Buku Seri Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang. Seri 3: Nayuh, Sakai Sambayan yang Terlihat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 28 Sep 2026 03:20 • Admin NA • 29 kali dibaca
Buku Seri  Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang.  Seri 3: Nayuh, Sakai Sambayan yang Terlihat.  Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun. Silakan duduk di bawah tarup ini. Saya ingin bercerita tentang sebuah pesta yang bukan sekadar pesta, tentang Nayuh, di mana Sakai Sambayan berubah dari kata menjadi daging dan darah.

Dahulu kala, ketika seorang muli dan mekhanai hendak menikah, yang sibuk bukan hanya kedua mempelai. Seluruh tiyuh ikut bergerak. Sebab menurut adat, pernikahan bukan urusan pribadi. Ia adalah urusan kerabat, tetangga, dan seluruh kampung. Orang Saibatin menyebutnya Nayuh. Orang Pepadun menamainya Begawi atau Guaiyan. Namanya berbeda, tetapi denyut jantungnya sama: tidak ada satu orang pun yang boleh menanggung beban itu sendirian.

Sakai Sambayan dalam adat istiadat Nayuh bukan sekadar teori. Ia adalah kerja nyata yang terbagi dalam tahapan-tahapan yang jelas, dari sebulan sebelum pesta hingga bakul-bakul 

bantuan memenuhi beranda. Inilah Sakai Sambayan yang bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri.

Sehari setelah himpun, rapat keluarga yang memutuskan hari baik, pekerjaan dimulai. Tahap pertama disebut Tandang. Sekelompok lelaki dewasa dan bujang berangkat bersama-sama ke kebun, ke hutan, ke pasar. Mereka mencari kayu bakar, bambu, daun kelapa, dan bahan-bahan lain yang diperlukan.

Ada yang membawa parang, ada yang membawa tali, ada yang membawa bakul untuk mengangkut hasil. Sepanjang jalan mereka bercerita, tertawa, kadang menyanyi. Tandang bukan kerja paksa. Ia adalah perjalanan bersama yang mengikat hati.

Menurut penelitian tentang Sakai Sambayan dalam adat Nayuh di Marga Ranau, Tandang menjadi salah satu tahap di mana gotong royong paling terasa. Masyarakat pergi bersama-sama ke ladang atau kebun mencari bahan mentah seperti sayur, buah, dan rempah yang kelak menjadi santapan bersama.

Pulang dari Tandang, tibalah Negak Tarup. Seluruh tenaga lelaki bahu-membahu mendirikan tenda besar di halaman rumah. Tiang demi tiang ditancapkan, atap demi atap diikat. Tidak ada mandor, tidak ada upah. Yang ada hanyalah tangan-tangan yang tahu ke mana harus bergerak.

Sementara kaum lelaki mendirikan tarup, para Muli Mekhanai, bujang dan gadis, mengurus Ngedekor. Mereka menghias tempat dengan janur, kain, dan bunga. Tangan-tangan muda itu merangkai kembang telur, menyusun kursi, menata meja. Di sela-sela kerja, sesekali terdengar gelak tawa.

Ngedekor bukan sekadar mendekorasi. Ia adalah ruang bertemu, ruang saling mengenal, ruang di mana benih-benih kasih tumbuh tanpa dipaksa. Dalam masyarakat Saibatin, momen seperti ini menjadi sarana ta'aruf yang teratur, perkenalan yang terjaga adab dan kehormatannya.

Lalu tibalah dapur umum. Di bawah tarup, perempuan-perempuan tiyuh berkumpul. Ada yang Nyekhbu, memasak nasi dalam kuali besar, mengaduk sayur dalam belanga raksasa.

Ada yang Nyelimpok, membuat kue tradisional bersama. Silimpok, kue dari ketan hitam dan pisang, selalu hadir di acara-acara besar. Tangan-tangan yang menumbuk ketan, yang membungkus adonan dalam daun, yang menata kue di talam, semuanya bergerak dalam irama yang sama.

Menjelang hari H, para Seksi Junjong mulai bekerja. Mereka Nyunjong, menyiapkan hidangan untuk para tamu. Piring demi piring ditata, gelas demi gelas disusun. Tidak ada yang menghitung berapa jam mereka bekerja. Yang penting, tamu datang dan pulang dengan perut kenyang dan hati senang.

Dalam catatan tentang tradisi di Pekon Way Kerap, selain tarup besar, mereka juga membuat kubu, saung kecil untuk menanak nasi dan merebus air. Kubu ini bisa berdiri lebih dari satu, dan di sanalah para tukang Nyunjong bekerja menyiapkan hidangan.

Yang menarik, Sakai Sambayan di dapur umum ini tidak mengenal sekat. Perempuan dari keluarga kaya dan keluarga sederhana berdiri berdampingan. Yang lebih tua mengajari yang lebih muda. Yang muda membantu yang tua. Menurut adat, begitulah seharusnya, tiyuh adalah keluarga besar, dan di dapur, semua menjadi satu.

Tetapi ada satu tahap yang paling mengharukan dalam Nayuh. Namanya Ngantak Penulung.

Ngantak artinya mengantar. Penulung adalah bakul, wadah anyaman bambu yang biasa dipakai orang Lampung. Dalam tradisi Nayuh, Ngantak Penulung berarti tetangga-tetangga datang ke rumah saibul hajat membawa bakul berisi bantuan.

Isi penulung bermacam-macam. Ada yang membawa beras sekarung kecil. Ada yang membawa gula, minyak, kopi, teh. Ada yang membawa ayam hidup, telur, atau ikan asin. Ada juga 

yang hanya mampu membawa uang sekadarnya, tidak banyak, tetapi diberikan dengan tangan yang terbuka dan wajah yang cerah.

Dalam masyarakat Saibatin, penulung ini diterima oleh bebai baya, para perempuan dari kampung atau keluarga terdekat yang bertugas menyambut bakul. Mereka menerima, mencatat, lalu menyerahkan kepada tukang panggar yang mengelola sumbangan. Setelah acara selesai, bebai juga bertugas menyampaikan penguloh bakul, tanda terima kasih dari tuan rumah kepada para penyumbang. Penguloh bakul berisi siwok, lemang, cucor, dan kudapan manis khas Nayuh.

Menurut cerita lisan, penulung tidak pernah dihitung nilainya. Yang dihitung adalah kehadirannya. Sebab dalam Ngantak Penulung, yang paling penting bukan apa yang dibawa, melainkan niat baik di baliknya. Seorang tetangga yang datang membawa sebutir kelapa dengan senyum tulus lebih berharga daripada sepuluh orang yang mengirim barang tanpa pernah menunjukkan batang hidungnya.

Inilah Sakai Sambayan yang terlihat. Yang biasanya hanya terasa sebagai semangat, kini berwujud bakul demi bakul yang memenuhi beranda. Penulung datang dari segala penjuru: dari tetangga sebelah rumah, dari kerabat jauh, dari kenalan yang baru dikenal kemarin. Tidak ada 

undangan resmi, tidak ada daftar tamu. Kabar tentang hajatan menyebar dari mulut ke mulut, dan 

bakul-bakul itu datang sendiri.

Ada pesan yang diwariskan dalam tradisi ini. Kata orang tua-tua: “Hari ini aku menolong, besok aku ditolong.” Bukan karena mengharapkan balasan, bukan karena transaksi 

dagang. Tetapi karena begitulah cara tiyuh bertahan.

Hari ini rumahmu yang kebanjiran rezeki karena ada hajatan, maka aku datang membawa penulung. Suatu hari nanti, ketika rumahku yang punya hajatan, kamu pun akan datang. Tidak ada catatan utang-piutang. Yang ada hanyalah ikatan sosial yang dirajut dari bakul demi bakul.

Menurut adat, Ngantak Penulung adalah bukti bahwa seseorang diterima dalam tiyuh-nya. Orang yang tidak pernah menerima penulung ketika punya hajatan adalah orang yang terasing. Sebaliknya, orang yang penulung-nya penuh sesak sampai beranda tidak muat menampung adalah orang yang hatinya terbuka untuk sesama.

Penelitian tentang Sakai Sambayan dalam Nayuh menunjukkan bahwa nilai-nilai yang tumbuh dari praktik ini meliputi kebersamaan, toleransi, dan kesukarelaan. Kegiatan Sakai Sambayan dalam Nayuh meringankan pekerjaan dan mempercepat penyelesaiannya, karena pekerjaan akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama. Yang lebih penting, ia menciptakan rasa persatuan dan kesatuan dalam lingkungan masyarakat.

Dalam Piil Pesenggiri, ada prinsip Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Nemui artinya menerima tamu dengan baik. Nyimah artinya murah hati, suka memberi. Dalam Nayuh, kedua hal itu bertemu: yang punya hajatan menerima tamu dengan suka cita, dan yang bertamu datang dengan tangan penuh.

Dan menurut syarak, memberi bantuan kepada orang yang sedang membutuhkan adalah amal saleh. Allah mencintai orang-orang yang menolong saudaranya. Nabi bersabda, siapa yang meringankan beban seorang mukmin, Allah akan meringankan bebannya di hari kiamat. Orang Lampung sudah lama memahami ini. Mereka menyebutnya Sakai Sambayan. Syarak menyebutnya ta'awun, tolong-menolong dalam kebaikan.

Nilai-nilai ini sejalan dengan Pancasila. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tercermin dalam doa bersama sebelum Nayuh dimulai. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, hidup dalam Ngantak Penulung, setiap orang dihargai tanpa memandang apa yang dibawanya.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, terlihat dalam gotong royong yang menyatukan seluruh tiyuh. Sila keempat, Kerakyatan, hidup dalam himpun dan musyawarah. Sila kelima, Keadilan Sosial, terwujud ketika tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kekurangan.

Nayuh adalah Sakai Sambayan yang paling terlihat. Di dalamnya, semua yang biasanya tersembunyi, kasih sayang, kepedulian, rasa memiliki, menjadi nyata. Bakul-bakul penulung yang berjejer di beranda adalah bukti bahwa tiyuh ini bukan sekadar kumpulan rumah. Ia adalah keluarga besar yang saling menopang. <>

Tabik puun.

Daftar Pustaka

1. Bahagianda, M. M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 9: Harmoni Adat dan Agama dalam Keluarga Lampung. Nataragung.id.

2. Bahagianda, M. M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Nataragung.id.

3. Bahagianda, M. M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Serial Buku Pi'il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Nataragung.id.

4. Dina, T. (2024). Implementasi Sakai Sambayan dalam Adat Istiadat Nayuh pada Masyarakat Marga Ranau di Desa Way Relai Kecamatan BPR Ranau Tengah Kabupaten OKU Selatan. UIN Raden Intan Lampung.

5. Fathoni, A. (2023). Nilai-Nilai Pendidikan Pancasila dalam Budaya Kearifan Lokal Nayuh dalam Pernikahan Adat Lampung Saibatin. Universitas Lampung.

6. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju.

7. Hilman, H. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung.

8. Ibrahim, S. (1900). Buku Handak II: Mengenal Adat Lampung. Gunung Pesagi.

9. Labrak.co. (2025). Bebai Nayuh: Jantung yang Menjaga Silaturahmi.

10. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. (1982). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

11. Suryadi, dkk. (2008). Dinamika Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. LP2L Press.

12. Zulchilal, B. C. (n.d.). Makna Unsur Pi'il Pesenggiri Menurut Adat Lampung Saibatin. Universitas Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 5 = ?
Berita Terkait