Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 2: Saibatin dan Pepadun, Dua Tiang Satu Rumah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 12 Oct 2026 01:00 • Admin NA • 61 kali dibaca
Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 2: Saibatin dan Pepadun, Dua Tiang Satu Rumah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun! 
Mari duduk sebentar di beranda ini. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang sering orang salah pahami. Banyak yang mengira Saibatin dan Pepadun itu dua dunia yang tidak bisa disatukan. Padahal, kalau kita mau membuka telinga dan mendengar dengan hati, keduanya adalah dua tiang yang menopang satu rumah besar bernama Lampung.

Dahulu kala, di tanah Sekala Brak, hiduplah empat bersaudara dari Pagaruyung. Mereka turun dari gunung, membawa satu misi: menyebarkan cahaya Islam ke seluruh tanah Lampung. Di puncak Gunung Pesagi, mereka bertemu. Di sanalah mereka bersepakat membentuk Paksi Pak Sekala Brak, empat tiang, empat arah, satu tujuan.
Mereka menemukan pohon melasa kepampang yang selama berabad-abad disembah orang Tumi. Pohon itu ditebang. Kayunya diukir menjadi sebuah singgasana. Singgasana itu diberi nama Pepadun.
Sejak hari itu, "Pepadun" bukan lagi sekadar kursi kayu. Ia menjadi simbol perubahan: dari kegelapan menuju cahaya, dari menyembah pohon menuju menyembah Allah.

Dalam perjalanannya, masyarakat Lampung tumbuh menjadi dua golongan besar. Orang menyebutnya Sang Bumi Ruwa Jurai, bumi Lampung yang dihuni dua jurai, dua keturunan, dua tradisi.
Yang pertama adalah Saibatin. Mereka tinggal di pesisir, Krui, Pesisir Barat, Tanggamus, Lampung Selatan. Adat mereka kental dengan nuansa kerajaan. Garis keturunan menentukan segalanya. Gelar diwariskan dari ayah kepada anak laki-laki tertua, seperti tongkat yang berpindah tangan tanpa boleh jatuh.
Orang Saibatin memegang teguh prinsip Saibatin Lulus Kawai, apa yang dipakai ayah, itulah yang menjadi hak anak sulung. Tidak bisa ditawar, tidak bisa dibeli. Status sosial adalah garis tangan yang sudah ditulis sejak lahir.

Yang kedua adalah Pepadun. Mereka tinggal di pedalaman, Abung, Tulang Bawang, Pubian, Way Kanan. Adat mereka lebih demokratis. Siapa pun bisa naik derajat, asal sanggup memenuhi syarat adat.
Di dunia Pepadun, gelar bukan monopoli darah bangsawan. Seorang anak petani bisa menjadi Suttan jika ia mampu menyelenggarakan upacara Cakak Pepadun, memotong kerbau, membayar dau, dan duduk di singgasana adat di hadapan para Punyimbang.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan orang. Baik Saibatin maupun Pepadun, keduanya merujuk pada kitab yang sama: Kuntara Raja Niti.
Naskah kuno ini ditulis dalam aksara Lampung lama, Hat Lampung Tumbai. Salinannya pernah dimiliki Hadji Zakaria dari Pampangan, disalin pada 14 Februari 1924 dari naskah asli milik Dalom Pampangan, Pangeran Ratu Paksi.
Kitab ini bukan sekadar kumpulan aturan. Ia adalah cermin jiwa orang Lampung. Di dalamnya tertulis lima pilar kehidupan yang menjadi nafas kedua golongan adat:
Yang pertama, Pi'il Pesenggiri, tentang "perangai yang keras", tentang harga diri yang tidak boleh diinjak.
Yang kedua, Juluk Adek, tentang nama dan gelar, tentang identitas yang melekat pada seseorang sebelum dan sesudah menikah.
Yang ketiga, Nemui Nyimah, tentang sopan santun, tentang tangan yang selalu terbuka untuk tamu.
Yang keempat, Nengah Nyappur, tentang pergaulan, tentang keberanian membuka diri kepada dunia luar.
Yang kelima, Sakai Sambayan, tentang gotong royong, tentang beban yang dipikul bersama.
Lima pilar ini bukan milik Saibatin saja, bukan milik Pepadun saja. Ini milik seluruh orang Lampung. Ini adalah Piil Pesenggiri, filosofi hidup yang menjadi poros kehidupan sosial masyarakat adat Lampung.

Ada perbedaan menarik antara Saibatin dan Pepadun dalam hal gelar.
Di Saibatin, ada tradisi bernama Butetah, prosesi pemberian gelar adat yang dilaksanakan setelah pasangan menikah. Gelar diberikan sesuai garis keturunan, sesuai kedudukan, sesuai aturan yang sudah turun-temurun.
Prosesinya megah. Ada arak-arakan, ada tabuhan musik tradisional, ada tari-tarian. Para tetua adat menyampaikan petuah. Gelar diumumkan secara resmi, disematkan bersama busana adat, disertai surat keputusan adat sebagai tanda sahnya.
Bagi orang Saibatin, Butetah bukan sekadar seremonial. Ia adalah implementasi Bejuluk Beadek, kesadaran bahwa setiap orang memiliki gelar yang mencerminkan kehormatan, identitas, hak, dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat.

Di Pepadun, ceritanya berbeda. Gelar tidak diberikan, tapi diambil. Seseorang harus menyelenggarakan Cakak Pepadun, naik ke singgasana adat untuk mendapatkan gelar Suttan, Raja, Pangeran, atau Dalam.
Semakin tinggi gelar yang diinginkan, semakin besar pula syaratnya. Ada aturan yang tertulis dalam Pelatøeran Sepandjang Hadat Pepadun: "Kalo øken naik Pepadun Mega, dia misti potong kerbaw satu buat naik, satu buat turun, tetapi yang satu bolih kerbaw mati, artinya bolih bayar uang sama mega-mega 10 riyal".
Artinya: jika ingin naik ke tingkat Pepadun Mega, harus memotong kerbau satu untuk naik, satu untuk turun. Tetapi yang satu boleh diganti dengan uang, dengan nilai tertentu.
Ini bukan soal membeli gelar. Ini soal kesungguhan. Orang yang sudah mengeluarkan begitu banyak untuk mendapatkan gelar, diharapkan menghargai gelar itu dengan perilaku yang pantas.

Ada satu hal yang membuat saya selalu tersenyum ketika membicarakannya. Banyak orang di luar sana mengira adat dan Islam itu dua hal yang bertentangan. Padahal, bagi orang Lampung, keduanya adalah sahabat lama yang saling menguatkan.

Bejuluk Beadek, memiliki nama dan gelar. Dalam Islam, nama adalah doa. Gelar adalah amanah. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian."

Nemui Nyimah, ramah dan suka memberi. Bukankah Nabi juga mengajarkan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya"?

Nengah Nyappur, membuka diri dan bergaul. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengasingkan diri. Islam mengajarkan ukhuwah, persaudaraan yang luas, melampaui batas suku dan bangsa.

Sakai Sambayan, gotong royong. Al-Qur'an menyebutkan, 
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa filosofi Piil Pesenggiri sejalan dengan prinsip-prinsip Islam seperti muru'ah (kehormatan), silaturahmi (menyambung hubungan), ukhuwah (persaudaraan), dan ta'awun (saling menolong).

Dalam sebuah naskah lisan yang dicatat para tetua Saibatin, ada pesan yang indah: "Anak sai dighik ghik, di ajar ngelappok ghik. Mak sai lawok, mak sai gham. Ghik bejuluk, ghik beadok. Ghik ngelappok pesenggiri, ghik ngelappok agomo."
Artinya: "Anak yang masih kecil, diajari sejak dini. Bukan yang datang sendiri, bukan yang asing. Sejak diberi nama, sejak diberi gelar. Sejak diajari harga diri, sejak diajari agama".
Kalimat ini menunjukkan bahwa dalam keluarga Lampung, pendidikan adat dan pendidikan agama berjalan seiring. Tidak ada pemisahan. Keduanya adalah satu paket yang membentuk karakter anak.

Baik Saibatin maupun Pepadun, keduanya memiliki satu kesamaan mendasar: musyawarah.
Di Saibatin, ada Pekhatin, wadah para penyimbang adat dalam setiap musyawarah. Seseorang penyimbang memiliki kewenangan untuk membuat keputusan setelah bermusyawarah. Keputusan itu dipatuhi sebagai aturan yang mengatur dan melindungi stabilitas hubungan adat antarwarga.

Di Pepadun, ada Kepunyimbangan, struktur kepemimpinan yang terdiri dari Kepunyimbangan Marga (Bumi), Kepunyimbangan Tiyuh (Ratu), dan Kepunyimbangan Suku (Raja).
Meskipun berbeda dalam bentuk, esensinya sama: keputusan diambil bersama, bukan oleh satu orang. Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang syura, musyawarah.
Bahkan pola komunikasi dalam Kepaksian Sekala Brak menunjukkan sesuatu yang menarik. Meskipun kerajaan memiliki hierarki dengan Sultan sebagai pemegang gelar tertinggi, masyarakat tetap bebas menerima informasi dan mengemukakan pendapat. Pola komunikasinya multi arah, semua pihak bisa saling bertukar pikiran secara dialogis.

Saya pernah bertanya kepada seorang tetua: "Kenapa Saibatin dan Pepadun harus berbeda? Kenapa tidak disatukan saja?"
Beliau tersenyum. "Coba lihat rumahmu," katanya. "Berapa tiang yang menopangnya?"
"Empat," jawab saya.
"Kalau tiangnya cuma satu, apa yang terjadi?"
Saya terdiam.
"Roboh," lanjut beliau. "Rumah itu kokoh karena punya banyak tiang. Lampung juga begitu. Saibatin dan Pepadun adalah dua tiang yang menopang rumah besar kita. Kalau salah satu dicabut, rumah ini akan miring."
Saibatin mengajarkan kita tentang kesetiaan pada garis keturunan, tentang kehormatan yang diwariskan, tentang tradisi yang dijaga dengan teguh. Pepadun mengajarkan kita tentang keberanian untuk berusaha, tentang gelar yang harus diperjuangkan, tentang kesetaraan dalam kesempatan.
Kalau kita hanya punya Saibatin, mungkin kita akan terlalu kaku. Kalau kita hanya punya Pepadun, mungkin kita akan melupakan akar. Tapi kita punya keduanya. Kita punya keseimbangan.

Tabik pun! Saya sudah terlalu lama bicara. Matahari mulai condong ke barat. Tapi sebelum saya tutup cerita ini, izinkan saya menyampaikan satu hal.
Adat bukan pajangan. Adat bukan sesuatu yang kita keluarkan setahun sekali saat ada upacara, lalu kita simpan lagi di lemari. Adat adalah ingatan. Adat adalah jati diri.
Ketika seorang anak Saibatin belajar duduk di beranda menyambut tamu, itu bukan sekadar etiket. Itu adalah Nemui Nyimah yang tertanam dalam tulang.
Ketika seorang anak Pepadun menyaksikan ayahnya memotong kerbau untuk Cakak Pepadun, itu bukan sekadar pesta. Itu adalah pelajaran tentang harga diri yang harus diperjuangkan.
Ketika seorang ibu mengajarkan anak perempuannya membuat kuei untuk dibagikan ke tetangga, itu bukan sekadar memasak. Itu adalah Sakai Sambayan yang diwariskan dari tangan ke tangan.
Jangan tunggu adat menjadi sejarah. Selagi masih ada tetua yang bisa bercerita, selagi masih ada kitab yang bisa dibaca, selagi masih ada anak yang mau mendengar, catatlah. Ajarkanlah.
Karena adat bukan milik Saibatin saja. Bukan milik Pepadun saja. Adat adalah milik kita semua, Sang Bumi Ruwa Jurai, satu bumi, dua jurai, satu rumah.
Dan rumah ini, rumah Lampung, adalah bagian dari rumah yang lebih besar: Indonesia.
Tabik pun!

Daftar Pustaka:
1. Bahagianda, M. M. Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Adat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
3. Wahyuningsih, Eko. Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang. Jakarta: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, 2013.
4. Medani, Mohammad. Piil Pesenggiri: Jejak Adat dan Filosofi Hidup Orang Lampung. Nataragung.id, 2026.
5. Syahputra, A. Sejarah Sekala Brak dan Penyebaran Islam di Lampung. Jurnal Sejarah Lampung, 2017.
6. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat. Sejarah Adat Lampung Barat. Liwa: Pemerintah Daerah, 2013.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 1 = ?
Berita Terkait