Cermin Retak: Apatisme Anak Negeri

ARTIKEL 31 Jul 2026 17:42 adm@nataragung.id

Oleh : Mukhotib MD.
Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

nataragung.id - Yogyakarta - Pakde Kliwon tampak terkekeh-kekeh. Jarinya menunjuk lurus ke layar telepon genggamnya. Tubuhnya terguncang-guncang. Air mata mengalir dari sudut kedua matanya.

Rupanya ia sedang berselancar melihat berbagai meme yang menunjukan satir dan sebagiannya sarkas terhadap para penguasa. Tentu saja meme itu tak lepas dari berbagai pernyataan kontroversial, dan juga serangan terhadap rakyatnya sendiri yang memiliki cara pandang dan pendapat berbeda.

Bahkan respons reaktif dari Istana juga sudah memicu kontroversi saat menyatakan mereka yang merasa Indonesia suram disarankan untuk pindah kewarganegaraan, mereka yang mengkritik sebagai antek asing. Dan terakhir pernyataan wartawan sebagai londo ireng, yang berujung dengan tuntutan agar Presiden menyampaikan permohonan maaf.

Satir dan sarkasme itu juga ditujukan kepada para pejabat yang sebagiannya membela habis presiden, sebagiannya lagi karena pernyataannya sendiri, dan yang lain tentu karena perilaku korupnya.

"Meme benar-benar efektif dalam menjalankan fungsinya untuk mendelegitimasi kekuasaan," kata Pakde Kliwon, sambil mengelus dada diujung sisa guncangan tubuhnya.

Meme ini enggak boleh dipandang sebelah mata. Proses pembusukan kepercayaan rakyat akan terus berjalan. Apatisme terus menguat terhadap Presiden. Situasi ini bisa berbahaya, sebab penghormatan bisa luluh lantak, dan mungkin juga menghilang.

Meme yang sudah tersebar dalam dunia maya tidak lah mudah dihilangkan. Ia akan terus beredar dan bertahan dalam waktu yang tak terbatas. Kalau toh penguasa akan melakukan upaya takedown, juga pasti akan membutuhkan waktu tak pendek.

Terlebih meme yang sudah masuk ke ranah aplikasi perpesanan. Situasi semakin sulit untuk dikendalikan. Tak saja menjadi bola liar ia akan lahir sebagai bola salju akan terus membesar dari waktu ke waktu. Menghancurkan apa saja yang dilaluinya.

Respons terhadap meme dengan mengajukan tuntutan sebagai melanggar UU ITE juga bukan langkah yang tepat. Laporan semacam ini justru akan memperbesar perlawanan terhadap pemegang kekuasaan.

Tindakan serius yang harus dilakukan saat ini, tentu saja memperbaiki komunikasi politik mulai dari level presiden, dan semua para pembantunya. Presiden lebih berhati-hati saat menerima laporan atau informasi dari para bawahannya.

Jika tidak, mungkin saja waktun tak berjalan sampai batas akhirnya. Apatisme merupakan awal dari tindakan rakyat yang bisa diprediksi. Kemarahan yang bisa menyala kapan saja. (*/48).

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 3 = ?
Berita Terkait