Mencari Program Pemerintah yang Benar-Benar Membela Budaya Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, ananda sekalian, dan para penerus Sai Bumi Ruwa Jurai. Izinkanlah seorang tua ini bercerita di beranda sembari menikmati kopi robusta yang masih mengepul.
Hari ini kita akan berbincang tentang sebuah pertanyaan yang mungkin selama ini terpendam: di mana program pemerintah yang benar-benar membela budaya Lampung?
Alkisah, di lereng Gunung Pesagi, hiduplah seorang seniman tua bernama Pak Rawi. Beliau adalah satu-satunya di kampungnya yang masih hafal gerakan-gerakan kuno tari Cangget, tarian sakral yang dulu dipakai menyambut para kesatria pulang dari medan perang.
Suatu pagi, datanglah rombongan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Mereka turun dengan mobil dinas berkilau, mengenakan batik rapi, dan membawa drone untuk mengambil gambar. "Pak Rawi," kata seorang pejabat, "kami ingin mempromosikan tari Cangget sebagai ikon Lampung. Bapak bisa menari untuk kami rekam?"
Dengan hati berbunga-bunga, Pak Rawi mengumpulkan anak-anak muda binaannya. Mereka menari dengan penghayatan di bawah terik matahari, sementara kamera sibuk merekam. Pejabat itu tersenyum puas, berfoto bersama, dan berjanji mengirim bantuan dana serta pelatihan rutin.
Pak Rawi menunggu.
Berbulan-bulan berlalu. Tidak ada dana. Tidak ada pelatihan. Yang muncul hanyalah video tari Cangget di media sosial pemerintah, dengan narasi manis tentang "pelestarian budaya." Pak Rawi hanya tersenyum pahit. "Mereka datang seperti musim hujan," katanya, "basah sebentar, lalu pergi, dan tanah tetap kering."
Kisah Pak Rawi bukanlah kisah tunggal. Di berbagai pelosok Lampung, para budayawan, seniman, dan punyimbang adat mengalami nasib serupa. Setiap kali mendekati hari besar, HUT Provinsi atau festival tahunan, mereka dipanggil ke panggung, diminta tampil, dan dipoles untuk acara seremonial. Namun setelah lampu panggung padam, mereka kembali ke kampung dengan tangan hampa.
Di mana program konkret dan berkelanjutan? Bukan sekadar festival yang ramai sehari lalu hening berbulan-bulan. Bukan sekadar lomba tari yang hadiahnya lebih besar dari anggaran pelatihan setahun. Bukan sekadar spanduk raksasa di jalan protokol yang isinya hanya slogan kosong.
Seorang teman di Pesisir Barat bercerita, kampungnya mendapat bantuan membangun balai adat. Bangunannya megah dengan ukiran khas Lampung. Namun hingga kini, balai itu lebih sering dipakai rapat pemerintah daripada pertemuan adat. Para tetua adat tak pernah diajak bermusyawarah di sana. Tiang-tiang rumah adat kokoh berdiri, tetapi nilai-nilai di dalamnya runtuh perlahan.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, pegangan hidup orang Lampung sejak dulu, tersimpan pesan mendalam: "Pagah kaga ganta lada, sigok di pengki jalan, yakdo terkesan di dalam hati, jangan di bibir saha."
Pesan ini mengajarkan bahwa pekerjaan baik harus membekas di hati, bukan sekadar bergema di bibir. Menjaga kehormatan atau Piil Pesenggiri bukan soal pencitraan, ia adalah ketulusan yang terwujud dalam perbuatan nyata.
Jika kita hanya pandai berkata tanpa berbuat, harga diri kita akan terkikis. Dalam Islam, iman tak cukup dengan ucapan; ia harus dibuktikan dengan amal. Begitu pula budaya, ia tak cukup dengan pidato; ia harus dihidupi dengan tindakan.
Kitab ini juga mengingatkan, "Si sai mak ngeghang gawok, mak pandai nahan hati, ia akan kehilangan jalan pulang." Artinya, siapa yang meninggalkan pekerjaan baik dan tak mampu menahan hawa nafsu akan kehilangan arah pulang, pulang ke rumah maupun pulang ke jati diri. Bukankah ini gambaran kita saat ini? Ketika budaya hanya dijadikan alat seremonial, kita kehilangan jalan pulang menuju identitas sendiri.
Mari kita lihat program-program yang sering disebut. Ada "Lampung Berbudaya" yang digelar serentak. Ada "Kampung Adat" dengan dana desa. Ada "Guru Bahasa Lampung" di sekolah-sekolah.
Di atas kertas semua terdengar baik. Namun saat ditelusuri, program ini seperti pohon rindang dari jauh tetapi kering saat didekati. "Kampung Adat" sering berakhir sebagai proyek fisik: rumah dicat, gapura dipercantik, tetapi isinya, pengetahuan adat, bahasa, nilai luhur, tetap hampa. "Guru Bahasa Lampung" sering kekurangan kompetensi; mereka mengajar satu-dua jam seminggu tanpa penguatan di luar kelas. Anak-anak belajar beberapa frasa lalu melupakannya.
Bagaimana dengan "Hari Kamis Beradat"? Kebijakan ini mewajibkan pegawai dan siswa memakai pakaian adat serta berbahasa Lampung setiap Kamis. Gagasan ini terdengar membanggakan, tetapi pelaksanaannya memprihatinkan. Pakaian adat dipakai asal-asalan karena pemakainya tak mengerti makna setiap bagiannya. Apa arti siger, filosofi kain tapis, makna warna tertentu? Pertanyaan ini jarang terjawab.
Pakaian adat yang seharusnya simbol harga diri, Piil Pesenggiri, kini hanya seragam tanpa roh.
Tabik puun, izinkan saya meminjam perumpamaan. Bayangkan seorang petani. Setiap musim ia menabur benih, tetapi tak pernah kembali ke sawah. Ia tak menyiram, memupuk, atau memanen. Benihnya mati, sawahnya penuh rumput liar. Bukankah program pelestarian kita seperti ini? Kita sibuk dengan upacara penaburan, festival, lomba, peresmian, tetapi lupa bahwa benih perlu perawatan setiap hari.
Falsafah Sakai Sambayan, gotong-royong, mengajarkan bahwa kerja sama dan kesinambungan adalah kunci. Jika pemerintah sebagai penabur hanya datang setahun sekali, sementara masyarakat sebagai sawah menunggu tanpa kepastian, tak akan ada panen melimpah.
Alasan "tidak ada dana" selalu menjadi dalih paling mudah. Padahal anggaran untuk acara seremonial, pembukaan festival megah, konsumsi tamu, spanduk dan baliho, perjalanan dinas pejabat, selalu tersedia. Mengapa dana ada untuk acara sehari tetapi tidak untuk program sepanjang tahun yang berdampak pada pelaku budaya? Ini seperti orang yang rela bayar tiket konser mewah tetapi mengeluh tak punya uang beli beras untuk anaknya.
Di tengah keputusasaan, ada titik terang. Di Kampung Ngarip, para pemuda mengumpulkan uang, membeli gamolan dari perajin tua, dan belajar dari sesepuh. Setiap akhir pekan mereka berlatih di balai desa, merekam cerita rakyat dari kakek-nenek, dan membagikannya lewat WhatsApp.
Di Lampung Timur, ibu-ibu menginisiasi kelas menenun kain tapis. Mereka tak hanya mengajar teknik, tetapi juga nilai di balik setiap motif: ada yang melambangkan keberanian, ada yang mengisahkan perjalanan hidup. Di sela menenun, mereka sisipkan nilai Islam: sabar saat benang putus, jujur saat menjual karya, syukur atas keindahan yang tercipta.
Inilah program sejati: lahir dari bawah, digerakkan cinta, berkelanjutan karena didasari kebutuhan menjaga warisan leluhur.
Program pemerintah yang benar-benar membela budaya harus memiliki empat hal:
Pertama, konkret. Bukan slogan atau acara seremonial. Misalnya, pelatihan tari rutin 12 bulan bagi 50 anak muda per kabupaten, dengan transportasi dan insentif bagi pengajar.
Kedua, terukur. Jangan hanya lapor "jumlah acara," tetapi juga "berapa anak muda fasih bahasa Lampung," "berapa kesenian hidup kembali."
Ketiga, berkelanjutan. Bukan proyek satu-dua tahun. Anggaran dialokasikan konsisten setiap tahun, dievaluasi berkala. Dalam adat, Nengah Nyappur, keterbukaan, menuntut komunikasi terbuka antara pemerintah dan masyarakat.
Keempat, dirasakan pelaku budaya. Seniman dan punyimbang jangan hanya dipanggil saat acara besar. Mereka perlu diperhatikan kesejahteraannya, diberi ruang berkarya, dan dihargai, baik materi maupun non-materi.
Tabik puun, kepada para pemimpin di Provinsi Lampung, izinkan kami menyampaikan dengan hormat namun terus terang. Kami tak minta hal mustahil. Kami minta ketulusan, konsistensi, dan keberanian mengambil langkah nyata. Jangan jadikan seniman sebagai properti politik. Mereka bukan aktor bayaran; mereka pewaris identitas kita. Jika Anda mengabaikan mereka, Anda mengabaikan akar tanah yang Anda pimpin.
Nilai Islam dan Pancasila sejalan dengan falsafah Lampung. Piil Pesenggiri selaras dengan menjaga kehormatan dalam Islam dan sila kedua Pancasila. Nemui Nyimah selaras dengan memuliakan tamu. Sakai Sambayan selaras dengan gotong-royong dan sila kelima. Inilah kekayaan kita, budaya, agama, negara berpadu harmonis. Jangan sia-siakan dengan kelalaian.
Kepada generasi muda, jangan biarkan kekecewaan memadamkan semangat. Meski pemerintah lambat, kalian bisa memulai dari lingkungan terdekat. Belajar bahasa Lampung dari kakek-nenek. Tanyakan sejarah marga. Ikut gotong-royong. Jangan malu menunjukkan kebanggaan menjadi orang Lampung. Kebanggaan sejati lahir dari hati yang mencintai tanah kelahiran.
Ketika bahasa lenyap, kita kehilangan cara berpikir. Ketika tarian hilang, kita kehilangan ekspresi jiwa. Ketika adat punah, kita kehilangan panduan hidup. Ketika semua sirna, kita hanya bayangan masa lalu tanpa makna.
Mari bersama menagih janji. Kepada pemerintah: buktikan dengan kerja nyata. Kepada masyarakat: jangan diam, tuntut hak atas program yang membela budaya. Kepada pelajar: cintai budaya kalian, karena di situlah jati diri bersemayam.
Semoga Allah membukakan hati para pemimpin kita, dan Lampung kembali kaya bukan hanya hasil bumi, tetapi juga budi pekerti dan kearifan. Wallahu a'lam bish-shawab.
Tabik puun.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar