Seri Buku: Sai Bumi Ruwa Jurai, Harmoni Adat, Islam, dan Kebhinekaan. BUKU SERI 4: Simbol-Simbol Adat dan Maknanya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 28 Aug 2026 00:25 Admin NA
Seri Buku:  Sai Bumi Ruwa Jurai, Harmoni Adat, Islam, dan Kebhinekaan. BUKU SERI 4: Simbol-Simbol Adat dan Maknanya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, para penyimbang, para sesepuh, dan hadirin nan budiman.
Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang gadis bernama Sinar Bumi. Pada hari pernikahannya, ia mengenakan mahkota emas berkilau dengan sembilan lekuk yang menjulang anggun. Tetangganya, seorang gadis dari pesisir, juga menikah di hari yang sama, namun mahkotanya berbeda, hanya tujuh lekuk dengan hiasan bunga yang indah.

Kedua gadis itu tersenyum, karena mereka tahu: perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang membuat Bumi Lampung begitu istimewa. Inilah kisah tentang simbol-simbol adat yang menjadi penanda jati diri, sekaligus pengikat persatuan.

Konon, mahkota Sinar Bumi adalah warisan dari nenek moyangnya, putri Kerajaan Sekala Berak. Sementara mahkota tetangganya berasal dari keturunan bangsawan pesisir Selat Sunda. Kedua mahkota itu, dengan segala perbedaannya, sama-sama dihormati dan dijaga dengan penuh kebanggaan.

Dari situlah kita belajar bahwa simbol-simbol adat bukanlah sekadar hiasan, melainkan cerminan dari perjalanan panjang sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.

Siger: Mahkota Kebesaran.

Siger Pepadun dengan Sembilan Lekuk.

Siger adalah mahkota kebesaran yang menjadi simbol khas Provinsi Lampung. Dalam masyarakat adat Pepadun, siger memiliki sembilan lekuk atau cabang yang menjulang ke atas. Sembilan lekuk itu melambangkan sembilan marga yang bersatu membentuk Abung Siwo Megou, sembilan marga besar yang menjadi fondasi masyarakat Pepadun di pedalaman Lampung.
Konon, ketika Kerajaan Sekala Berak masih berjaya, sembilan orang utusan dari berbagai marga dikirim untuk menghadapi suku Tumi di Bukit Pesagi. Dari sembilan orang yang berangkat, hanya tujuh yang selamat pulang. Masyarakat Pepadun mengenang perjuangan sembilan utusan itu melalui sembilan lekuk siger mereka, sementara masyarakat Saibatin mengenang tujuh orang yang selamat melalui tujuh lekuk siger mereka. 
Sebuah cerita yang mengajarkan tentang keberanian, pengorbanan, dan persatuan di atas segala perbedaan.

Siger Saibatin dengan Tujuh Lekuk.

Berbeda dengan siger Pepadun, siger Saibatin memiliki tujuh lekuk yang dihiasi ornamen berbentuk pohon sekala. Tujuh lekuk ini melambangkan tujuh adok atau gelar adat dalam masyarakat Saibatin, yaitu Suttan/Dalom, Raja Jukuan/Dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas, dan Mas/Inton. Gelar-gelar ini hanya dapat diwariskan secara turun-temurun kepada keturunan lurus.

Bentuk siger Saibatin sangat mirip dengan Rumah Gadang Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Hal ini berkaitan dengan sejarah masuknya Islam ke Lampung yang dibawa oleh para penyebar agama dari Pagaruyung melalui tokoh Umpu Ngegalang Paksi.

Beliau adalah orang pertama yang memeluk Islam di tanah Lampung dan mendirikan Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Akulturasi budaya melahirkan kekayaan bentuk dan makna pada siger Saibatin, bukti bahwa adat dan agama dapat berpadu dalam harmoni.

Makna Filosofis di Balik Setiap Lekukan.

Bagi masyarakat Lampung, siger bukan sekadar perhiasan kepala. Ia adalah simbol status sosial, kehormatan, dan identitas diri. Dalam adat Pepadun, siger melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Dalam adat Saibatin, siger adalah mahkota kebangsawanan.
Siger juga merefleksikan peran penting perempuan Lampung. Berbentuk seperti tanduk kerbau, ia melambangkan kekuatan dan keteguhan hati perempuan dalam menghadapi tantangan. Di balik kelembutannya, terkandung semangat juang dan kemandirian. Dalam ajaran Islam, simbol ini mengingatkan bahwa setiap insan memiliki peran mulia. 
Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوۡا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعۡضَكُمۡ عَلٰى بَعۡضٍ ؕ لِلرِّجَالِ نَصِيۡبٌ مِّمَّا اكۡتَسَبُوۡا ؕ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيۡبٌ مِّمَّا اكۡتَسَبۡنَ ؕ وَسۡئَـلُوا اللّٰهَ مِنۡ فَضۡلِهٖ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمًا

Wa laa tatamannaw maa faddalal laahu bihii ba'dakum 'alaa ba'd; lirrijaali nasiibum mimak tasabuu wa linnisaaa'i nasiibum mimmak tasabna; was'alullaaha min fadlih; innal laaha kaana bikulli shai'in 'Aliimaa

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."  (QS. An-Nisa: 32)

Busana Adat: Cerminan Jati Diri.

Warna Putih bagi Pepadun, Warna Merah bagi Saibatin.

Busana adat Lampung juga memiliki ciri khas yang membedakan kedua jurai adat. Masyarakat Pepadun identik dengan warna putih, sedangkan masyarakat Saibatin identik dengan warna merah menyala. Warna putih melambangkan kesucian dan kesederhanaan. Warna merah melambangkan keberanian dan semangat yang menyala-nyala, cerminan masyarakat pesisir yang tangguh.

Pengantin Pepadun mengenakan kebaya putih dan emas dengan bentuk ramping, dipadukan dengan kain tapis berbenang emas dan perak.

Pengantin Saibatin mengenakan busana dengan motif floral, bunga tabur, atau pucuk rebung, dilengkapi selempang jungsarat. Keduanya sama-sama indah dan menjadi kebanggaan Bumi Lampung.

Pakaian Pengantin dan Perlengkapannya.

Busana pengantin Lampung terdiri dari berbagai perangkat sarat makna. Pengantin pria menggunakan baju lengan panjang, celana hitam, dan sarung tumpal. Mereka juga mengenakan khikat akhir atau selendang di pundak, simbol perlindungan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Pengantin wanita mengenakan selappai, baju tanpa lengan dengan hiasan rumbai, serta bebe, sulaman benang berbentuk bunga teratai yang melambangkan kesucian.

Perhiasan seperti kalung buturan, kalung papan jajar, gelang burung, dan gelang kano menambah keanggunan. 
Semua perhiasan ini simbol status sosial, kekayaan, dan doa agar rumah tangga diliputi kebahagiaan dan kemakmuran.

Mote, Tapis, dan Sulaman Khas Lampung.

Kain tapis adalah warisan budaya Lampung yang paling berharga. Dibuat dari benang katun dan emas dengan sistem sulam rumit, pengerjaannya memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Harganya bisa mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah. Setiap helai tapis adalah hasil kerja keras, kesabaran, dan keterampilan perempuan Lampung yang diwariskan turun-temurun.

Motif tapis sangat beragam. Tapis pesisir (Saibatin) dominan motif flora, sementara tapis pedalaman (Pepadun) cenderung lebih sederhana dan kaku. Ada pula motif kapal dan siger hasil asimilasi budaya dari animisme, Hindu-Buddha, hingga Islam. Seperti dalam Kitab Kuntara Raja Niti, "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah", setiap karya budaya harus selaras dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Gelar Adat dalam Masyarakat Lampung.
Ragam Gelar dan Maknanya.

Dalam adat Lampung, gelar atau adok adalah sebutan kehormatan bagi yang telah dewasa dan berumah tangga, diresmikan melalui upacara adat. Gelar-gelar ini memiliki tingkatan dan makna berbeda.

Dalam masyarakat Saibatin, terdapat tujuh gelar utama: Suttan/Dalom, Raja Jukuan/Dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas, dan Mas/Inton. Gelar ini hanya diwariskan kepada keturunan lurus. Dalam masyarakat Pepadun, seseorang memperoleh gelar melalui upacara Cakak Pepadun, di mana ia diangkat menjadi penyimbang. Gelar yang dapat diperoleh antara lain Suttan, Raja, Pangeran, dan Dalom. Ini menunjukkan bahwa dalam adat Pepadun ada ruang untuk dinamika sosial dan pengakuan terhadap individu yang berkapabilitas.

Makna dan Tingkatan dalam Struktur Adat.

Gelar adat adalah penanda status sosial dan tanggung jawab. Gelar Suttan atau Dalom adalah gelar tertinggi yang disandang kepala marga atau keturunan bangsawan. Mereka adalah pemimpin yang mengayomi anggota marga. Gelar Batin adalah pemimpin adat di tingkat kampung, penghubung antara masyarakat dengan dunia spiritual dan leluhur.

Pemberian gelar adalah tanggung jawab besar. Ia mengikat pemiliknya untuk menjaga nilai-nilai luhur adat dan bertindak sesuai kehormatan. Gelar bukan hak istimewa untuk berkuasa, melainkan amanah untuk melayani.
Kewajiban Menjaga Nama Baik
Menyandang gelar berarti menjaga nama baik dan martabat di mata keluarga, masyarakat, dan leluhur. Seorang bergelar harus menjadi teladan dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan. Aib yang menimpa dirinya akan menjadi aib bagi seluruh marga dan kampungnya.
Dalam Islam, menjaga nama baik adalah bagian dari akhlak mulia. Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya."

Nilai-nilai dalam gelar adat Lampung sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan menjaga kehormatan diri dan orang lain.
Sesat dan Lamban: Rumah Adat sebagai Pusat Musyawarah
Sesat sebagai Tempat Musyawarah
Sesat atau Nuwou Sesat adalah rumah adat Lampung yang berfungsi sebagai balai pertemuan dan tempat musyawarah para punyimbang. Bangunan ini digunakan untuk musyawarah antar marga, peradilan adat, dan upacara penting. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, diatur tata cara bermusyawarah di sesat, di mana setiap orang berhak menyampaikan pendapat sebelum keputusan diambil secara mufakat.
Di dalam sesat terdapat ruang tetabuhan untuk alat musik tradisional seperti talo balak, serta ruang gajah merem untuk istirahat para punyimbang. Sesat menjadi simbol demokrasi dan kebersamaan, mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah untuk kepentingan bersama.

Lamban sebagai Rumah Tradisional.

Masyarakat Lampung juga memiliki rumah tinggal tradisional bernama lamban. Rumah panggung dengan konstruksi kayu kokoh ini bertujuan menghindari serangan hewan dan tahan gempa, menunjukkan kearifan lokal tentang alam. Lamban menghadap ke jalan, menandakan masyarakat Lampung terbuka dan ramah.
Lamban Dalom Marga Balak di Bandar Lampung diperkirakan berdiri sejak sebelum abad ke-19. Rumah ini hanya rusak ringan saat Krakatau meletus, sementara rumah lain rata dengan tanah. Di dalamnya tersimpan pusaka adat seperti tombak (payan), parang, singgasana, tampan, dan gong. Semua pusaka ini adalah saksi bisu perjalanan panjang adat dan sejarah Lampung.

Bangunan Adat dan Perlengkapannya.

Rumah adat Lampung memiliki bagian-bagian khas. Ijan geladak adalah tangga masuk dengan atap rurung agung dan hiasan payung putih, kuning, dan merah. Warna-warna ini melambangkan tingkatan masyarakat: putih untuk marga, kuning untuk kampung, dan merah untuk suku.
Anjungan adalah serambi untuk pertemuan kecil. Semua elemen dirancang dengan kearifan dan makna filosofis. Seperti kata adat, "rumah adalah tempat berlindung, tempat berkumpul, dan tempat beribadah." Setiap bagian rumah adat diciptakan untuk menciptakan suasana harmonis bagi penghuni dan alam sekitarnya.
Tabik puun, demikianlah simbol-simbol adat Lampung yang menjadi penanda jati diri sekaligus pengikat persatuan. Dari siger yang menjulang, busana yang anggun, gelar yang terhormat, hingga rumah adat yang kokoh, semuanya mengajarkan nilai-nilai luhur: kehormatan, keberanian, kebersamaan, dan keselarasan dengan alam dan Tuhan. Semua ini adalah cerminan falsafah Piil Pesenggiri.

Perbedaan antara Pepadun dan Saibatin bukan untuk dipertentangkan, melainkan disyukuri sebagai kekayaan budaya. Seperti dua mahkota yang berbeda bentuk namun sama-sama indah, masyarakat Lampung bersatu dalam keberagaman, menjunjung adat istiadat sambil berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan kemanusiaan.
Semoga warisan leluhur ini tetap terjaga dan menjadi pedoman bagi generasi mendatang, agar Bumi Lampung tetap harmonis bagi semua anak bangsa. Mari kita jaga simbol-simbol adat ini bukan sebagai benda mati, tetapi sebagai nilai hidup yang terus mengalir dalam setiap denyut nadi masyarakat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 4 = ?
Berita Terkait