Khutbah Jum'at: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

KHUTBAH JUM'AT 13 Aug 2026 00:28 Admin NA
Khutbah Jum'at: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

nataragung.id - Yogyakarta - Di antara nikmat besar yang patut kita renungkan pada hari-hari ini adalah nikmat kemerdekaan, keamanan, dan ketenteraman negeri. Pada kesempatan Jum'at yang berbahagia ini Khatib akan membawakan Khutbah yang berjudul: "Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan."

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Di antara nikmat besar yang patut kita renungkan pada hari-hari ini adalah nikmat kemerdekaan, keamanan, dan ketenteraman negeri.

Kita hidup di sebuah negeri tempat kita dapat keluar dari rumah dengan aman. Kita dapat bekerja, berdagang, belajar, mendidik anak-anak kita, mendirikan masjid, mengumandangkan adzan, menghadiri kajian, melaksanakan shalat Jumat, serta beribadah kepada Allah dalam keadaan relatif aman.

Tidak semua manusia mendapatkan keadaan seperti ini.
Karena itu, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan hanya:
“Sudah berapa tahun negeri ini merdeka?”
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Sudahkah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Allah berikan kepada kita?”
Pertama: Sadari bahwa kemerdekaan adalah karunia Allah

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Landasan pertama dalam mensyukuri kemerdekaan adalah memperbaiki keyakinan kita.
Jangan sampai hati kita hanya melihat manusia, strategi, kekuatan, senjata, diplomasi, atau perjuangan sebagai sebab kemenangan.

Kita mengakui dan menghargai perjuangan para pendahulu dan para pahlawan negeri ini. Mereka adalah sebab-sebab yang Allah takdirkan.
Kita mendoakan kebaikan bagi yang masih hidup, dan memohon rahmat serta ampunan bagi kaum Muslimin di antara mereka yang telah wafat.

Namun di atas semua sebab tersebut, seorang mukmin meyakini:
Kemerdekaan adalah karunia Allah.
Kemenangan adalah pertolongan Allah.
Keamanan adalah pemberian Allah.
Dan tegaknya sebuah negeri pun terjadi dengan takdir Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Segala nikmat yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Maka jangan hanya mengucapkan, “Ini hasil perjuangan manusia.”
Katakan pula:
Alhamdulillah. Allah-lah yang memberikan pertolongan kepada negeri ini melalui perjuangan hamba-hamba-Nya.
Inilah tauhid.
Kita mengakui sebab, tetapi hati kita bergantung kepada Rabb yang menciptakan sebab.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)

Karena itu, apabila kita menginginkan kemerdekaan ini terus terjaga, jangan hanya menjaganya dengan kekuatan fisik.
Jagalah kemerdekaan dengan syukur kepada Allah.
Dan syukur bukan sekadar mengatakan alhamdulillah.
Syukur adalah mengakui nikmat dengan hati, memuji Allah dengan lisan, lalu menggunakan nikmat tersebut untuk menaati Allah.

Kedua: Jagalah nikmat keamanan negeri ini

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara nikmat terbesar yang terkandung dalam kemerdekaan adalah nikmat keamanan — al-amn.

Betapa berharganya keamanan.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika mendoakan Makkah, di antara permohonan pertama beliau adalah:
رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا
“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Perhatikanlah.
Beliau meminta keamanan.
Sebab ketika keamanan hilang, banyak kenikmatan lainnya ikut hilang.
Ketika negeri aman, manusia dapat bekerja.
Ketika negeri aman, anak-anak dapat bersekolah.
Ketika negeri aman, kaum Muslimin dapat memenuhi masjid.
Ketika negeri aman, ilmu dapat dipelajari.
Ketika negeri aman, keluarga dapat tidur dengan tenang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Jamaah sekalian,
Kadang-kadang manusia baru mengetahui harga keamanan setelah keamanan itu hilang.
Lihatlah berbagai negeri yang sebelumnya masyarakatnya hidup normal.
Kemudian datang pergolakan, kekacauan, peperangan, perebutan kekuasaan, dan pertumpahan darah.
Akhirnya rumah hancur, anak-anak kehilangan orang tua, ekonomi lumpuh, manusia mengungsi, masjid rusak, dan darah kaum Muslimin tertumpah.

Karena itu syariat Islam sangat menjaga stabilitas masyarakat dan darah kaum Muslimin.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa seorang Muslim diperintahkan mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf. Adapun apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan tersebut.

Beliau ﷺ bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Wajib bagi seorang Muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai maupun ia benci, kecuali apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan. Jika diperintahkan bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat dalam kemaksiatan tersebut.” (HR. Muslim)

Inilah keseimbangan Ahlus Sunnah.
Kita tidak membenarkan kezaliman.
Kita tidak mengatakan kesalahan penguasa menjadi benar.
Kita tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan ilmu dan cara yang dibenarkan syariat.
Namun pada saat yang sama, kita juga tidak menjadikan kesalahan penguasa sebagai alasan untuk memprovokasi masyarakat, menebar kebencian, mengobarkan pemberontakan dan membuka pintu fitnah yang akibatnya bisa jauh lebih besar.
Rasulullah ﷺ mengambil baiat dari para sahabat untuk tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali apabila mereka melihat kekufuran yang nyata dan memiliki bukti yang jelas dari Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari.
Maka berhati-hatilah, wahai kaum Muslimin.
Jangan mudah terbakar oleh propaganda.
Jangan mudah ikut menyebarkan provokasi.
Jangan sampai tangan kita, lisan kita, tulisan kita, bahkan media sosial kita menjadi sebab timbulnya kekacauan dan tertumpahnya darah kaum Muslimin.

Niat yang dianggap baik tidak selalu membenarkan cara yang salah.
Betapa banyak orang mengatakan:
“Kami hanya menginginkan perubahan.”
Namun jalan yang ditempuh justru menimbulkan kerusakan yang bertahun-tahun tidak kunjung selesai.

Maka di antara bentuk syukur atas kemerdekaan adalah:
menjaga keamanan negeri, menaati pemerintah dalam perkara yang ma’ruf, menasihati dengan cara yang benar, serta mendoakan para pemimpin agar Allah memberikan kepada mereka hidayah, ketakwaan, keadilan, dan kemampuan memperbaiki urusan rakyat.

Ketiga: Jangan mensyukuri nikmat Allah dengan kemaksiatan

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ini perkara yang sangat penting.
Ketika datang nikmat dari Allah, jangan kemudian nikmat tersebut justru dipakai untuk bermaksiat kepada Allah.
Allah memberikan kemerdekaan, kemudian kemerdekaan dirayakan dengan sesuatu yang Allah murkai.
Allah memberikan keamanan, kemudian keamanan digunakan untuk melakukan kemaksiatan dengan tenang.
Allah memberikan rezeki, kemudian rezeki dihamburkan dalam perkara yang sia-sia.

Allah mengingatkan:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pemborosan adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)

Karena itu, apabila masyarakat mengadakan kegiatan dalam rangka mensyukuri kemerdekaan, jangan sampai di dalamnya terdapat kemungkaran.
Jangan sampai ada pemborosan.
Jangan sampai ada perjudian.
Jangan sampai ada hiburan yang mengantarkan kepada kemaksiatan.
Jangan sampai ada pelanggaran terhadap kehormatan dan syariat Allah.
Dan yang jauh lebih berbahaya:
jangan sampai terdapat kesyirikan.
Jangan meminta keselamatan negeri kepada selain Allah.
Jangan mempersembahkan sesaji kepada makhluk gaib.
Jangan menyembelih untuk jin.
Jangan meminta perlindungan kepada penghuni laut, gunung, pohon, makam, atau selain Allah.
Jangan sampai sebuah negeri yang diberi nikmat oleh Allah justru mensyukurinya dengan dosa terbesar yang paling Allah benci: syirik kepada-Nya.

Allah berfirman:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Dan renungkan peringatan Allah tentang sebuah negeri:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezekinya datang melimpah dari segala tempat. Kemudian penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah membuat mereka merasakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)

Allahu Akbar.
Awalnya negeri itu aman dan tenteram.
Kemudian karena kufur terhadap nikmat Allah, keamanan berubah menjadi ketakutan, dan kelapangan berubah menjadi kelaparan.
Maka jangan kita merasa aman dari hukuman Allah.
Kemerdekaan yang telah puluhan tahun kita rasakan bukan jaminan bahwa nikmat tersebut akan selamanya ada.
Allah mampu memberikan nikmat, dan Allah pun mampu mencabutnya.
Maka cara mempertahankan nikmat bukan hanya dengan slogan.
Bukan hanya dengan upacara.
Bukan hanya dengan bendera.
Tetapi yang paling penting:
Dengan tauhid.
Dengan ketaatan.
Dengan meninggalkan kesyirikan.
Dengan meninggalkan kemaksiatan.
Dengan menegakkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keempat: Jagalah persatuan dan jangan mudah terpecah belah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kemerdekaan dan keamanan sebuah negeri juga harus dijaga dengan persatuan.
Terlebih lagi persatuan kaum Muslimin di atas Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Allah juga berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang. Dan bersabarlah.” (QS. Al-Anfal: 46)

Perhatikan:
Perselisihan yang tidak terkendali dapat menghilangkan kekuatan.
Maka jangan kita mudah diadu domba.
Jangan karena berbeda suku lalu saling merendahkan.
Jangan karena berbeda daerah lalu saling membenci.
Jangan karena berbeda pilihan dalam perkara dunia lalu berubah menjadi permusuhan yang tidak selesai-selesai.
Terlebih jangan sampai seorang Muslim menjadikan saudaranya sebagai musuh hanya karena propaganda, berita yang belum jelas, atau kepentingan dunia.

Kita boleh berbeda dalam perkara yang memang ada ruang perbedaan.
Namun jangan sampai perbedaan itu menghancurkan ukhuwah dan keamanan.
Negeri yang kuat bukan negeri yang tidak pernah memiliki masalah.
Tetapi negeri yang masyarakatnya mampu menyelesaikan masalah tanpa saling menghancurkan.
Dan kaum Muslimin yang kuat adalah kaum Muslimin yang kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat Rasulullah ﷺ.

Kelima: Ingat saudara-saudara kita yang belum merasakan keamanan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ketika kita menikmati kemerdekaan dan keamanan, jangan menjadi manusia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Masih ada saudara-saudara Muslim kita di berbagai belahan dunia yang hidup dalam ketakutan.
Ada yang kehilangan rumah.
Ada yang kehilangan keluarga.
Ada anak-anak yang tumbuh di tengah peperangan.
Ada kaum Muslimin yang tertindas, terusir dari kampung halaman, atau belum merasakan keamanan sebagaimana yang kita rasakan.
Maka ketika kita mengatakan:
“Alhamdulillah negeri kami aman.”
Lanjutkan dengan doa:
“Ya Allah, berikan pula keamanan kepada saudara-saudara kami.”
Doakan kaum Muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya.
Doakan agar Allah menjaga darah kaum Muslimin.
Doakan agar Allah mengangkat kezaliman dari mereka.
Doakan agar Allah memberikan kepada mereka keamanan, pertolongan, dan jalan keluar.
Sebab sesama kaum Muslimin adalah bersaudara.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Maka marilah kita simpulkan.
Jika kita benar-benar ingin mensyukuri kemerdekaan:

Pertama, yakini bahwa kemerdekaan adalah karunia Allah.
Kedua, jagalah keamanan negeri dan jauhi jalan-jalan yang menimbulkan fitnah serta pertumpahan darah.
Ketiga, jangan mensyukuri nikmat dengan kemaksiatan, terlebih lagi dengan kesyirikan.
Keempat, jagalah persatuan kaum Muslimin dan persatuan masyarakat dalam perkara yang baik.
Kelima, jangan lupakan saudara-saudara kita yang masih hidup dalam penjajahan, peperangan, ketakutan dan penindasan.

Semoga Allah menjaga negeri kita.
Semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang aman, tenteram dan penuh keberkahan.
Semoga Allah memperbaiki pemimpin dan rakyatnya.
Semoga Allah menjauhkan negeri ini dari kesyirikan, kemaksiatan, perpecahan, fitnah, bencana dan pertumpahan darah.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita mensyukuri nikmat Allah dengan ketaatan.
Jangan sampai kemerdekaan hanya kita pahami sebagai bebas dari penjajahan manusia, tetapi diri kita masih dijajah oleh hawa nafsu.
Apa artinya negeri merdeka apabila manusia menjadi budak syahwat?
Apa artinya negeri merdeka apabila manusia bebas melakukan kesyirikan?
Apa artinya negeri merdeka apabila korupsi, kezaliman, kedustaan, riba, zina, narkoba dan berbagai kemaksiatan justru tumbuh di tengah masyarakat?
Kemerdekaan yang paling agung adalah ketika seorang hamba membebaskan dirinya dari penghambaan kepada makhluk, kemudian hanya menghambakan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka mari kita isi keamanan negeri ini dengan ketaatan.
Isi kemerdekaan dengan ilmu.
Isi kemerdekaan dengan dakwah.
Isi kemerdekaan dengan membangun keluarga yang bertauhid.
Isi kemerdekaan dengan mendidik generasi yang beriman dan berakhlak.
Isi kemerdekaan dengan bekerja secara amanah.
Isi kemerdekaan dengan menegakkan keadilan sesuai kemampuan kita.
Dan jagalah negeri ini dengan doa.

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا.
Ya Allah, berikanlah keamanan kepada negeri kami dan perbaikilah para pemimpin kami.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada para pemimpin kami kepada perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah mereka kepada kebaikan dan ketakwaan.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالشُّرُورِ، وَمِنَ الشِّرْكِ وَالْمَعَاصِي، وَمِنَ الْفَرْقَةِ وَالِاخْتِلَافِ، وَمِنْ سَفْكِ الدِّمَاءِ.
Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia dari berbagai fitnah dan keburukan, dari kesyirikan dan kemaksiatan, dari perpecahan dan pertikaian, serta dari pertumpahan darah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاحْفَظْ نِسَاءَهُمْ وَذَرَارِيَّهُمْ.
Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada.
Ya Allah, lindungilah darah mereka, hilangkan ketakutan mereka, lindungilah wanita-wanita dan anak-anak mereka, serta berikanlah kepada mereka keamanan dan pertolongan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal: 14 Agustus 2026

*) Penyusun adalah: Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 3 = ?
Berita Terkait