Mutiara Pagi: Pemimpin, Wazir, dan Tanda Kebaikan dari Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 16 Sep 2026 03:18 Admin NA 17 kali dibaca
Mutiara Pagi: Pemimpin, Wazir, dan Tanda Kebaikan dari Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada sebuah kaidah besar dalam kehidupan kepemimpinan: kebaikan seorang pemimpin sering kali dapat dibaca dari siapa yang berada di dekatnya. Pemimpin yang ingin mendengar kebenaran akan dikelilingi oleh orang-orang yang berani berkata benar. Sebaliknya, pemimpin yang hanya ingin dipuji akan dikerumuni oleh orang-orang yang pandai menyenangkan telinga.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ، إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ، وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Dia akan memberikan kepadanya wazir yang jujur. Jika pemimpin itu lupa, ia mengingatkannya; jika pemimpin itu ingat, ia membantunya. Dan apabila Allah menghendaki selain kebaikan baginya, Dia memberikan kepadanya wazir yang buruk. Jika ia lupa, wazir itu tidak mengingatkannya; dan jika ia ingat, ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud, no. 2932; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra).

Pemimpin membutuhkan cermin, bukan gema

Seorang pemimpin tidak selalu melihat dirinya sebagaimana orang lain melihatnya. Kekuasaan dapat menjadi cermin yang mudah berdebu. Pujian yang terlalu banyak dapat membuat seorang pemimpin lupa bahwa ia juga manusia yang bisa salah.

Karena itu, wazir yang baik bukanlah orang yang selalu berkata “iya”.

Wazir yang baik adalah orang yang berkata:

“Ini benar, kami dukung.”

Dan ketika melihat kekeliruan, ia berkata:

“Ini keliru, izinkan saya mengingatkan.”

Ia tidak menjadikan kedekatannya dengan penguasa sebagai tangga untuk kepentingan pribadi. Ia menjadikannya jalan untuk menyampaikan amanah.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Maka seorang pembantu pemimpin yang saleh bukan sekadar membantu pemimpinnya mendapatkan kekuasaan, tetapi membantu pemimpinnya menunaikan kekuasaan dengan benar.

Lihatlah kisah Musa dan Harun

Ketika Nabi Musa alaihis salam menghadapi tugas yang sangat berat untuk mendatangi Fir‘aun, beliau berdoa:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي ۝ هَارُونَ أَخِي ۝ اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ۝ وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan dia dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.” (QS. Thaha: 29–32)

Perhatikan permintaan Musa.

Ia tidak meminta orang yang pandai memuji.
Ia tidak meminta orang yang selalu membenarkan.
Ia meminta wazir yang menguatkan dirinya dalam menjalankan amanah.

Sebab perjalanan seorang pemimpin terlalu berat jika hanya ditemani orang-orang yang mengejar keuntungan.

Pemimpin yang baik membutuhkan orang yang menguatkan ketika ia lemah, mengingatkan ketika ia lupa, menahan ketika ia hendak melampaui batas, dan berkata benar ketika seluruh ruangan memilih diam.

Dan di sinilah rahasia sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam tadi terasa begitu dalam:

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, Allah memberinya wazir yang baik.”

Sebab terkadang nikmat terbesar bagi seorang pemimpin bukan bertambahnya kekuasaan, tetapi hadirnya seseorang yang berani menyelamatkannya dari kesalahan.

Kekuasaan tanpa nasihat adalah kesunyian yang berbahaya.
Pujian tanpa koreksi adalah racun yang dituang perlahan.
Tetapi pemimpin yang dikelilingi orang-orang saleh, jujur, dan bertakwa—ia memiliki pagar sebelum jurang.

Maka jangan hanya berdoa:

“Ya Allah, jadikan pemimpin kami baik.”

Berdoalah pula:

“Ya Allah, hadirkan di sekelilingnya orang-orang yang baik; yang jujur ketika berbicara, amanah ketika memegang urusan, berani ketika melihat kesalahan, dan ikhlas ketika memberikan nasihat.”

Sebab kadang-kadang, Allah memperbaiki seorang pemimpin bukan dengan mengganti singgasananya, tetapi dengan mengganti orang-orang yang berdiri di sampingnya. (*/251).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 8 = ?
Berita Terkait