Apakah Kita Masih Bangga dengan Identitas Lampung? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, ananda sekalian, dan para penerus Sai Bumi Ruwa Jurai. Mari kita duduk sejenak di beranda ini, menghirup kopi robusta yang pahit namun harum, sebagaimana hidup yang sering terasa berat tetapi selalu menyimpan makna.
Hari ini, saya ingin bercerita tentang sebuah pertanyaan yang mungkin sering menghantui kita: Apakah Kita Masih Bangga dengan Identitas Lampung?
Alkisah, di sebuah kampung tua di tepian Sungai Tulang Bawang, hiduplah seorang gadis muda bernama Melati. Ia adalah keturunan Saibatin dari garis ibunya dan Pepadun dari garis ayahnya, sebuah perpaduan yang membuatnya sering disebut "anak dua jurai".
Suatu sore, Melati duduk termenung di bawah pohon kemiri. Tangannya masih memegang kain tapis yang ditenun oleh neneknya, kain yang sudah berusia puluhan tahun tetapi masih utuh dan indah. Namun, benang-benang emas di kain itu mulai pudar. Seperti itulah, pikir Melati, nasib budaya Lampung di zaman sekarang.
Ia teringat pada percakapannya dengan teman-teman sekolah beberapa hari lalu. Ketika guru bertanya tentang makanan khas Lampung, hanya dua dari dua puluh siswa yang bisa menjawab dengan benar. Ketika guru bertanya tentang arti "Sakai Sambayan", suasana hening seperti kuburan. Bahkan Melati sendiri, meski hafal falsafah dari kecil, mulai merasa ragu: apakah dia benar-benar menghayatinya, atau hanya sekadar menghafal seperti puisi yang dibaca di depan kelas?
Pertanyaan itu membawanya pada kegelisahan yang lebih besar. Apakah menjadi orang Lampung sekarang hanya soal KTP dan nama marga? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, sebuah denyut nadi yang selama ini mulai melemah, seperti nadi orang tua yang menua?
Beberapa hari kemudian, Melati diajak oleh ayahnya ke ibu kota provinsi. Di sana, ia melihat spanduk besar bertuliskan "Lampung Berbudaya, Lampung Bermartabat". Ada festival budaya yang digelar di halaman kantor gubernur. Tari Cangget ditampilkan dengan gemerlap, para penari mengenakan siger keemasan yang berkilauan. Bupati dan gubernur hadir, menyampaikan pidato tentang pentingnya melestarikan budaya. Sorak-sorai bergema, foto-foto diambil, dan semuanya tampak sempurna di layar televisi.
Namun saat Melati berjalan ke belakang panggung, ia melihat hal yang berbeda. Para penari, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda yang hanya diajarkan gerakan tari dalam waktu tiga hari. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan tarian Cangget memiliki makna tersendiri, tentang keberanian, tentang penghormatan kepada tamu, tentang doa bagi kampung halaman.
Mereka hanya menghafal langkah, bukan memahami jiwa tarian itu. Seorang penari tua yang ikut membantu mengajar berkata lirih, "Dulu, kami belajar tari Cangget dari nenek moyang selama bertahun-tahun. Sekarang, mereka belajar hanya untuk pertunjukan. Setelah festival usai, mereka kembali lupa."
Melati bertanya pada salah satu panitia, "Pak, setelah festival ini, apa yang akan dilakukan untuk para penari? Apakah ada pelatihan lanjutan, atau program untuk mengajarkan tari ini di sekolah-sekolah?" Panitia itu tersenyum canggung, lalu menjawab dengan nada setengah berbisik: "Kami sudah ajukan proposal tahun lalu, tetapi pusat bilang dananya belum ada. Lagi fokus ke pembangunan infrastruktur." Melati terdiam. Infrastruktur jalan dan jembatan memang penting, tetapi apakah membiarkan budaya mati adalah harga yang pantas dibayar?
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apa artinya menjadi orang Lampung? Apakah itu hanya tentang memakai kain tapis di hari Kamis, atau mengucapkan beberapa kata dalam dialek O atau A saat rapat? Atau adakah sesuatu yang lebih dalam dari itu, sebuah akar yang menghubungkan kita dengan leluhur dan tanah kelahiran? Di tengah hingar-bingar zaman, identitas sering terasa seperti pakaian lama yang kadang kita kenakan hanya untuk acara seremonial, sementara hati dan pikiran kita melayang ke hal lain.
Pernahkah kita mendengar falsafah dasar kehidupan orang Lampung? Ada Piil Pesenggiri, yang berarti harga diri dan kehormatan. Bagi orang Lampung sejati, harga diri adalah segala-galanya. Ia dipegang teguh, dijaga mati-matian. Ini bukan sekadar gengsi, melainkan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan karena keturunan atau jabatan, melainkan karena ketakwaannya. Namun, Piil Pesenggiri mengingatkan kita bahwa kemuliaan di dunia juga perlu dijaga sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Tidak ada pertentangan antara keduanya; justru keduanya saling menguatkan.
Ada Juluk-Adok, gelar adat yang bukan sekadar embel-embel nama, melainkan pengakuan atas martabat dan peran dalam masyarakat. Di Lampung, memberikan gelar kepada seseorang adalah pengakuan bahwa ia telah berjasa bagi lingkungannya. Ini selaras dengan ajaran Islam tentang menghargai orang-orang yang memiliki kelebihan dan memberikan hak kepada yang berhak.
Ada Nemui Nyimah, keramahan yang tulus kepada siapa pun yang datang. Ketika seorang tamu tiba di kampung Lampung, ia disambut dengan hangat, diberi makan dan minum, tanpa memandang latar belakangnya. Ini mengingatkan kita pada ajaran Rasulullah tentang memuliakan tamu. "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." Keramahan ini bukan sekadar basa-basi, tetapi cerminan hati yang terbuka dan jiwa yang lapang.
Ada Nengah Nyappur, keterbukaan untuk berbaur dan bersosialisasi. Orang Lampung tidak hidup dalam keterasingan. Mereka membangun relasi, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Dalam kehidupan bermasyarakat, keterbukaan ini adalah kunci untuk menghindari prasangka dan permusuhan. Ini pula yang diajarkan oleh Pancasila: persatuan dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
Yang tak kalah penting, Sakai Sambayan, atau gotong-royong, semangat bahu-membahu yang dulu menjadi nyawa setiap desa. Jika ada tetangga yang sedang membangun rumah, seluruh kampung akan datang membantu. Jika ada yang tertimpa musibah, semua ikut menanggung. Inilah cerminan dari ajaran Islam tentang ukhuwah, tentang saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan tentang rasa solidaritas yang tulus.
Inilah lima tiang yang menyangga rumah besar kebudayaan Lampung, yang diwariskan turun-temurun. Namun, apakah kita masih mengamalkannya? Ataukah kelima tiang itu kini hanya nama-nama indah yang terpajang di buku pelajaran, tetapi tidak lagi terasa denyutnya dalam kehidupan nyata?
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi pedoman hidup orang Lampung, ada pesan mendalam tentang bagaimana seharusnya kita bersikap. Di sana tertulis: "Sikok haga ngerik, cawang bingei-bingei, lapah lambak-lambak, hayang hajaga mak pak sangguh, mak ayu di gagak, mak lemang di gajah."
Kutipan ini kurang lebih berarti: "Jika kita mau memetik buah di dahan, gunakan galah pelan-pelan. Berjalanlah lambat agar selamat, asalkan sampai tujuan. Jangan seperti burung gagak yang memakan bangkai, atau seperti gajah yang tidak pernah puas."
Ini adalah nasihat tentang kesabaran dan ketelitian. Dalam menjaga budaya, kita tidak perlu tergesa-gesa, tetapi juga tidak boleh berhenti. Setiap langkah kecil, belajar satu kata bahasa Lampung setiap hari, mengenalkan satu tarian pada anak-anak, menghidupkan satu tradisi di kampung, adalah bagian dari perjalanan panjang.
Ada pula pesan lain: "Wawai padang rawa-rawa, ulah di tengah jalan, mak berani tulung-tulung, mak kepit kemati-kemati." Artinya, dalam mengarungi rawa-rawa kehidupan, jangan berani-berani jika tidak tahu tempatnya, tetapi juga jangan takut sampai mati. Ini mengajarkan keseimbangan. Jangan pula kita berani menyalahkan pemerintah tanpa bersedia berbuat sendiri. Tetapi jangan pula kita takut untuk mengkritik jika memang ada yang salah.
Kitab ini, yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam, mengingatkan bahwa setiap tindakan harus memiliki dasar dan tujuan. Para ulama Lampung dahulu adalah juga punyimbang adat. Mereka tidak memisahkan antara ajaran agama dan kearifan lokal. Mereka memahami bahwa Islam datang bukan untuk menghapus tradisi, melainkan untuk memurnikannya.
Tradisi yang baik dipertahankan, yang tidak sesuai dengan syariat ditinggalkan. Sayangnya, generasi kini sering terjebak dalam dua ekstrem: ada yang menganggap adat adalah syirik dan harus ditinggalkan, dan ada yang menganggap adat adalah segalanya hingga mengabaikan ajaran agama. Padahal, keduanya bisa berjalan beriringan, seperti dua anak sungai yang bertemu menjadi satu aliran besar.
Di luar sana, Gedung Pusat Pemerintahan Provinsi tampak megah. Di dalamnya, pidato-pidato tentang kebudayaan sering bergema. Namun, saat kita turun ke kampung, ke pelosok-pelosok, banyak tradisi yang mulai sayup terdengar. Tari-tarian sakral hanya ditampilkan di acara festival, adat-istiadat hanya diingat saat ada hajatan besar. Para punyimbang adat yang dulu menjadi panutan kini banyak yang telah tiada, dan tidak ada kaderisasi yang terencana untuk menggantikan mereka. Anak-anak muda lebih tertarik pada ponsel dan media sosial daripada duduk mendengarkan cerita leluhur.
Saat ditanya, jawaban dari pemerintah selalu sama: "Tidak ada dana, Pak." Alasan klise yang sudah usang, seperti siaran radio tua yang hanya memutarkan lagu yang sama. Padahal, berapa banyak anggaran yang dialokasikan untuk proyek-proyek yang kurang prioritas? Berapa banyak dana yang terbuang untuk acara seremonial yang hanya berlangsung sehari?
Melestarikan budaya sejatinya bukan soal uang besar; banyak hal yang bisa dilakukan dengan biaya minimal, seperti mengajak para sesepuh ke sekolah-sekolah, membuat kelas menenun kain tapis di tingkat desa, atau mengadakan lomba bercerita rakyat dengan bahasa Lampung. Semua itu hanya butuh niat, komitmen, dan koordinasi yang baik.
Pemerintah daerah tampak sibuk dengan program "Hari Kamis Beradat". Sebuah langkah yang tampak baik di permukaan, seperti mengecat pagar rumah yang sudah lapuk. Kewajiban memakai batik Lampung dan berbahasa Lampung bagi ASN dan lembaga pendidikan memang terdengar progresif. Namun, apakah cukup? Atau hanya sekadar simbol politik, sebuah kebijakan yang lebih rapi di atas kertas daripada di dalam jiwa?
Penggunaan bahasa Lampung yang dipaksa tanpa peningkatan kapasitas pelaku dan pendidik berisiko menjadi sekadar formalitas administratif, bukan gerakan yang mengakar. Ini seperti meminta anak menari Cangget tanpa mengajarinya irama dan makna gerakannya.
Saya teringat sebuah anekdot dari seorang kakek tua di dusun. Waktu ditanya, "Nek, kenapa kita harus pakai adat?" Beliau menjawab sambil mengunyah sirih, "Anakku, adat itu seperti benang. Kalau benang kusut, tak bisa dipakai menjahit. Kalau benang putus, kain tak akan pernah jadi baju." Begitulah adat, ia adalah benang yang menyatukan kita. Tanpa adat, kehidupan akan kusut dan tercerai-berai.
Pemerintah, dalam hal ini, adalah penjahit yang seharusnya menjaga agar benang tetap rapi. Jika penjahitnya lalai, benang akan kusut, dan pakaian kebudayaan kita akan robek.
Kritik terhadap pemerintah harus kita sampaikan dengan tegas. Bukan untuk menghujat, tetapi untuk membangunkan dari mimpi. Selama ini, perhatian terhadap pelestarian budaya sering berhenti pada selebrasi. Upacara adat digelar dengan biaya besar, tetapi setelah itu, para seniman dan budayawan kembali dilupakan. Dana yang katanya tidak ada, mungkin ada, tetapi mengalir ke mana?
Jika kita mampu membangun gedung-gedung megah, mengapa kita tidak mampu membiayai pendidikan bahasa Lampung untuk generasi muda? Atau menghidupkan kembali tradisi Ngelemang, memasak ketan dalam bambu yang penuh makna kebersamaan? Tradisi ini, yang biasanya dilakukan saat menyambut tamu kehormatan atau merayakan panen, mengajarkan bahwa kebersamaan dalam menyiapkan makanan adalah ibadah tersendiri. Anak-anak belajar bekerja sama, belajar sabar menunggu ketan matang, dan belajar berbagi saat makanan siap dinikmati.
Kita, masyarakat Lampung, terdiri dari dua jurai besar: Pepadun dan Saibatin. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Pepadun dengan sistem kekerabatan patrilinealnya dan dialek 'O', dan Saibatin yang mendiami pesisir dengan dialek 'A'. Namun, perbedaan ini tidak seharusnya menjadi jurang pemisah. Moto kita, Sai Bumi Ruwa Jurai, mengingatkan bahwa kita adalah satu.
Keberagaman ini adalah kekayaan, dan kebanggaan sejati adalah mampu merangkul perbedaan itu dalam ikatan persaudaraan.
Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, kita justru melihat ketegangan yang tidak perlu antara kedua jurai ini, sering dipicu oleh kepentingan politik atau ekonomi. Inilah yang harus diwaspadai; ketika adat sudah menjadi alat kepentingan, ia kehilangan maknanya.
Pernahkah kita bertanya, mengapa Melati muda begitu gelisah? Karena ia menyadari bahwa kebanggaan tidak lahir dari spanduk atau instruksi gubernur. Kebanggaan lahir dari pengalaman, dari rasa memiliki, dan dari tanggung jawab. Melati kemudian memutuskan untuk memulai sesuatu yang kecil.
Ia mengajak teman-temannya di kampung untuk belajar bahasa Lampung setiap Sabtu sore. Mereka tidak menggunakan buku teks yang kaku, tetapi bercerita. Nenek Melati, yang sudah berusia 80 tahun, duduk di tengah-tengah mereka dan bercerita tentang masa muda, tentang legenda Danau Ranau, tentang asal-usul marga mereka.
Mula-mula hanya lima anak yang datang. Kemudian sepuluh. Kini, sudah lebih dari tiga puluh. Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar menenun, belajar memasak makanan tradisional seperti seruit dan sambal teri, dan belajar memahami bahwa menjadi orang Lampung bukanlah sesuatu yang diwariskan secara otomatis, ia harus diperjuangkan, dihidupi, dan dicintai. Di sinilah letak kebanggaan sejati: bukan pada simbol, tetapi pada tindakan nyata.
Apakah cukup hanya dengan simbol? Tentu tidak. Kebanggaan harus diwujudkan dalam aksi nyata: mengenali sejarah, menjaga bahasa, melestarikan tradisi, dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang diajarkan dalam Kitab Kuntara Raja Niti, "Andak punya gawok yang bagus, lappah di selesaikan, kenyak pu gawok yang jelek, ikhtiar dihindari." Artinya, jika ada pekerjaan baik, segera selesaikan, dan jika ada hal buruk, berusahalah menghindarinya. Inilah panggilan kita untuk bertindak. Mari kita tinggalkan kebiasaan hanya berpangku tangan menunggu "instruksi" dari atas. Mari kita bangkit, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai satu komunitas.
Ananda sekalian, mengapa kita harus bangga? Karena di dalam darah kita mengalir semangat juang para leluhur yang tidak gentar. Karena di ujung jari kita, ada potensi untuk mencipta dan melestarikan. Karena di hati kita, ada ruang untuk Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur. Karena di pundak kita, ada tanggung jawab untuk mewariskan api budaya ini, bukan abunya, kepada generasi yang akan datang.
Jangan biarkan identitas kita hanya menjadi pajangan di museum atau liputan di media. Jadikan ia sebagai denyut nadi kehidupan kita. Jangan biarkan pidato dan instruksi gubernur menjadi pengganti tindakan nyata. Tuntutlah pemimpin kita untuk berbuat lebih.
Ingatkan mereka bahwa melestarikan budaya adalah investasi jangka panjang, bukan proyek pencitraan. Namun, lebih dari itu, mulailah dari diri kita sendiri. Pelajari bahasa Lampung dari orang tua, ikut serta dalam gotong-royong, dan tanamkan pada generasi muda bahwa menjadi orang Lampung adalah suatu kehormatan.
Di akhir renungan ini, marilah kita muhasabah. Sudahkah kita benar-benar menghidupi falsafah Piil Pesenggiri dalam setiap langkah kita? Sudahkah kita menjaga kehormatan daerah ini dengan cara menjaga warisan budayanya, atau kita hanya sekadar menjadi penonton dalam sejarah yang kita sendiri tulis?
Tabik puun, maafkan jika kata-kata saya terasa keras. Tapi ini adalah panggilan dari tanah yang kita cintai. Semoga kita semua, terutama para pemimpin, segera terbangun dari tidur panjang. Mari kita jadikan Lampung sebagai "rumah bersama" yang tidak hanya indah dari luar, tetapi juga kokoh dari dalam, dengan fondasi budaya yang kuat dan jiwa yang bersatu. Wallahu a'lam bish-shawab.
Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua untuk tetap istiqamah di jalan yang benar, menjaga kearifan lokal tanpa meninggalkan syariat, dan menebar manfaat bagi sesama. <>
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar