, dengan Nengah Nyappur dan Pesenggiri yang terjaga.
Alkisah, di sebuah pekon di tepian sungai Way Sekampung, hiduplah dua marga besar yang kadang berselisih soal batas ladang dan hutan adat. Mereka adalah keturunan Sai Bumi Ruwa Jurai, dua saudara dari keturunan Pepadun dan Saibatin, yang meskipun bersaudara, tak jarang berbeda pendapat.
Suatu hari, seorang punyimbang bernama Dalom Saka Bangsawan, yang terkenal bijaksana, mengundang seluruh tetua adat dan keluarga besar untuk berkumpul di balai agungnya. Ia tidak hanya menyiapkan tikar pandan dan sirih sekapur, tetapi juga meminta istrinya memasak hidangan khas yang paling istimewa: Pindang Baung dan Seruit.
Mengapa makanan? Karena dalam adat Lampung, makan bersama adalah pintu terbuka bagi hati yang tertutup. Nilai Nemui Nyimah mengajarkan untuk saling memberi dan menerima, dan dalam suasana santai, semua orang menjadi lebih rendah hati. Sesuai dengan falsafah, Nengah Nyappur berarti suka bergaul dan bermusyawarah dalam menyelesaikan segala masalah. Di situlah musyawarah sejati dimulai, bukan di ruang yang dingin dan kaku, melainkan di atas hamparan daun pisang yang sarat dengan hidangan.
Ikan baung dari sungai setempat dimasak dengan kuah bening yang kaya rempah: kunyit, serai, lengkuas, dan cabai, diberi asam segar dari belimbing wuluh. Ini bukan sekadar gulai biasa. Menurut cerita turun-temurun, Pindang Baung sering menjadi “juru damai” dalam pertemuan adat. Kuahnya yang segar mampu mencairkan suasana tegang; aromanya yang harum mengundang orang untuk duduk lebih lama dan berbicara lebih banyak.
Sambil menyendok kuah, seorang tetua Saibatin berkata, “Kita ini seperti pindang. Ada yang asam, ada yang pedas, ada yang gurih. Jika dipisah, tidak ada artinya. Jika dimasak bersama, barulah terasa nikmat.” Semua yang hadir manggut-manggut. Para wanita dari kedua marga pun ikut nyeruit, yaitu kegiatan makan seruit bersama dalam satu wadah besar, sambil bercanda dan bertukar cerita.
Nyeruit bukan hanya cara makan, tetapi medium untuk mempererat silaturahmi dan meluruskan salah paham.
Di samping Pindang Baung, tersaji Gulai Taboh yang kaya rempah dan daging. Taboh, dalam bahasa Lampung, berarti "dituang" atau "dipersembahkan". Hidangan ini adalah lambang penghormatan, sering disajikan dalam hajatan besar sebagai bentuk Pesenggiri (harga diri) dan Bejuluk Beadek (kehormatan gelar). Begitu juga dengan Seruit, hidangan ikan bakar dengan sambal tempoyak atau mangga, yang mengajarkan kesederhanaan namun tetap bermartabat.
Tak ketinggalan, ada Segubal dan Buras yang terbuat dari ketan dan beras, dibungkus daun pisang dan dikukus berjam-jam. Prosesnya yang lama mengajarkan kesabaran; rasanya yang gurih mengingatkan bahwa hasil baik membutuhkan proses panjang, persis seperti musyawarah yang perlu waktu dan ketulusan.
Dalam suasana tersebut, Dalom Saka Bansawan mengingatkan bahwa semua ini tidak pernah bertentangan dengan Islam. “Kita makan bersama,” katanya, “sebagaimana Nabi mengajarkan untuk memuliakan tamu dan menyantap rezeki bersama-sama. Perbedaan pendapat jangan sampai memecah belah persaudaraan.” Ia lalu mengutip surat Al-Hujurat ayat 13, yang mengajarkan manusia saling mengenal, bukan saling menyalahkan. Selaras dengan itu, Sakai Sambayan (gotong royong) dan Nengah Nyappur adalah wujud dari sila ke-3 dan ke-4 Pancasila, di mana setiap keputusan diambil lewat mufakat dan kebersamaan, dengan semangat kekeluargaan.
Sebagaimana tertuang dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 25-31, “Jika ada benang yang kusut itulah pegangan kaum putri, jika ada sesuatu perkara itulah urusan perwatin”. Maksudnya, setiap persoalan ada jalur penyelesaiannya, dan perwatin (para tetua) berkewajiban menyelesaikannya dengan adil dan bijak, seperti halnya memasak gulai yang harus pas bumbunya. Hukum adat yang dijiwai Islam ini mengajarkan bahwa bermusyawarah adalah ibadah dan menjaga keharmonisan adalah amanah.
Setelah berjam-jam duduk dan bercakap-cakap, batas ladang akhirnya ditemukan. Semua sepakat untuk saling memberi jalan dan menghormati hak masing-masing. Mereka pulang dengan perut kenyang dan hati lega. Seorang tetua muda, yang tadinya paling keras kepala, mengaku, “Ternyata musyawarah itu enak, seperti nyeruit pindang. Tak perlu marah, cukup duduk, makan, dan bicara baik-baik.”
Itulah kekuatan kuliner dalam adat Lampung. Makanan bukan pengisi perut semata, tetapi media untuk Nengah Nyappur dan Pesenggiri. Makanan mengajarkan bahwa perbedaan adalah bumbu, dan kebersamaan adalah kuah yang menyatukan semuanya, dalam bingkai Islam dan nilai-nilai luhur bangsa. Marilah kita jaga dan lestarikan, karena dalam setiap suapan, ada makna persaudaraan yang tak pernah pudar. (*)
Daftar Pustaka
1. Okezone Women. 2020. "4 Kuliner Lezat Khas Lampung, Mana Kesukaanmu?" Okezone.com.
2. Hatipena. 2025. "Gotong Royong dalam Bingkai Adat Lampung." Hatipena.com.
3. Harian Haluan. 2023. "Ternyata Ini Alasan Suku Jawa Jadi Mayoritas di Lampung." Harianhaluan.com.
4. Hilman Hadikusuma. 1986. Kuntara Raja Niti. Lampung. Dikutip dalam Repositori Kemendikbud.
5. Bahagianda, Mohammad Medani. 2026. "Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Pindang Baung dan Nengah Nyappur." Portal Berita Natar Agung.
6. IDN Times Lampung. 2021. "Lima Kue Lebaran Khas Lampung." IDNtimes.com.
7. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. "Nyeruit; Kegiatan Makan Berarti Lebih." Budaya-Indonesia.org.
8. Lampungpro.co. 2023. "Ini Lima Kuliner Khas dan Legendaris yang Wajib Dicoba di Lampung." Lampungpro.co.
9. Hastag. 2026. "Ketua Fraksi PAN Nilai Islam Selaras dengan Pancasila dan Kearifan Lokal Bangsa." Hastag.online.
10. JPSI. 2018. "Basis Kitab Kuntara Raja Niti." Journal2.um.ac.id.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar