Modernisasi, Kemajuan atau Ancaman bagi Adat Lampung? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 26 Oct 2026 02:34 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 40 kali dibaca
Modernisasi, Kemajuan atau Ancaman bagi Adat Lampung? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id - Bandar Lampung - Tabik pun.
Mari duduk sebentar di beranda ini. Ada cerita yang ingin saya bagi, tentang sebuah kampung di tepi Way Mincang yang bernama Pardasuka. Di sana, pada suatu masa yang sudah lama berlalu, hiduplah seorang pemuda bernama Kamak Bani. Ia bukan siapa-siapa, hanya anak seorang penyamak kulit yang sederhana. Tetapi Kamak punya satu hal yang membuat orang-orang di sekitarnya selalu ingat padanya: ia tidak pernah mau melupakan jejak leluhur.
Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung penuh di langit dan angin dari laut selatan membawa bau garam dan damar, Kamak mendengar suara lirih dari arah Bukit Belunguh. Suara itu memanggil namanya. “Kamak… Kamak Bani… pulanglah ke jejak yang terhapus…”
Kamak mengikuti suara itu hingga ke puncak bukit. Di sana, ia melihat bayang putih perempuan tua berpakaian adat lengkap dengan siger yang berkilau keemasan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Nyai Khandau, penjaga adat leluhur Way Lima. Nyai berkata, banyak nilai dan sumpah yang telah dilupakan oleh anak cucu Way Lima. Ia memberi Kamak sebuah kantong kain tenun tua yang berisi abu dan sebongkah batu kecil berukir.
“Ini adalah abu dari kayu pertama yang digunakan mendirikan balai adat Way Lima. Dan ini, adalah batu dari sungai pertama yang disucikan oleh para tetua,” ujar Nyai Khandau.

Kamak terbangun keesokan harinya di bawah pohon waru tua. Di tangannya masih tergenggam kain dan batu itu. Sejak hari itu, ia berkeliling kampung, mengumpulkan cerita, mitos, dan legenda lama, mengajari anak-anak menari dan bercerita tentang leluhur mereka. Ia menjadi penjaga lisan terakhir Way Lima.

Kisah Kamak Bani bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah cermin dari apa yang sedang kita hadapi hari ini. Modernisasi datang membawa kemudahan. Jalan aspal menggantikan setapak tanah. Ponsel pintar menggantikan cerita lisan di beranda. Tetapi apakah kemajuan ini harus membuat kita kehilangan jati diri?
Kita tidak harus memilih antara modernisasi dan budaya. Keduanya bisa berjalan bersama, asalkan kita punya kesadaran untuk mempertahankan nilai-nilai yang masih relevan. Seperti kata Gubernur Lampung, adat bukan sekadar simbol atau tradisi seremonial, melainkan mengandung nilai-nilai kehidupan yang mendalam.

Ada sebuah kitab tua yang sampai hari ini masih bisa kita baca. Namanya Kuntara Raja Niti. Dalam kitab itu tertulis sebuah pesan yang sederhana tapi dalam: “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir. Turunan marga kita mengutamakan segala hukum”.
Kalimat itu bukan hanya catatan sejarah. Itu adalah pengakuan bahwa orang Lampung sejak dahulu sudah hidup dalam keberagaman. Mereka tidak menolak perbedaan, tetapi menjadikan hukum dan adat sebagai pemersatu. Dalam konteks sekarang, ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menghargai kebinekaan.

Dari kitab inilah kita tahu bahwa falsafah hidup orang Lampung, yang disebut Piil Pesenggiri, sebenarnya bukan sekadar lima poin di atas kertas. Ia adalah cara memandang dunia.

Yang pertama adalah Pesenggiri. Harga diri. Kehormatan. Tetapi perlu dipahami, harga diri dalam pandangan orang Lampung tidak sama dengan gengsi. Harga diri adalah tentang menjaga martabat, tentang tidak mudah menyerah dalam kebenaran. 
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka ia tidak memiliki iman.” Pesenggiri sejalan dengan itu.

Yang kedua adalah Juluk-Adok. Gelar kehormatan. Dalam masyarakat Lampung, seseorang yang berprestasi dan berbudi baik diberikan gelar. Semakin tinggi gelarnya, semakin besar pula beban yang harus dipikul. Ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 165: 
وَهُوَ الَّذِىۡ جَعَلَـكُمۡ خَلٰٓٮِٕفَ الۡاَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِىۡ مَاۤ اٰتٰٮكُمۡ‌ؕ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيۡعُ الۡعِقَابِ  ۖ وَاِنَّهٗ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

"Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Gelar adalah ujian. Bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dibuktikan.

Yang ketiga adalah Nemui Nyimah. Kata nemui berarti menerima tamu dengan senang hati. Nyimah berarti santun dan suka memberi. Orang Lampung percaya bahwa tamu adalah rezeki. Tetapi nemui nyimah juga memiliki makna yang lebih dalam. Sikap santun ini menuntut seseorang untuk tidak pasif. Ia harus aktif berbuat sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi lingkungannya.

Yang keempat adalah Nengah Nyappur. Nengah artinya bersaing, Nyappur artinya bergaul. Orang Lampung diajarkan untuk terbuka, untuk bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan suku, agama, atau asal usul. Tetapi nengah nyappur juga menuntut daya saing. 
Nabi SAW bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap gangguan mereka, lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” 
Nengah nyappur adalah wujud nyata dari hadis ini.

Yang kelima adalah Sakai Sambayan. Kata sakai berarti tolong-menolong, sambayan berarti gotong-royong. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 2: 
ـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ

*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian.(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."

Sakai sambayan adalah perintah Allah yang sudah dipraktikkan oleh nenek moyang orang Lampung jauh sebelum mereka mengenal istilah “gotong royong” dalam bahasa Indonesia.
Sekarang, mari kita bicara tentang marga. Karena dari margalah adat ini berdiri tegak.

Di Way Lima, ada sebuah legenda tentang Pohon Punyimbang. Konon, di kaki Gunung Pesagi tumbuh sebatang pohon tua yang akarnya menjalar ke tujuh arah. Suatu ketika, langit mendung selama tujuh hari tujuh malam. Dari batang pohon itu terdengar suara: “Anakku, pecahlah dirimu menjadi marga-marga. Bentuklah kebandakhan, tegakkan adat, dan hiduplah dalam keseimbangan.”
Maka terbentuklah Marga Way Lima. Dari satu akar, tumbuh tiga cabang utama: Seputih, Sebadak, dan Selimau. Nama Way Lima sendiri berasal dari lima sungai yang airnya tidak surut sepanjang tahun: Way Bulok, Way Mincang, Way Kedondong, Way Tabak, dan Way Awi.

Marga bukan sekadar pembagian wilayah. Ia adalah sistem hidup yang terus berfungsi. Setiap marga memiliki kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai Piil Pesenggiri. Dalam konflik antar keluarga, lembaga marga menjadi penengah. Dalam penurunan gelar dan pembagian warisan, struktur marga yang mengawasi.
Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa individualisme, pengaruh media sosial, dan urbanisasi menjadi faktor utama yang melemahkan penerapan nilai-nilai Piil Pesenggiri. Peran keluarga yang semakin berkurang dan kurangnya integrasi nilai budaya dalam pendidikan juga mempercepat degradasi ini.
Artinya, ancaman terbesar bukanlah modernisasi itu sendiri. Ancaman terbesar adalah ketika kita membiarkan modernisasi menjadi alasan untuk meninggalkan nilai-nilai yang sudah terbukti menjaga kehidupan bersama selama berabad-abad.

Pelestarian adat dan budaya Lampung bukan tanggung jawab pemerintah saja. Pemerintah punya peran, tentu. Tetapi keluarga jauh lebih penting. Seorang anak yang tumbuh mendengar cerita tentang Kamak Bani akan tumbuh dengan pesenggiri di dalam dadanya. Seorang anak yang melihat ayahnya menghormati tamu akan belajar nemui nyimah tanpa perlu diajarkan secara formal.
Sekolah juga punya peran. Penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Kuntara Raja Niti dalam pembelajaran sejarah dapat memperkuat karakter siswa dan menjadi benteng menghadapi arus budaya global. Artinya, sekolah bisa menjadi tempat di mana adat tidak hanya diingat, tetapi dihidupi.

Tokoh adat tentu tidak bisa ditinggalkan. Punyimbang, penyimbang tiyuh, penyimbang marga—mereka adalah penjaga marwah. Tetapi menjaga marwah bukan berarti menjaga jarak. Seorang punyimbang yang baik adalah yang turun ke bawah, berbicara dengan orang muda, mendengarkan keluh kesah mereka.

_Dan yang paling penting: generasi muda._

Di era digital ini, teknologi bukanlah musuh. Ia bisa menjadi sahabat. Komunitas seperti Wikimedia Bandar Lampung sudah membuktikan bahwa budaya Lampung bisa didokumentasikan secara digital, bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja. Anak muda bisa membuat konten tentang adat, bisa menulis ulang cerita rakyat dalam bentuk podcast atau video pendek, bisa mempromosikan kain tapis ke pasar global.

Mohammad Medani Bahagianda, seorang penulis yang menyandang gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, pernah menulis seri buku tentang asal muasal marga-marga di Lampung. Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa budaya tidak akan bertahan hanya karena usianya sudah tua. Budaya bertahan karena ada manusia yang terus mengenal, mencintai, mempraktikkan, dan mewariskannya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Adat Lampung tidak akan hidup hanya karena ada peraturan daerah atau anggaran pemerintah. Adat akan hidup jika ada keluarga yang masih mengajarkan anaknya untuk menghormati tamu. Adat akan hidup jika ada guru yang masih bercerita tentang Kuntara Raja Niti di kelas. Adat akan hidup jika ada punyimbang yang masih mau mendengar, bukan hanya memerintah.

Dan adat akan hidup jika ada anak muda yang, ketika ditanya “Kamu orang mana?”, menjawab dengan bangga: “Saya orang Lampung. Sai Bumi Ruwa Jurai.”

Jadi, siapa yang bertanggung jawab?

Kita semua. Tidak ada satu pihak yang bisa menjaga seluruh warisan budaya sendirian. Seperti sakai sambayan yang mengajarkan kita untuk bergotong-royong, pelestarian budaya juga harus dilakukan bersama-sama.

Dan ingatlah, pesenggiri bukan tentang menjadi yang terbaik. Pesenggiri adalah tentang menjadi yang bermanfaat.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). Buku Seri – Asal Muasal Marga Way Lima Kabupaten Pesawaran: Seri 3 – Marga Way Lima, Struktur Sosial dan Identitas Adat. HATIPENA.COM.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). Cerita Lisan, Mitos dan Legenda Way Lima: Seri 6. HATIPENA.COM.
3. Djausal, Anshori. Kuntara Raja Niti. Dalam kajian budaya Lampung.
4. Hadikusuma, Hilman. Kuntara Raja Niti. Lampung, 1986.
5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang (Fragment Naskah). Jakarta: Direktorat Internalisasi, 2013.
6. Pemerintah Provinsi Lampung. “Begawi Festival 2026, Gubernur Mirza Dorong Generasi Muda Kreatif Tanpa Meninggalkan Budaya.” lampungprov.go.id, 11 Juli 2026.
7. Sajogyo. Pola Hubungan Antara Suku Bangsa: 16 Marga Lampung dan Kedudukan Kaum Pendatang. Bogor: Gadjah Mada University Press, 1983.
8. Wibisono, Damar. Sang Bumi Ruwa Jurai: Kajian Budaya Lampung. Repository LPPM Unila, 2021.
9. Yani, Zulkarnain. Manuskrip Alas Naskah dan Awal Masuknya Islam di Lampung Barat. Jakarta: Balai Litbang Agama, 2019.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 6 = ?
Berita Terkait