Khutbah Jum'at: Ketika Mata Tak Lagi Cukup Menjadi Bukti. Tabayyun di Era Artificial Intelligence. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

KHUTBAH JUM'AT 27 Aug 2026 00:44 Admin NA
Khutbah Jum'at: Ketika Mata Tak Lagi Cukup Menjadi Bukti. Tabayyun di Era Artificial Intelligence. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

nataragung.id - Yogyakarta - Kita hidup pada zaman yang sangat berbeda. Dahulu orang mengatakan:
“Saya percaya, karena saya melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Hari ini, kalimat itu tidak selalu cukup. Teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan berkembang dengan sangat cepat.

Suara seseorang dapat ditiru. Wajah seseorang dapat dimasukkan ke dalam sebuah video. Foto dapat dibuat seolah-olah menggambarkan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Khutbah hari ini, khatib akan membawakan materi khutbah yang berjudul: "Ketika Mata Tak Lagi Cukup Menjadi Bukti.
Tabayyun di Era Artificial Intelligence."

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ketakwaan kepada Allah harus menyertai kita dalam setiap keadaan. Bukan hanya ketika kita berdiri dalam shalat. Bukan hanya ketika berada di masjid. Tetapi juga ketika kita membuka telepon genggam, membaca berita, menonton video, menulis komentar, dan menekan tombol share.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita hidup pada zaman yang sangat berbeda. Dahulu orang mengatakan:
“Saya percaya, karena saya melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Hari ini, kalimat itu tidak selalu cukup. Teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan berkembang dengan sangat cepat.

Suara seseorang dapat ditiru. Wajah seseorang dapat dimasukkan ke dalam sebuah video. Foto dapat dibuat seolah-olah menggambarkan sebuah kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Seseorang dapat terlihat seakan-akan mengatakan sesuatu, padahal ia tidak pernah mengucapkannya. Teknologi seperti ini sering disebut dengan deepfake.

Hari ini, bukan hanya berita tulisan yang dapat dipalsukan.
Suara dapat dipalsukan. Foto dapat dipalsukan. Bahkan video dapat dipalsukan.
Maka kalau dahulu kita diajarkan: “Jangan percaya semua yang kita dengar.”
Hari ini kita perlu menambahkan: “Jangan pula langsung percaya semua yang kita lihat.”

Namun menariknya, jamaah sekalian,
Teknologinya boleh baru. Zamannya boleh berubah. Tetapi petunjuk Allah telah mengajarkan prinsip menghadapi persoalan ini sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Prinsip itu bernama TABAYYUN.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama: Jangan Terburu-buru Percaya Sebelum Memeriksa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kalian menyesali perbuatan kalian.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Perhatikan bagaimana Allah mengakhiri ayat tersebut:
فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Kemudian kalian menyesali apa yang telah kalian lakukan.”

Berapa banyak penyesalan dimulai karena seseorang terlalu cepat percaya?
Ada keluarga yang bertengkar karena sebuah pesan. Ada persahabatan yang rusak karena sebuah screenshot. Ada kehormatan seseorang yang jatuh karena sebuah potongan video. Ada orang yang dicaci ribuan manusia karena berita yang belum jelas.

Kemudian beberapa hari setelahnya muncul klarifikasi; Ternyata tidak benar.
Tetapi masalahnya; Berita dustanya sudah tersebar ke mana-mana. Sedangkan klarifikasinya hanya dibaca sedikit orang. Inilah sebabnya seorang Muslim tidak boleh menjadi manusia yang mudah digerakkan oleh setiap informasi yang datang kepadanya.

Ketika mendapatkan berita, jangan langsung bertanya; “Bagaimana supaya cepat saya sebarkan?”
Tetapi bertanyalah;
“Apakah berita ini benar?”
“Siapa sumbernya?”
“Apakah videonya lengkap?”
“Apakah konteksnya benar?”
“Apakah orang yang diberitakan sudah memberikan penjelasan?”
Dan di zaman AI, tambah satu pertanyaan lagi:
“Apakah foto, suara, atau video ini benar-benar asli?”

Itulah tabayyun. Bukan berarti kita harus mencurigai semua manusia. Tetapi kita tidak boleh membangun keyakinan, tuduhan, dan keputusan di atas informasi yang belum jelas.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua: Tidak Semua yang Kita Terima Harus Kita Sebarkan
Ini adalah penyakit besar manusia di zaman media sosial.
Mendapat pesan… langsung forward.
Melihat video… langsung share.
Mendapat screenshot… langsung masuk grup.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat jelas:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Perhatikan;
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan orang tersebut harus menjadi pembuat berita bohong terlebih dahulu. Seseorang bisa terjatuh dalam kedustaan hanya karena ia menjadi penyambung berita yang tidak benar. Maka jangan merasa aman dengan mengatakan:
“Saya kan cuma meneruskan.”
“Bukan saya yang membuat.”
“Saya dapat dari grup sebelah.”
“Saya juga tidak tahu benar atau tidak.”

Justru karena tidak tahu benar atau tidak, mengapa disebarkan?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dahulu seseorang membutuhkan mimbar untuk berbicara kepada seribu orang. Hari ini cukup satu telepon genggam. Sekali menekan tombol share, informasi dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan manusia.
Artinya:
Semakin besar kemampuan kita menyebarkan sesuatu, semakin besar pula tanggung jawab kita di hadapan Allah.

Jangan sampai jari kita menjadi pintu tersebarnya kedustaan. Jangan sampai akun kita menjadi jalan tersebarnya fitnah. Jangan sampai grup WhatsApp kita menjadi tempat hidupnya berita-berita yang tidak jelas.

Tidak semua informasi harus dikomentari. Tidak semua berita harus dibagikan. Tidak semua peristiwa harus membuat kita ikut berbicara. Terkadang keselamatan agama seseorang justru terdapat pada kemampuannya untuk berkata:
“Saya belum tahu kebenarannya, maka saya memilih diam.”

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga: Hati-hati, di Balik Sebuah Berita Ada Kehormatan Manusia.
Masalah berita bukan hanya masalah benar atau salah. Kadang di balik sebuah berita terdapat kehormatan seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ
“Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Kehormatan seorang Muslim bukan barang murah.
Jangan kita merasa mudah menuduh seseorang. Jangan mudah memberi label. Jangan cepat menyimpulkan hanya karena potongan video 30 detik. Jangan hanya karena melihat sebuah screenshot, kemudian kita merasa sudah mengetahui seluruh kejadian.
Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Betapa sering sebuah potongan informasi melahirkan prasangka. Kemudian prasangka berubah menjadi komentar. Komentar berubah menjadi tuduhan. Tuduhan menyebar menjadi fitnah. Akhirnya kehormatan seorang Muslim rusak di hadapan ribuan manusia. Padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.

Jamaah sekalian,
Bayangkan jika yang difitnah itu adalah kita. Bayangkan wajah kita tersebar di media sosial. Nama kita dicaci. Keluarga kita membaca. Anak-anak kita melihat. Orang-orang menjauhi kita. Kemudian beberapa hari kemudian baru diketahui; Beritanya salah.
Apakah satu tulisan “mohon maaf atas kekeliruan informasi” dapat mengembalikan seluruh kehormatan yang telah rusak? Belum tentu.
Maka takutlah kepada Allah dalam menjaga kehormatan saudara kita.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat: Jangan Berbicara tentang Sesuatu yang Kita Tidak Memiliki Ilmu
Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Subhanallah. Allah menyebut: Pendengaran. Penglihatan. Dan hati.
Semuanya akan ditanya. Apa yang kita dengar. Apa yang kita lihat. Apa yang kemudian kita yakini. Dan apa yang kita lakukan berdasarkan informasi tersebut.
Maka ayat ini menjadi semakin terasa penting di zaman kita sekarang. Karena manusia menerima begitu banyak informasi setiap hari.
Buka WhatsApp: berita.
Buka Instagram: berita.
Buka TikTok: berita.
Buka X: berita.
Buka YouTube: berita.
Belum selesai memahami satu kejadian, muncul kejadian lainnya. Akhirnya manusia merasa harus mempunyai pendapat tentang semua persoalan.
Politik harus komentar. Ekonomi harus komentar. Kesehatan harus komentar. Agama harus komentar. Masalah keluarga orang harus komentar. Perselisihan orang lain harus komentar. Padahal seorang Muslim tidak diwajibkan mengetahui dan mengomentari semua hal.
Tidak tahu bukanlah aib.
Yang berbahaya adalah tidak tahu, tetapi berbicara seolah-olah tahu.

Di zaman AI, kemampuan membuat konten berkembang luar biasa.
Namun seorang Muslim harus memastikan:
Jangan sampai kemampuan teknologi kita berkembang, tetapi rasa takut kita kepada Allah justru berkurang.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kelima: Setiap Tulisan dan Unggahan Akan Dihisab
Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Dahulu ketika membaca ayat ini, manusia memahami setiap ucapan dicatat.
Hari ini kita perlu mengingat pula: Tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Komentar kita akan dimintai pertanggungjawaban. Unggahan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang kita sebarkan kepada orang lain pun dapat menjadi bagian dari amal kita. Jangan berpikir dosa hanya terjadi melalui mulut.

Hari ini seseorang dapat diam sepanjang hari, tetapi jarinya menghasilkan begitu banyak dosa.
Ia tidak mengucapkan ghibah dengan lisannya, tetapi menulisnya. Ia tidak menuduh dengan mulutnya, tetapi membagikan tuduhan orang lain. Ia tidak membuat hoaks, tetapi membantu hoaks tersebut mencapai ribuan manusia.

Karena itu, sebelum menekan tombol share, tanyakan:
“Apakah saya siap mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?”
Kalau jawabannya masih ragu: Jangan sebarkan.
Lebih baik kehilangan kesempatan menjadi orang pertama yang membagikan berita daripada menjadi orang yang ikut menyebarkan kedustaan.
Lebih baik dianggap terlambat mengetahui informasi daripada datang pada hari kiamat membawa hak manusia yang kita rusak.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Lalu Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Bersikap?
Di tengah banjir informasi seperti sekarang, mari biasakan beberapa perkara sederhana.

Pertama: Berhenti sejenak.
Jangan biarkan emosi mengalahkan akal dan agama. Berita yang membuat kita sangat marah atau sangat senang justru sering membuat kita tergesa-gesa.

Kedua: Periksa sumbernya.
Jangan hanya membaca judul. Jangan hanya melihat screenshot. Jangan hanya mendengar potongan suara. Lihat sumber asli dan konteks lengkapnya.

Ketiga: Bertanya kepada orang yang mengetahui.
Terutama jika berkaitan dengan agama, kesehatan, hukum, atau persoalan penting lainnya. Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Keempat: Tanyakan manfaatnya.
Walaupun sebuah berita benar, belum tentu semuanya harus disebarkan. Apakah ada maslahatnya? Ataukah hanya akan menambah kegaduhan? Membuka aib? Menimbulkan fitnah? Menghabiskan waktu?

Kelima: Jika pernah salah menyebarkan, segera perbaiki.
Jangan gengsi untuk mengatakan:
“Informasi yang tadi saya kirim ternyata keliru. Mohon tidak diteruskan.”
Sebagaimana kita ikut menyebarkan kesalahan, maka semampu kita ikut pula menyebarkan klarifikasinya. Inilah bagian dari amanah dan taubat kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Teknologi akan terus berkembang. Mungkin beberapa tahun lagi akan muncul kemampuan yang hari ini belum pernah kita bayangkan. Tetapi selama seorang Muslim berpegang kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya ﷺ, ia memiliki prinsip yang tidak berubah:
Tabayyun sebelum percaya.
Tabayyun sebelum menuduh.
Tabayyun sebelum menyebarkan.
Jangan serahkan akal dan hati kita kepada algoritma. Jangan serahkan kehormatan saudara kita kepada potongan video. Jangan jadikan jari kita sebagai alat menyebarkan apa saja yang datang. Dan ingatlah:
Kebenaran tidak diukur dari seberapa viral sebuah berita.
Kebenaran tidak diukur dari berapa banyak orang yang membagikannya.
Kebenaran tetap membutuhkan bukti.

Semoga Allah menjaga lisan kita. Semoga Allah menjaga jari-jari kita. Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu, kehati-hatian dan keadilan dalam menghadapi setiap berita.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia adalah kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Dan di zaman kita, Allah memberikan kemudahan yang belum dimiliki generasi-generasi sebelumnya.
Dalam hitungan detik kita dapat berkomunikasi dengan manusia yang berada ribuan kilometer dari tempat kita. Kita dapat menyebarkan ilmu. Kita dapat mengirim ayat Al-Qur’an. Kita dapat menyebarkan kajian. Kita dapat mengajak manusia kepada kebaikan. Maka teknologi bukanlah musuh. Ia adalah alat. Dan alat dapat menjadi jalan menuju pahala atau jalan menuju dosa.
Telepon genggam yang sama dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an atau menyebarkan fitnah. Internet yang sama dapat digunakan untuk belajar agama atau merusak kehormatan manusia. Artificial Intelligence yang sama dapat digunakan untuk membantu pekerjaan dan pendidikan, atau digunakan untuk membuat kedustaan dan penipuan.
Maka persoalan terbesarnya bukan hanya “Seberapa canggih teknologinya?”
Tetapi “Siapa manusia yang menggunakannya, dan apakah ia takut kepada Allah?”

Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kalau dahulu nasihatnya: “Berkatalah baik atau diam.”
Maka di zaman media sosial, kita dapat mengambil pelajaran:
Tulislah yang baik atau tahan jari kita. Sebarkan yang baik atau jangan sebarkan.
Tidak setiap sesuatu yang kita ketahui harus diketahui semua orang. Tidak setiap sesuatu yang kita lihat harus masuk ke grup. Tidak setiap peristiwa membutuhkan komentar kita. Dan tidak setiap berita yang membuat kita marah harus langsung kita sebarkan.

Kadang diam karena takut salah adalah ibadah. Kadang tidak ikut menyebarkan sebuah berita adalah keselamatan. Kadang menghapus tulisan sebelum dikirim jauh lebih baik daripada menyesal setelah ribuan orang membacanya.

Maka sebelum kita berbicara, menulis, berkomentar, dan menyebarkan sesuatu, ingatlah bahwa kita semua akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.

Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkannya dari kami kecuali Engkau.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالْبُهْتَانِ.

Ya Allah, jagalah lisan kami dari kedustaan, ghibah dan tuduhan dusta.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَالْقَوْلَ السَّدِيدَ.
Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih, dan perkataan yang benar.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَأَهْلِينَا مِنْ فِتَنِ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَمِنْ فِتَنِ الدُّنْيَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
Ya Allah, jagalah anak-anak kami, keluarga kami dari fitnah syubhat dan syahwat, serta dari berbagai fitnah dunia yang tampak maupun tersembunyi.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ وَالشُّرُورِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Wallahu Ta’ala a’lam. (*)

Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal: 28 Agustus 2026.

*) Penyusun adalah: Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 9 = ?
Berita Terkait