Sinergi Sekolah, Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah dalam Membangun Budaya Literasi Anak Indonesia

ARTIKEL 17 Sep 2026 00:41 Admin NA 11 kali dibaca
Sinergi Sekolah, Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah dalam Membangun Budaya Literasi Anak Indonesia

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Capaian membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA) dapat menjadi salah satu cermin untuk melihat kemampuan literasi peserta didik Indonesia. PISA tidak sekadar mengukur kemampuan membaca secara mekanis, tetapi menilai kemampuan peserta didik menggunakan, memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dalam berbagai konteks. OECD telah merilis hasil PISA 2025 pada September 2026, sehingga capaian tersebut dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana budaya membaca dibangun dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Namun demikian, peningkatan skor tidak seharusnya berhenti sebagai pencapaian statistik. Dari perspektif psikologi terapan, tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana membaca berubah dari sebuah tuntutan akademik menjadi kebiasaan perilaku. Anak yang membaca hanya ketika mendapatkan tugas belum tentu memiliki budaya literasi. Sebaliknya, anak yang secara sukarela mencari informasi, membaca untuk memahami sesuatu, menikmati buku, dan mampu mendiskusikan isi bacaan menunjukkan terbentuknya perilaku literasi yang lebih berkelanjutan.

Dalam perspektif psikologi, kebiasaan terbentuk melalui pengulangan perilaku dalam konteks yang relatif konsisten, disertai pengalaman yang memberikan makna atau konsekuensi positif. Karena itu, peningkatan literasi tidak cukup dibebankan kepada guru. Anak membutuhkan lingkungan yang secara konsisten memberikan contoh, kesempatan, dukungan, dan penguatan terhadap perilaku membaca. Gagasan tersebut selaras dengan pesan Al-Qur'an dalam Surah Al-'Alaq ayat 1–5. Ayat pertama memuat perintah, “Iqra'”, yang secara umum diterjemahkan sebagai “Bacalah”, dan ayat berikutnya mengaitkan proses belajar dengan pengajaran melalui pena.  Pesan ini dapat menjadi landasan nilai bahwa membaca bukan sekadar instrumen memperoleh nilai, tetapi bagian dari proses manusia memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, budaya literasi perlu dipandang sebagai hasil interaksi antara individu dan lingkungan. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam membentuk perilaku membaca yang konsisten.

Membaca sebagai Kebiasaan.

Dari perspektif psikologi perilaku, kebiasaan membaca tidak terbentuk melalui satu kali kegiatan literasi. Perilaku membaca perlu dilakukan berulang dalam situasi yang mendukung sehingga secara bertahap menjadi bagian dari rutinitas anak. Dalam konteks ini, konsep reinforcement dapat diterapkan dengan memberikan konsekuensi positif terhadap perilaku membaca. Penguatan tidak harus berupa hadiah material. Penguatan dapat berupa apresiasi, kesempatan memilih buku, kesempatan menceritakan isi bacaan, pengakuan terhadap usaha, maupun pengalaman menyenangkan setelah membaca. Pendekatan tersebut penting karena motivasi membaca tidak selalu bersifat sama. Penelitian Engler dan Westphal (2024), yang menggunakan perspektif Self-Determination Theory dari Ryan dan Deci, menunjukkan bahwa dukungan terhadap otonomi guru berkaitan dengan lebih terjaganya motivasi intrinsik membaca pada siswa sekolah menengah. Dengan kata lain, ketika peserta didik merasa memiliki ruang untuk memilih dan merasa bahwa aktivitas membaca bukan semata-mata paksaan, motivasi membaca dapat lebih terpelihara. 

Temuan Bains, Spaulding, Ricketts, dan Krishnan (2025/2026) juga memberikan implikasi penting. Penelitian eksperimental mereka menemukan bahwa pemberian pilihan dalam membaca dapat meningkatkan kenikmatan membaca. Hal ini memperkuat gagasan bahwa anak perlu diberikan ruang untuk memilih sebagian bahan bacaannya sesuai minat dan tahap perkembangannya. Pada sisi lain, dukungan sosial juga berperan. Penelitian tahun 2025 mengenai dukungan membaca menemukan bahwa dukungan dari orang tua dan teman berkontribusi terhadap motivasi membaca, sementara keterhubungan sosial dalam aktivitas membaca berkaitan dengan pencapaian membaca. Temuan tersebut menunjukkan bahwa membaca tidak selalu harus diposisikan sebagai aktivitas individual; membaca dapat menjadi pengalaman sosial melalui diskusi buku, membaca bersama, komunitas literasi, dan percakapan mengenai isi bacaan. 

Dalam konteks keluarga, orang tua dapat menjadi model perilaku. Anak akan lebih mudah melihat membaca sebagai aktivitas normal apabila mereka menyaksikan orang dewasa di sekitarnya membaca, berdiskusi tentang informasi, mengunjungi perpustakaan, atau menyediakan waktu khusus untuk membaca. Penelitian Zhao dkk. (2024) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua di rumah maupun di sekolah berperan dalam hubungan antara sikap orang tua terhadap membaca dan minat belajar anak.  Temuan Graham dan Mtsweni (2024) juga menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan orang tua dan literasi membaca peserta didik.  Dalam konteks Indonesia, penelitian Lalomi dan Ama (2024) juga mengkaji hubungan persepsi keterlibatan orang tua dengan keterampilan membaca siswa sekolah dasar.  Dengan demikian, intervensi psikologi terapan dalam literasi dapat diarahkan pada tiga hal yaitu membentuk rutinitas, memberikan penguatan positif, dan menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan serta bermakna.

Sinergi Sekolah, Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah.

Budaya literasi tidak akan bertahan apabila hanya dibangun di satu lingkungan. Sekolah dapat menyediakan struktur pembelajaran, tetapi waktu anak berada di luar sekolah jauh lebih panjang. Karena itu, diperlukan ekosistem yang membuat pesan mengenai pentingnya membaca relatif konsisten di berbagai lingkungan kehidupan anak. Pertama, sekolah berperan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung motivasi. Guru dapat memberikan pilihan bacaan, menghubungkan bacaan dengan kehidupan nyata, mengembangkan diskusi, memberikan apresiasi terhadap usaha membaca, dan menghindari menjadikan membaca semata-mata sebagai aktivitas untuk memperoleh nilai. Sekolah juga dapat mengembangkan program membaca yang terintegrasi dengan berbagai mata pelajaran.
Kedua, orang tua berperan membangun kebiasaan membaca di rumah. Praktiknya dapat sederhana: menyediakan waktu membaca bersama 10–20 menit setiap hari, menyediakan bahan bacaan yang sesuai minat anak, mengajak anak berbicara mengenai isi bacaan, serta memberikan apresiasi terhadap konsistensi membaca. Fokusnya bukan pada banyaknya halaman yang diselesaikan, tetapi pada terbentuknya rutinitas dan pengalaman positif. Ketiga, masyarakat dapat menyediakan lingkungan sosial yang memperluas kesempatan membaca. Perpustakaan, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, rumah ibadah, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dan dunia usaha dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Anak perlu menemukan bahwa membaca memiliki tempat dalam kehidupan sosial, bukan hanya dalam ruang kelas. Keempat, pemerintah memiliki fungsi menciptakan kondisi struktural yang memungkinkan ketiga lingkungan tersebut bekerja. Pemerintah dapat memperkuat akses terhadap buku berkualitas, perpustakaan, pelatihan guru, program literasi keluarga, pemerataan fasilitas digital dan informasi, serta evaluasi kebijakan berbasis data.

Dari perspektif ekologi perkembangan, perilaku anak dipengaruhi oleh berbagai lingkungan yang saling berhubungan. Karena itu, program literasi akan lebih kuat apabila terdapat kesinambungan pesan antara sekolah dan rumah yaitu sekolah mendorong membaca, orang tua melanjutkannya di rumah, masyarakat menyediakan ruang praktik, dan pemerintah memastikan ekosistem serta sumber dayanya tersedia. Hal ini juga sejalan dengan perkembangan kajian motivasi membaca. Jang dan Conradi Smith (2025) menunjukkan bahwa motivasi membaca tidak sederhana dan tidak tepat dipahami hanya sebagai kategori “tinggi” atau “rendah”. Profil pembaca dapat dipengaruhi oleh kombinasi motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, efikasi diri, dan keterlibatan.  Karena itu, intervensi literasi sebaiknya tidak menggunakan pendekatan yang seragam untuk semua anak.

Secara praktis, sinergi empat pihak dapat dirumuskan menjadi sebuah siklus literasi yaitu pemerintah menyediakan ekosistem dan kebijakan, sekolah menciptakan pengalaman belajar membaca, keluarga membangun rutinitas, masyarakat memperluas ruang praktik literasi, maka pengalaman positif tersebut memperkuat motivasi anak dan   perilaku membaca semakin konsisten sehingga  kemampuan memahami bacaan berkembang. Dengan mekanisme tersebut, perhatian terhadap PISA tidak berhenti pada pertanyaan “berapa skor anak Indonesia?”, tetapi bergerak kepada pertanyaan yang lebih psikologis dan aplikatif: “perilaku apa yang perlu dibangun agar anak Indonesia menjadi pembaca yang konsisten, termotivasi, dan mampu memahami informasi secara kritis?”

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa peningkatan capaian membaca PISA menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi Indonesia. Dalam perspektif psikologi terapan, literasi perlu dibangun melalui kebiasaan, motivasi, penguatan positif, efikasi diri, serta lingkungan belajar yang konsisten. Upaya tersebut membutuhkan sinergi sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, orang tua menjadi teladan dan penguat kebiasaan membaca, masyarakat menyediakan ruang literasi, sedangkan pemerintah memastikan kebijakan, akses, dan sumber daya yang berkelanjutan. Semangat ini selaras dengan Surah Al-'Alaq ayat 1–5 melalui perintah “Iqra'” (Bacalah). Keberhasilan literasi tidak hanya ditentukan oleh kenaikan skor PISA, tetapi oleh terbentuknya anak yang mau membaca, terbiasa membaca, menikmati membaca, mampu memahami dan mengevaluasi informasi, serta menerapkannya dalam kehidupan. Dengan demikian, perjalanan dari “skor menuju kebiasaan” merupakan proses psikologis dan sosial. Budaya literasi akan tumbuh apabila seluruh ekosistem pendidikan secara konsisten menjadikan membaca sebagai aktivitas yang penting, bermakna, menyenangkan, dan menjadi bagian dari kehidupan anak. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 2 = ?
Berita Terkait