Mutiara Pagi: Jangan Tertipu Kemasan Yang Indah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua yang tampak indah itu benar. Tidak semua yang diberi nama baik itu halal. Dan tidak semua jalan yang dihiasi dengan kenikmatan akan membawa manusia kepada keselamatan.
Itulah salah satu cara Iblis menipu manusia sejak awal sejarah kehidupan.
Ketika Nabi Adam alaihi salam telah dilarang oleh Allah mendekati sebuah pohon, Iblis tidak datang dengan mengatakan, “Wahai Adam, makanlah sesuatu yang Allah haramkan.” Tidak. Ia mengetahui bahwa kemaksiatan akan terasa berat apabila ditampilkan dengan wajah aslinya.
Maka Iblis menghiasi larangan itu dengan janji yang indah. Allah Ta‘ala berfirman:
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS. Ṭaha: 120)
Perhatikanlah. Iblis menyebut sesuatu yang dilarang Allah dengan nama “pohon keabadian.” Ia menjanjikan pula “kerajaan yang tidak akan binasa.” Yang haram dikemas seolah-olah sebagai jalan menuju kebahagiaan. Yang terlarang dihiasi agar tampak menguntungkan.
Demikianlah cara Iblis dan para pengikutnya hingga hari ini.
Kemaksiatan diberi nama kebebasan.
Riba diberi nama keuntungan.
Pergaulan yang melanggar batas diberi nama kasih sayang.
Kebatilan diberi bungkus kemajuan.
Meninggalkan agama disebut toleransi.
Dan mengikuti hawa nafsu disebut sebagai hak pribadi.
Padahal, bergantinya nama tidak akan mengubah hakikat. Yang haram tetap haram, meskipun diberi nama yang paling indah. Kebatilan tetap batil, meskipun dikemas dengan kata-kata yang paling menarik.
Karena itu, jangan hanya melihat kemasannya, tetapi lihatlah hukumnya. Jangan hanya mendengar namanya, tetapi perhatikan hakikatnya. Sebab setan tidak selalu mengajak manusia kepada dosa dengan kata, “Mari bermaksiat.” Kadang ia justru berbisik, “Ini demi kebahagiaanmu, ini demi masa depanmu, ini demi kebaikanmu.”
Maka mohonlah kepada Allah hati yang mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. Jangan sampai mata kita terpukau oleh keindahan yang menipu, sementara hati kita kehilangan cahaya petunjuk.
Sebab tidak semua yang bersinar adalah cahaya. Bisa jadi, ia hanyalah api yang sedang menunggu untuk membakar. (*/237)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar