Mutiara Pagi: Jangan Merebut Hak Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI • 29 Sep 2026 03:04 • Admin NA • 21 kali dibaca
Mutiara Pagi: Jangan Merebut Hak Allah.  Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Kisah ini mengajarkan satu adab besar dalam berbicara tentang manusia: jangan mengambil alih hak Allah dalam menentukan nasib akhir seseorang.

Ada dua jenazah yang dikisahkan terkumpul pada masa Imam Abu Hanifah rahimahullah Seorang lelaki meninggal ketika sedang minum khamr. Seorang perempuan meninggal setelah bunuh diri karena mengetahui dirinya hamil akibat zina. Orang-orang kemudian bertanya kepada Abu Hanifah, “Apakah keduanya masuk neraka?”

Abu Hanifah tidak tergesa-gesa menjawab dengan vonis. Beliau memilih jawaban yang sangat dalam, dengan mengambil pelajaran dari doa para nabi.

Aku menjawab seperti perkataan Ibrahim alaihis salam 

 فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Barang siapa mengikutiku, maka dia termasuk golonganku. Dan barang siapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Ibrahim: 36)

Aku menjawab seperti Isa alaihis salam 

إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

(QS. Al-Ma’idah: 118)

Dan maknanya juga mengingatkan kita kepada sikap Nabi Nuh  alaihis salam ketika menyerahkan urusan manusia kepada Allah.

Betapa indahnya fiqih Abu Hanifah.

Beliau mengetahui dosa itu dosa. Khamr tetap haram. Zina tetap dosa besar. Bunuh diri tetap haram. Tetapi mengetahui hukum sebuah perbuatan tidak otomatis memberikan manusia hak untuk memastikan nasib akhir pelakunya.

Kita melihat perbuatan yang tampak.

Allah mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya.

Kita melihat dosa yang dilakukan.

Allah mengetahui penyesalan, keadaan hati, penderitaan, ketidaktahuan, taubat, dan seluruh perkara yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Karena itu, jangan mudah berkata: “Dia pasti masuk neraka.”

Kita boleh mengatakan: “Perbuatan itu haram.”

Kita boleh mengatakan: “Perbuatan itu dosa besar.”

Tetapi untuk mengatakan, “Orang itu pasti masuk neraka,” kita membutuhkan wahyu yang menetapkannya.

Ibrah yang dapat kita ambil

Pertama, jangan merasa memiliki kunci surga dan neraka.

Surga bukan milik kita untuk memasukkan seseorang ke dalamnya, dan neraka bukan milik kita untuk melemparkan seseorang ke dalamnya.

Kedua, bedakan antara menghukumi perbuatan dan menghukumi pelakunya.

Kita membenci dosa tanpa harus merasa berhak menentukan akhir kehidupan seseorang.

Ketiga, sisakan ruang bagi rahmat Allah.

Manusia hanya mengetahui apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi.

Keempat, jangan sampai dosa orang lain membuat kita lupa kepada dosa diri sendiri.

Bisa jadi seseorang yang hari ini kita pandang hina, ternyata lebih dekat kepada ampunan Allah daripada kita. Dan bisa jadi seseorang yang merasa dirinya baik, justru binasa karena kesombongan dan merasa aman dari hukuman Allah.

Kelima, semakin mengenal Allah, semakin hati-hati lisan kita.

Orang yang mengenal luasnya rahmat Allah tidak akan mudah menutup pintu harapan bagi manusia.

Maka ketika melihat seseorang jatuh ke dalam dosa, jangan hanya berkata:

“Betapa buruk dirinya.”

Tetapi katakanlah dalam hati:

“Ya Allah, selamatkan dia… dan selamatkan aku. Karena aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku.”

Sebab kita semua sedang berjalan menuju sebuah pintu yang sama: kematian.

Dan ketika pintu itu terbuka, yang kita perlukan bukan pengakuan bahwa kita pernah merasa paling suci, tetapi rahmat Allah yang menyelamatkan kita.

Jangan merasa lebih suci karena melihat orang lain berdosa. Bisa jadi dosa orang lain membuatnya menangis di hadapan Allah, sementara rasa suci kita membuat kita lupa kepada-Nya.

Vonis terakhir bukan di tangan manusia.

Ia milik Allah, Rabbul ‘alamin. (*/258).

WaAllahu A'lam

_____

✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

☀️ Shobahul Khair 

📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 6 = ?
Berita Terkait