Keterbacaan Buku Ajar dan Kenyamanan Kognitif Siswa Perspektif Psikologi Terapan
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id - Metro - Buku pelajaran bukan sekadar kumpulan materi, tetapi merupakan bagian dari lingkungan belajar yang berinteraksi langsung dengan perhatian, persepsi, memori, motivasi, dan pemahaman siswa. Karena itu, kualitas buku seharusnya tidak hanya dilihat dari isi dan kesesuaiannya dengan kurikulum, tetapi juga dari aspek fisik dan psikologis, seperti ukuran huruf, jenis huruf, tata letak, ilustrasi, kualitas kertas, serta kenyamanan membaca. Persoalan tersebut menjadi aktual setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan pengecekan langsung terhadap buku pelajaran dari jenjang SD hingga SMA. Berdasarkan informasi resmi Presiden RI, ditemukan antara lain ukuran tulisan yang terlalu kecil dan kualitas fisik buku yang dinilai kurang baik. Presiden kemudian mendorong evaluasi dan perbaikan menyeluruh terhadap desain buku agar lebih nyaman digunakan siswa serta membandingkannya dengan buku dari negara lain sebagai bahan peningkatan kualitas.
Kebijakan tersebut memiliki relevansi kuat dengan psikologi pendidikan. Ukuran huruf yang terlalu kecil dapat meningkatkan usaha visual siswa dan menyita perhatian yang seharusnya digunakan untuk memahami materi. Penelitian Čeleš, Dolničar, dan Možina (2026) terhadap siswa usia 12–14 tahun menunjukkan bahwa ukuran huruf berpengaruh terhadap waktu membaca dan pemahaman bacaan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan tipografi bukan sekadar persoalan estetika, tetapi dapat berkaitan dengan proses belajar. Dengan demikian, pembaruan buku pelajaran nasional dapat dipandang sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah secara psikologis.
Ukuran Huruf, Beban Kognitif, dan Pemahaman.
Psikologi kognitif menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. “Cognitive Load Theory” menekankan pentingnya mengurangi beban yang tidak diperlukan dalam proses pembelajaran agar kapasitas mental siswa dapat digunakan untuk memahami materi. Dalam konteks buku pelajaran, siswa seharusnya menggunakan energi kognitif untuk memahami konsep, bukan untuk berjuang mengenali tulisan. Huruf terlalu kecil, tata letak yang padat, jarak antarkalimat yang sempit, dan kontras yang kurang dapat menambah beban yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran.
Hubungannya dapat digambarkan sederhana yaitu tulisan sulit dibaca maka usaha visual meningkat efeknya perhatian terkuras dan kapasitas kognitif berkurang serta pemahaman berpotensi menurun. Sebaliknya, tulisan nyaman menimbulkan perhatian lebih terarah yang memberikan efek yaitu beban kognitif yang tidak perlu berkurang dan kapasitas mental lebih tersedia serta hasil pemahaman akan meningkat. Penelitian terbaru tentang keterbacaan juga menunjukkan bahwa desain teks perlu mempertimbangkan karakteristik pembacanya. Zhang dkk. (2026), misalnya, menekankan pentingnya penilaian keterbacaan dalam materi pendidikan agar teks sesuai dengan kemampuan membaca peserta didik. Karena itu, pembaruan buku nasional sebaiknya tidak berhenti pada memperbesar huruf. Pemerintah perlu membangun standar keterbacaan yang mencakup ukuran dan jenis huruf, jarak antarbaris, struktur halaman, kontras, kepadatan teks, serta penggunaan gambar dan ilustrasi.
Buku yang Nyaman dan Motivasi Belajar
Buku yang nyaman secara visual juga memiliki dimensi afektif. Pengalaman siswa ketika membuka dan membaca buku dapat memengaruhi minat, motivasi, serta keterlibatan mereka dalam belajar. Buku dengan tampilan yang terlalu padat dan sulit dibaca dapat menimbulkan kelelahan serta frustrasi, khususnya pada anak yang kemampuan membacanya masih berkembang. Sebaliknya, desain yang jelas, menarik, sesuai usia, dan mudah digunakan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih positif. Dalam perspektif psikologi pendidikan, kondisi tersebut berkaitan dengan “student engagement”, yaitu keterlibatan siswa secara perilaku, emosional, dan kognitif dalam proses belajar. Buku yang ramah siswa dapat menjadi salah satu bagian dari lingkungan yang mendukung keterlibatan tersebut.
Hal ini menjadi semakin penting di tengah budaya digital. Anak-anak terbiasa memperoleh informasi melalui layar dengan tampilan visual yang cepat dan menarik. Buku cetak tidak harus meniru gawai, tetapi perlu memberikan pengalaman membaca yang nyaman, menarik, dan bermakna. Karena itu, rencana Presiden Prabowo untuk meningkatkan kualitas fisik dan desain buku dapat menjadi momentum membangun “student-friendly textbook”, yakni buku yang dirancang berdasarkan karakteristik perkembangan dan kebutuhan psikologis siswa. Untuk siswa SD, misalnya, ukuran huruf, ilustrasi, struktur halaman, dan kepadatan informasi perlu disesuaikan dengan perkembangan kemampuan membaca. Pada jenjang SMP dan SMA, kompleksitas materi dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan keterbacaan dan kenyamanan.
Menuju Buku Nasional yang Ramah Mata dan Ramah Kognisi.
Pembaruan buku pelajaran nasional sebaiknya tidak berhenti pada pergantian kertas atau memperbesar ukuran huruf. Perubahan tersebut perlu diarahkan menjadi reformasi desain buku berbasis psikologi pendidikan dan bukti empiris. Pertama, pemerintah perlu menetapkan standar nasional mengenai keterbacaan buku pelajaran. Standar tersebut mencakup tipografi, ukuran huruf, jarak antarbaris, kontras, panjang baris, tata letak, ilustrasi, dan kepadatan informasi. Kedua, buku perlu diuji langsung kepada siswa sebagai pengguna utama. Siswa SD, SMP, dan SMA dapat dilibatkan untuk menilai kenyamanan membaca, daya tarik, kelelahan, pemahaman, dan kemampuan mempertahankan perhatian. Ketiga, pengembangan buku dapat menggunakan penelitian eksperimental dengan membandingkan desain lama dan desain baru. Indikator yang diukur dapat berupa waktu membaca, pemahaman, daya ingat, kesalahan membaca, serta persepsi kenyamanan. Keempat, pembandingan dengan buku negara lain hendaknya menjadi benchmark, bukan sekadar peniruan. Indonesia perlu mengadaptasi praktik terbaik dengan mempertimbangkan bahasa, budaya, kurikulum, dan keragaman peserta didik Indonesia.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa ukuran huruf pada buku mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun dari perspektif psikologi, ia berkaitan dengan perhatian, persepsi, beban kognitif, motivasi, dan pemahaman siswa. Karena itu, gagasan Presiden Prabowo untuk memperbaiki buku pelajaran dari SD hingga SMA layak ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas yaitu membangun lingkungan belajar yang ramah mata, ramah kognisi, dan ramah anak. Buku pelajaran yang berkualitas bukan hanya buku yang memiliki materi benar dan kertas yang kuat. Buku yang berkualitas adalah buku yang mudah dilihat, nyaman dibaca, mudah dipahami, menarik dipelajari, dan mendorong siswa untuk terus membaca. Sebab, anak tidak seharusnya menghabiskan energi untuk berjuang membaca bukunya. Energi kognitif anak seharusnya digunakan untuk memahami dunia yang sedang dibacanya. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar