Mutiara Pagi: Tiga Akar Kesalahan Manusia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 25 Aug 2026 00:08 Admin NA
Mutiara Pagi: Tiga Akar Kesalahan Manusia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak setiap kesalahan lahir dari sebab yang sama. Ada orang yang salah karena lalai, ada yang jatuh karena lemah, dan ada pula yang sengaja berbuat salah karena membangkang.

Memahami perbedaan ini sangat penting. Sebab, cara menghadapi kesalahan pun tidak selalu sama. Ada kesalahan yang cukup diingatkan, ada yang harus dibimbing dan dibantu untuk bangkit, dan ada pembangkangan yang memerlukan ketegasan serta peringatan.

Al-Qur'an memberikan kepada kita pelajaran tentang tiga akar kesalahan tersebut.

1.Kesalahan karena Ghaflah (الغفلة): Lalai atau Belum Mengetahui

Ketika Allah Subḥanahu wata'ala hendak menjadikan Adam alaihis salam sebagai khalifah di bumi, para malaikat bertanya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

Pertanyaan para malaikat bukanlah pembangkangan terhadap Allah. Mereka bertanya berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki, sementara ada ilmu dan hikmah Allah yang belum mereka ketahui.

Lalu bagaimana Allah meluruskan pemahaman mereka?

Allah tidak mencela mereka dengan keras. Allah mengajarkan dan memperlihatkan kepada mereka sesuatu yang belum mereka ketahui:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama semua itu, jika kamu orang-orang yang benar.’ (QS. Al-Baqarah: 31)

Inilah pelajaran penting: ada kesalahan yang lahir karena seseorang belum tahu, lupa, atau belum melihat persoalan secara utuh. Kesalahan seperti ini sering kali tidak memerlukan kemarahan yang berlebihan. Cukup diberi ilmu, dijelaskan, dan diingatkan.

Jangan setiap orang yang salah langsung kita anggap jahat. Bisa jadi ia hanya belum tahu.

2.Kesalahan karena Dha'f (الضعف): Kelemahan Manusia

Jenis kedua adalah kesalahan yang terjadi karena kelemahan.

Manusia mengetahui kebenaran, memahami larangan, bahkan mungkin ingin menaati Allah. Namun ia memiliki kelemahan: lupa, tergoda, terburu-buru, atau tidak mampu bertahan ketika menghadapi godaan.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman tentang Nabi Adam alaihis salam:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Dan sungguh, Kami telah memberikan perintah kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak mendapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thaha: 115)

Adam alaihis salam telah mengetahui larangan Allah. Namun beliau diuji oleh godaan setan. Terjadi kelemahan dan kelalaian manusiawi.

Inilah hakikat manusia: ia tidak selalu jatuh karena ingin durhaka. Terkadang ia jatuh karena lemah.

Maka, kepada orang yang salah karena kelemahan, jangan hanya berkata, “Kamu memang buruk!” Bantulah ia menguatkan dirinya. Jangan hanya menghukumnya, tetapi tuntunlah ia untuk kembali.

Sebab Allah sendiri berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa': 28)

Orang yang jatuh karena kelemahan membutuhkan nasihat, kasih sayang, pertolongan, dan kesempatan untuk bertaubat.

Kadang seseorang bukan tidak mencintai kebenaran. Ia hanya sedang lemah dalam mempertahankannya.

3.Kesalahan karena Pembangkangan: Menolak Kebenaran dengan Sombong

Inilah jenis kesalahan yang paling berbahaya: seseorang mengetahui perintah Allah, memahami kebenaran, tetapi dengan sengaja menolak dan membangkang.

Inilah yang dilakukan Iblis.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak.” (QS. Thaha: 116)

Kemudian Allah memperingatkan Adam alaihis salam

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

“Kemudian Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Sungguh, ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu. Maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, sehingga engkau menjadi celaka.’” (QS. Thaha: 117)

Iblis tidak salah karena tidak tahu. Ia tahu siapa yang memerintahkannya. Ia tahu perintah itu datang dari Allah. Tetapi kesombongan membuatnya menolak.

Kesalahannya bukan sekadar ghaflah. Bukan pula sekadar kelemahan. Akan tetapi pembangkangan yang disengaja.

Al-Qur'an menjelaskan:

أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Inilah kesalahan yang harus diwaspadai. Ketika seseorang sudah mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya karena sombong, ego, hawa nafsu, atau kepentingan, maka persoalannya bukan lagi kekurangan ilmu semata.

Yang diperlukan adalah taubat yang sungguh-sungguh dan penghancuran kesombongan di dalam hati.

TIGA SEBAB, TIGA CARA MENYIKAPI

Dari sini kita belajar sebuah hikmah besar: jangan menyamakan semua orang yang melakukan kesalahan.

Pertama, jika ia salah karena lalai atau belum tahu, berilah ia penjelasan.
Jangan langsung menghakimi. Bisa jadi satu kalimat ilmu sudah cukup untuk meluruskan kesalahannya.

Kedua, jika ia salah karena kelemahan, kuatkanlah ia.
Jangan mendorong orang yang sedang jatuh semakin dalam. Pegang tangannya, nasihati, dan bantu ia bangkit.

Ketiga, jika ia salah karena pembangkangan, hadapilah dengan ketegasan.
Karena masalahnya bukan sekadar tidak tahu atau tidak mampu, tetapi adanya penolakan terhadap kebenaran.

Betapa banyak kerusakan dalam hubungan suami istri, keluarga, persahabatan, dan masyarakat terjadi karena kita tidak mampu membedakan tiga jenis kesalahan ini.

Ada orang yang tidak tahu, tetapi kita perlakukan seperti pemberontak.

Ada orang yang lemah, tetapi kita perlakukan seperti orang yang sengaja menantang kebenaran.

Dan ada pula orang yang sengaja membangkang, tetapi terus diberi alasan seolah-olah ia hanya tidak tahu.

Karena itu, sebelum menghakimi seseorang, tanyakanlah:

Apakah ia salah karena belum tahu?
Apakah ia salah karena sedang lemah?
Ataukah ia benar-benar mengetahui, tetapi memilih untuk membangkang?

Sebab memahami akar kesalahan adalah langkah pertama untuk memberikan obat yang tepat.

Kesalahan karena ketidaktahuan, obatnya adalah ilmu.
Kesalahan karena kelemahan, obatnya adalah penguatan dan taubat.
Kesalahan karena pembangkangan, obatnya adalah ketundukan, kerendahan hati, dan kembali kepada kebenaran.

Semoga Allah Subḥanahu wata'ala menjauhkan kita dari kelalaian, menguatkan kita dalam menghadapi kelemahan, dan melindungi hati kita dari kesombongan serta pembangkangan.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Aamiin ya Rabbal 'alamin. (*/235)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 7 = ?
Berita Terkait