Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Apakah Upacara Adat Masih Relevan? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 10 Aug 2026 19:26 Admin NA
Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Apakah Upacara Adat Masih Relevan? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, semuanya. Izinkanlah saya, seorang punyimbang yang telah menyaksikan bergulirnya zaman, bercerita di beranda ini. Bukan sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai kawan yang mengajak kita bersama merenungkan jejak langkah nenek moyang. 
Hari ini, kita akan berkelana menyusuri sungai waktu, menelisik apakah upacara adat yang kaya akan simbol dan filosofi itu masih memiliki tempat di hati kita yang modern. Mari kita simak sebuah kisah dari masa silam.

Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang gadis bernama Putri Ayu. Ia dikenal bukan karena parasnya, melainkan karena keramahannya yang tiada tara. Setiap musim tanam, ia selalu menjadi yang pertama membawa nasi dan lauk ke ladang para tetangga yang sedang bergotong royong. Namun, ada satu keraguan di hati Putri Ayu. Ia melihat generasi seusianya mulai enggan mengikuti upacara Begawi yang besar. Mereka menganggapnya kuno, hanya arak-arakan dan tabuhan beduk yang memakan biaya dan tenaga.
Suatu malam, Sang Penyimbang, Pak Tua Buyut, memanggil Putri Ayu. Beliau duduk di balai adat, ditemani asap kemenyan yang melambung ke langit-langit rumah panggung. "Anakku," sapanya lembut, "engkau ragu dengan adat kita. Lihatlah tungku di dapur itu." Putri Ayu menoleh. 
Sebuah tungku dari tiga batu kokoh berdiri, menopang belanga berisi sayur. "Tiga batu itulah kita," lanjut Pak Tua. "Satu batu adalah adat cepala kehormatan pribadimu, satu batu adalah adat pengakuk kehormatan keluarga melalui perkawinan, dan satu batu adalah adat kebumian kehormatan seluruh kaum kerabat. 
Jika satu batu hilang, tungku itu roboh dan belanga akan pecah. Begitu pula dengan adat kita." "Tiga hal membuat orang Lampung genap: memiliki rumah (benuwa), mengawinkan anak (begawi), dan naik haji ke Mekah (cakak mekkah)". Pepatah ini bukanlah sekadar urutan, melainkan peta hidup yang menyempurnakan jati diri.

Perkataan Pak Tua itu menyadarkan Putri Ayu. Upacara adat bukanlah seremonial kosong. Cangget, misalnya, tarian yang gemulai itu, adalah wadah bagi gadis-gadis menjaga liyom-nya (rasa malu) sekaligus simbol keanggunan perempuan Lampung. Sementara para pemuda, mereka mempertaruhkan Pi'il-nya (harga diri) melalui ketangkasan dan kesetiaan pada adat. Dari situlah solidaritas lahir. Ketika sebuah keluarga menggelar Begawi, seluruh kampung bahu-membahu. Ini bukan hanya tentang pesta, tetapi penguatan Sakai Sambayan, gotong royong yang menjadi tulang punggung masyarakat kita.
Putri Ayu pun mulai menyelami sejarah. Ia mendengar kisah dari mulut ke mulut tentang asal-usul marga mereka, bagaimana nenek moyang mereka, Umpu Bejalan Diway, dikisahkan berjalan di atas air, menurunkan orang-orang Abung. Ia belajar tentang Kerajaan Putri Ayu Brak yang megah, pusat peradaban Lampung di kaki Gunung Pesagi, tempat lahirnya dua aliran besar adat: Saibatin dan Pepadun. Dari sanalah muncul sistem kemasyarakatan yang diikat oleh falsafah agung: Piil Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Ini bukan kesombongan, melainkan tekad untuk menjaga nama baik di hadapan Tuhan, sesama, dan alam.
Piil Pesenggiri memiliki lima unsur yang saling terkait laksana jari dalam genggaman. Pertama, Bejuluk Beadek, yaitu gelar kehormatan yang disematkan melalui upacara adat. Gelar ini bukan sekadar nama, tetapi amanah dan tanggung jawab moral yang melekat seumur hidup. Kedua, Nemui Nyimah, keramahan dan sikap suka memberi. Inilah yang membuat orang Lampung terkenal ramah terhadap siapa pun, bahkan pendatang sekalipun. Ketiga, Nengah Nyappur, keterbukaan dan suka bersosialisasi, yang berarti kita selalu duduk bersama dalam musyawarah untuk mufakat. Keempat, Sakai Sambayan, gotong-royong. Tanpa ini, tidak akan ada pembangunan kampung atau kemeriahan hajatan. Dan kelima, inti dari semuanya, adalah Pesenggiri itu sendiri: pantang mundur dalam membela kebenaran dan kehormatan.

Saya teringat sebuah petuah dari naskah kuno Wawancan Bulambanan:
Adat budaya tatanan
Adat lampung khusus ni
Sapa ya bulambanan
Ti sekhbong ko adok ni
Adok anjak tutukan
Bekhulung di lajokh ni".
Kurang lebih artinya: "Adat budaya adalah tatanan, adat Lampung adalah kekhususan kita. Siapa yang akan menyandang gelar? Jagalah gelar itu, karena gelar berasal dari ketetapan adat dan disandang di hadapan seluruh kerabat." Petuah ini mengingatkan bahwa identitas kita bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi warisan luhur yang harus kita pelihara.
Upacara adat, dengan segala atributnya seperti tudung (payung), ula-ula (umbul-umbul), dan kebung (kain latar), bukanlah sekadar pernak-pernik. Warna dan motifnya adalah bahasa simbolis yang menceritakan strata sosial dan filosofi hidup. Setiap goresan benang emas pada kain tapis dan setiap irama tabuhan dalam cangget adalah doa dan harapan akan kehidupan yang harmonis.
Mungkin ada yang bertanya, “Apakah semua ini masih relevan di zaman yang serba cepat?” Jawabannya, tentu saja, iya. Justru di tengah arus globalisasi yang mengaburkan batas budaya, kita memerlukan jangkar yang kuat. Falsafah Piil Pesenggiri selaras sempurna dengan ajaran Islam dan nilai-nilai Pancasila. Sebagai seorang muslim, saya melihat dalam Sakai Sambayan semangat ukhuwah dan ta'awun (tolong-menolong) yang diajarkan Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Maidah (5): 2,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ

Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa'irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala'ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana'anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya"

Asbāb al-nuzūl (latar turunnya ayat) tentang larangan melanggar syiar-syiar Allah dan bulan-bulan haram, di dalamnya terkandung perintah untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, yang bunyinya kurang lebih: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."

Semangat inilah yang hidup dalam setiap gotong royong kita.
Demikian pula dengan Nengah Nyappur, yang merupakan cerminan dari musyawarah, sila ke-4 Pancasila. Dalam setiap penyelesaian masalah adat, kita duduk bersama, menghargai pendapat, dan mencari titik temu. Ini adalah demokrasi yang hidup, jauh sebelum kata itu populer. Upacara adat, seperti Begawi dan Cangget, bukanlah ritual yang memuja selain Allah, melainkan ekspresi syukur dan penguatan tali persaudaraan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan, dalam pelaksanaannya, kita selalu diawali dengan doa dan pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kembali pada Putri Ayu. Setelah mendengar penjelasan Sang Penyimbang, ia pun mantap. Ia tidak lagi malu atau ragu. Ia memahami bahwa upacara adat adalah sekolah kehidupan. Dari situlah ia belajar tentang Pesenggiri, tentang Nemui Nyimah, dan tentang Sakai Sambayan. Ia menyadari bahwa menjaga adat adalah bagian dari menjaga marwah bangsa. Adat istiadat dan agama adalah dua sisi mata uang yang sama; keduanya mengajarkan kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.
Maka, marilah kita bersama-sama merawat warisan ini. Jangan biarkan upacara adat kita mati suri. Bukan untuk terjebak dalam kemegahan fisik semata, tetapi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Dengan mengenali dan mengamalkan Piil Pesenggiri, kita tidak hanya menjadi orang Lampung sejati, tetapi juga memperkuat identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Sebab, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan budaya leluhurnya.
Semoga kisah ini menjadi renungan untuk kita semua. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. (*)

Referensi:
1. Disertasi tentang Cangget sebagai Identitas Kultural Lampung (Rina Martiara, 2009)
2. Wikipedia – Kebudayaan Lampung
3. Skripsi tentang Falsafah Hidup Masyarakat Lampung
4. Disertasi tentang Asal-usul dan Legenda Lampung (Rina Martiara)
5. Artikel tentang Piil Pesenggiri sebagai Resolusi Konflik

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 8 = ?
Berita Terkait