Khutbah Jum'at: Ketika Maksiat di Kemas Menjadi Hiburan. Penyusun : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)
nataragung.id - Yogyakarta - Beberapa hari terakhir masyarakat dihebohkan dengan sebuah video dari sebuah festival. Dalam video tersebut, seorang pengunjung diminta membacakan atau menghafalkan Surah Ad-Dhuha, kemudian mendapatkan minuman keras sebagai hadiah. Dalam kesempatan khutbah di hari Jum'at yang mulia ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul: "Ketika Maksiat di Kemas Menjadi Hiburan."
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Takwa bukan hanya ketika berada di masjid. Takwa bukan hanya ketika shalat.
Takwa adalah ketika seorang hamba senantiasa menyadari bahwa Allah melihatnya, sehingga ia berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi apa yang Allah haramkan, di mana pun ia berada.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hari terakhir masyarakat dihebohkan dengan sebuah video dari sebuah festival. Dalam video tersebut, seorang pengunjung diminta membacakan atau menghafalkan Surah Ad-Dhuha, kemudian mendapatkan minuman keras sebagai hadiah.
Peristiwa itu kemudian menjadi viral dan mendapatkan kecaman luas. Aparat pun memproses pihak-pihak yang terlibat.
Peristiwa ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua tentang sebuah fenomena yang semakin sering terjadi:
Ketika kemaksiatan tidak lagi disembunyikan, tetapi justru dikemas menjadi hiburan.
Dosa dijadikan challenge. Kemaksiatan dijadikan konten. Yang haram dijadikan bahan candaan. Aib menjadi tontonan. Pelanggaran syariat disebut kreativitas.
Bahkan sesuatu yang mulia dalam agama terkadang dipakai sebagai gimmick untuk menarik perhatian manusia.
Na’udzubillahi min dzalik.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama: Maksiat Tetaplah Maksiat, Walaupun Dikemas Menarik
Haram dan halal tidak berubah hanya karena zaman berubah.
Sesuatu yang Allah haramkan tidak menjadi halal hanya karena dikemas dengan nama: hiburan, challenge, konten, promosi, tren, atau sekadar bercanda.
Dalam kasus yang sedang diperbincangkan, barang yang dijadikan hadiah adalah khamr.
Allah Ta’ala telah memberikan hukum yang sangat jelas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)
Perhatikan kalimat Allah:
فَاجْتَنِبُوهُ
“Jauhilah.”
Allah tidak mengatakan sekadar, “Jangan mabuk.” Tetapi jauhilah khamr.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram.” (HR. Muslim)
Maka jangan tertipu dengan kemasan.
Yang haram tetap haram meskipun dibungkus dengan kegembiraan.
Judi tetaplah judi, walaupun berada di dalam aplikasi yang menarik. Khamr tetaplah khamr, walaupun diberikan gratis. Ghibah tetaplah ghibah, walaupun dibungkus sebagai gosip selebriti. Membuka aurat tetaplah pelanggaran syariat, walaupun disebut tren.
Dan mempermainkan agama tetaplah perkara yang berbahaya, walaupun alasannya:
“Kami hanya bercanda.”
Seorang mukmin tidak mengukur benar dan salah berdasarkan:
“Apakah sedang viral?”
“Apakah banyak yang melakukan?”
“Apakah masyarakat menganggap biasa?”
Tetapi ia bertanya:
“Apakah Allah meridhainya?”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kedua: Yang Lebih Berbahaya Adalah Ketika Dosa Mulai Dianggap Biasa
Ada keadaan yang lebih mengkhawatirkan daripada seseorang terjatuh dalam dosa. Yaitu ketika rasa bersalah terhadap dosa mulai hilang.
Orang yang melakukan maksiat kemudian menyesal, hatinya masih memiliki kebaikan.
Namun ketika dosa dilakukan sambil tertawa, direkam, diunggah, dipamerkan, bahkan mengajak orang lain ikut melakukannya, maka ini jauh lebih berbahaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Seluruh umatku berpeluang mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan.”
Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan contoh seseorang yang melakukan dosa pada malam hari. Allah telah menutupi dosanya, tetapi ketika pagi ia justru menceritakan kemaksiatannya kepada orang lain. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Mengapa ini berbahaya?
Karena ketika dosa dilakukan terang-terangan, ada bahaya tambahan:
Dosa tersebut mulai kehilangan kesan buruk di tengah masyarakat.
Hari ini seseorang melihatnya dan terkejut. Besok melihat lagi. Lusa melihat kembali. Beberapa tahun kemudian manusia berkata:
“Ah, biasa.”
Inilah salah satu musibah besar. Bukan sekadar ketika kemaksiatan terjadi. Tetapi ketika masyarakat kehilangan rasa bahwa itu adalah kemaksiatan.
Dosa kemudian berubah dari sesuatu yang memalukan menjadi sesuatu yang dibanggakan. Dari sesuatu yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dipamerkan. Dari sesuatu yang seharusnya ditaubati menjadi sesuatu yang menghasilkan tepuk tangan.
Na’udzubillahi min dzalik.
Jangan sampai hati kita sampai pada keadaan tersebut. Disebutkan bahwa Bilal bin Sa’ad rahimahullah memberikan nasihat:
لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah engkau melihat kecilnya kemaksiatan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”
Mungkin manusia berkata:
“Cuma bercanda.”
Tetapi kepada siapa engkau bermaksiat?
Mungkin manusia berkata:
“Cuma konten.”
Tetapi siapa yang larangannya sedang engkau langgar?
Mungkin manusia berkata:
“Cuma untuk seru-seruan.”
Tetapi ingatlah:
Engkau sedang berhadapan dengan hukum Allah Rabbul ‘Alamin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga: Lebih Berbahaya Lagi Jika Agama Dijadikan Bahan Permainan
Dalam peristiwa yang sedang viral, persoalannya tidak berhenti pada khamr. Ada perkara yang lebih berat. Yang digunakan sebagai tantangan adalah Surah Ad-Dhuha, bagian dari Kalamullah.
Al-Qur’an adalah firman Allah. Ia bukan bahan permainan. Ia bukan alat promosi. Ia bukan bahan candaan. Ia bukan gimmick untuk menjadikan barang haram lebih menarik.
Allah Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Semakin bertakwa hati seseorang, semakin besar pengagungannya kepada perkara-perkara agama.
Ketika mendengar Al-Qur’an, hatinya tunduk. Ketika mendengar nama Allah, hatinya takut. Ketika mendengar hadits Rasulullah ﷺ, ia memuliakannya. Bukan malah menjadikannya sebagai permainan.
Allah telah memberikan peringatan yang sangat keras:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Jika engkau bertanya kepada mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?’”
Kemudian Allah berfirman:
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Tidak perlu kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah beriman.” (QS. At-Taubah: 65–66)
Ayat ini menunjukkan betapa beratnya perkara istihza’ bid-din, memperolok dan merendahkan agama Allah.
Dan alasan: “Kami hanya bercanda” tidak otomatis membuat perkara tersebut menjadi ringan.
Namun perlu kita pahami dengan adil:
Menghukumi sebuah perbuatan berbeda dengan menghukumi individu tertentu.
Kita dapat mengatakan bahwa menghina Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya merupakan kekufuran.
Tetapi untuk memvonis individu tertentu keluar dari Islam, tidak boleh dilakukan sembarangan oleh orang awam hanya berdasarkan potongan video atau informasi media sosial.
Ada syarat-syarat dan penghalang yang harus diperhatikan. Persoalan semacam itu dikembalikan kepada ahli ilmu dan pihak yang memiliki kewenangan.
Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tegas terhadap kebatilan tetapi tetap adil kepada pelakunya.
Jamaah Jumat yang semoga dirahmati Allah,
Keempat: Jangan Hanya Marah kepada Dosa Orang Lain
Inilah bagian yang sangat penting. Mudah bagi kita marah ketika melihat video viral. Mudah bagi kita menulis komentar:
“Astaghfirullah.”
Mudah bagi kita mengatakan:
“Ini keterlaluan!”
Dan memang kemungkaran harus diingkari.
Tetapi jangan sampai kita sibuk melihat dosa orang lain sementara kita lupa memperhatikan dosa kita sendiri.
Kita marah melihat khamr, tetapi bagaimana dengan riba yang masih kita remehkan?
Kita marah ketika Al-Qur’an dipermainkan, tetapi bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an setiap hari?
Kita marah melihat maksiat diviralkan, tetapi barangkali jari kita sendiri masih mudah menyebarkan ghibah, membuka aib, mencaci dan memfitnah orang lain.
Kita marah ketika syariat diremehkan, tetapi ketika adzan berkumandang, apakah kita sendiri segera memenuhi panggilan Allah?
Jangan sampai kemungkaran orang lain hanya menghasilkan kemarahan, tetapi tidak menghasilkan taubat pada diri kita.
Peristiwa seperti ini seharusnya membuat kita berkata:
“Ya Allah, selamatkan aku dan keluargaku dari fitnah zaman ini.”
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Mulailah dari rumah kita. Ajarkan anak-anak kita bahwa tidak semua yang viral layak diikuti. Tidak semua yang lucu boleh ditertawakan. Tidak semua yang populer benar. Tidak semua yang dilakukan banyak orang diridhai Allah.
Tanamkan kepada keluarga kita:
Halal tetap halal.
Haram tetap haram.
Dan agama Allah harus dimuliakan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kelima: Jangan Menjadi Penonton yang Ridha terhadap Kemungkaran.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang apatis ketika kemungkaran terjadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Tetapi amar ma’ruf nahi mungkar juga memiliki ilmu dan aturan.
Mengubah kemungkaran tidak boleh menghasilkan kemungkaran yang lebih besar.
Tidak boleh kemarahan membawa kita kepada kezaliman. Tidak boleh seseorang melakukan persekusi. Tidak boleh merusak harta orang lain. Tidak boleh menyerang keluarga yang tidak terlibat. Tidak boleh mengambil alih kewenangan aparat dan pemerintah.
Para ulama menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, kesabaran, dan mempertimbangkan maslahat serta mafsadat.
Maka ketika sebuah kemungkaran terjadi: ingkari dengan cara yang syar’i.
Laporkan kepada yang berwenang. Nasihati dengan ilmu. Jelaskan kepada masyarakat. Jangan ikut mempromosikan kemungkarannya hanya demi mendapatkan engagement. Dan jangan sampai saat kita berniat membela agama, kita justru melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama.
Jamaah rahimakumullah,
Jangan Sampai Kita Kehilangan Rasa terhadap Dosa.
Inilah pesan besar khutbah kita hari ini.
Takutlah ketika maksiat mulai terasa biasa.
Takutlah ketika kita melihat sesuatu yang Allah haramkan tetapi hati tidak lagi merasa terganggu. Takutlah ketika kemaksiatan justru membuat kita tertawa. Takutlah ketika dosa menjadi hiburan. Takutlah ketika agama dijadikan bahan candaan.
Karena salah satu musibah terbesar bukan hanya seseorang melakukan dosa. Tetapi ketika hati tidak lagi merasa bahwa dosa adalah dosa.
Maka jagalah hati kita. Jagalah keluarga kita. Jagalah lingkungan kita.
Dan mintalah kepada Allah agar kita senantiasa diberikan kemampuan melihat kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
“Ya Allah, tampakkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan serta karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Demikian Khutbah Jum'at pada hari ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin3x Ya Rabbal Aalamiin
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketika kita membicarakan dosa dan kemaksiatan, jangan sampai kita berputus asa dari rahmat Allah.
Sebesar apa pun dosa seorang manusia, pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Maka siapa pun yang pernah meminum khamr, bertaubatlah.
Siapa pun yang pernah berjudi, bertaubatlah.
Siapa pun yang pernah mempermainkan syariat, bertaubatlah.
Siapa pun yang pernah menjadikan dosa sebagai konten dan kebanggaan, bertaubatlah.
Dan siapa pun di antara kita yang selama ini meremehkan kemaksiatan, bertaubatlah kepada Allah.
Jangan tunggu dosa terasa besar. Jangan tunggu terkena musibah. Jangan tunggu tubuh melemah. Jangan tunggu sakaratul maut.
Kembalilah kepada Allah sekarang. Karena seorang mukmin bukanlah manusia yang tidak pernah salah. Tetapi ketika bersalah, ia menyesal dan kembali kepada Rabb-nya.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap hidup.
Semoga Allah menjaga anak dan keluarga kita dari berbagai fitnah zaman.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengagungkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan seluruh syiar agama-Nya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ احْفَظْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ وَنِسَاءَهُمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
Ya Allah, jagalah generasi muda kaum Muslimin, para wanita mereka dan keturunan mereka dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ.
Ya Allah, jadikanlah iman sesuatu yang kami cintai dan hiasilah iman di dalam hati kami. Jadikanlah kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan sesuatu yang kami benci.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal: 21 Agustus 2026.
*) Penyusun adalah: Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar