Mutiara Pagi: Kesadaran Yang Datang Terlambat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 10 Aug 2026 19:14 Admin NA
Mutiara Pagi: Kesadaran Yang Datang Terlambat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada kesadaran yang tidak datang ketika nasihat pertama disampaikan. Ia tidak hadir ketika hati masih lapang, ketika kesempatan masih terbuka, dan ketika kesalahan masih mudah diperbaiki. Kadang, kesadaran baru mengetuk jiwa setelah sesuatu hilang, setelah musibah datang, setelah akibat dari perbuatan sendiri berdiri nyata di hadapan mata.

Itulah manusia. Sering kali ia baru mengerti nilai nikmat setelah nikmat itu dicabut. Baru memahami arti kesempatan setelah kesempatan berlalu. Baru menyadari beratnya dosa setelah merasakan pahitnya akibat.

Demikianlah kisah para pemilik kebun yang diceritakan Allah dalam Surah Al-Qalam. Mereka berencana memetik hasil kebun secara diam-diam agar orang-orang miskin tidak memperoleh bagian. Namun, ketika mereka bangun, kebun itu telah berubah. Apa yang mereka rencanakan dengan penuh perhitungan, ternyata berakhir dengan penyesalan.

Lalu, ketika tabir kelalaian mulai tersingkap, mereka berkata:

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ ۝ قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ ۝ عَسَىٰ رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

“Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain sambil saling menyalahkan. Mereka berkata, ‘Celakalah kita! Sungguh, kita adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripada itu. Sungguh, kepada Tuhan kitalah kita berharap.’” (QS. Al-Qalam [68]: 31–32)

Perhatikanlah, kesadaran mereka datang setelah kebun itu binasa. Setelah semua yang mereka rencanakan tidak lagi dapat diwujudkan. Mereka terlambat menyadari bahwa yang menghancurkan mereka bukan sekadar musibah, melainkan kesombongan dan ketamakan yang telah tumbuh di dalam hati.

Mereka berkata:

إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

“Sungguh, kami adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Inilah awal dari perubahan: berani mengakui kesalahan.

Sebab orang yang terus-menerus melakukan kesalahan tetapi merasa dirinya selalu benar, sebenarnya sedang berjalan semakin jauh dari jalan pulang. Kesalahannya mungkin belum terlihat akibatnya hari ini, tetapi tidak berarti ia aman dari akibatnya esok hari.

Kadang-kadang Allah membiarkan seseorang berjalan dalam kelalaiannya, agar suatu hari ia berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri:

“Mengapa hidupku menjadi seperti ini?”

Dan pertanyaan itu, bila dijawab dengan kejujuran, bisa menjadi awal dari hidayah.

Betapa banyak orang yang baru sadar setelah kesehatannya hilang. Baru sadar pentingnya keluarga setelah orang yang dicintainya pergi. Baru sadar nilai waktu setelah usia senja menghampiri. Baru sadar perlunya bertobat setelah dosa-dosa meninggalkan luka dalam jiwa.

Memang, kesadaran yang datang terlambat bukanlah keadaan yang ideal. Yang terbaik adalah menyadari kesalahan sebelum akibatnya datang. Bertobat sebelum kesempatan tertutup. Memperbaiki langkah sebelum perjalanan semakin jauh.

Namun, jika kesadaran itu baru datang hari ini, jangan ditolak hanya karena merasa sudah terlambat.

Sebab terlambat sadar masih lebih baik daripada tidak pernah sadar.

Terlambat bertobat masih lebih baik daripada mati dalam dosa tanpa tobat.

Terlambat kembali kepada Allah masih lebih baik daripada terus menjauh sampai ajal menjemput.

Para pemilik kebun itu tidak berhenti pada penyesalan. Setelah mengakui:

إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

mereka kemudian mengangkat pandangan kepada langit dan berkata:

إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

“Sungguh, kepada Tuhan kitalah kami berharap.”

Inilah keindahan kesadaran yang benar. Ia tidak hanya membuat seseorang menangisi masa lalu, tetapi juga menuntunnya untuk kembali kepada Allah. Penyesalan yang baik bukanlah penyesalan yang membuat kita putus asa, melainkan penyesalan yang melahirkan tobat dan perbaikan.

Jangan biarkan kesalahan kemarin menjadi alasan untuk terus berbuat salah hari ini.

Jangan berkata, “Aku sudah terlalu jauh.”

Selama masih ada napas, jalan pulang masih terbuka. Selama hati masih mampu menyesal, masih ada harapan untuk berubah.

Boleh jadi kita tidak dapat mengembalikan semua yang telah hilang. Boleh jadi ada kesempatan yang telah berlalu dan tidak akan kembali. Tetapi kita masih dapat memperbaiki langkah yang tersisa.

Maka, jika hari ini engkau menyadari sebuah kesalahan, bersyukurlah kepada Allah. Jangan hanya meratapi keterlambatanmu. Sebab mungkin kesadaran yang hadir hari ini adalah kasih sayang Allah agar engkau tidak terus berjalan menuju kesalahan yang lebih besar.

Kesadaran mungkin datang terlambat. Tetapi selama ia membuatmu berhenti dari kesalahan, menyesalinya, lalu kembali kepada Allah, maka jangan pernah meremehkannya.

Sebab yang paling mengkhawatirkan bukanlah orang yang pernah salah.

Yang paling mengkhawatirkan adalah orang yang terus melakukan kesalahan, tetapi tidak pernah merasa bahwa dirinya sedang salah.

Hari ini, sebelum terlambat lebih jauh, mari bertanya kepada diri sendiri:

Kesalahan apa yang masih terus aku lakukan?
Kapan aku akan berhenti?
Dan jika bukan hari ini aku kembali kepada Allah, lalu kapan lagi?

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang cepat sadar, jiwa yang rendah hati untuk mengakui kesalahan, dan keberanian untuk segera kembali kepada-Nya.

Sebab kesadaran yang terlambat masih dapat menyelamatkan perjalanan, tetapi kesadaran yang tidak pernah datang dapat menghancurkan seluruh kehidupan. (*/315)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 7 = ?
Berita Terkait