Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Meteran Listrik, Amanah Khik Dusa Sai Mak Teliyak. Tulisan: Mang Kumir *)
nataragung.id - Teginenong - Minggu mehayu di warung Bu Asri. Kupi halom khadu ngepul, putti gukhing kepok lagi panas. Pak Kemal, Pak Harto, khik Pak Ihsan mejjong suwa bebalah.
Ihsan:
“Waduh, listrik di mahanku akhir-akhir sa ge-khing jepret. Appai nge-hukhik ko pompa, kulkas, makai lappu, langsung mati.”
Kemal:
"Bekhatti listrikmu khadu kebiyak'an, San. Mahanmu layin gekhad-du listrik!"
Harto:
“Gegoh, dimahanku. Bijo setrika, pompa, televisi di hukhikko bakhong, langsung jepret! Kebayanku cawa, 'Bang listrik cadang!' ku tim-mbal layin cadang, mukkin listrik ni kilu istirahat.”
Tiyan lalang.
Harto:
"Tapi bijo, wat ulun nawakh ko solusi."
Ihsan:
“Solusi api?”
Harto:
“Cawani meteren listrik dapok diakali. Pemakaian ni nayah, tapi sai tecatet cutik. Jadi tagihan ni mukhah.”
Pak Kemal langsung ngedigok.
Kemal:
“Wah, ina layin solusi, To. Ina ge-khal ni nyepok masalah.”
Ihsan:
“Yu, tagihan mukhah, tapi ukhusan akhirat mahal.”
Mak munni anjak sina, Ustadz Munawwar khatong langsung mejjong di samping tiyan.
Ustadz Munawwar:
"Assalamu'alaikum. Bahas api kuti sappai serius nihan?"
Kemal:
“Wa'alaikumussalam, Ustadz. Iji Pak Harto lagi bingung. Wat sai nawakh ko cakha ngakal-ngakali meteren listrik supaya tagihan mukhah."
Ustadz Munawar.
Oh, iji masalah penting. Lamun sengaja diguway supaya pemakaian listrik sai sebenokh ni mak tercatat sebagaimana mesti ni, tekhus bayakhan ni di kukhangi, ina mak dapok."
Harto:
“Walaupun cuma cutik, Ustadz?”
Ustadz Munawwar:
“Cutik yo tetop hak ulun. Allah berfirman:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
Wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā'ahum
Khat-ti ni: "Khik dang niku, ngekhugi ko jelema terhadap hak-hak tiyan.' (QS. Asy-Syu‘ara: 183)
"Dang ngukhangi hak ulun bakhih, baik cutik maupun nayah."
Harto:
“Lamun wat sai cawa, perusahaan ni balak, Ustadz. Mak te-khasa khugi”
Ustadz Munawwar.
"Layin gohna ukokhan ni. Kham dang ngeliyak sapa sai ngedok khatta, tetapi liyak apikah cakha kham ngakuk manfaat ina di benokh ko atau mawat."
Tekhus Ustadz Munawwar ngelanjutkon.
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Wa lā ta’kulū amwālakum bainakum bil-bāthil.
Khat-ti ni: Dang lah niku saling nganik khatta sesamamu jama khanglaya sai batil." QS. An-Nisa: 29).
Ihsan:
"Bekhatti ngakal-ngakali meteran ina termasuk kecurangan, Ustadz?"
Ustadz Munawwar:
"Lamun tujuan ni, supaya bayakhan jadi lebih lunik jama cakha memanipulasi pemakaian, iyu, ina bentuk kecurangan."
Kemal:
"Sai masang atau merekayasa meteran ni munih salah."
Ustadz Munawwar:
"Lamun ia sengaja nulung nge-guway kecurangan, ia nutuk delom kelakuan sai di larang. Allah berfirman:
«وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Khat-ti ni: "Danglah kuti saling ngebattu delom dusa khik permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)”
Harto:
"Hadis ni wat, Ustadz?"
Ustadz Munawwar:
“Wat. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Khat-ti ni: Bakhang sapa sai nipu Sikam, maka ia layin bagian anjak Sikam." (HR. Muslim)
"Jadi dang diang-ngop remeh pekakha kecurangan."
Ihsan:
"Lamun listrik mahal, tekhus makai ni, cakhani picawi, Ustadz?"
Ustadz Munawwar:
“ Cakha sai halal. Kukhangi pemakaian, pekhiksa instalasi, gunako alat sai lebih hemat atau lamun daya sangun kukhang, tam-mbah secara resmi.”
Kemal:
“Jadi lamun listrik ge-khing jepret, sai di hallaw ko instalasi ni, layin meteren ni.”
Ustadz Munawwar:
“Yu, benokh.”
Harto:
“Lamun hati sai ge-khing jepret, Ustadz?”
Ustadz Munawwar:
“Lamun hati sai jepret, ina layin lagi, nayah ko istighfar.”
Tiyan lalang.
Bu Asri sai anjak jenno nengis ko tiba-tiba menyela.
Bu Asri:
“Lamun putti gukhingku sai diakuk mak bayakh, ina ge-khal ni api?”
Pak Kemal sai pungu ni kak khad-dik pan-nyang langsung nakhik pungu ni.
Kemal:
“Waduh, Bu! Dang gohna, nyak appai haga ngakuk sebiji."
Bu Asri:
"Bayakh pai."
Kemal:
"Iji warung sai nerapko fikih secara langsung!"
Unyin tiyan lalang.
Ustadz Munawwar nyengih tekhus cawa:
Ustadz Munawwar:
"Bapak-bapak, ingok satu hal. Kejujuran layin hanya wattu wat ulun ngen-nah. Kejujuran justru tenah-han ketika kham ngedok kesempatan ngeguway curang, tapi kham tinggal ko ulah khabai jama Allah."di
Lalu beliau ngebaca:
«أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ»
Khat-ti ni: "
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguh ni Allah ngeliyak?" (QS. Al-‘Alaq: 14).
Suasana jadi hening sekhab-bok.
Harto:
" Bekhatti tawakhan bijo Ikam tolak gawoh?"
Ustadz Munawwar:
“Ina lebih hallaw.”
Harto:
"Tagihan mahal mak api-api, asal halal."
Ihsan:
"Sai penting dang sappai listrik mukhah, tapi dusa nayah."
Kemal:
“Listrik dapok jepret, tapi iman dang jepret.”
Bu Asri lalang.
Bu Asri:
“Khadu-khadu. Ceramah ni selesai. Gatta bayakh kupi!”
Pak Kemal langsung nunjuk ko Pak Harto.
Kemal:
“Pak Harto sai bayakh, jenno kan ia sai mekhat-tok listrik mukhah!”
Harto:
"Dasar niku Mal. Appai belajakh amanah, kak nyepok ulun guway nang-ngung tagihan!"
Warung di penuhi lalang luwot.
Mehayu ina, tiyan mulang jama satu kesimpulan sederhana:
Hemat ina dapok, mengakali hak ulun bakhih mak dapok.
Sebab listrik sai mati dapok di hukhikko luwot, tetapi keberkahan rezeki sai mati mak tunai di hukhikko luwot. (*/)
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Cekhita Lappung
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
VERSI BAHASA INDONESIA.
METERAN LISTRIK, AMANAH, DAN DOSA YANG TAK TERLIHAT
Minggu pagi di warung Bu Asri. Pak Kemal, Pak Harto, dan Pak Ihsan sedang menikmati kopi dan pisang goreng.
Ihsan:
“Waduh, akhir-akhir ini listrik di rumahku sering japret. Baru hidupko pompa, kulkas, sama televisi, langsung mati. Kayaknya listrik di rumahku keberatan.”
Kemal:
“Bukan keberatan, San. Bebannya mungkin terlalu banyak. Rumahmu bukan gardu listrik!”
Harto:
“Sama jak di rumahku. Kemarin setrika, pompa, televisi hidup bersamaan, langsung jepret! Istriku bilang, ‘Bang, listrik rusak!’ Ku jawab, ‘Bukan listrik yang rusak, mungkin dia minta istirahat.’”
Mereka tertawa.
Harto:
“Tapi ada yang menawarkan solusi. Katanya meteran bisa direkayasa supaya pemakaian yang tercatat lebih sedikit, jadi tagihan murah.”
Ihsan:
“Wah, itu bukan solusi, To. Itu cari masalah.”
Kemal:
“Murah tagihannya, mahal urusannya.”
Saat itu Ustadz Munawwar datang dan bergabung.
Munawwar:
“Sedang membahas apa?”
Harto:
“Begini, Ustadz. Kalau meteran listrik direkayasa supaya tagihan lebih murah, bagaimana hukumnya?”
Munawwar:
“Kalau sengaja membuat pemakaian yang sebenarnya tidak tercatat sebagaimana mestinya agar pembayaran berkurang, itu tidak boleh. Ada unsur mengambil hak orang lain secara tidak sah dan melakukan kecurangan.”
Ihsan:
“Walaupun jumlahnya sedikit?”
Munawwar:
“Sedikit atau banyak, hak orang tetap harus dihormati. Allah berfirman:
«وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
‘Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.’
(QS. Asy-Syu‘ara: 183)»
Allah juga berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.’
(QS. An-Nisa: 29)”
Harto:
“Berarti alasan ‘perusahaannya besar, tidak akan terasa rugi’ tidak bisa dibenarkan?”
Munawwar:
“Tidak. Ukuran halal dan haram bukan besar kecilnya kerugian, tetapi apakah kita mengambil hak orang lain dengan cara yang dibenarkan syariat.”
Kemal:
“Kalau orang yang menawarkan jasa itu bagaimana, Ustadz?”
Munawwar:
“Kalau dia memang membantu melakukan kecurangan, dia juga ikut dalam perbuatan yang dilarang. Allah berfirman:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
,Janganlah kamu saling membantu dalam dosa dan permusuhan.’
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
‘Barang siapa menipu kami, maka ia bukan bagian dari kami.’(HR. Muslim)”
Ihsan:
“Jadi intinya jangan menipu dan jangan mengambil hak orang lain.”
Munawwar:
“Betul. Ada pula kaidah fikih:
«لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
‘Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.’
Kalau listrik terasa mahal, cari jalan yang halal: hemat pemakaian, periksa instalasi, gunakan peralatan yang efisien, atau urus penambahan daya secara resmi. Jangan mengatasi kesulitan dengan kecurangan.”
Harto:
“Berarti kalau listrik sering japret, yang diperbaiki instalasinya, bukan meterannya.”
Munawwar:
“Nah, itu baru benar.”
Kemal:
“Kalau hati yang sering japret, bagaimana, Ustadz?”
Munawwar:
“Kalau hati yang japret, perbanyak iman dan istighfar.”
Bu Asri yang sejak tadi mendengarkan langsung menyahut.
Bu Asri:
“Kalau pisang goreng saya yang japret dari piring tanpa bayar, bagaimana?”
Pak Kemal langsung menaruh kembali tangannya yang hendak mengambil pisang.
Kemal:
“Waduh, itu bukan lagi kaidah fikih. Itu perangkap Bu Asri!”
Semua tertawa.
Ustadz Munawwar kemudian berkata:
Munawwar:
“Bapak-bapak, kejujuran diuji ketika kita punya kesempatan untuk berbuat curang dan tidak ada orang yang melihat. Ingat, meteran mungkin tidak bisa bicara, tetapi Allah selalu melihat.”
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
‘Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?’ (QS. Al-‘Alaq: 14)
Pak Harto mengangguk.
Harto:
“Baiklah, tawaran itu saya tolak. Biar tagihan sesuai pemakaian. Kalau terasa berat, kita hemat.”
Ihsan:
“Lebih baik tagihan listrik naik daripada dosa yang naik.”
Kemal:
“Listrik boleh padam, tapi kejujuran jangan sampai padam.”
Bu Asri tersenyum sambil menuangkan kopi.
Bu Asri:
“Nah, sekarang bayarnya jangan lupa. Kopi juga ada meterannya!”
Mereka kembali tertawa.
Pagi itu mereka sepakat: menghemat boleh, tetapi mengakali hak orang lain tidak boleh. Rezeki yang sedikit tetapi halal lebih baik dijaga daripada keuntungan yang diperoleh dengan kecurangan. <>
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar