Seri Buku: Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 6: Menjaga Api di Perapian. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 16 Sep 2026 03:23 Admin NA 18 kali dibaca
Seri Buku:  Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 6: Menjaga Api di Perapian. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, sahabat-sahabatku yang saya cintai. 
Perjalanan panjang kita telah sampai pada seri terakhir, dan mungkin inilah seri yang paling penting dari seluruh cerita kita. Setelah kita berbincang tentang asal-usul, falsafah, kepemimpinan, keselarasan dengan syariat, dan tradisi-tradisi yang menghidupkan adat, kini saatnya kita menjawab pertanyaan yang telah menggema sejak awal: bagaimana kita menjaga api di perapian agar tidak padam? Izinkanlah seorang tua ini bercerita tentang langkah nyata yang harus kita ambil bersama.

Saudara-saudara, di sebuah kampung di daerah Pubian, hiduplah seorang kakek tua bernama Umpu Ngegah. Setiap malam, ia duduk di beranda sambil mengajarkan bahasa Lampung dan aksara Kaganga kepada cucu-cucunya. Suatu malam, cucu kesayangannya bertanya, "Kek, mengapa kami harus belajar bahasa dan aksara yang sulit ini? Bukankah sekarang zaman sudah modern?" Sang kakek tersenyum, lalu mengambil sebatang lilin dan menyalakannya. "Nak," katanya, "lihatlah lilin ini. Nyala apinya kecil, tetapi ia menerangi seluruh ruangan. 
Begitulah adat kita. Jika kita tidak menyalakan lilin ini setiap hari, ia akan padam. Dan jika ia padam, kegelapan akan datang. Bahasa dan aksara Kaganga adalah korek api yang menyalakan lilin itu. Tanpa keduanya, kita tidak akan bisa membaca cerita leluhur kita, tidak akan bisa memahami petuah mereka, dan pada akhirnya kita akan tersesat di zaman yang gelap." 
Sejak saat itu, cucu-cucunya rajin belajar setiap malam. Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga diajak untuk ikut dalam setiap upacara adat, menari Cangget, dan mendengarkan Pepaccur yang dibacakan oleh para tetua. Kini, meskipun sang kakek telah tiada, api itu tetap menyala di hati cucu-cucunya, dan mereka meneruskannya kepada anak-anak mereka di kampung Giham Sukamaju dan sekitarnya.

Cerita tentang Umpu Ngegah ini mengingatkan kita pada tanggung jawab kita sebagai generasi penerus. Sahabat-sahabatku, panggilan pertama dan paling mendesak adalah untuk generasi muda. Belajar bahasa Lampung dan mengenal aksara Kaganga adalah pintu masuk untuk memahami adat. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga wadah pemikiran, nilai, dan kearifan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, "Bahasa adalah nafas adat; jika bahasanya mati, maka adat akan kehilangan ruhnya." Anak-anak muda kita perlu diajak untuk tidak malu menggunakan bahasa Lampung dalam percakapan sehari-hari. 
Di kampung-kampung seperti Kotabumi dan Liwa, kita masih bisa mendengar bahasa Lampung yang merdu di pasar dan di sawah. Sayangnya, di kota-kota besar seperti Bandar Lampung, generasi muda kita kini lebih fasih berbahasa Indonesia bahkan Inggris daripada bahasa ibunya sendiri. Ini adalah peringatan bagi kita semua. Sebagaimana petuah tetua: "Bahasa adalah rumah kita; jika kita kehilangan rumah, kita akan menjadi gelandangan di negeri sendiri."
Selain bahasa, generasi muda juga perlu ikut serta dalam kegiatan adat seperti Cangget dan kerja bakti. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai kebanggaan. Ketika anak-anak muda menari Cangget dengan penuh semangat, mereka tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga menyerap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. 
Cangget mengajarkan tentang kebersamaan, kegembiraan, dan penghormatan kepada leluhur.

Sayangnya, dewasa ini, banyak pemuda yang lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar ponsel daripada hadir dalam upacara adat. Ini adalah tantangan besar, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. 
Kita bisa memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan adat, menampilkan video-video Cangget yang menarik, atau bahkan membuat konten edukasi tentang falsafah Piil Pesenggiri dengan gaya yang kekinian. Dengan cara ini, adat tidak lagi terlihat kuno dan membosankan, tetapi menjadi sesuatu yang relevan dan membanggakan.
Menghidupkan kembali tradisi lisan seperti Wawancan dan Pepaccur di tengah gempuran media sosial juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, bukankah media sosial sebenarnya bisa menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan tradisi lisan? Bayangkan jika setiap Pepaccur yang dibacakan dalam upacara adat direkam dan diunggah ke YouTube atau TikTok. 
Generasi muda bisa mendengarkannya kapan saja dan di mana saja. Selain itu, mereka juga bisa belajar bagaimana cara membawakan Pepaccur dengan baik. Ini adalah cara modern untuk melestarikan tradisi lama. Seperti yang tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, "Unyin lom sai nerimo wawai, mak sai lupa", orang yang menerima cerita, tidak akan pernah lupa. Artinya, tradisi lisan adalah cara kita mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai dari generasi ke generasi.

Saudara-saudara, peran keluarga dan masyarakat juga tidak kalah penting. Orang tua adalah guru pertama yang menanamkan Piil Pesenggiri sejak kecil. Seorang anak belajar tentang harga diri, keramahan, dan gotong-royong bukan dari buku, tetapi dari teladan orang tuanya. 
Jika seorang ayah selalu menyambut tamu dengan ramah (Nemui Nyimah), anaknya akan meniru. Jika seorang ibu selalu membantu tetangga yang kesusahan (Sakai Sambayan), anaknya akan tumbuh dengan jiwa sosial yang tinggi. Sebaliknya, jika orang tua sendiri mengabaikan adat, bagaimana mungkin anak-anaknya akan menghargainya? Seperti petuah tetua: "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"; artinya, perilaku anak adalah cerminan dari orang tuanya.
Tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama juga harus bersatu untuk memberi teladan, bukan saling menunggu. Mereka adalah ujung tombak dalam menjaga adat. Tokoh adat bertugas menjaga ritual dan upacara, tokoh masyarakat menjaga harmoni sosial, dan tokoh agama memastikan semua nilai adat selaras dengan syariat. 
Ketiganya harus bekerja sama, karena jika mereka berselisih, masyarakat akan bingung dan adat akan kehilangan arah. Sebagaimana telah kita bahas dalam seri sebelumnya, Kitab Kuntara Raja Niti secara tegas melarang para pemimpin saling berselisih (punyimbang lom tiyuh mak sai tungkul). Ini adalah peringatan bahwa persatuan pemimpin adalah kunci keharmonisan masyarakat.
Menjadikan adat sebagai rujukan dalam menyelesaikan konflik juga sangat penting. Dalam tradisi Lampung, musyawarah di atas Pepadun adalah cara terbaik untuk menyelesaikan perselisihan. Tidak ada tempat untuk kekerasan atau arogansi. Semua pihak duduk bersama, mendengar satu sama lain, dan mencari mufakat. 
Nilai ini sangat sejalan dengan Pancasila sila ke-4, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Di kampung Abung dan Pubian, kita masih bisa melihat bagaimana musyawarah adat berhasil menyelesaikan sengketa tanah dan perkawinan tanpa harus melalui jalur pengadilan yang panjang dan mahal. Ini adalah bukti bahwa adat kita masih relevan dan efektif.

Sahabat-sahabatku, pentingnya dokumentasi dan pendidikan juga tidak bisa diabaikan. Kita harus menulis dan mendokumentasikan cerita-cerita kita. Tradisi lisan yang disebut Recako Wawai Ningek (cerita turun-temurun) harus dikumpulkan dan ditulis agar tidak punah. 
Banyak cerita rakyat Lampung yang kini hampir terlupakan, seperti kisah Sang Kabelah, Khadin Tegal, dan Umpu Serunting. Jika kita tidak mendokumentasikannya, generasi mendatang tidak akan pernah tahu dari mana mereka berasal. Di sinilah peran para peneliti dan budayawan sangat penting. Mohammad Medani Bahagianda, misalnya, telah banyak menulis tentang adat Lampung dan menjadi rujukan bagi kita semua. Kita perlu melanjutkan usahanya.
Menjadikan adat sebagai muatan lokal di sekolah juga merupakan langkah strategis. Namun, cara penyampaiannya harus menarik, tidak membosankan. Anak-anak akan lebih antusias belajar tentang adat jika diajarkan melalui cerita, tarian, dan pantun, bukan sekadar teori di buku. 
Di SD dan SMP di Lampung, sudah mulai ada mata pelajaran muatan lokal tentang budaya Lampung. Tetapi, perlu inovasi agar anak-anak tidak menganggapnya sebagai beban tambahan. Guru-guru bisa mengajak siswa untuk praktik menari Cangget, membuat kerajinan Tapis, atau bahkan mengadakan pentas seni yang menampilkan budaya Lampung. Dengan cara ini, adat tidak hanya menjadi pelajaran di kelas, tetapi menjadi pengalaman hidup yang berkesan.
Petuah tetua: "Akar yang dalam membuat pohon tegak; adat yang kuat membuat bangsa jaya." "Ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah; adat tanpa pelaksanaan adalah cerita tanpa makna." "Sekali air bah, sekali pasir berubah; berpeganglah pada adat, agar tidak tersesat di jalan."
Saudara-saudara, di penghujung perjalanan kita ini, marilah kita merenungkan pesan-pesan yang telah kita dengar bersama. Kita telah belajar tentang asal-usul dari gunung sakral Sekala Brak, tentang Piil Pesenggiri yang menjadi inti falsafah kita, tentang kepemimpinan di atas Pepadun dan di pesisir, tentang harmoni adat dengan syariat Islam, dan tentang tradisi-tradisi yang menjadi nyanyian dan bendera kita. 
Semua itu adalah warisan yang tak ternilai harganya. Namun, warisan tanpa penjaga akan hilang. Dan penjaga itu adalah kita, kita semua yang duduk di sini, yang mendengar cerita ini, dan yang merasakan panggilan untuk bertindak.
Tantangan yang kita hadapi tidaklah ringan. Arus globalisasi, modernisasi, dan individualisme mengancam keberadaan adat kita. Anak-anak muda kita kini lebih akrab dengan budaya asing daripada budaya sendiri. Bahasa Lampung semakin jarang terdengar. 
Upacara adat semakin jarang dilaksanakan. Tetapi, justru di tengah tantangan inilah kita harus bangkit. Kita tidak bisa menunggu orang lain. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah, sekolah, atau siapa pun. Tangan pertama yang harus bergerak adalah tangan kita sendiri. 
Mulai dari hal-hal kecil: mengajarkan satu kata bahasa Lampung kepada anak setiap hari, mengajak keluarga menghadiri upacara adat, atau sekadar bercerita tentang leluhur di waktu santai.
Ingatlah pesan Umpu Ngegah tentang lilin. Setiap dari kita adalah pemegang korek api. Kita bisa memilih untuk menyalakan lilin adat atau membiarkannya padam. Jika kita menyalakannya, maka terang akan menyebar, ke anak-anak kita, ke tetangga kita, ke seluruh kampung. Jika kita tidak menyalakannya, kegelapan akan datang, dan kita akan kehilangan arah.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah ayat 105, 
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا عَلَيۡكُمۡ اَنۡفُسَكُمۡ‌ۚ لَا يَضُرُّكُمۡ مَّنۡ ضَلَّ اِذَا اهۡتَدَيۡتُمۡ‌ ؕ اِلَى اللّٰهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيۡعًا فَيُـنَـبِّـئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
Yaaa aiyuhal laziina aamanuu 'alaikum anfusakum laa yadurrukum man dalla izah tadaitum; ilal laahi marji'ukum jamii'an fayunabbi'ukum bimaa kuntum ta'maluun
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Asbāb al-nuzūl ayat ini turun sebagai peringatan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan keluarganya. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain jika kita sendiri lalai.
Petuah tetua: "Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri." "Kalau bukan kita, siapa lagi?"
Saudara-saudara, judul seri ini adalah "Menjaga Api di Perapian". Api di perapian adalah simbol kehangatan, kehidupan, dan identitas. Ia menyala dari generasi ke generasi, menerangi dan menghangatkan kita. Tapi api tidak bisa menyala dengan sendirinya. Ia butuh kayu bakar, butuh perawatan, butuh penjaga. Kayu bakar itu adalah komitmen kita, perawatan itu adalah tindakan nyata, dan penjaga itu adalah kita sendiri. 
Mari bersama-sama menjaga api ini. Mari kita wariskan Piil Pesenggiri kepada anak cucu kita, bukan sebagai cerita usang, tetapi sebagai pelita yang menerangi jalan mereka. Karena, sekali lagi, Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Mari bergerak bersama, menjaga Piil Pesenggiri agar tetap menyala sebagai pelita bagi generasi yang akan datang.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. (Karya-karya beliau tentang adat dan sejarah Lampung menjadi rujukan utama dalam penulisan naskah ini, khususnya terkait regenerasi dan pelestarian adat).
2. Hilman, H. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung: Tanpa Penerbit.
3. Tim Peneliti. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti sebagai Sumber Pendidikan Karakter. Bandar Lampung: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.
4. Departemen Agama RI. (2005). Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: Penerbit Sahifa.
5. Pramazuly et al. (2021). Bejuluk Beadek dalam Masyarakat Pepadun. Jurnal Adat dan Budaya Lampung, Vol. 5 No. 2.
6. Berbagai sumber tentang pelestarian bahasa Lampung dan aksara Kaganga.
7. Berbagai sumber tentang pendidikan muatan lokal budaya Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 7 = ?
Berita Terkait