Khutbah Jum'at: Ketika Debu Menjadi Teguran Dari Langit. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT 17 Sep 2026 00:51 Admin NA 10 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Ketika Debu Menjadi Teguran Dari Langit. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Hari-hari ini kita menyaksikan fenomena alam yang mengingatkan kita betapa lemahnya manusia.

Debu vulkanik dari aktivitas Gunung Krakatau dapat terbawa angin dan menyelimuti wilayah tertentu. Kita melihat bagaimana sesuatu yang tampaknya hanya debu ternyata dapat mengganggu kehidupan manusia. Dikesempatan Jum'at yang berbahagia ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Ketika Debu Menjadi Teguran Dari Langit."

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya takut kepada Allah ketika berada di masjid. Takwa adalah kemampuan hati untuk membaca tanda-tanda Allah dalam seluruh perjalanan kehidupan.

Allah berfirman:

«وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرۡسِلَ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّآ أَن كَذَّبَ بِهَا ٱلۡأَوَّلُونَۚ وَءَاتَيۡنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبۡصِرَةٗ فَظَلَمُواْ بِهَاۚ وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفٗا»

Wa mā mana‘anā an nursila bil-āyāti illā an kadhdhaba bihal-awwalūn, wa ātaynā tsamūdan-nāqata mubshiratā, faẓalamū bihā, wa mā nursilu bil-āyāti illā takhwīfā.

“Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Kami, melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang terdahulu. Dan telah Kami berikan kepada kaum Tsamud seekor unta betina sebagai mukjizat yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiayanya. Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia sadar, takut kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya.

Hari-hari ini kita menyaksikan fenomena alam yang mengingatkan kita betapa lemahnya manusia.

Debu vulkanik dari aktivitas Gunung Krakatau dapat terbawa angin dan menyelimuti wilayah tertentu. Kita melihat bagaimana sesuatu yang tampaknya hanya debu ternyata dapat mengganggu kehidupan manusia.

Debu itu begitu kecil.

Tetapi dampaknya tidak selalu kecil.

Udara terganggu. Pandangan dapat berkurang. Aktivitas masyarakat berubah. Penerbangan dapat dihentikan sementara demi keselamatan. Sekolah pun dapat mengubah proses belajar menjadi pembelajaran jarak jauh.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Cobalah kita renungkan.

Manusia memiliki pesawat yang mampu terbang menembus langit.

Manusia memiliki teknologi komunikasi yang mampu menghubungkan benua dalam hitungan detik.

Manusia mampu membangun gedung tinggi dan jalan panjang.

Tetapi ketika Allah menggerakkan sedikit debu dari bumi, manusia berkata:

“Tunggu.”

Pesawat berhenti.

Perjalanan tertunda.

Aktivitas berubah.

Rencana yang telah disusun berhari-hari harus dibatalkan.

Itulah salah satu cara alam mengingatkan kita:

Manusia boleh merencanakan, tetapi Allah yang menentukan.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

Wa mā tasyāūna illā an yasyā'allāh.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya.” (QS. Al-Insan: 30)

Jamaah rahimakumullah,

Namun kita harus berhati-hati.

Jangan setiap bencana langsung kita katakan sebagai hukuman bagi orang lain.

Jangan menunjuk kepada korban lalu berkata, “Ini karena dosa mereka.”

Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Tetapi bagi seorang mukmin, setiap peristiwa dapat menjadi ibrah.

Bagi orang yang lalai, bencana hanya menjadi berita.

Bagi orang yang beriman, bencana dapat menjadi peringatan.

Bagi orang yang memiliki hati, debu bukan sekadar debu.

Ia bisa menjadi pesan:

“Wahai manusia, jangan terlalu sombong dengan kekuatanmu.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan kepada kita bagaimana seorang mukmin bersikap ketika melihat sesuatu yang menakutkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

Dalam sebuah hadis, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»

Innas-syamsa wal-qamara āyatāni min āyātillāh, lā yankasifāni limawti ahadin wa lā lihayātih, fa idzā ra'aytum dzālika fad‘ullāha wa kabbirū wa shallū wa tashaddaqū.

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan sikap Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Ketika melihat tanda-tanda kebesaran Allah, beliau tidak mengajarkan kesombongan.

Beliau mengajarkan doa.

Beliau mengajarkan takbir.

Beliau mengajarkan salat.

Beliau mengajarkan sedekah.

Artinya, ketika alam mengguncang kesadaran kita, jangan hanya sibuk membaca berita.

Bacalah juga hati kita.

Mungkin selama ini kita terlalu percaya kepada kemampuan diri.

Mungkin kita terlalu yakin kepada harta.

Mungkin kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa kematian bisa datang tanpa pemberitahuan.

Mungkin kita merasa kuat karena sehat.

Padahal satu tarikan napas saja berada dalam genggaman Allah.

Maka debu yang beterbangan itu seakan berkata:

“Engkau bukan penguasa bumi. Engkau hanya seorang hamba yang sedang berjalan di atas bumi milik Allah.”

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Ada pelajaran yang sangat dalam dari debu.

Kita sering menganggap sesuatu kecil karena ukurannya kecil.

Tetapi di hadapan Allah, sesuatu yang kecil dapat menjadi sebab manusia tersadar.

Debu kecil dapat mengganggu perjalanan.

Tetes air kecil dapat mengubah tanah menjadi subur.

Api kecil dapat membakar hutan.

Dosa yang dianggap kecil dapat menjadi sebab kebinasaan jika terus diremehkan.

Sebaliknya, amal yang terlihat kecil dapat menjadi sebab keselamatan apabila dilakukan dengan ikhlas.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»

Ittaqun-nāra walau bisyiqqi tamrah.

“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Jangan meremehkan sesuatu yang kecil.

Jangan meremehkan debu.

Jangan meremehkan dosa.

Jangan meremehkan sedekah.

Jangan meremehkan istighfar.

Jangan meremehkan satu rakaat salat.

Jangan meremehkan satu nasihat.

Dan jangan meremehkan satu kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Jika Allah mampu menggerakkan gunung dan mengirimkan debu ke udara, maka Allah juga mampu mengguncangkan hati yang keras.

Karena itu, ketika alam memberikan tanda, mari kita kembali kepada Allah.

Perbanyak istighfar.

Perbaiki salat.

Tinggalkan kezaliman.

Perbaiki hubungan dengan sesama.

Perbanyak sedekah.

Dan jangan lupa mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana.

Semoga Allah menjaga negeri kita, menjaga masyarakat kita, memberikan keselamatan kepada mereka yang berada di sekitar wilayah terdampak, dan menjadikan setiap peristiwa sebagai sebab bertambahnya iman kita.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 3 = ?
Berita Terkait