Khutbah Jum'at: Merdeka Yang Sejati - Membebaskan Jiwa dari Delapan Penjajahan Hati. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Dalam hitungan hari, negeri kita akan kembali mengenang tanggal yang agung dalam sejarahnya. Bendera Merah Putih akan berkibar di setiap sudut kampung dan kota. Lagu-lagu perjuangan akan kembali menggema. Nama para pahlawan akan disebut dengan penuh hormat. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang telah Dia anugerahkan kepada bangsa ini. Pada kesempatan Jum'at hari ini, khatib akan membawakan khutbah yang berjudul: "Merdeka Yang Sejati - Membebaskan Jiwa dari Delapan Penjajahan Hati."
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Amma ba'du.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Aku berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sebab takwa adalah pakaian yang paling indah, benteng yang paling kokoh, dan bekal yang paling berharga menuju kehidupan yang tidak mengenal kematian.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ»
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)." (QS. Ali 'Imran: 102)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah...
Dalam hitungan hari, negeri kita akan kembali mengenang tanggal yang agung dalam sejarahnya. Bendera Merah Putih akan berkibar di setiap sudut kampung dan kota. Lagu-lagu perjuangan akan kembali menggema. Nama para pahlawan akan disebut dengan penuh hormat. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang telah Dia anugerahkan kepada bangsa ini.
Namun, wahai kaum muslimin...
Izinkan saya bertanya kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian.
Apakah setiap orang yang hidup di negeri merdeka benar-benar telah merdeka?
Bukankah ada orang yang bebas melangkah, tetapi tidak mampu membebaskan dirinya dari rasa takut?
Bukankah ada yang memiliki rumah yang luas, namun dadanya terasa sempit karena kegelisahan?
Bukankah ada yang hartanya melimpah, tetapi jiwanya miskin karena kekikiran?
Bukankah ada yang tubuhnya sehat, tetapi semangatnya lumpuh oleh kemalasan?
Bukankah ada yang tidak dijajah bangsa lain, tetapi setiap hari dijajah oleh hawa nafsunya sendiri?
Jika demikian keadaannya, apakah ia benar-benar telah merdeka?
Jamaah yang dirahmati Allah...
Penjajahan yang paling berat bukanlah penjajahan atas tanah, melainkan penjajahan atas hati.
Tanah yang dijajah masih dapat dibebaskan oleh para pejuang.
Tetapi hati yang dijajah hanya dapat dibebaskan oleh iman.
Sebab hati adalah kerajaan. Apabila rajanya baik, seluruh negeri menjadi damai. Namun apabila rajanya rusak, seluruh kehidupan akan dipenuhi kekacauan.
Oleh sebab itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan umatnya cara menghadapi musuh yang tampak. Beliau juga mengajarkan doa agar kita dilindungi dari musuh-musuh yang bersemayam di dalam dada.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Allāhumma innī a'ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-'ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala'id-dain wa ghalabatir-rijāl.
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, sifat kikir, beban utang yang memberatkan, dan penindasan manusia." (HR. Al-Bukhari)
Perhatikanlah, wahai kaum muslimin.
Doa ini tidak meminta istana.
Tidak meminta kekayaan.
Tidak meminta kekuasaan.
Tetapi meminta hati yang merdeka.
Karena hati yang merdeka akan mampu membangun peradaban, sedangkan hati yang diperbudak oleh penyakit-penyakitnya akan meruntuhkan peradaban, meskipun bangunannya menjulang tinggi.
Kemerdekaan yang sejati bukanlah ketika bendera berkibar di angkasa.
Kemerdekaan yang sejati adalah ketika iman berkibar di dalam dada.
Kemerdekaan yang sejati bukanlah ketika rantai besi diputuskan.
Melainkan ketika rantai syahwat, ketakutan, kemalasan, dan kegelisahan dipatahkan oleh keyakinan kepada Allah.
Maka sungguh tepat apabila pada bulan kemerdekaan ini kita bertanya:
Sudahkah negeri ini merdeka?
Barangkali sudah.
Namun...
Sudahkah hati kita merdeka?
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memohon perlindungan dari delapan perkara ini?
Karena delapan penyakit itulah penjajah yang paling berbahaya. Musuh yang tidak terlihat oleh mata, tetapi jejak kerusakannya tampak pada setiap kehidupan yang kehilangan cahaya iman.
Pertama: Al-Hamm (الْهَمُّ), kegelisahan terhadap masa depan.
Kegelisahan adalah awan gelap yang menutupi mata hati. Ia membuat seseorang sibuk memikirkan hari esok hingga lupa kepada Rabb yang menggenggam hari esok.
Padahal Allah berfirman:
«وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ»
Wa man yatawakkal 'alallāhi fahuwa ḥasbuh.
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya." (QS. Ath-Thalaq: 3)
Orang yang bertawakal tetap berikhtiar, tetapi ia tidak membiarkan hatinya diperbudak oleh kecemasan.
Kedua: Al-Hazan (الْحَزَنُ), kesedihan yang berlarut-larut.
Islam tidak melarang air mata. Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah menangis. Namun Islam tidak menghendaki seorang mukmin tenggelam dalam kesedihan hingga kehilangan harapan.
Allah berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Wa lā tahinū wa lā taḥzanū wa antumul a'launa in kuntum mu'minīn.
"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)
Kesedihan yang dibiarkan berlarut akan menguras tenaga, sedangkan iman mengajarkan bangkit setelah jatuh dan berharap setelah berduka.
Ketiga: Al-'Ajz (الْعَجْزُ), merasa tidak mampu.
Betapa banyak cita-cita yang mati bukan karena sulit diwujudkan, tetapi karena dikubur oleh kalimat, "Saya tidak bisa."
Padahal Allah berfirman:
«لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا»
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Setiap perintah Allah mengandung keyakinan bahwa hamba-Nya mampu menjalankannya dengan pertolongan-Nya.
Keempat: Al-Kasal (الْكَسَلُ), kemalasan.
Kemalasan adalah pencuri umur. Ia tidak merampas harta, tetapi merampas kesempatan. Ia tidak membunuh tubuh, tetapi mematikan potensi.
Hari demi hari berlalu, sementara amal tetap kosong.
Padahal Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Wa al-laisa lil-insāni illā mā sa'ā.
"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)
Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang rajin. Demikian pula surga diraih oleh mereka yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan.
Kelima: Al-Jubn (الْجُبْنُ), sifat pengecut.
Seorang mukmin bukanlah orang yang mencari-cari bahaya. Namun ia juga bukan orang yang lari dari kebenaran karena takut kehilangan kedudukan atau celaan manusia.
Allah berfirman:
«فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ»
Falā takhsyawun-nāsa wakhsyawnī.
"Janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku." (QS. Al-Ma'idah: 44)
Keberanian yang lahir dari iman adalah keberanian yang diatur oleh hikmah, bukan oleh emosi.
Keenam: Al-Bukhl (الْبُخْلُ), sifat kikir.
Orang yang kikir mengira hartanya akan berkurang jika memberi. Padahal sesungguhnya yang berkurang adalah keluasan hatinya.
Allah berfirman:
«وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ»
Wa mā anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuh.
"Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya." (QS. Saba': 39)
Tangan yang terbuka karena sedekah lebih mulia daripada tangan yang menggenggam karena takut miskin.
Ketujuh: Dhala'id-Dain (ضَلَعِ الدَّيْنِ), lilitan utang.
Islam tidak mengharamkan utang ketika ada kebutuhan. Namun Islam mengingatkan agar jangan meremehkannya. Sebab utang yang tidak terkelola dapat menghilangkan ketenangan, merusak hubungan, bahkan menyeret seseorang kepada dusta dan ingkar janji.
Karena itu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam berlindung kepada Allah darinya.
Seorang mukmin hendaknya hidup sesuai kemampuan, menjauhi pemborosan, dan bersungguh-sungguh melunasi amanah yang menjadi tanggungannya.
Kedelapan: Ghalabatir-Rijal (غَلَبَةِ الرِّجَالِ), penindasan manusia.
Inilah keadaan ketika kehormatan seseorang diinjak, haknya dirampas, dan hidupnya berada di bawah kezaliman.
Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menghinakannya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
Al-muslimu akhul muslim, lā yaẓlimuhu wa lā yuslimuh.
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah...
Delapan penyakit ini bukan sekadar persoalan pribadi. Apabila ia menjangkiti banyak hati, ia akan melemahkan sebuah umat.
Kegelisahan melahirkan keputusasaan.
Kemalasan mematikan produktivitas.
Kepengecutan membungkam kebenaran.
Kekikiran menghilangkan kepedulian.
Utang yang tidak terkendali merusak kehormatan.
Dan kezaliman menghancurkan persatuan.
Maka, apabila kita ingin mengisi kemerdekaan dengan kejayaan, jangan hanya membangun jalan-jalan di atas bumi, tetapi bangunlah jalan menuju Allah di dalam hati. Jangan hanya memperindah gedung-gedung kota, tetapi indahkan pula akhlak penghuninya. Jangan hanya menjaga batas-batas wilayah negeri, tetapi jagalah batas-batas syariat Allah.
Sebab sebuah bangsa akan tetap tegak selama hati rakyatnya dipenuhi iman, amanah, dan takwa. Dan apabila hati-hati itu rusak, maka tidak ada benteng yang mampu menyelamatkannya.
Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jum'at hari ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn
اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.
Ibadhallah...
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar