Seri Buku: Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 2: Harga Diri yang Tak Boleh Pudar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 13 Sep 2026 02:33 Admin NA 46 kali dibaca
Seri Buku:  Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung? Seri 2: Harga Diri yang Tak Boleh Pudar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, sahabat-sahabatku yang saya hormati. 
Mari kita lanjutkan cerita dari beranda ini, setelah sebelumnya kita berbincang tentang asal-usul dari gunung sakral Sekala Brak. Kini, izinkanlah seorang tua ini mengajak kalian menyelami lebih dalam, ke inti dari jati diri kita sebagai Ulun Lampung. Kita akan berbicara tentang sebuah harga diri yang tak boleh pudar, tentang Piil Pesenggiri, falsafah yang menjadi nafas dan marwah kita.

Saudara-saudara, pernahkah kalian melihat sebatang pohon bambu di tepi sungai? Ia tumbuh tegak, melambai ditiup angin, tetapi akarnya mencengkeram tanah dengan kuat. Begitulah kiranya gambaran diri kita. Kita boleh ramah dan luwes seperti Nemui Nyimah, tetapi di dalam dada kita, ada sebatang tonggak harga diri yang tak boleh roboh. Itulah Piil Pesenggiri.
Dahulu kala, di sebuah kampung di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang pemuda bernama Serunting. Suatu hari, ia dihina oleh seorang tamu dari negeri seberang karena dianggap miskin dan tak punya apa-apa. Serunting tidak membalas dengan amarah. Ia hanya tersenyum dan berkata, "Saudara, bicaramu mungkin kau anggap angin lalu. Tetapi bagiku, ia adalah bara yang membakar piil (harga diri)-ku. Tunggulah, suatu saat kau akan melihat siapa aku sebenarnya." 
Tahun-tahun berlalu. Serunting bekerja keras, merantau ke negeri seberang, mengumpulkan kekayaan serta ilmu pengetahuan.

Ketika ia kembali, ia bukan lagi pemuda miskin, melainkan seorang Punyimbang yang disegani, dengan Bejuluk Beadek yang mengharumkan nama kampungnya. Tamu itu pun datang meminta maaf sambil membawa sesajen dan sirih pinang. Serunting menjawab dengan senyum, "Itulah orang Lampung. Kami tidak membalas hinaan dengan kebencian, tetapi kami akan membuktikan harga diri kami dengan karya dan prestasi. Kembalilah ke rumahmu dengan damai, karena kami sudah melupakan apa yang telah terjadi." Tamu itu pun terharu dan mengakui kebesaran hati orang Lampung.

Cerita ini, sahabatku, adalah cermin dari makna Piil Pesenggiri yang sesungguhnya.
Piil, dalam bahasa kita, berasal dari kata fiil dalam bahasa Arab yang berarti perilaku atau perbuatan. Sedangkan Pesenggiri berarti keharusan untuk bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, dan berjuang menjadi pribadi yang terhormat. Jadi, Piil Pesenggiri bukanlah sekadar rasa malu atau gengsi semata. Ia adalah harga diri yang diwujudkan dalam perilaku nyata, sebuah dorongan untuk selalu menjadi yang terbaik, seperti ajaran fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. 
Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi pedoman adat kita juga menegaskan hal ini dalam salah satu pasalnya yang berbunyi: "Unyin lom sai bejuluk beadek, sai bepiil pesenggiri, sai nemui nyimah, sai nengah nyappur, sai sikai sambayan, ulun sai gegoh cawak", yang artinya, orang yang bergelar, berharga diri, ramah, terbuka, dan gotong-royong adalah orang yang sempurna akhlaknya. Dari petikan ini, kita belajar bahwa kelima pilar falsafah kita tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Sebelum Islam datang ke tanah Lampung, nenek moyang kita sudah mengenal piil sebagai harga diri.

Konon, pada masa itu, harga diri seorang pria adalah istrinya, harga diri seorang wanita adalah kemampuannya memberi makan dan perhiasan, dan harga diri seorang anak adalah perilaku dan ucapannya. 
Namun, setelah Islam masuk, seperti yang kita ceritakan di seri sebelumnya tentang kedatangan para Umpu dari Pagaruyung dan Banten, nilai piil ini disempurnakan. Kata Pesenggiri yang diduga berasal dari bahasa Sunda pasanggiri (lomba), diselaraskan dengan semangat Islam untuk berlomba dalam kebaikan. 
Maka lahirlah Piil Pesenggiri yang kita kenal sekarang: sebuah falsafah yang memadukan harga diri dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemasyarakatan. Ini adalah proses panjang yang menunjukkan betapa adat Lampung itu dinamis dan selalu terbuka terhadap nilai-nilai luhur dari luar, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dan falsafah yang agung ini, saudara-saudara, berdiri di atas lima tiang penyanggah. Lima pilar yang saling menguatkan, bagaikan lima jari dalam satu genggaman. Jika satu pilar rapuh, maka keseluruhan bangunan akan goyah. Mari kita telaah satu per satu dengan penuh penghayatan.
Pilar pertama adalah Piil Pesenggiri itu sendiri, sebagai inti dan roh dari semuanya. Ini adalah keharusan untuk memiliki hati nurani yang positif, bermoral tinggi, dan berjiwa besar, agar kita senantiasa hidup secara logis, etis, dan estetis. Seseorang dengan Piil Pesenggiri akan menjaga nama baik diri, keluarga, dan marga di atas segalanya. 
Ia tidak akan melakukan perbuatan tercela seperti pencurian, penipuan, atau penganiayaan, karena rasa liyom (malu) dan harga dirinya akan mencegahnya. Bayangkan, jika setiap orang Lampung memegang teguh pilar ini, tentu kampung kita akan aman dan tentram, bukan?

Di sinilah kita melihat betapa Piil Pesenggiri tidak hanya selaras dengan nilai-nilai Islam, tetapi juga dengan Pancasila sila ke-2, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Menjaga harga diri berarti menjaga martabat kemanusiaan kita.

Ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Ar-Rad ayat 11: 
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
Lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu'an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) sebagai teguran kepada orang-orang yang beriman agar tidak berputus asa dan selalu berusaha mengubah nasibnya. Harga diri kita adalah kunci perubahan. Jangan harap kampung kita maju jika kita sendiri malas dan tak punya pesenggiri.

Firman Allah lainnya dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13 juga mengingatkan: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." 

Artinya, kemuliaan sejati tidak diukur dari harta atau keturunan, melainkan dari ketakwaan dan akhlak, inilah inti dari Piil Pesenggiri yang sesungguhnya.

Pilar kedua adalah Bejuluk Beadek (atau Juluk Adok). Sahabat-sahabatku, dalam adat Lampung, gelar bukanlah sekadar nama. Ia adalah identitas, prestise, dan pengakuan atas eksistensi kita. Bejuluk Beadek berasal dari dua kata: juluk dan adek. Juluk adalah nama panggilan yang diberikan sejak kecil, biasanya oleh orang tua atau keluarga dekat, yang mengandung doa dan harapan. Sedangkan adek adalah gelar adat yang disematkan saat seseorang menikah, sebagai tanda kedewasaan dan pengakuan dalam masyarakat. Prosesi penyematan adek ini biasanya dilaksanakan dalam upacara adat Gawi yang memiliki tingkatan tertentu. 
Bagi kami, Bejuluk Beadek adalah tanggung jawab besar. Seseorang yang sudah menyandang gelar haruslah menjadi teladan, menjaga tingkah lakunya, dan terus berjuang meningkatkan taraf hidupnya. Di sinilah semangat Piil Pesenggiri benar-benar teruji. Seperti yang tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, "Sai bejuluk beadek mak gawi sai mak niti, jogho sai mak nemui nyimah", orang yang bergelar tetapi tidak bertindak adil dan bijaksana, sama saja dengan orang yang tidak ramah. 
Dengan kata lain, gelar tanpa perbuatan adalah sia-sia. Kita disebut Ulun Lampung bukan karena lahir di Lampung, tetapi karena kita memiliki dan menghidupi gelar serta marwah yang menyertainya. Dalam kehidupan sehari-hari di kampung Liwa atau Krui, kita bisa melihat bagaimana seorang Punyimbang yang menyandang gelar adat selalu menjadi rujukan dalam menyelesaikan persoalan. Ia tidak sombong, tetapi justru rendah hati dan bijaksana.

