Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dan Nilai Syukur. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 24 Aug 2026 00:20 Admin NA
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dan Nilai Syukur. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca yang budiman. Hari ini, izinkan saya, sebagai seorang punyimbang yang duduk bersila di beranda, membawa kita semua bernostalgia ke masa silam. 
Kita akan mengenang sebuah hidangan yang tak lekang oleh waktu, yang setia menemani setiap momen syukur masyarakat Lampung dari generasi ke generasi: Segubal. Di balik gulungan daun pisang yang sederhana, tersembunyi makna yang dalam, sebuah wujud syukur yang tulus, yang membentangkan kebersamaan, dan merangkai kehangatan keluarga.

Alkisah, di sebuah tiyuh (kampung adat) di pedalaman Lampung, hiduplah seorang tetua adat yang disegani bernama Punyimbang Radin Jaya. Beliau dikenal teguh memegang adat dan taat menjalankan syariat. 
Suatu ketika, keluarga besar Radin Jaya hendak menggelar syukuran atas panen raya yang melimpah. Sang istri, yang bijaksana, bertanya, “Hidangan apa yang akan kita sajikan untuk para tamu dan sanak saudara, agar tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga membawa doa dan keberkahan?”.
Punyimbang Radin Jaya pun merenung. Beliau teringat akan nasihat leluhurnya, bahwa makanan dalam syukuran adalah lambang syukur dan penghormatan. Lalu, terpikir olehnya untuk menyajikan Segubal. Hidangan ini terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan kelapa, dibungkus rapi dengan daun pisang, dan diikat dengan tali dari serat alami. 
Bentuknya yang menggulung dan padat melambangkan kesatuan dan kekompakan. Setiap gulungan seperti doa yang terkumpul, siap dipanjatkan kepada Allah atas segala nikmat kehidupan.

Segubal ini, yang oleh sebagian orang disebut Sekubal, ternyata bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol dan bagian dari tradisi adat yang penting dalam masyarakat Lampung. Penganan ini hanya dapat dijumpai saat upacara adat, seperti pesta pernikahan, khitanan, dan cukuran rambut bayi, serta menjadi menu wajib saat Hari Raya Idul Fitri. Di momen-momen istimewa ini, Segubal menjadi hantaran wajib yang diberikan kepada sanak keluarga dan sahabat.

Mengapa Segubal menjadi simbol syukur? Karena proses pembuatannya mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketulusan. Segubal bukanlah makanan yang dibuat dengan tergesa-gesa. Menurut cerita Nenek Sekubal, seorang pembuat Segubal legendaris dari Bandarlampung, kunci kelezatannya terletak pada ketelatenan. 
Proses pembuatannya memakan waktu hingga 8 hingga 10 jam, mulai dari merendam beras ketan selama sehari, mengukusnya hingga setengah matang, menyiramnya dengan santan kental, hingga membungkusnya dengan daun pisang dan merebusnya kembali selama berjam-jam.
Panjangnya proses ini mengajarkan kita bahwa untuk mencapai sesuatu yang baik, kita harus sabar dan tekun. Inilah yang disebut dengan “wat andah wat padah, khapa ulah khaya ulih”, sebuah pepatah Lampung yang mengajarkan bahwa hasil yang kita peroleh tergantung pada usaha yang kita lakukan.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya kesabaran dan keikhlasan dalam setiap perbuatan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 153,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِيۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلٰوةِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيۡنَ
Yaaa ayyuhal laaziina aamanus ta'iinuu bissabri was Salaah; innal laaha ma'as-saabiriin
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." 

Proses pembuatan Segubal juga sarat dengan nilai-nilai Piil Pesenggiri. Falsafah hidup orang Lampung yang termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti ini terdiri dari lima pilar. Kita dapat melihatnya dengan jelas dalam tradisi membuat Segubal.

Pertama, Sakai Sambayan, yaitu semangat gotong-royong. Membuat Segubal dalam jumlah banyak untuk sebuah hajatan atau perayaan tidak mungkin dilakukan sendirian. Masyarakat, terutama para ibu dan remaja putri, secara bergotong royong membuat kuliner ini. Mereka bahu-membahu, ada yang merendam ketan, memasak santan, membungkus, hingga merebus. 
Proses ini menjadi ajang berkumpul keluarga dan mempererat ikatan sosial. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa proses memasak Sekubal seringkali menjadi ajang berkumpul keluarga, terutama menjelang perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri.

Kedua, Nemui Nyimah, yaitu keramahan dan saling memberi. Segubal selalu disajikan untuk tamu dalam acara syukuran. Menyajikan Segubal adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu, karena menunjukkan bahwa tuan rumah memberikan yang terbaik dari hasil jerih payahnya. 
Tradisi ini juga terlihat saat Segubal menjadi hantaran wajib yang diberikan ke sanak keluarga dan sahabat, sebagai bentuk silaturahmi dan kasih sayang.

Ketiga, Nengah Nyappur, yaitu keterbukaan dan bersosialisasi. Acara pembuatan Segubal melibatkan berbagai kalangan, dari tua hingga muda, dari tetangga dekat hingga sanak saudara dari jauh. Di sanalah terjadi percakapan, canda tawa, dan bertukar cerita, yang memperkuat ikatan sosial dan menjaga keharmonisan masyarakat.

Keempat, Bejuluk Beadek, yang mengajarkan tentang harga diri dan martabat. Keahlian membuat Segubal adalah kebanggaan tersendiri bagi para ibu. Menjadi ahli dalam membuat Segubal adalah sebuah ‘gelar’ tak tertulis yang dihormati, yang menunjukkan kemahiran dan dedikasi dalam melestarikan warisan leluhur.
Nilai syukur dalam tradisi Segubal sangat selaras dengan ajaran Islam dan Pancasila. Dalam Islam, rasa syukur adalah kunci kebahagiaan. Allah SWT berfirman,

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ‏
Wa iz ta azzana Rabbukum la'in shakartum la aziidannakum wa la'in kafartum inn'azaabii lashadiid
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim: 7).

Tradisi syukuran dengan Segubal adalah manifestasi dari ayat ini, di mana masyarakat mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah dan patut disyukuri dengan cara yang baik.
Falsafah Piil Pesenggiri yang melandasi tradisi ini juga sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Sakai Sambayan mencerminkan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nemui Nyimah mencerminkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menyayangi sesama. Dengan melestarikan Segubal, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga turut mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Di zaman sekarang, Pemerintah Kota Bandar Lampung bahkan pernah membuat Segubal raksasa sepanjang 25 meter dan berhasil meraih Rekor Muri. Ini adalah bukti bahwa kuliner tradisional ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan bersama. 
Kehadiran Segubal dalam setiap syukuran adalah manifestasi dari ajaran Kitab Kuntara Raja Niti, yang dalam salah satu bagiannya menyebutkan: “Senang negeri: (1) Cawa sepuluh sudi cukup, (2) Muli meranai lamon sai ranta sapun, (3) Raji ni sabar, dan (4) Anak buwoh maka kakira”. Frasa ini mengajarkan bahwa di negeri yang damai, berbicara sepuluh kata sudah cukup (artinya menjaga lisan), para pemuda sopan santun, pemimpinnya sabar, dan warganya bijak dalam menggunakan harta.

Tabik pun, dari kisah ini kita belajar bahwa Segubal bukanlah sekadar makanan ringan atau camilan. Ia adalah simbol syukur, wadah kebersamaan, dan cerminan dari falsafah Piil Pesenggiri. Setiap gigitan Segubal mengajak kita untuk merenungkan nikmat Tuhan, menghargai proses, dan mempererat tali silaturahmi. Marilah kita bersama-sama menjaga dan melestarikan tradisi ini. 
Ajak anak-anak kita untuk belajar membuat Segubal, ceritakan kepada mereka makna di balik setiap prosesnya. Dengan begitu, bukan hanya rasa gurih dan legit yang lestari, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi marwah adat dan identitas kebangsaan kita. Semoga Allah selalu meridai langkah kita dalam merawat warisan budaya ini.

Daftar Pustaka:
1. RRI. (2025). Sekubal, Makanan Khas Lampung yang Sarat Tradisi. 
2. Kompas.tv. (2025). Makanan Khas Lampung Segubal Raksasa Raih Rekor Muri. 
3. Riadi, B. (2023). The Values of Local Wisdom in Lampung Folklore: A Piil Pesenggiri Perspective. 
4. Eprints UAD. (n.d.). The Existence of Kuntara Raja Niti Book In The Value System of Lampung Society. 
5. Voice of Indonesia. (n.d.). Kue Segubal. 
6. Natar Agung. (2026). Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dalam Tradisi Syukuran Adat. 
7. Republika. (2014). Sulitnya, Cari Sekubal di Lampung. 
8. Raden Intan Repository. (2021). Pemberdayaan Kearifan Lokal Masyarakat Islam Lampung. 
9. Publikasi UBL. (n.d.). Kitab Kuntara Raja Niti. 
10. KKN Unila. (2025). Sekubal: Cita Rasa Tradisional dari Bumi Lampung yang Tetap Lestari. 
11. ANTARA News. (2013). "Segubal" kuliner khas Lampung diminati saat Idul Fitri. 
12. Medialampung. (2026). Sekubal: Kuliner Tradisional Lampung yang Kaya Rasa dan Makna. 
13. Wikipedia. (n.d.). Piil Pesenggiri.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 9 = ?
Berita Terkait