Khutbah Jum'at: Empat Tanda Orang Yang Bijaksana. Menyiapkan Bekal Sebelum Ajal Tiba. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT • 29 Oct 2026 02:02 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 43 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Empat Tanda Orang Yang Bijaksana. Menyiapkan Bekal Sebelum Ajal Tiba. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada satu kenyataan yang sering kita lupakan: kita begitu sibuk mempersiapkan kehidupan di dunia, tetapi terkadang lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Kita bekerja keras membangun rumah, tetapi seberapa serius kita membangun bekal untuk rumah terakhir kita? Kita menjaga kesehatan agar bisa hidup lebih lama, tetapi apakah kita menggunakan umur yang panjang itu untuk memperbanyak amal? Kita berusaha mendapatkan penghargaan manusia, tetapi sudahkah kita berusaha mendapatkan keridaan Allah?

Kematian tidak menunggu kita selesai membangun rumah, tidak menunggu anak-anak kita berhasil, dan tidak menunggu semua urusan dunia selesai. Dihari Jum'at yang mulia ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Empat Tanda Orang Yang Bijaksana.
Menyiapkan Bekal Sebelum Ajal Tiba"

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا، وَجَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ عَمَلٍ وَالْآخِرَةَ دَارَ جَزَاءٍ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, sebaik-baik bekal dalam perjalanan panjang menuju akhirat adalah ketakwaan.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Wa tazawwadū fa inna khairaz-zādit-taqwā.

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada satu kenyataan yang sering kita lupakan: kita begitu sibuk mempersiapkan kehidupan di dunia, tetapi terkadang lupa mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Kita bekerja keras membangun rumah, tetapi seberapa serius kita membangun bekal untuk rumah terakhir kita? Kita menjaga kesehatan agar bisa hidup lebih lama, tetapi apakah kita menggunakan umur yang panjang itu untuk memperbanyak amal? Kita berusaha mendapatkan penghargaan manusia, tetapi sudahkah kita berusaha mendapatkan keridaan Allah?

Kematian tidak menunggu kita selesai membangun rumah, tidak menunggu anak-anak kita berhasil, dan tidak menunggu semua urusan dunia selesai.

Karena itu, para ulama dan orang-orang bijaksana selalu mengingatkan kita agar mempersiapkan diri sebelum kesempatan hidup berakhir.

Ada sebuah ungkapan hikmah dalam bahasa Arab:

الْعُقَلَاءُ أَرْبَعَةٌ: مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ، وَمَنْ بَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ، وَمَنْ صَلَّى قَبْلَ أَنْ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَمَنْ أَرْضَى خَالِقَهُ قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ.

Al-‘uqalā’u arba‘atun: man tarakad-dunyā qabla an tatrukahu, wa man banā qabrahu qabla an yadkhulahu, wa man ṣallā qabla an yuṣallā ‘alaihi, wa man arḍā khāli qahu qabla an yalqāhu.

Artinya:

“Orang-orang yang bijaksana itu ada empat: orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, orang yang membangun kuburnya sebelum memasukinya, orang yang salat sebelum dirinya disalatkan, dan orang yang mencari keridaan Penciptanya sebelum bertemu dengan-Nya.”

Ungkapan ini mengandung empat pelajaran penting bagi kehidupan kita.

Pertama: Meninggalkan Dunia Sebelum Dunia Meninggalkan Kita

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Meninggalkan dunia bukan berarti kita harus berhenti bekerja, meninggalkan keluarga, atau menjauhi segala kenikmatan yang halal. Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia, tetapi mengajarkan agar dunia tidak menguasai hati kita.

Kita boleh kaya, tetapi jangan menjadi budak kekayaan. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita sombong. Kita boleh mencintai keluarga, tetapi jangan sampai kecintaan itu membuat kita melupakan Allah.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Wabtaghi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dunyā.

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Dunia tetap kita jalani, tetapi akhirat tidak boleh kita lupakan.

Sebab, semua yang kita miliki hanyalah titipan. Suatu saat, harta akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, dan orang-orang yang kita cintai akan berpisah dengan kita.

Orang yang bijaksana bukanlah orang yang tidak memiliki dunia, melainkan orang yang memiliki dunia tanpa kehilangan akhiratnya.

Kedua: Membangun Kubur Sebelum Memasukinya

Jamaah yang dirahmati Allah,

Setiap orang ingin memiliki rumah yang nyaman. Kita menghias dinding, memperindah halaman, dan memperbaiki bangunan agar keluarga merasa bahagia.

Namun, ada satu tempat yang pasti akan kita datangi, yaitu kubur.

Sudahkah kita menyiapkan bekalnya?

Kubur tidak membutuhkan kekayaan kita, tetapi kita membutuhkan amal saleh ketika berada di dalamnya. Bukan kemegahan rumah yang akan menemani, melainkan rahmat Allah dan amal yang telah kita kerjakan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Idzā mātal-insānu inqaṭa‘a ‘anhu ‘amaluhu illā min tsalātsah: illā min ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa‘u bih, aw waladin ṣāliḥin yad‘ū lah.

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."(HR. Muslim, no. 1631)

Karena itu, selagi masih hidup, marilah kita memperbanyak amal yang bermanfaat. Bantu orang yang kesulitan. Ajarkan ilmu yang benar. Didik anak-anak agar mengenal Allah. Bangun masjid, dukung pendidikan, dan tebarkan kebaikan sesuai kemampuan kita.

Jangan sampai kita menghabiskan seluruh umur untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan, sementara bekal untuk akhirat justru kita abaikan.

Ketiga: Salat Sebelum Kita Disalatkan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita berdiri untuk melaksanakan salat Jumat. Kita masih bisa berwudu, melangkahkan kaki ke masjid, rukuk, dan bersujud.

Namun, akan datang suatu hari ketika tubuh kita tidak lagi mampu bergerak. Orang lain yang akan memandikan kita, mengafani kita, menyalatkan kita, dan mengantarkan kita ke pemakaman.

Saat itu, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menambah satu rakaat pun.

Allah berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta warka‘ū ma‘ar-rāki‘īn.

“Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Jangan menunggu tua untuk rajin salat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan kesehatan untuk menyadari betapa berharganya kesempatan bersujud.

Berapa banyak orang yang dahulu berjalan melewati masjid tanpa singgah, tetapi kini diantarkan ke masjid hanya untuk disalatkan?

Berapa banyak orang yang dahulu menunda-nunda salat karena kesibukan, tetapi kini tidak lagi memiliki kesempatan untuk melaksanakannya?

Maka, sebelum kita disalatkan, marilah kita menjaga salat. Sebelum kita dibawa ke kuburan, marilah kita memperbanyak sujud dan memohon ampunan kepada Allah.

Keempat: Mencari Keridaan Allah Sebelum Bertemu dengan-Nya

Jamaah rahimakumullah,

Kita mungkin bisa menyembunyikan sesuatu dari manusia, tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Allah.

Manusia melihat penampilan, sedangkan Allah mengetahui isi hati. Manusia menilai apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui niat di balik setiap perbuatan.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk memperbaiki citra di hadapan manusia, tetapi melupakan keadaan diri di hadapan Allah.

Berbuat baiklah karena Allah. Tolonglah sesama dengan ikhlas. Jauhi kezaliman, sekalipun tidak ada manusia yang melihat. Dan jika melakukan kesalahan, segeralah bertobat sebelum kesempatan itu berakhir.

Allah berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma'innah. Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah.

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27–28)

Alangkah indahnya apabila kelak kita kembali kepada Allah dengan membawa iman, amal saleh, dan hati yang bersih.

Kita tidak tahu kapan ajal akan datang. Karena itu, tugas kita bukan menebak kapan kematian tiba, melainkan mempersiapkan diri agar selalu siap ketika waktunya datang.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri.

Jika hari ini adalah hari terakhir kita, sudahkah kita siap?

Jika malam ini kita dipanggil Allah, apakah kita masih menyimpan kezaliman kepada orang lain? Apakah ada hak orang lain yang belum kita tunaikan? Apakah ada salat yang masih kita lalaikan? Apakah ada dosa yang belum kita sesali dan kita mohonkan ampunan?

Jangan menunggu esok untuk memperbaiki diri. Sebab, belum tentu esok masih menjadi milik kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bijaksana: tidak diperbudak dunia, selalu menyiapkan bekal akhirat, menjaga salat, dan berusaha meraih keridaan-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 2 = ?
Berita Terkait