Pilar ketiga adalah Nemui Nyimah. Secara harfiah, Nemui berarti menerima tamu, dan Nyimah berarti memberi. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar keramahan. Nemui Nyimah adalah sikap hati yang terbuka, murah hati, dan suka memberi dengan ikhlas. Orang Lampung dikenal sebagai tuan rumah yang ramah. Siapa pun yang datang ke rumah kita, baik dari suku atau agama mana pun, akan kita sambut dengan senyuman dan hidangan terbaik. 
Ini bukan hanya sopan santun, tetapi adalah cerminan dari ajaran Islam tentang memuliakan tamu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya". Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari keimanan. 
Lihatlah, betapa Nemui Nyimah tidak hanya selaras dengan Islam, tetapi juga dengan nilai kemanusiaan universal. Di kampung Sungkai atau Pubian, jika ada rombongan pengantin yang datang, seluruh warga akan bergotong-royong menyiapkan hidangan. Tidak ada yang pelit, tidak ada yang menghitung-hitung. Itulah Nemui Nyimah dalam praktik nyata.

Pilar keempat adalah Nengah Nyappur. Ini adalah kemampuan kita untuk bergaul, bersosialisasi, dan beradaptasi dengan siapa pun tanpa membedakan suku, agama, atau status sosial. Nengah Nyappur menggambarkan sikap kita yang suka berbincang, bermusyawarah, dan membangun kebersamaan. Kita tidak egois, kita selalu membuka diri terhadap perbedaan. 
Di sinilah letak kekuatan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Semangat Nengah Nyappur ini sangat sejalan dengan sila ke-3 Pancasila, "Persatuan Indonesia", dan sila ke-4, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Dengan Nengah Nyappur, kita bisa duduk berdampingan dengan siapa pun untuk mencari mufakat. Dalam masyarakat adat Pepadun, prinsip musyawarah ini sangat dijunjung tinggi. Singgasana Pepadun sendiri adalah simbol pertemuan untuk bermusyawarah. 
Tidak ada keputusan penting yang diambil tanpa melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ini mengingatkan kita pada Q.S. Ali Imran ayat 159, di mana Allah berfirman, 
فَبِمَا رَحۡمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنۡتَ لَهُمۡ‌ۚ وَلَوۡ كُنۡتَ فَظًّا غَلِيۡظَ الۡقَلۡبِ لَانْفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِكَ‌ ۖ فَاعۡفُ عَنۡهُمۡ وَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى الۡاَمۡرِ‌ۚ فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُتَوَكِّلِيۡنَ
Fabimaa rahmatim minal laahi linta lahum wa law kunta fazzan ghaliizal qalbi lanfadduu min hawlika fafu 'anhum wastaghfir lahum wa shaawirhum fil amri fa izaa 'azamta fatawakkal 'alal laah; innallaaha yuhibbul mutawak kiliin
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." 

Ayat ini turun sebagai bimbingan kepada Nabi Muhammad SAW untuk selalu melibatkan para sahabat dalam pengambilan keputusan.

Dan pilar kelima adalah Sakai Sambayan. Jika kita telaah, kata Sakai berarti memberikan sesuatu kepada seseorang atau kelompok, yang cenderung mengharapkan balasan, sedangkan Sambayan adalah memberi tanpa mengharapkan balasan. Dalam praktiknya, Sakai Sambayan adalah semangat gotong-royong dan tolong-menolong dalam suka dan duka, tanpa pamrih. Ini adalah jiwa sosial yang tinggi. 
Kita sadar bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Ketika ada tetangga yang membangun rumah, menikahkan anak, atau bahkan berduka, kita semua datang membantu. Ini bukan hanya kewajiban, tetapi adalah kehormatan. Seorang Ulun Lampung akan merasa kurang terpandang jika ia tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan. 
Semangat ini diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari dan Muslim). 
Di kampung Kotabumi atau Abung, jika ada warga yang terkena musibah, dalam hitungan jam sudah terkumpul bantuan dari tetangga dan sanak saudara. Tidak perlu ada yang memerintah, semua bergerak dengan kesadaran sendiri. Itulah Sakai Sambayan.
Nilai-nilai luhur ini, sahabat-sahabatku, bukanlah sekadar kata-kata indah. Ia adalah pegangan hidup dalam keseharian kita. Ia terlihat dalam setiap upacara adat, seperti Gawi (perkawinan adat) yang megah itu.

Proses Bejuluk Beadek yang panjang dan khidmat adalah pengingat akan tanggung jawab sosial. 
Dalam upacara Gawi, kita bisa melihat bagaimana Nemui Nyimah diwujudkan dengan menyajikan hidangan untuk ratusan tamu, bagaimana Nengah Nyappur terlihat dalam pergaulan antar-keluarga besar, dan bagaimana Sakai Sambayan menjadi roh dari seluruh rangkaian acara. Ia terlihat dalam kerja bakti membersihkan pekon setiap Minggu pagi, yang merupakan wujud Sakai Sambayan. Ia terlihat dalam cara kita menyambut perantau yang pulang kampung, yang merupakan cermin Nemui Nyimah. Bahkan dalam dunia kerja, orang Lampung dikenal ulet dan bertanggung jawab karena didorong oleh Piil Pesenggiri. Tidak ada yang mau disebut pemalas atau tidak punya harga diri.
Petuah tetua: "Sekali air bah, sekali pasir berubah", jika kita sudah sepakat menjaga adat, pantang untuk kita ingkari. "Induk ayam ditakik, anaknya dicari; pusaka adat dijaga, marwahnya ditegakkan."

Saudara-saudara, di era yang serba modern ini, godaan untuk melupakan jati diri sangatlah besar. Anak-anak muda kita kini lebih akrab dengan gawai daripada dengan cerita tetua. Namun, justru di sinilah tantangan kita. Piil Pesenggiri adalah perisai kita. 
Gelar adat bukan sekadar hiasan, tetapi adalah cap pencapaian yang diperoleh karena karya dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam adat Pepadun, seseorang dihormati karena karyanya, bukan hanya karena keturunannya. Semangat demokrasi dan penghargaan terhadap prestasi ini sangat sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan kita. 
Mari kita wariskan nilai ini kepada anak cucu kita. Tidak perlu dengan cara yang kaku, tetapi melalui cerita, keteladanan, dan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, ada sepuluh larangan (Mayuh Tiyuh) bagi sebuah negeri, salah satunya adalah "punyimbang lom tiyuh mak sai tungkul", para pemimpin yang selalu berselisih. Ini adalah peringatan agar kita selalu menjaga kerukunan dan persatuan.
Karena jika kita kehilangan Piil Pesenggiri, maka apa lagi yang tersisa? Jika kita lupa akan Bejuluk Beadek, lalu siapa yang akan menghargai perjuangan para leluhur? Jika kita mengabaikan Sakai Sambayan, bagaimana mungkin kita bisa maju bersama? 
Nilai-nilai ini bukan hanya milik kita, orang Lampung, tetapi adalah sumbangsih bagi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan tentang harmoni, gotong-royong, dan harga diri, yang merupakan fondasi dari Pancasila itu sendiri. Maka, pertanyaan di judul kita kembali menggema: Kalau Bukan Kita, Siapa yang Menjaga Adat Lampung?

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. (Karya-karya beliau tentang adat dan sejarah Lampung menjadi rujukan utama dalam penulisan naskah ini, khususnya terkait falsafah Piil Pesenggiri dan struktur adat Pepadun dan Saibatin).
2. Fachruddin & Haryadi. (2003 & 2007). Falsafah Piil Pesenggiri Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
3. Hilman, H. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung: Tanpa Penerbit.
4. Himyari Yusuf. (2013 & 2016). Piil Pesenggiri dan Kearifan Lokal Lampung. Lampung: Balai Adat.
5. Pramazuly et al. (2021). Bejuluk Beadek dalam Masyarakat Pepadun. Jurnal Adat dan Budaya Lampung, Vol. 5 No. 2.
6. Wardani. (2020). Perbedaan Falsafah Hidup Saibatin dan Pepadun. Yogyakarta: Pustaka Adat Nusantara.
7.     Zarkashi. (2020). Sejarah Masuknya Islam di Lampung. Jakarta: Kementerian Agama RI.
8. Tim Peneliti. (2018). Kitab Kuntara Raja Niti sebagai Sumber Pendidikan Karakter. Bandar Lampung: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 4 = ?
Berita Terkait