Khutbah Jum'at: Ketika Air Menjadi Nikmat Yang Tak Ternilai. Renungan Kemarau dan QS. Al-Mulk: 30. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT 24 Sep 2026 00:23 Admin NA 10 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Ketika Air Menjadi Nikmat Yang Tak Ternilai. Renungan Kemarau dan QS. Al-Mulk: 30. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Hari-hari ini kita merasakan panas yang panjang dan hujan yang belum merata. Tanah mulai kering, rumput menguning, sungai menyusut, dan sebagian sumur mulai berkurang airnya.

Pada saat seperti inilah kita seharusnya berhenti sejenak dan merenung:

Betapa mahalnya sesuatu yang selama ini kita anggap biasa. Dikesempatan hari Jum'at yang mulia ini, judul Khutbah adalah. "Ketika Air Menjadi Nikmat Yang Tak Ternilai.
Renungan Kemarau dan QS. Al-Mulk: 30."

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu, wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalinaa.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ammaa ba’du, fayaa ‘ibaadallaah, uushiikum wa nafsii bitaqwallah, faqad faazal-muttaquun.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hari-hari ini kita merasakan panas yang panjang dan hujan yang belum merata. Tanah mulai kering, rumput menguning, sungai menyusut, dan sebagian sumur mulai berkurang airnya.

Pada saat seperti inilah kita seharusnya berhenti sejenak dan merenung:

Betapa mahalnya sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.

Air.

Kita membuka keran, air mengalir.

Kita haus, kita minum.

Kita mandi, air tersedia.

Kita berwudu, air mengalir tanpa kita pikirkan dari mana datangnya.

Karena selalu tersedia, kita sering lupa bahwa air adalah nikmat Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Wa ja‘alnaa minal-maa’i kulla syai’in hayy.

"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup." (QS. Al-Anbiya: 30)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Air bukan sekadar benda yang kita gunakan.

Air adalah kehidupan.

Tanpa air, manusia tidak berdaya. Tanpa air, tanaman mati. Tanpa air, hewan kehausan. Tanpa air, tanah yang subur pun berubah menjadi debu.

Tetapi yang lebih menyentuh adalah firman Allah pada akhir Surah Al-Mulk:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

Qul ara’aytum in ashbaha maa’ukum ghauran faman ya’tiikum bimaa’in ma’iin.

"Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika sumber air kalian menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagi kalian?" (QS. Al-Mulk: 30)

Perhatikan ayat ini, jamaah.

Allah tidak mengatakan, "Jika kalian tidak mempunyai air."

Tetapi Allah berfirman:

إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا

In ashbaha maa’ukum ghauran.

"Jika air kalian menjadi kering dan masuk jauh ke dalam tanah."

Seolah-olah Allah mengajak kita membayangkan:

Bagaimana kalau sumur yang selama ini kita andalkan tiba-tiba kering?

Bagaimana kalau air yang selama ini mengalir tiba-tiba berhenti?

Bagaimana kalau kita mempunyai uang, tetapi tidak ada air yang dapat dibeli?

Pada saat itu kita akan menyadari:

Ternyata air lebih berharga daripada yang selama ini kita bayangkan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kemarau bukan hanya persoalan cuaca.

Kemarau dapat menjadi pelajaran tauhid dan syukur.

Ketika hujan turun, jangan hanya melihat air.

Lihatlah Yang Menurunkan Air.

Ketika sumur penuh, jangan hanya melihat airnya.

Ingatlah Yang Mengisi Sumur.

Ketika sungai mengalir, jangan hanya melihat alirannya.

Ingatlah Yang Menggerakkan kehidupan melalui air.

Sebab air adalah makhluk Allah.

Kita tidak menciptakan air.

Kita hanya mengambil manfaat dari air yang Allah ciptakan.

Karena itu, jangan sampai kita mengenal nikmat tetapi lupa kepada Pemberi nikmat.

Allah berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Wa in ta‘udduu ni‘matallaahi laa tuhshuuhaa.

"Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kemarau juga mengajarkan kita untuk tidak boros menggunakan air.

Allah berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wa laa tusrifuu innahuu laa yuhibbul-musrifiin.

"Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan(QS. Al-A‘raf: 31)

Maka ketika berwudu, jangan biarkan air mengalir sia-sia.

Ketika mandi, jangan berlebihan.

Ketika mencuci kendaraan, jangan menghamburkan air.

Ketika memiliki sumber air, jangan hanya memikirkan diri sendiri.

Jika tetangga kekurangan air, bantulah.

Jika ada keluarga yang sumurnya mengering, ulurkan tangan.

Jika ada masjid yang kesulitan air untuk wudu, bantulah menyediakan air.

Sebab bisa jadi air yang kita berikan kepada orang lain hari ini menjadi amal yang kita temukan kembali di akhirat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan bahwa seseorang mendapatkan ampunan Allah karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Jika memberi minum seekor hewan saja menjadi sebab datangnya ampunan Allah, bagaimana dengan membantu manusia yang sedang kehausan?

Maka kemarau seharusnya tidak hanya membuat kita berdoa:

"Ya Allah, turunkan hujan."

Tetapi juga membuat kita berkata:

"Ya Allah, jadikan kami hamba yang pandai bersyukur atas air yang masih Engkau berikan."

Dan jangan lupa berdoa memohon hujan.

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allaahumma aghitsnaa, Allaahumma aghitsnaa, Allaahumma aghitsnaa.

"Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami."

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada nikmat yang baru terasa ketika hilang.

Kesehatan baru terasa mahal ketika sakit.

Keluarga baru terasa sangat berarti ketika kehilangan.

Dan air—

baru terasa luar biasa ketika sumur mulai mengering.

Karena itu, jangan menunggu nikmat dicabut untuk belajar bersyukur.

Selagi air masih mengalir, bersyukurlah.

Selagi sumur masih berisi, jagalah.

Selagi hujan masih turun, jangan rusak bumi.

Selagi Allah memberi kesempatan hidup, gunakan kehidupan itu untuk mendekat kepada-Nya.

Biarlah tanah kering, tetapi jangan hati yang kering dari dzikir.

Biarlah sumur menipis, tetapi jangan iman yang menipis.

Biarlah hujan tertunda, tetapi jangan doa yang berhenti.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Aquulu qaulii haadzaa, wa astaghfirullaaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu, innahuu huwal-ghafuurur-rahiim.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 2 = ?
Berita Terkait