Khutbah Jum'at: Syukur Nikmat - Jangan Gunakan Nikmat Untuk Bermaksiat. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Kita bernapas dengan udara yang Allah berikan.
Kita melihat dengan mata yang Allah karuniakan.
Kita mendengar dengan telinga yang Allah anugerahkan.
Kita berjalan dengan kaki yang Allah kuatkan.
Kita berpikir dengan akal yang Allah berikan.
Bahkan ketika kita tidak meminta, Allah terus memberi. Dikesempatan hari Jum'at yang mulia ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul. "Syukur Nikmat - Jangan Gunakan Nikmat Untuk Bermaksiat."
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمٍ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Mari kita sadari bahwa setiap detik kehidupan kita berdiri di atas nikmat Allah.
Kita bernapas dengan udara yang Allah berikan.
Kita melihat dengan mata yang Allah karuniakan.
Kita mendengar dengan telinga yang Allah anugerahkan.
Kita berjalan dengan kaki yang Allah kuatkan.
Kita berpikir dengan akal yang Allah berikan.
Bahkan ketika kita tidak meminta, Allah terus memberi.
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā, innallāha laghafūrur raḥīm.
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Namun ada satu hal yang sering kita lupakan:
Syukur bukan sekadar ucapan.
Banyak orang berkata Alhamdulillah, tetapi matanya digunakan untuk melihat sesuatu yang haram.
Tangannya menerima nikmat Allah, tetapi tangan itu digunakan untuk menyakiti dan menzalimi.
Lidahnya diberi kemampuan berbicara, tetapi digunakan untuk ghibah, fitnah dan dusta.
Allah memberikan harta, tetapi harta itu digunakan untuk sesuatu yang Allah haramkan.
Allah memberikan waktu, tetapi waktu itu dihabiskan untuk kemaksiatan.
Lalu kita berkata:
“Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah.”
Jamaah rahimakumullah,
Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam:
أَوَّلُ أَبْوَابِ شُكْرِ النِّعْمَةِ تَرْكُ الْمُحَرَّمَاتِ، فَلَا يَلِيقُ عِصْيَانُ اللهِ بِنِعْمَتِهِ.
Awwalu abwābi syukrin-ni‘mati tarkul-muḥarramāt, falā yalīqu ‘iṣyānullāhi bini‘matih.
“Pintu pertama dalam mensyukuri nikmat adalah meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Sebab, tidak pantas seseorang bermaksiat kepada Allah dengan menggunakan nikmat-Nya.”
Bayangkan seseorang memberikan kita sebuah hadiah yang sangat mahal.
Lalu hadiah itu kita gunakan untuk menghancurkan kehormatannya.
Apakah itu pantas?
Allah memberi kita mata, tetapi jangan gunakan mata untuk melihat yang haram.
Allah memberi telinga, jangan gunakan untuk mendengarkan keburukan.
Allah memberi lisan, jangan gunakan untuk menyakiti hamba-hamba-Nya.
Allah memberi tangan, jangan gunakan untuk mengambil hak orang lain.
Allah memberi kaki, jangan gunakan untuk berjalan menuju tempat yang Allah murkai.
Inilah hakikat syukur.
Allah berfirman:
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la‘allakum tasykurūn.
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Jamaah rahimakumullah,
Syukur memiliki tiga bentuk.
Pertama, syukur dengan hati.
Kita meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Bukan semata-mata karena kepandaian kita.
Bukan semata-mata karena kekuatan kita.
Bukan semata-mata karena usaha kita.
Kita berusaha, tetapi Allah yang memberikan hasil.
Kita bekerja, tetapi Allah yang memberikan rezeki.
Kita berobat, tetapi Allah yang memberikan kesembuhan.
Kedua, syukur dengan lisan.
Memperbanyak mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillāh.
Dan menggunakan lisan untuk berkata benar, berdzikir, membaca Al-Qur'an, menasihati dalam kebaikan, serta menjaga kehormatan saudara kita.
Ketiga, syukur dengan anggota badan.
Inilah yang sering dilupakan.
Syukur mata adalah menjaganya dari yang haram.
Syukur telinga adalah menjaganya dari keburukan.
Syukur lisan adalah menggunakannya dalam kebenaran.
Syukur harta adalah menggunakannya di jalan yang halal dan menunaikan hak orang lain.
Syukur kesehatan adalah menggunakannya untuk ketaatan.
Karena itu, jangan sampai nikmat yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru menjadi jalan menjauh dari Allah.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ
Man lā yasykurin-nāsa lā yasykurillāh.
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kalau kita ingin mengetahui apakah kita benar-benar bersyukur, jangan hanya bertanya:
“Sudah berapa kali aku mengucapkan Alhamdulillah?”
Tetapi tanyakan:
“Untuk apa nikmat yang Allah berikan kepadaku?”
Jika Allah memberikan ilmu, apakah ilmu itu membuat kita semakin rendah hati?
Jika Allah memberikan harta, apakah harta itu membuat kita semakin dermawan?
Jika Allah memberikan jabatan, apakah jabatan itu membuat kita semakin adil?
Jika Allah memberikan kesehatan, apakah kesehatan itu kita gunakan untuk beribadah?
Jika Allah memberikan keluarga, apakah keluarga itu kita bimbing menuju Allah?
Jamaah rahimakumullah,
Allah telah memberikan sebuah janji yang sangat indah:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
La’in syakartum la’azīdannakum, wa la’in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka jangan hanya meminta nikmat bertambah.
Mintalah kepada Allah agar kita mampu mensyukuri nikmat yang telah ada.
Sebab boleh jadi yang membuat kita miskin bukan sedikitnya nikmat, tetapi banyaknya nikmat yang tidak kita sadari.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, menjaga nikmat dengan ketaatan, dan tidak menggunakan karunia-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita pulang hari ini dengan satu kesadaran:
Nikmat bukan sekadar sesuatu yang membuat hidup kita nyaman. Nikmat adalah amanah yang kelak akan dipertanyakan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ.
Lā tazūlu qadamā ‘abdin yaumal-qiyāmati ḥattā yus’ala ‘an ‘umrihī fīmā afnāhu, wa ‘an ‘ilmihī fīmā fa‘alah, wa ‘an mālihī min aina iktasabahu wa fīmā anfaqah, wa ‘an jismihī fīmā ablāh.
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. At-Tirmidzi)
Maka mari kita jaga nikmat Allah.
Jangan gunakan mata untuk maksiat.
Jangan gunakan lisan untuk menyakiti.
Jangan gunakan harta untuk sesuatu yang haram.
Jangan gunakan waktu untuk sesuatu yang sia-sia.
Dan jangan gunakan kesehatan untuk menjauh dari Allah.
Semoga setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita berubah menjadi pahala, bukan menjadi hujjah yang memberatkan kita di hadapan-Nya.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn
اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.
Ibadhallah...
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar