Apakah Kita Masih Bangga dengan Identitas Lampung? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, para Sai Bumi Ruwa Jurai yang kami muliakan. Izinkanlah saya, seorang punyimbang yang mulai beruban, bercerita dari beranda rumah panggung ini. Hari ini cuaca cerah, tapi hati kami sedikit mendung memikirkan sebuah pertanyaan besar: Apakah kita masih bangga dengan identitas Lampung?
Dahulu kala, di sebuah kampung di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang pemuda bernama Genta. Ia dikenal gagah dan cerdas, tetapi ia merasa malu mengaku sebagai orang Lampung. Di sekolah, ia lebih suka berbicara dengan logat Jakarta. Di rumah, ia enggan mendengar cerita nenek tentang Pisaan dan Cangget Agung. Baginya, semua itu kuno dan ketinggalan zaman.
Suatu hari, Genta diajak oleh tetua kampung, Dalom Putekha Jaya Makhga, untuk menyaksikan upacara adat di balai desa. Di sana, ia melihat para punyimbang duduk melingkar dengan penuh wibawa. Mereka berpakaian adat lengkap, memegang Kitab Kuntara Raja Niti yang sudah berusia ratusan tahun. Ketika salah seorang tetua membacakan petuah, suasana menjadi hening dan sakral.
"Muloh bujang kiwak, sibulah hasan," kata tetua itu. Kurang lebih, ini berarti duduklah dengan tenang, dan ketika berdiri, lakukanlah dengan baik dan sempurna.
Genta terpana. Ia baru menyadari bahwa di balik kain dan gelar itu, tersimpan kebijaksanaan yang luar biasa. Sejak saat itu, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah selama ini aku benar-benar bangga, atau hanya pura-pura?"
Pertanyaan Genta ini membawa kita pada realita yang lebih luas. Sering kita dengar, pemerintah daerah menggaungkan pelestarian budaya. Ada instruksi Gubernur untuk mengenakan pakaian adat setiap hari Kamis, ada acara besar dengan tarian dan siger yang megah. Tapi, benarkah itu semua mencerminkan kebanggaan yang sesungguhnya?
Dalam pidato dan pemberitaan, Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua adat, sering disebut sebagai motto kebanggaan. Namun, di balik itu, ada ironi. "Selebrasi budaya" sering menjadi ajang seremonial tanpa keberlanjutan. Sebuah upacara besar digelar dengan biaya besar, tetapi setelah lampu padam, tidak ada lagi tindakan nyata. Tidak ada kelas bahasa Lampung di sekolah, tidak ada dukungan untuk sanggar seni, tidak ada perhatian pada naskah-naskah kuno yang mulai lapuk.
Alasan klasik pun kembali terdengar: "Tidak ada dana." Tapi, bukankah menjaga marwah adat juga soal kemauan, bukan hanya soal uang? Sakai Sambayan, falsafah gotong-royong, mengajarkan bahwa kebersamaan lebih kuat dari sekadar anggaran. Jika komitmen kuat, dana kecil pun dapat dikelola dengan bijak. Namun, jika tidak ada niat, segunung uang pun tak akan menyentuh akar adat.
Salah satu nilai inti Piil Pesenggiri adalah Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Dalom Putekha Jaya Makhga, dalam tuturnya, sering mengingatkan bahwa nyimah adalah memberi tanpa diminta, bukan karena mampu, tetapi karena santun. Tradisi ini sangat kuat dalam adat Lampung. Setiap rumah menyediakan kopi untuk siapa pun yang singgah, sebagai bentuk penghormatan.
Praktik ini selaras dengan ajaran Islam. Allah berfirman dalam surat Adh-Dhuha ayat 10:
وَاَمَّا السَّآٮِٕلَ فَلَا تَنۡهَرۡؕ
Wa am mas saa-ila fala tanhar
"Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya)."
Menolak tamu tanpa alasan dianggap tidak etis dalam adat, karena melanggar prinsip nyimah. Dari sini terlihat, adat dan agama berjalan beriringan.
Namun, bagaimana mungkin nyimah dapat lestari jika generasi muda bahkan tidak tahu cara menyapa tetangga dalam bahasa Lampung? Kebanggaan sejati dimulai dari keramahan di rumah sendiri, bukan dari foto di media sosial.
Selain nyimah, ada Ngelangkok, yaitu meminta izin sebelum bertindak.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, diatur bahwa berbicara harus bergiliran, tidak boleh menyela, sebagai bentuk penghormatan. Ini adalah cerminan Pesenggiri, harga diri yang diwujudkan dengan menghormati hak orang lain.
Dahulu, seseorang yang naik ke rumah panggung tanpa memanggil tuan rumah terlebih dahulu dianggap melanggar adat. Kini, banyak yang masuk ke rumah orang lain tanpa salam, apalagi tanpa izin. Tata krama ini mulai luntur. Jika anak-anak kita tidak diajari ngelangkok, bagaimana mereka akan belajar menghormati orang tua, guru, dan pemimpinnya? Bukankah ini bagian dari identitas yang sedang kita pertaruhkan?
Masyarakat Lampung dikenal dengan Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai: Pepadun dan Saibatin. Dua struktur adat ini memiliki keunikan masing-masing, tetapi mereka bersatu dalam falsafah hidup yang sama: Piil Pesenggiri. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling menguatkan.
Namun, dalam kehidupan modern, identitas ini sering kali hanya menjadi label. Banyak pelajar tidak tahu apakah keluarganya berasal dari Pepadun atau Saibatin. Mereka hanya tahu Lampung sebagai alamat di KTP, bukan sebagai jiwa yang membentuk karakter. Inilah yang perlu kita ubah. Kebanggaan tidak cukup dengan mengenakan siger sembilan lekuk atau tujuh lekuk; kebanggaan adalah memahami makna di baliknya.
Tabik puun, kepada para pemimpin di Provinsi Lampung. Kami melihat upaya Bapak/Ibu, tetapi kami juga melihat ketimpangan. Ada instruksi tentang Kamis Beradat, tapi tidak ada kurikulum adat yang terintegrasi di sekolah. Ada perayaan Hari Jadi Lampung, tapi tidak ada perlindungan terhadap penari dan pengrajin tradisional. Ada pidato yang indah, tapi tidak ada tindakan untuk menghentikan alih fungsi lahan yang mengancam situs-situs sejarah.
Kritik ini kami sampaikan dengan berat hati, tetapi ini adalah wujud Pesenggiri. Sebagai orang Lampung, kami tidak bisa diam saat identitas kami diperlakukan sebagai properti politik. Ketika kebijakan hanya sebatas selebrasi, jangan heran jika generasi mendatang bertanya, "Apakah dulu ada orang Lampung?" Sebab yang tersisa hanya nama, tanpa makna.
Kisah Genta, pemuda yang malu mengaku Lampung, berakhir bahagia. Setelah menyaksikan upacara adat dan mendengar petuah, ia mulai belajar Pisaan dari neneknya. Ia tidak lagi malu, ia justru bangga. Ia menyadari bahwa identitas bukanlah beban, melainkan mahkota yang diberikan oleh leluhur.
Kepada saudara-saudaraku, mari kita bertanya: Apakah kita masih bangga dengan identitas Lampung? Jika ya, buktikan bukan hanya dengan memakai baju adat di hari Kamis, tetapi dengan menghidupkan nilai-nilainya setiap hari. Ajari anak-anak kita tentang Nemui Nyimah, Ngelangkok, dan Sakai Sambayan. Jaga Kitab Kuntara Raja Niti sebagai sumber kebijaksanaan, bukan sekadar benda pusaka yang tersimpan di lemari.
Karena, pada akhirnya, kebanggaan sejati adalah ketika identitas kita tidak hanya diingat, tetapi juga dihidupi. Tabik pun, mari kita jaga warisan ini bersama-sama, demi anak cucu yang akan mewarisi bumi Lampung.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. [online] Natar Agung. Tersedia di: https://nataragung.id/ [Diakses 31 Agustus 2026] .
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Tata Krama Berbicara yang Mulai Terlupakan. [online] Natar Agung. Tersedia di: https://nataragung.id/ [Diakses 31 Agustus 2026] .
3. Hilman, H. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung: Tanpa Penerbit .
4. Mulyadi A. (2023). Kearifan Lokal Mayuh Tiyuh dalam Kitab Kuntara Raja Niti sebagai Dasar Pencitraan Kota Bandarlampung. Monograf, Universitas Bandar Lampung .
5. Wirawan, dkk. (2018). Penguatan Karakter Siswa Melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti. JPSI, Vol. 1, No. 1 .
6. Lampung, Pemerintah Provinsi. (2009). Perda Provinsi Lampung No. 4 Tahun 2009 tentang Lambang Daerah (Sai Bumi Ruwa Jurai) .
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar