Mutiara Pagi: Secukupnya, Agar Nikmat Tetap Menjadi Nikmat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 18 Aug 2026 00:53 Admin NA
Mutiara Pagi: Secukupnya, Agar Nikmat Tetap Menjadi Nikmat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Segala sesuatu akan terasa lebih indah ketika dinikmati secukupnya, bukan semaunya.

Bakso itu nikmat ketika semangkuk, bukan sebaskom.
Kopi terasa hangat dan menenangkan ketika secangkir, bukan segalon.
Pelangi begitu memesona karena ia hadir sesaat, bukan sepanjang hari.
Bahkan hujan pun menjadi syahdu karena ia turun pada waktunya, bukan tanpa henti.

Barangkali begitulah kehidupan mengajarkan kita tentang batas.

Sesuatu yang berlebihan sering kali kehilangan keindahannya.
Yang terlalu banyak, lama-lama terasa biasa.
Yang terlalu dekat, kadang kehilangan rasa rindu.
Yang terlalu lama dinikmati, terkadang justru membuat kita lupa bersyukur.

Maka jangan selalu bertanya, “Berapa banyak yang bisa aku miliki?”
Sesekali bertanyalah, “Berapa banyak yang cukup untuk membuatku tetap bersyukur?”

Sebab bahagia bukan selalu tentang memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi tentang mampu menikmati apa yang ada dengan hati yang merasa cukup.

Kita tidak harus memiliki seluruh taman untuk menikmati harumnya bunga.
Tidak perlu menggenggam seluruh langit untuk mengagumi senja.
Tidak perlu memiliki seluruh lautan untuk merasakan kesegaran angin pantainya.

Ada kenikmatan yang justru menjadi indah karena tidak berlebihan.

Makanlah sebelum kenyang.
Berbicaralah sebelum kata-kata berubah menjadi luka.
Bekerjalah sebelum tubuh kehilangan tenaga.
Beristirahatlah sebelum jiwa kehilangan ketenangan.
Mencintailah tanpa kehilangan kewarasan.
Dan nikmatilah dunia tanpa membiarkan dunia memiliki seluruh hatimu.

Karena hidup bukan perlombaan untuk menghabiskan segala yang kita punya.
Hidup adalah perjalanan untuk belajar menempatkan segala sesuatu pada kadar yang semestinya.

Secukupnya bukan berarti kekurangan.
Secukupnya adalah ketika sesuatu berhenti menjadi kenikmatan yang melalaikan, lalu berubah menjadi nikmat yang melahirkan syukur.

Bukankah segelas air terasa begitu berharga bagi orang yang haus?

Maka mungkin rahasia bahagia bukan terletak pada seberapa banyak yang kita nikmati, melainkan pada seberapa dalam kita mensyukuri apa yang kita nikmati.

Nikmatilah kopi sebelum dingin.
Nikmatilah bakso sebelum kenyang.
Nikmatilah pelangi sebelum ia pergi.
Nikmatilah senja sebelum gelap.
Nikmatilah kebersamaan sebelum perpisahan.
Dan nikmatilah umur sebelum ia menjadi kenangan.

Sebab banyak hal dalam hidup tidak diciptakan untuk tinggal selamanya.

Ada yang datang untuk mengajarkan kita bersyukur.
Ada yang pergi untuk mengajarkan kita ikhlas.
Ada yang sebentar untuk mengajarkan kita menghargai waktu.

Maka, jangan serakah kepada kenikmatan.

Karena sesuatu yang dinikmati secukupnya akan meninggalkan rasa yang indah; sedangkan sesuatu yang dinikmati semaunya sering kali meninggalkan penyesalan.

Pada akhirnya, barangkali hidup yang indah bukanlah hidup yang memiliki semuanya, tetapi hidup yang tahu kapan berkata:

“Ini sudah cukup. Alhamdulillah.”

Sebab orang yang mengenal kata cukup akan selalu menemukan ruang untuk bersyukur, bahkan di tengah keterbatasan.

Dan orang yang tidak pernah mengenal cukup, sebanyak apa pun yang ia miliki, akan selalu merasa kekurangan. (*/320)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 1 = ?
Berita Terkait