Seri Buku: Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 5: Bendera dan Nyanyian di Atas Panggung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 15 Sep 2026 00:35 Admin NA 15 kali dibaca
Seri Buku:  Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 5: Bendera dan Nyanyian di Atas Panggung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, sahabat-sahabatku yang saya hormati. 
Perjalanan kita telah sampai pada seri kelima, dan kali ini kita akan berbicara tentang hal yang paling kasat mata, tradisi dan upacara adat yang menjadi perwujudan syukur dan identitas kita. Izinkanlah seorang tua ini bercerita tentang bendera dan nyanyian di atas panggung, tentang bagaimana orang Lampung merayakan siklus kehidupan dengan penuh makna dan kebanggaan.

Saudara-saudara, di sebuah kampung di daerah Abung Barat, hiduplah seorang pemuda bernama Radin. Suatu hari, ia akan melaksanakan pernikahan adat yang disebut Begawi. Seluruh kampung sibuk mempersiapkan upacara besar itu. Puluhan ekor kerbau disembelih sebagai simbol kekuatan dan martabat keluarga. 
Para Punyimbang dari berbagai marga datang mengenakan pakaian adat lengkap dengan Siger dan Tapis yang berkilauan. Dentuman tabuh dan lantunan gamolan menggema di seluruh penjuru kampung. Pada puncak acara, Radin didudukkan di atas singgasana Pepadun, menandai naiknya ia ke tahta adat sebagai seorang pemimpin baru dalam keluarganya. 
Seluruh warga menari Cangget dan Igol dengan penuh sukacita, sebagai ungkapan rasa syukur dan kebersamaan. Upacara ini bukan sekadar pesta, melainkan pengakuan bahwa Radin kini telah dewasa dan siap memimpin keluarga serta masyarakatnya. Hingga kini, di kampung-kampung seperti Cahaya Negeri dan Bumi Tinggi, semangat Begawi masih tetap hidup sebagai warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati.

Cerita tentang Radin ini, sahabat-sahabatku, membawa kita pada upacara-upacara siklus kehidupan yang menjadi inti dari adat Lampung. Pertama, tentang kelahiran. Dalam masyarakat Lampung, kelahiran seorang anak bukanlah peristiwa biasa. 
Ia adalah awal dari perjalanan hidup yang akan diwarnai oleh adat dan tradisi. Pada masyarakat Lampung Saibatin di Tanggamus, jika seorang anak laki-laki pertama lahir dari keturunan seorang Punyimbang atau bangsawan, akan diadakan pesta besar sebagai pertanda bahwa anak tersebut kelak akan meneruskan kepemimpinan adat. 
Kelahiran juga ditandai dengan pemberian Juluk, nama panggilan adat yang mengandung doa dan harapan. Prosesi ini disebut nyitikh dakhak, di mana bayi akan diberikan nama yang menjadi identitas pertamanya di dunia. Bahkan, dalam masyarakat Saibatin, kelahiran bayi laki-laki tertua akan diumumkan dengan tiga kali tembakan meriam, sedangkan bayi perempuan dengan satu kali tembakan. 
Ini adalah cara mereka memberitahu seluruh kampung bahwa telah lahir generasi penerus.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya memberi nama yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbaikilah nama-nama kalian" (HR. Abu Dawud).
Upacara paling besar dalam siklus kehidupan orang Lampung adalah perkawinan, yang disebut Gawi Adat atau Begawi. Ini adalah upacara yang melibatkan seluruh kerabat, bahkan bisa menghabiskan puluhan kerbau sebagai simbol kekuatan dan martabat, terutama dalam adat Pepadun.

Dalam tradisi Lampung, perkawinan adalah pusat dari siklus hidup. Hanya mereka yang telah menikah yang dianggap sempurna sebagai manusia. Falsafah orang Lampung menyebutkan tiga hal yang membuat hidup sempurna: benuwa (memiliki rumah), begawi (mengawinkan anak), dan cakak mekkah (naik haji ke Mekah). 
Dalam upacara Begawi, kedua mempelai dianggap "naik tahta adat" (cakak pepadun) dan menjadi pemimpin baru dalam keluarga mereka. Prosesi ini sangat sakral dan melalui tahapan-tahapan yang sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Pemotongan kerbau dalam upacara ini bukanlah sia-sia, melainkan simbol tingginya status sosial dan kemampuan keluarga untuk berbagi rezeki dengan masyarakat.

Nilai ini sangat sejalan dengan ajaran Islam tentang berkurban dan berbagi makanan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hajj ayat 36: 
وَالۡبُدۡنَ جَعَلۡنٰهَا لَـكُمۡ مِّنۡ شَعَآٮِٕرِ اللّٰهِ لَـكُمۡ فِيۡهَا خَيۡرٌ‌ ‌ۖ فَاذۡكُرُوا اسۡمَ اللّٰهِ عَلَيۡهَا صَوَآفَّ‌ ۚ فَاِذَا وَجَبَتۡ جُنُوۡبُهَا فَكُلُوۡا مِنۡهَا وَاَطۡعِمُوا الۡقَانِعَ وَالۡمُعۡتَـرَّ ‌ؕ كَذٰلِكَ سَخَّرۡنٰهَا لَـكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏
Walbudna ja'alnaahaa lakum min sha'aaa'iril laahi lakum fiihaa khairun fazkurusmallaahi 'alaihaa sawaaff; fa izaa wajabat junuubuhaa fakuluu minhaa wa at'imul qooni'a walmu'tarr; kazaalika sakh-kharnaahaa lakum la'allakum tashkuruun
"Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) da-lam keadaan berdiri dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur."

Asbāb al-nuzūl ayat ini berkaitan dengan perintah kepada umat Islam untuk memanfaatkan hewan kurban dengan baik dan berbagi kepada sesama.
Sedangkan dalam menghadapi kematian, orang Lampung memiliki tata cara yang khusyuk. Ketika seseorang meninggal, keluarga akan melakukan ngekunan, yaitu memberitahukan kepada kerabat dan handai taulan agar segera datang untuk ninggan pudak (melayat). 
Dalam situasi ini, tugas dibagi: ada yang bertugas bedah bumi (menggali liang lahat), memandikan jenazah, mengkafani, menyolatkan, hingga menguburkan.

Pada malam harinya, diadakan acara bedu'a yaitu tahlilan hingga tiga hari (telu bengi), dilanjutkan mitu bengi (tujuh hari), ngepakpuluh (empat puluh hari), dan nyekhatus (seratus hari). Ini adalah perpaduan yang indah antara adat dan syariat Islam, di mana ritual adat berjalan beriringan dengan ibadah sesuai tuntunan agama.

Saudara-saudara, dalam setiap upacara adat, kita tidak bisa melewatkan seni pertunjukan yang menjadi simbol kegembiraan dan identitas. Tari Cangget dan Igol adalah dua tarian yang selalu hadir dalam setiap Begawi. Cangget secara sempit diartikan sebagai tarian wanita, namun secara luas ia bermakna "pesta adat" atau gawi itu sendiri. 
Cangget menandai masuknya pengantin wanita ke dalam lembaga kepemimpinan adat (kepenyimbangan). Ia merupakan legitimasi atau pengesahan berubahnya kedudukan pengantin wanita di dalam struktur kekerabatan adat. Pertunjukan Cangget merangkai semua peristiwa adat yang berlangsung di dalamnya, dan perkawinan adat tidak sah tanpa kehadiran Cangget. 
Bagi orang Lampung, Cangget adalah jati diri, sebuah identitas yang melekat. Ia adalah "rumah" tempat untuk kembali dan menemukan "kejati-dirian", tempat di mana sebuah sejarah bermula dan asal-usul diperhitungkan.
Sementara itu, Igol (ada yang menyebut igel atau tigel) adalah tarian yang dilakukan oleh laki-laki sebagai ekspresi kejantanan yang diungkapkan dengan gerak-gerak pencak dan gerakan mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berputar-putar.

Pada masa lalu, Igol dikenal juga sebagai tari perang. Gerak-gerak pencak atau mecak ini dianggap sebagai dasar gerak Igol. Dalam tradisi, Igol dilakukan setiap kali para Penyimbang selesai bermusyawarah dengan menghasilkan kesepakatan. Sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil yang dicapai, mereka menari bersama. 
Ini menunjukkan bahwa seni bela diri dan tarian dalam adat Lampung tidak terpisahkan; keduanya adalah ekspresi dari semangat kebersamaan dan kegagahan. Pencak silat atau mecak menjadi dasar gerakan tari dan juga merupakan simbol kejantanan serta keberanian para pemuda Lampung. 
Di masa lalu, ada juga tradisi Sepak Uluw, uji keberanian para pemuda yang menjadi bagian dari proses pendewasaan. Meskipun kini tradisi ini jarang dilakukan, nilai-nilai keberanian dan ketangguhan tetap hidup dalam setiap gerakan Igol dan pencak.
Dan yang tak kalah penting, sahabat-sahabatku, adalah pakaian adat dan perlengkapannya.

Busana adat Lampung terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Saibatin dan Pepadun. Setiap kelompok memiliki corak dan bentuk yang berbeda, tetapi ada satu hal yang sama di antara keduanya, yaitu penggunaan kain Tapis. 
Kain Tapis bukan sekadar kain biasa. Motif dan ornamennya menunjukkan filosofi yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Motif flora dan fauna menunjukkan keseimbangan manusia dengan lingkungan, sedangkan motif kapal melambangkan perjalanan hidup dan perlindungan. 
Busana adat Pepadun untuk perempuan biasanya mengenakan kain Tapis yang dililit menjadi rok panjang, dengan mahkota (Siger) yang khas memiliki tujuh lekukan, melambangkan tujuh sungai besar di Lampung dan juga dapat melambangkan tujuh gelar adat. Aksesori seperti kalung, gelang, dan sulaman Tapis menggunakan motif lokal yang memiliki arti kosmologis dan genealogis. 
Dalam penelitian ditemukan dua puluh kosa kata aksesori pakaian adat Lampung Pepadun, antara lain: siger, kembang cempaka, beringin tumbuh, serajo bulan, bulang taji, bebe, papan jajar, gelang burung, gelang kano, gelang ruwi, gelang bibit, buah manggus, kalung bulan temenggal, sabik inuh, sabik buluh perindu, selempang pinang buah jukum, bidak bekilas, ikat pinggang bulu serati, tapis jung satrat, dan tanggai. 
Setiap aksesori ini memiliki makna dan fungsi sosial yang menunjukkan status pemakainya di masyarakat. Warna putih, emas, dan merah yang mendominasi pakaian adat Pepadun melambangkan kesucian, keharmonisan, dan juga kesatuan. Sementara itu, pakaian adat Saibatin lebih mencolok dengan dominasi ornamen emas dan merah, serta riasan kepala yang lebih besar sebagai penanda gelar atau status pesisir. Busana adat ini bukan sekadar penampilan; ia adalah visualisasi dari kearifan lokal yang menarik secara estetika dan penuh makna filosofis.
Petuah tetua: "Pakaian adat adalah kulit kedua, di dalamnya tersimpan martabat dan identitas." "Siger menjulang ke langit, mengingatkan kita pada Sang Pencipta." "Tapis yang bersulam emas, adalah doa yang ditenun menjadi kain."

Saudara-saudara, semua tradisi ini, dari kelahiran hingga kematian, dari tarian hingga pakaian adat, adalah perwujudan dari rasa syukur dan identitas kita sebagai Ulun Lampung. Mereka adalah bendera dan nyanyian yang kita kibarkan dan nyanyikan di atas panggung kehidupan. Mereka mengingatkan kita akan asal-usul, menguatkan kita dalam kebersamaan, dan menghubungkan kita dengan leluhur dan Sang Pencipta. 
Nilai-nilai ini tidak bertentangan dengan Islam, melainkan justru memperkaya dan memperkuat keimanan kita.

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-A'raf ayat 31: 
يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَّكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا وَلَا تُسۡرِفُوۡا‌ ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ
Yaa Banniii Adama khuzuu ziinatakum 'inda kulli masjidinw wa kuluu washrabuu wa laa tusrifuu; innahuu laa yuhibbul musrifiin
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) sebagai teguran kepada orang-orang yang melarang berhias dan memakai pakaian indah, mengajarkan bahwa Islam tidak melarang keindahan selama tidak berlebihan dan tetap dalam koridor syariat. Begitu pula dengan tradisi Begawi yang melibatkan pemotongan kerbau dan pesta besar, ia adalah bentuk syukur dan berbagi rezeki yang diajarkan dalam Islam.
Mari kita jaga tradisi ini, sahabat-sahabatku. Karena jika kita kehilangan Cangget, lalu di mana kita akan menari sebagai ungkapan syukur? Jika kita melupakan makna Siger dan Tapis, lalu bagaimana kita akan menunjukkan identitas kita? Jika kita meninggalkan Begawi, lalu bagaimana kita akan merayakan siklus kehidupan dengan penuh makna? Pertanyaan di judul kita kembali menggema: Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? (#)

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. (Karya-karya beliau tentang adat dan sejarah Lampung menjadi rujukan utama dalam penulisan naskah ini, khususnya terkait upacara adat dan filosofi di baliknya).
2. Hilman, H. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung: Tanpa Penerbit. 
3. Tim Peneliti. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti sebagai Sumber Pendidikan Karakter. Bandar Lampung: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. 
4. Departemen Agama RI. (2005). Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: Penerbit Sahifa.
5. Pramazuly et al. (2021). Bejuluk Beadek dalam Masyarakat Pepadun. Jurnal Adat dan Budaya Lampung, Vol. 5 No. 2. 
6. Sumber-sumber tentang Cangget dan Igol dari penelitian budaya Lampung. 
7. Sumber tentang pakaian adat Lampung Pepadun dan Saibatin. 
8. Berita tentang Begawi Agung di Lampung Utara. 
9. Artikel tentang ritual adat Lampung Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 6 = ?
Berita Terkait