Mutiara Pagi: Ketika Seluruh Dunia Tidak Lagi Berharga Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Ada suatu hari yang kedahsyatannya tidak mampu dilukiskan oleh kata-kata. Hari ketika manusia berdiri sendiri di hadapan Rabb semesta alam. Hari ketika segala yang dahulu dibanggakan kehilangan nilainya. Harta, kedudukan, keluarga, kekuasaan, bahkan seluruh isi dunia, tidak lagi sanggup menyelamatkan seseorang dari akibat dosa yang dahulu ia lakukan.
Allah Subḥanahu wata'ala menggambarkan betapa dahsyatnya hari itu dalam firman-Nya:
يُبَصَّرُونَهُمْ ۚ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ١١ وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ١٢ وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ١٣ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ ١٤
“Sedang mereka saling diperlihatkan. Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya dan saudaranya, dan kaum keluarganya yang melindunginya di dunia, dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian dia mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma‘ārij: 11–14)
Ketika Anak Pun Ingin Dijadikan Tebusan
Di dunia, anak adalah bagian dari hati. Demi anak, seseorang rela bekerja keras sejak pagi hingga malam. Demi anak, seorang ayah sanggup mengorbankan tenaga, harta, bahkan dirinya sendiri.
Namun pada hari itu, keadaan menjadi begitu mengerikan.
Seorang pendosa, ketika menyaksikan azab di hadapannya, seandainya diberi kesempatan, ingin menjadikan anak-anaknya sebagai tebusan agar dirinya selamat.
يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ
“Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya.”
Betapa dahsyatnya ketakutan itu! Sesuatu yang di dunia paling dicintainya, pada hari itu rela ia korbankan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Bukan karena cintanya kepada anak telah hilang, tetapi karena azab yang dilihatnya terlalu dahsyat untuk dibayangkan.
Ketika Istri dan Saudara Tak Lagi Dapat Menolong
Allah melanjutkan:
وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ١٢
“Dan istrinya dan saudaranya.”
Orang-orang yang dahulu menjadi teman seperjalanan dalam hidup, yang pernah makan dari satu meja, tidur di bawah satu atap, tertawa dan menangis bersama, pada hari itu tidak mampu memberikan pertolongan.
Setiap jiwa sibuk dengan urusannya sendiri.
Tidak ada lagi kekuatan keluarga yang dapat menghapus dosa. Tidak ada lagi kedekatan yang dapat membatalkan keadilan Allah. Tidak ada lagi hubungan dunia yang dapat menyelamatkan seseorang tanpa izin-Nya.
Lalu Allah berfirman:
وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ١٣
“Dan kaum keluarganya yang melindunginya di dunia.”
Seluruh keluarga yang dahulu menjadi tempat berlindung, tempat meminta pertolongan, tempat pulang ketika dunia terasa berat, semuanya ingin dijadikan tebusan—seandainya itu bisa menyelamatkan dirinya.
Bahkan Seluruh Penduduk Bumi Pun Ingin Ia Tebuskan
Namun ketakutan itu belum berhenti.
Allah berfirman:
وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ ١٤
“Dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian dia mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya.”
Bayangkanlah...
Seandainya seluruh manusia di muka bumi dapat dijadikan tebusan, seorang pendosa rela menyerahkan semuanya, asal dirinya dapat terbebas dari satu azab Allah.
Tetapi tidak!
Pada hari itu tidak ada tebusan yang dapat menggantikan amal. Tidak ada harta yang dapat membeli keselamatan. Tidak ada kekuasaan yang dapat menundukkan keadilan Allah. Tidak ada keluarga yang dapat dipaksa memikul dosa orang lain.
Yang dibawa hanyalah iman dan amal.
Dunia yang dahulu dikejar dengan begitu rakus akan ditinggalkan. Harta yang dahulu dikumpulkan dengan susah payah tidak ikut masuk ke dalam kubur. Kedudukan yang dahulu diperebutkan akan berakhir. Nama besar yang dahulu dibanggakan akan lenyap bersama berjalannya waktu.
Yang tersisa hanyalah apa yang pernah kita persembahkan kepada Allah.
Jangan Menunggu Hari Ketika Penyesalan Tidak Lagi Berguna
Hari ini, kita masih hidup.
Kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat. Masih ada waktu untuk meninggalkan dosa. Masih ada kesempatan untuk meminta maaf kepada sesama, memperbaiki salat, memperbanyak sedekah, menghidupkan hati dengan Al-Qur’an, dan kembali kepada Allah dengan hati yang tulus.
Jangan sampai kita menunggu datangnya hari ketika kita ingin menebus dosa dengan seluruh isi dunia, tetapi semuanya telah terlambat.
Hari ini, mungkin kita merasa memiliki banyak hal.
Tetapi kelak kita akan memahami satu kenyataan:
Tidak ada sesuatu yang lebih berharga daripada keselamatan di hadapan Allah.
Karena itu, sebelum datang hari ketika seorang pendosa rela menukar anak, istri, saudara, keluarga, bahkan seluruh penduduk bumi demi keselamatan dirinya, marilah kita bertanya kepada hati:
Apa yang telah aku siapkan untuk hari itu?
Sebab pada hari itu, manusia tidak lagi membutuhkan banyak harta.
Ia hanya membutuhkan satu hal:
Rahmat dan ampunan Allah.
Maka selama pintu tobat masih terbuka, jangan menundanya.
Selama napas masih berhembus, jangan merasa aman dengan dosa.
Dan selama matahari kehidupan belum tenggelam, marilah pulang kepada Allah.
Sebab ada hari ketika seluruh dunia tidak lagi cukup berharga untuk menebus satu jiwa dari azab-Nya. (*/317)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar