Khutbah Jum'at: Menyambut Rabiul Awwal Dengan Meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai Jalan Menghidupkan Sunnah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Tanpa terasa, kita kembali mendekati sebuah bulan yang mengingatkan kita kepada sosok manusia paling mulia yang pernah Allah hadirkan ke muka bumi: bulan Rabiul Awwal.
Rabiul Awwal bukan sekadar pergantian nama bulan dalam kalender Hijriah.
Ia menjadi momentum bagi kita untuk kembali membuka lembaran kehidupan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Pada kesempatan Khutbah hari ini. Khatib akan membawakan khutbah dengan tema: "Menyambut Rabiul Awwal Dengan Meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai Jalan Menghidupkan Sunnah."
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، وَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْ سِيْرَتِهِ وَأَخْلَاقِهِ أُسْوَةً حَسَنَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥanahu wata'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tanpa terasa, kita kembali mendekati sebuah bulan yang mengingatkan kita kepada sosok manusia paling mulia yang pernah Allah hadirkan ke muka bumi: bulan Rabiul Awwal.
Rabiul Awwal bukan sekadar pergantian nama bulan dalam kalender Hijriah.
Ia menjadi momentum bagi kita untuk kembali membuka lembaran kehidupan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Mengingat kelahiran beliau.
Mengenang perjuangan beliau.
Mempelajari akhlak beliau.
Memperbanyak shalawat kepada beliau.
Dan yang paling penting:
menghidupkan keteladanan beliau dalam kehidupan kita.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanatul liman kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa dzakarallāha katsīrā.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini memberikan pesan yang sangat dalam.
Allah tidak mengatakan:
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya untuk dikagumi.”
Tetapi Allah mengatakan:
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
uswatun hasanah
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah teladan yang baik.
Maka Rabiul Awwal seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya:
“Kapan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dilahirkan?”
Tetapi lebih jauh:
“Apa yang sudah berubah dalam hidupku karena aku mengenal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?”
Tidak cukup kita mengenal nama beliau.
Tidak cukup kita mengetahui sejarah beliau.
Tidak cukup kita memperbanyak shalawat di bulan Rabiul Awwal.
Tetapi mari kita bertanya:
Sudahkah kejujuran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam hidup dalam diri kita?
Sudahkah amanah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam hidup dalam pekerjaan kita?
Sudahkah semangat tabligh beliau hidup dalam keluarga kita?
Sudahkah kecerdasan dan kebijaksanaan beliau hidup dalam cara kita menghadapi masalah?
Inilah empat sifat yang sangat penting untuk kita renungkan: shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.
PERTAMA: SHIDDIQ — MENJADI ORANG YANG JUJUR
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang sangat jujur.
Sebelum menjadi rasul pun beliau telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.
Kejujuran beliau bukan hanya ketika berkata-kata.
Beliau jujur dalam berdagang.
Jujur dalam bermuamalah.
Jujur dalam menyampaikan wahyu.
Jujur kepada sahabat.
Bahkan kejujuran beliau tetap terjaga terhadap orang-orang yang memusuhi beliau.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā. In huwa illā waḥyun yūḥā.
“Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Tidak lain, itu adalah wahyu yang diwahyukan.”v(QS. An-Najm: 3–4)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
‘Alaikum bish-shidqi, fa innash-shidqa yahdī ilal-birri, wa innal-birra yahdī ilal-jannah.
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah sekalian,
Mari jadikan Rabiul Awwal sebagai bulan memperbaiki kejujuran.
Jujur dalam berdagang.
Jujur dalam bekerja.
Jujur dalam menggunakan uang.
Jujur dalam rumah tangga.
Jujur kepada anak-anak.
Jujur ketika melakukan kesalahan.
Sebab terkadang kita mudah berbicara tentang cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tetapi masih sulit mengikuti satu sifat beliau yang paling mendasar: kejujuran.
KEDUA: AMANAH — MENJAGA KEPERCAYAAN
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah Al-Amin.
Amanah berarti menjaga kepercayaan dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Innallāha ya'murukum an tu'addul-amānāti ilā ahlihā.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa': 58)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kalau Rabiul Awwal mengingatkan kita kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang bergelar Al-Amin, maka mari kita bertanya:
Apakah keluarga kita merasa aman ketika bersama kita?
Apakah orang lain merasa tenang ketika memberikan amanah kepada kita?
Apakah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita benar-benar kita laksanakan?
Apakah jabatan yang Allah berikan kepada kita kita gunakan untuk melayani atau justru untuk mencari keuntungan pribadi?
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Kullukum rā‘in wa kullukum mas'ūlun ‘an ra‘iyyatihi.
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka amanah itu luas.
Anak adalah amanah.
Pasangan adalah amanah.
Harta adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Jabatan adalah amanah.
Waktu adalah amanah.
Bahkan usia kita adalah amanah.
Rabiul Awwal hendaknya tidak hanya membuat kita mengenang kelahiran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tetapi juga membangkitkan kembali sifat Al-Amin dalam diri kita.
KETIGA: TABLIGH — MENYAMPAIKAN KEBAIKAN
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sifat ketiga adalah tabligh, yaitu menyampaikan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mendapatkan amanah dari Allah untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
Yā ayyuhar-rasūlu balligh mā unzila ilaika mir rabbik.
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS. Al-Ma'idah: 67)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menyampaikan Islam dengan penuh kesabaran.
Beliau berdakwah dengan hikmah.
Beliau menasihati dengan kasih sayang.
Beliau tidak lelah meskipun mendapatkan penolakan.
Maka ketika Rabiul Awwal datang, mari kita hidupkan kembali semangat tabligh.
Tidak harus menjadi ustadz.
Tidak harus berdiri di atas mimbar.
Setiap kita memiliki ruang untuk menyampaikan kebaikan.
Ayah menyampaikan nasihat kepada anak.
Ibu mengajarkan doa kepada anak.
Guru menyampaikan ilmu.
Sahabat mengingatkan sahabatnya.
Orang yang memiliki ilmu membagikan ilmunya.
Bahkan satu kalimat yang baik dapat menjadi sebab seseorang berubah menjadi lebih baik.
Tetapi ada satu hal yang perlu kita ingat.
Tabligh bukan berarti menyampaikan segala sesuatu.
Hari ini kita hidup di zaman media sosial.
Satu berita dapat menyebar dalam hitungan detik.
Satu tulisan dapat dibaca ribuan orang.
Satu video dapat ditonton jutaan manusia.
Maka sebelum menyampaikan sesuatu, tanyakan:
Apakah ini benar?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini membawa orang semakin dekat kepada Allah?
Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tetapi jari-jari kita justru digunakan untuk menyebarkan fitnah.
Jangan sampai lisan kita rajin bershalawat, tetapi juga rajin mencela.
Mari jadikan Rabiul Awwal sebagai momentum:
dari lisan yang suka mengeluh menjadi lisan yang memberi nasihat;
dari tangan yang suka menyebarkan keburukan menjadi tangan yang menyebarkan kebaikan.
KEEMPAT: FATHANAH — CERDAS DAN BIJAKSANA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sifat keempat adalah fathanah, yaitu kecerdasan dan kebijaksanaan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang sangat cerdas dalam memahami keadaan, membaca persoalan, memilih cara terbaik dan menyelesaikan konflik.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Ud‘u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau‘izhātil-ḥasanah.
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kecerdasan bukan hanya tentang tingginya pendidikan.
Bukan hanya tentang banyaknya gelar.
Bukan hanya tentang pandai berdebat.
Tetapi kecerdasan yang sebenarnya adalah mampu menggunakan ilmu untuk menghadirkan kebaikan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan:
Ketika menghadapi masalah, jangan tergesa-gesa.
Ketika mendengar berita, jangan langsung percaya.
Ketika berbeda pendapat, jangan langsung bermusuhan.
Ketika menasihati, jangan merendahkan.
Ketika marah, jangan kehilangan kendali.
Inilah fathanah.
Tahu kapan berbicara.
Tahu kapan diam.
Tahu kapan tegas.
Tahu kapan lembut.
Tahu kapan menegur.
Tahu kapan memaafkan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Betapa pentingnya sifat ini di zaman kita.
Banyak keluarga retak bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena tidak ada kebijaksanaan.
Banyak persaudaraan putus bukan karena masalah besar, tetapi karena kata-kata yang tidak dijaga.
Banyak pertengkaran terjadi bukan karena tidak ada kebenaran, tetapi karena kebenaran disampaikan tanpa hikmah.
Maka mari belajar dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Benar itu penting, tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar juga penting.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita sudah memasuki Rabiul Awwal.
Bulan yang mengingatkan umat Islam kepada Rasulullah .
Maka mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum hijrah akhlak.
Kalau selama ini kita mudah berdusta, mari belajar shiddiq.
Kalau selama ini kita lalai terhadap tanggung jawab, mari belajar amanah.
Kalau selama ini lisan kita lebih banyak mengeluh daripada mengajak kepada kebaikan, mari belajar tabligh.
Kalau selama ini kita mudah marah dan mudah terprovokasi, mari belajar fathanah.
Karena mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bukan hanya dengan kata-kata.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ
Qul in kuntum tuḥibbūnallāha fattabi‘ūnī yuḥbibkumullāhu.
“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31)
Maka cinta harus melahirkan ittiba'—mengikuti.
Kita bershalawat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, tetapi kita juga mengikuti beliau.
Kita memuji akhlak beliau, tetapi kita juga berusaha memiliki akhlak beliau.
Kita mengenang perjuangan beliau, tetapi kita juga berjuang memperbaiki diri.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita sambut Rabiul Awwal bukan hanya dengan kegembiraan, tetapi juga dengan introspeksi.
Tanyakan kepada diri kita:
Apakah aku sudah jujur seperti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?
Apakah aku sudah amanah seperti Al-Amin?
Apakah aku sudah menjadi pembawa kebaikan?
Apakah aku sudah belajar bijaksana dalam menghadapi kehidupan?
Semoga Rabiul Awwal tahun ini menjadi awal perubahan.
Bukan hanya bulan yang kita lalui,
tetapi bulan yang mengubah kita.
Bukan hanya menambah rasa cinta,
tetapi menambah ketaatan.
Bukan hanya memperbanyak shalawat,
tetapi memperbanyak ittiba' kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.
Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.
Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.
Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar