Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri – 6: Menanam Kembali Ingatan, Merawat Masa Depan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Mari kita duduk sekali lagi di beranda ini. Malam ini adalah malam terakhir dari cerita panjang tentang lada Lampung. Setelah kita berjalan melalui masa kejayaan, masa penindasan, dan masa kemunduran, sekarang tiba waktunya kita berbicara tentang satu hal yang paling penting: bagaimana menanam kembali ingatan itu, dan merawat masa depan yang masih belum pasti.
Saya tidak akan berpanjang lebar. Tetapi saya ingin Bapak-Ibu mendengarkan dengan hati, karena ini bukan sekadar cerita tentang tanaman. Ini cerita tentang kita, tentang anak cucu kita, dan tentang tanah yang akan kita tinggalkan kepada mereka.
Banyak orang mengira pelestarian berarti menanam lada di semua lahan yang masih kosong. Membuka kebun baru, mengekspor sebanyak mungkin, mengembalikan kejayaan seperti tahun 1930-an.
Saya tidak sependapat.
Pelestarian bukan berarti menanam lada di mana-mana. Pelestarian berarti menjaga pengetahuan: cara menanam yang benar, cara memanen yang tidak merusak, cara menghormati tanah yang telah memberi kita hidup.
Pengetahuan itu tidak tersimpan di buku. Ia tersimpan di tangan-tangan orang tua yang masih mengingat bagaimana memilih dadap yang kuat, bagaimana membersihkan kebun tanpa merusak akar, bagaimana memanen lada saat buah mulai memerah tapi belum terlalu matang.
Jika pengetahuan itu hilang, menanam lada di seluruh Lampung pun tidak akan berarti apa-apa. Kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama: mengeksploitasi tanah tanpa memikirkan keberlanjutan.
Juluk Adek mengajarkan bahwa setiap gelar membawa tanggung jawab. Seorang Punyimbang yang bergelar Minak atau Raden tidak hanya menyandang nama, tetapi memikul amanah untuk menjaga kampungnya. Petani lada pun punya gelar yang sama beratnya: penjaga tanah leluhur.
Gelar itu tidak tertulis di piagam. Tidak diucapkan dalam upacara. Tetapi ia melekat pada setiap orang yang masih menanam lada, meskipun hanya sepetak di belakang rumah. Mereka adalah penjaga ingatan, penjaga pengetahuan, penjaga masa depan.
Saya teringat pada seorang petani di Tulang Bawang yang pernah berkata kepada saya: "Kek, saya tidak punya gelar adat. Saya bukan Punyimbang. Tetapi setiap kali saya menanam lada, saya merasa sedang melakukan sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri."
Itulah Juluk Adek dalam arti yang paling sederhana. Gelar bukan soal nama yang disematkan, tetapi soal tanggung jawab yang dipikul. Dan setiap orang yang merawat tanah leluhur, dengan cara apa pun, sedang memikul gelar itu.
Coba kita renungkan kembali falsafah hidup orang Lampung. Nemui Nyimah mengajarkan keramahan dan saling memberi. Dalam sejarah lada, nilai ini terlihat jelas: petani Lampung menerima pedagang dari mana pun, Banten, Palembang, Inggris, Belanda, dengan tangan terbuka. Mereka tidak menutup pintu, meskipun kadang harga yang ditawarkan tidak adil.
Keramahan itu bukan tanda kelemahan. Ia adalah bentuk kekuatan. Orang yang ramah tidak berarti orang yang bisa dipermainkan. Ia hanya memilih untuk membuka pintu, sambil tetap menjaga harga diri.
Nengah Nyappur mengajarkan keterbukaan terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri. Ketika lada tidak lagi menjadi primadona, petani Lampung beralih ke kopi dan karet. Mereka tidak mati, tetapi juga tidak melupakan lada. Mereka berubah, tetapi tetap menjadi dirinya sendiri.
Keterbukaan itu penting. Dunia berubah, dan kita tidak bisa menolak perubahan. Tetapi kita juga tidak boleh hanyut. Kita harus bisa beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Sakai Sambayan mengajarkan gotong-royong. Saat panen tiba, tetangga datang membantu tanpa diminta. Saat gagal panen, mereka berbagi apa yang tersisa. Itulah kekayaan yang tidak pernah tercatat dalam laporan kolonial, tetapi selalu hadir di kampung-kampung kita.
Gotong-royong bukan hanya soal pekerjaan. Ia adalah cara kita mengatakan: kita satu keluarga, kita satu tanah, kita satu nasib. Jika satu menderita, yang lain ikut merasakan. Jika satu bahagia, yang lain ikut bersyukur.
Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." (HR. Ahmad).
Petani lada kita adalah orang-orang yang bermanfaat. Mereka menanam bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk banyak orang. Lada yang mereka hasilkan memberi rasa pada makanan di negeri jauh. Lada yang mereka tanam menjadi sedekah bagi burung dan hewan yang memakannya. Dan lada yang mereka rawat adalah warisan bagi anak cucu.
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 195:
وَاَنۡفِقُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَلَا تُلۡقُوۡا بِاَيۡدِيۡكُمۡ اِلَى التَّهۡلُكَةِ ۖ ۛۚ وَاَحۡسِنُوۡا ۛۚ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ
Wa anfiquu fii sabiilil laahi wa laa tulquu bi aydiikum ilat tahlukati wa ahsinuu; innal laaha yuhibbul muhsiniin
"Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Berbuat baik bukan hanya soal ibadah ritual. Ia juga soal merawat tanah, menanam pohon, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Petani lada kita telah melakukan itu jauh sebelum ada istilah "pertanian berkelanjutan" atau "kearifan lokal".
Pancasila sila kelima berbicara tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejarah lada mengingatkan bahwa keadilan itu belum selesai diperjuangkan. Petani yang menanam tidak selalu menikmati hasilnya. Tanah yang kaya tidak selalu membuat pemiliknya sejahtera.
Keadilan sosial bukan hanya soal pembagian hasil. Ia juga soal memberi tanah waktu untuk bernapas, memberi petani hak untuk merawat, dan memberi generasi mendatang kesempatan untuk melihat pohon lada tumbuh di tanah leluhur.
Jika dulu sistem kolonial memaksa petani menanam tanpa jeda, sekarang kita punya kebebasan untuk memilih. Kita bisa memilih menanam lada dengan cara yang lebih bijak. Kita bisa memilih merawat tanah, bukan hanya mengambil hasilnya. Kita bisa memilih menjaga warisan, bukan hanya mengenangnya.
Saya pernah bertanya kepada seorang anak muda di Pekon Kenali. Namanya Rizki. Ia baru pulang dari kota, setelah beberapa tahun bekerja di pabrik. Saya bertanya: "Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Ia menjawab: "Saya mau menanam lada, Kek. Sedikit-sedikit. Di belakang rumah."
Saya terkejut. "Kenapa? Bukankah lada tidak menjanjikan?"
Ia tersenyum. "Saya tidak menanam untuk uang. Saya menanam karena saya ingin anak saya tahu bahwa ayahnya orang Lampung. Bukan hanya dari KTP, tetapi dari cerita yang dia dengar dan lihat sendiri."
Malam itu, saya tidak bisa tidur. Saya teringat pada semua petani tua yang pernah saya temui. Pada Pak Sukardi di Seputih. Pada tetua-tetua di Tulang Bawang. Pada perempuan-perempuan yang menenun tapis sambil menunggu suami pulang dari kebun.
Mereka semua adalah penjaga ingatan. Dan Rizki, anak muda itu, baru saja memutuskan untuk menjadi penjaga berikutnya.
Beberapa bulan kemudian, saya berkunjung ke rumah Rizki. Di belakang rumahnya, sudah ada sepuluh pohon lada yang ditanam di bawah dadap muda. Belum besar, belum berbuah. Tetapi Rizki merawatnya setiap hari.
Ia bercerita bahwa tetangga-tetangganya mulai bertanya apa yang ia tanam. Ada yang tertarik, ada yang menertawakan. Tetapi Rizki tidak peduli. Katanya: "Kalau saya menunggu orang lain mulai dulu, tidak akan pernah ada yang mulai."
Saya tersenyum mendengarnya. Di situlah saya tahu bahwa lada Lampung tidak akan hilang. Ia mungkin tidak lagi menjadi raja. Tetapi ia akan tetap hidup, ditanam oleh tangan-tangan baru, dirawat oleh orang-orang yang peduli.
Menanam ingatan bukan berarti menyimpan foto lama di album dan sesekali melihatnya. Menanam ingatan berarti melakukan sesuatu yang nyata: bercerita kepada anak, menanam pohon di pekarangan, mengajari tetangga cara memilih dadap yang kuat.
Ingatan yang tidak ditanam akan layu. Ia akan menjadi cerita yang hanya hidup di buku, tidak di hati. Dan cerita yang hanya hidup di buku mudah dilupakan ketika buku itu ditutup.
Karena itu, saya selalu berpesan kepada para orang tua: jangan hanya menyimpan cerita di kepala. Ucapkanlah. Ceritakan kepada anak cucu. Ulangi berkali-kali, meskipun mereka sudah bosan mendengarnya. Karena dari pengulangan itulah ingatan menjadi hidup.
Dan kepada anak-anak muda: jangan hanya mendengarkan. Lakukan sesuatu. Tanam satu pohon lada, tulis satu cerita, buat satu video. Apa pun yang membuat ingatan itu tetap bergerak, tetap bernapas, tetap hidup.
Malam sudah semakin larut. Kopi sudah habis. Tetapi sebelum saya menutup cerita ini, izinkan saya menyampaikan tiga petuah.
Anakku, lada itu kecil. Tetapi ia pernah mengguncang dunia.
Jangan biarkan sejarah ini hilang dari cerita kampung kita.
Tanah Lampung pernah disebut ladang emas hitam. Bukan karena lada itu emas. Tetapi karena keringat orang-orang yang menanamnya lebih berharga dari emas.
Saya tidak tahu apakah Bapak-Ibu akan mengingat cerita ini besok. Saya juga tidak tahu apakah anak cucu kita akan peduli pada lada setelah kita tiada.
Tetapi saya tahu satu hal: selama masih ada orang tua yang menanam lada di belakang rumah, selama masih ada anak muda yang mau mendengarkan cerita, selama masih ada Punyimbang yang menegakkan Piil Pesenggiri, selama itu pula lada Lampung tidak akan pernah benar-benar hilang.
Ia mungkin tidak lagi menjadi raja. Ia mungkin tidak lagi menguasai pasar dunia. Tetapi ia akan tetap hidup dalam ingatan, dalam cerita, dan dalam setiap butir yang ditanam dengan doa.
Dan jika suatu hari nanti ada anak muda yang bertanya, "Kek, apa itu ladang emas hitam?", kita sudah punya jawabannya. Kita akan bercerita tentang lada, tentang petani, tentang tanah yang pernah mengguncang dunia. Kita akan bercerita sampai matahari terbit, sampai kopi habis, sampai anak itu mengerti bahwa ia adalah bagian dari cerita yang panjang.
Tabik pun.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Natar Agung.
2. Karsiwan. Sejarah Lada: Lampung dan Dinamika Perdagangan Lada. Repository Metro Uniw.
3. Masroh, Laelatul. "Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942". Jurnal Sejarah dan Budaya. Universitas Negeri Malang.
4. Lembaga Adat Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti.
5. Al-Qur'an Al-Karim, QS. Al-Baqarah (2): 195.
6. Shahih Ahmad, no. 23460.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar