Yusuf Putra Ramadhan Pelantun Lagu Penyampai Rasa Telah Pergi
nataragung.id - Bandar Lampung - Kepergian Yusuf Putra Ramadhan datang begitu tiba-tiba. Tak ada kabar sebelumnya bahwa jurnalis Lampung yang juga dikenal sebagai pelantun dan pencipta lagu daerah itu sedang sakit.
Hari-hari terakhirnya dilalui seperti biasa. Putra tetap menjalani aktivitas sebagai jurnalis, bergerak dari satu agenda ke agenda lainnya. Di tengah kesibukan itu, ia juga tengah mempersiapkan suksesnya Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas).
PWI Lampung bahkan telah memberikan amanah kepadanya sebagai Koordinator Cabang Olahraga (Cabor) E-Sport. Tugas itu dijalaninya sebagaimana rutinitas lain yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Tak ada yang menyangka, persiapan Porwanas itu justru menjadi salah satu amanah terakhir yang diembannya.
Putra bukan sekadar jurnalis. Ia juga memiliki kecintaan terhadap seni dan budaya Lampung. Namanya dikenal sebagai pelantun sekaligus pencipta dua lagu daerah, “Dipulaju Andahmu” dan “Penyampai Khasa”.
Melalui lagu, Putra menyuarakan identitas dan kekayaan budaya Lampung dengan caranya sendiri. Jika tulisan-tulisannya hadir melalui dunia jurnalistik, maka lagu menjadi ruang lain baginya untuk menyampaikan rasa dan kecintaan terhadap tanah kelahirannya.
Namun, Minggu (13/9/2026) sore, semuanya berubah.
Kabar pertama datang dari sang istri, Gita. Putra mengalami sesak napas. Kabar itu tentu mengejutkan. Sebab sebelumnya tidak terdengar kabar bahwa Putra sedang mengalami sakit atau kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan.
Sekitar satu jam kemudian, kabar berikutnya datang. Putra dilarikan ke RSUD AM untuk mendapatkan pertolongan medis.
Harapan masih menyala. Doa-doa mungkin masih dipanjatkan. Keluarga tentu berharap keadaan segera membaik dan Putra kembali pulang.
Namun, sekitar pukul 18.00 WIB, telepon di ujung sana justru membawa kabar yang tak pernah diharapkan.
Putra telah berpulang. Hanya dalam hitungan jam, seorang yang sebelumnya menjalani hari sebagaimana biasa tiba-tiba harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya.
Kepergiannya terasa begitu mendadak. Bagi dunia jurnalistik Lampung, Putra adalah seorang kawan seperjalanan. Bagi PWI Lampung, ia adalah bagian dari kerja bersama dan sosok yang tengah dipercaya mengawal salah satu cabang olahraga dalam Porwanas.
Bagi dunia seni, ia meninggalkan suara dan karya. Dan bagi keluarga, ia tentu bukan sekadar jurnalis atau seniman. Ia adalah suami, keluarga, dan seseorang yang kehadirannya tak akan mudah tergantikan.
Kini, “Penyampai Khasa” terdengar dengan kenangan yang berbeda.
Lagu yang pernah dilantunkannya itu akan selalu mengingatkan bahwa pernah ada seorang Yusuf Putra Ramadhan yang memilih berkarya, bekerja, dan mengabdikan dirinya dengan caranya sendiri.
Putra telah pergi. Namun, tulisan, karya, suara, dan jejak pengabdiannya akan tetap tinggal—menjadi bagian dari ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Selamat jalan, Yusuf Putra Ramadhan. Pelantun “Penyampai Khasa” itu telah pergi. Pergi di sebuah Minggu sore, ketika banyak orang masih menyangka esok akan menjadi hari biasa.
Almarhum Putra akan dikebumikan di kampung halamannya Kedondong, Kabuparen Pesawaran. Semoga almarhum husnul khatimah, mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. (*/red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar