Kemudahan yang Menjebak: Ketergantungan Siswa terhadap AI dan Implikasinya terhadap Proses Belajar
Oleh: Diajeng Khoirunisa - Mahasiswa Tadris matematika, semester 3, UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id - Metro - Dalam beberapa tahun terakhir ini kemajuan teknologi kecerdasaan buatan atau AI, masuk keduniaan belajar siswa dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Mereka hanya tinggal mengetik pertanyaan dan dalam hitungan detik langsung terjawab dengan lengkap dan meyakinkan. Soal matematika yang bisanya sulit dikerjakan dan memakan waktu yang cukup lama, kini hanya hitungan menit selesai dikerjakan.bagi banyak siswa AI, menjadi sebuah anugerah untuk mereka. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan yang perlu disadari bersama: ketika alat bantu berubah menjadi penopang utama, kemampuan berpikir siswa bisa perlahan melemah tanpa disadari jika di lakukan secara terus menerus.
_AI sebagai alat bantu yang bermanfaat_
Sebelum membahas resikonya, penting kita mengetahui manfaat nyata dari AI yang dapat membantu siswa. AI dapat menjelaskan konsep yang sulit menggunakan Bahasa yang lebih sederhana, serta dapat menambahkan contoh yang mudah di pahami. Dapat menerjemahkan materi, sehingga membantu siswa yang tidak memiliki guru privat. Bagi siswa di daerah dengan keterbatasan belajar, AI dapat menjadi pintu pengetahuan yang belum di ketahui sebelumnya. Masalahnya bukan pada AI-nya, tetapi cara bagaimana cara ia di gunakan. Pisau bisa dipakai untuk memasak atau melukai, dan AI pun demikian. Perbedaannya terletak pada apakah siswa memakainya untuk memahami atau sekadar untuk menyelesaikan.
_Ketika bantuan menjadi katergantungan_
Ketergantungan bukan terjadi tiba-tiba.Hal itu bermulai dari sebuah keberanian kecil untuk menyalin jawaban. Karena deadline sudah dekat. Sebelum mencoba mencari jawabannya sudah bertanya ke AI, atau merasa cemas jika harus mengerjakan tugas tanpa bantuannya. Lama-kelamaan, respons pertama siswa terhadap kesulitan bukan lagi "bagaimana cara saya memecahkannya?", melainkan "apa jawabannya?"
Masalah yang tampaknya sepele, tetapi dampaknya besar. Belajar sejatinya adalah proses yang menuntut usaha untuk bergulat dengan masalah, keliru, mencoba terus-menerus, lalu akhirnya paham. Kesulitan semacam ini, yang oleh para peneliti disebut desirable difficulty, justru memperkuat pemahaman jangka Panjang. Ketika AI menghapus semua kesulitan itu, siswa memperoleh hasil tanpa melalui proses yang akan membentuk kemampuan meraka.
_Implikasi terhadap proses belajar_
Ketergantungan siswa terhadap AI dapat berdampak terhadap proses belajar siswa. Dampak pertama dan paling mendasar adalah melemahnya kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Siswa yang terbiasa menerima jawaban jadi kehilangan kesempatan untuk melatih analisanya. Contohnya dalam mengerjakan soal matematika, menyalin langkah penyelesaiannya tidak sama dengan memahami mengapa langkah itu di pilih. Saat mendapatkan soal yang lain siswa akan kebingungan.
Melemahnya kemampuan tersebut juga sering tersamarkan oleh ilusi pemahaman. Membaca jawaban yang runtut kerap sering muncul perasaan “oh saya paham” Padahal mengenali penjelasan berbeda jauh dari mampu menghasilkannya sendiri. Ilusi ini berbahaya karena baru terbongkar saat ujian, ketika tidak ada lagi AI yang bisa ditanyai. Disaat yang sama, daya tahan siswa terhadap kesulitan juga ikut menurun. Kemampuan siswa untuk menghadapi soal yang sulit adalah sebuah keterampilan yang harus di latih dan siswa yang selalu punya jalan pintas cenderung lebih cepet menyerah, karena tidak terbiasa berpikir keras.
Dampaknya juga terasa pada kreatifitas. Dalam tugas menulis, ketergantungan pada AI membuat gagasan siswa menjadi seragam serta gaya bahasanya membuat mereka kehilangan ciri khas. Menulis adalah cara berpikir; ketika proses itu dialihdayakan, kemampuan menyusun argumen ikut menumpul. Kondisi ini juga diperparah oleh kaburnya Batasan antara meminta bantuan dan mengklaim hasil kerja orang lain. Tanpa pemahaman etika yang memadai, siswa dapat menganggap penggunaan AI secara penuh merupakan hal yang wajar, sehingga kejujuran nilai akademik ikut tergerus.
Siswa sangat beresiko mempercayai jawaban yang di berikan AI secara membabi buta. Karena AI adalah buatan manusia yang dapat salah, bahkan sering kali salah dengan jawaban yang sangat meyakinkan. Siswa yang tidak memiliki dasar pemahamannya sendiri, tidak memiliki alat untuk menyadari kesalahan tersebut. Sehingga ketergantungannya pada AI justru membuat mereka semakin rentan terhadap informasi yang salah.
Pelarangan total terhadap penggunaan AI dalam Pendidikan bukanlah suatu solusi yang realitas, sebab perkembangan teknologi ini telah menjadi bagian dari lingkungan yang akan dihadapi oleh siswa. Pendekatan yang lebih tepat adalah mengembangkan literasi tentang AI, yaitu kemampuan menggunakannya secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab.
Pada tingkat individu, siswa perlu menempatkan AI sebagai sarana pendukung, bukan pengganti proses kognitif. Siswa sangat dianjurkan menyelesaikan permasalahannya secara mandiri terlebih dahulu, kemudian baru dapat memanfaatkan AI untuk memverifikasi atau petunjuk, serta menguji pemahaman dengan menjelaskan kembali materi menggunakan bahasa sendiri. Pada tingkat pembelajaran, guru berperan merancang asesmen yang menuntut proses berpikir tingkat tinggi contohnya seperti presentasi lisan, diskusi, dan penjelasan langkah pengerjaan tugasnya, sehingga penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhirnya. Pada tingkat kelembagaan, sekolah serta orang tua perlu Menyusun pedoman yang jelas mengenai batasan penggunaan AI yang dapat diterima secara akademik. Pedoman tersebut sebaiknya disertai dialog terbuka dengan siswa bukan semata-mata berupa larangan atau pengawasan, agar dapat tumbuh kesadaran etis dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi yang sesuai kebutuhan.
AI menawarkan kemudahan yang sangat luar biasa, tetapi tidak semua kemudahan membawa kebaikan. Dalam proses belajar, kesulitan bukanlah musuh; karena ia adalah bagian dari suatu proses menjadi paham. Siswa yang bijak bukanlah yang menghindari AI, melainkan yang mampu menempatkannya sebagai mitra belajar, bukan pengganti berpikir. Pada akhirnya, tujuan Pendidikan bukan menghasilan jawaban yang benar, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir, menimbang dan memecahkan suatu masalah dengan kemampuannya sendiri. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar