Mutiara Pagi: Menjadi Ayah yang Saleh, Lalu Serahkan Anak kepada Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 09 Sep 2026 02:21 Admin NA
Mutiara Pagi: Menjadi Ayah yang Saleh, Lalu Serahkan Anak kepada Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Dunia hari ini seperti hutan belantara.

Ada begitu banyak jalan yang bisa ditempuh anak-anak kita, sementara kita sebagai orang tua tidak mungkin mengikuti setiap langkah mereka. Kita tidak selalu tahu dengan siapa mereka berteman, apa yang mereka lihat ketika kita tidak berada di sampingnya, apa yang mereka dengar, apa yang mereka pikirkan, dan ke mana hati mereka sedang berjalan.

Kita bisa menasihati, tetapi tidak bisa menguasai hati mereka.

Kita bisa menjaga, tetapi tidak mungkin mengawasi mereka sepanjang waktu.

Kita bisa menunjukkan jalan, tetapi kita tidak mampu memaksa mereka untuk selalu memilih jalan itu.

Karena itu, setelah seluruh ikhtiar dilakukan, seorang ayah yang beriman akhirnya harus belajar satu hal: menyerahkan penjagaan anaknya kepada Allah.

Namun menyerahkan kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha.

Justru salah satu ikhtiar terbesar seorang ayah adalah memperbaiki dirinya sendiri.

Jadilah ayah yang saleh.

Jadilah teladan sebelum menjadi pemberi nasihat. Jadilah orang yang anak-anaknya melihat kejujuran, kesabaran, ibadah, kelembutan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur'an memberikan pelajaran yang sangat indah dalam kisah Nabi Musa dan seorang hamba saleh dalam QS. Al-Kahfi ayat 82. Ketika menjelaskan mengapa sebuah tembok diperbaiki tanpa meminta upah, Allah berfirman:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan dahulu ayah mereka adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Para ulama menjelaskan bahwa kesalehan seorang ayah dapat menjadi sebab Allah menjaga keturunannya.

Maka menjadi ayah yang saleh bukan hanya tentang bagaimana kita membesarkan anak, tetapi juga tentang bagaimana kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Tetapi kemudian muncul sebuah pertanyaan yang sangat mengusik hati:

Kalau kesalehan ayah begitu penting, mengapa anak Nabi Nuh justru menjadi anak yang durhaka?

Bukankah Nabi Nuh adalah seorang nabi?

Bukankah beliau seorang yang saleh?

Bukankah beliau telah berdakwah kepada kaumnya selama ratusan tahun?

Bukankah beliau telah memanggil anaknya dengan penuh kasih sayang?

Namun ketika banjir besar datang, anaknya justru menolak seruan ayahnya.

Nabi Nuh berkata:

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)

Tetapi anak itu menjawab dengan kesombongan:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.” (QS. Hud: 43)

Dan akhirnya gelombang memisahkan keduanya.

Nabi Nuh adalah seorang ayah yang saleh.

Tetapi anaknya tidak menjadi saleh.

Mengapa?

Karena kesalehan orang tua adalah sebab dan ikhtiar, bukan jaminan mutlak.

Seorang ayah dapat menunjukkan jalan, tetapi tidak dapat memaksa hati anaknya untuk beriman.

Seorang ibu dapat mengajarkan Al-Qur'an, tetapi tidak dapat menggenggam hati anaknya agar selalu mencintai Al-Qur'an.

Orang tua dapat menjaga anak selama ia kecil, tetapi ketika ia tumbuh dewasa, ia akan berhadapan dengan pilihan-pilihannya sendiri.

Bahkan seorang nabi pun tidak diberi kekuasaan untuk menjadikan keluarganya beriman.

Allah mengajarkan kepada kita bahwa hidayah adalah milik Allah.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa ketika kita telah menjadi orang tua yang saleh, anak kita pasti akan menjadi saleh.

Dan jangan pula ketika anak kita melakukan kesalahan, kita langsung menyimpulkan bahwa kita adalah orang tua yang gagal.

Tugas kita adalah berikhtiar sebaik-baiknya.

Mendidiknya.

Mencontohkannya.

Menjaganya.

Menasihatinya.

Mendoakannya.

Dan yang paling penting, memperbaiki diri kita di hadapan Allah.

Setelah itu, serahkan apa yang berada di luar kemampuan kita kepada-Nya.

Sebab seorang ayah tidak mungkin selalu berada di samping anaknya.

Tetapi Allah selalu bersama anaknya.

Kita tidak mampu mengawasi anak kita 24 jam.

Tetapi Allah tidak pernah lalai sedetik pun.

Kita tidak mampu menjaga hati anak kita.

Tetapi Allah adalah مُقَلِّبُ الْقُلُوبِ, Dzat yang membolak-balikkan hati.

Maka jangan hanya berdoa,

“Ya Allah, jadikan anakku saleh.”

Tetapi berdoalah juga,

“Ya Allah, jadikan aku ayah yang saleh. Jadikan kesalehanku sebab Engkau menjaga anak-anakku ketika aku tidak mampu menjaganya.”

Sebab boleh jadi, kita tidak dapat menemani anak kita sepanjang perjalanan hidupnya.

Tetapi semoga kesalehan kita menjadi jejak kebaikan yang terus mengiringi langkah mereka.

Dan ketika suatu hari mereka jauh dari pandangan kita, semoga mereka tetap berada dalam pandangan Allah.

Kita tidak mampu menjaga mereka dari seluruh bahaya dunia.

Maka jagalah hubungan kita dengan Allah, agar Allah menjaga mereka ketika tangan kita tak lagi mampu menjangkau. (*/246).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 9 = ?
Berita Terkait