Mutiara Pagi: Merdeka yang Sesungguhnya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 22 Aug 2026 00:18 Admin NA
Mutiara Pagi: Merdeka yang Sesungguhnya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Merdeka bukan berarti seseorang bebas dari penjara. Merdeka adalah ketika hati tidak berhasil dipenjara oleh siapa pun selain Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengalami penjara karena keteguhan beliau dalam memegang kebenaran. Namun, penjara tidak membuat jiwanya tunduk. Justru dari balik jeruji, lahir kalimat yang menggambarkan betapa luasnya kemerdekaan seorang mukmin:

مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، أَنَّى رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، أَنَا حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ.

“Apalah yang dapat dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Ia selalu bersamaku, ke mana pun aku pergi. Jika mereka memenjarakanku, penjara bagiku adalah khalwah. Jika mereka membunuhku, kematian bagiku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, itu bagiku adalah perjalanan.”

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Orang yang menggantungkan kebahagiaannya kepada dunia akan mudah diperbudak oleh dunia. Ia takut kehilangan jabatan, takut kehilangan harta, takut kehilangan pujian, bahkan takut kehilangan manusia.

Tetapi orang yang hatinya telah bersama Allah, tidak mudah dijajah oleh keadaan.

Jeruji tidak mampu mengurung keyakinannya.
Ancaman tidak mampu membungkam lisannya.
Pengasingan tidak mampu mematikan harapannya.
Bahkan kematian tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, ketika ia memandangnya sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Allah.

Maka boleh jadi seseorang tinggal di istana, tetapi hatinya terpenjara oleh ambisi.

Dan boleh jadi seseorang duduk di balik jeruji besi, tetapi jiwanya lebih merdeka daripada manusia yang berjalan di jalan-jalan.

Sebab kemerdekaan yang paling tinggi bukanlah bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, tetapi bebas dari penghambaan kepada selain Allah.

Ketika hati telah menjadi milik Allah, dunia tidak lagi menjadi penjara.

Karena surga itu telah tumbuh di dalam dada. (*/322).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 7 = ?
Berita Terkait