Ragam Wajah Kesiapan Sekolah dan Madrasah Menghadapi Visitasi Akreditasi Perspektif Psikologi Terapan
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id - Metro - Memasuki Oktober 2026, penjadwalan visitasi akreditasi sekolah dan madrasah kembali menjadi perhatian satuan pendidikan yang telah ditetapkan sebagai sasaran. Bagi asesor, setiap kunjungan bukan sekadar agenda verifikasi dokumen, melainkan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana layanan pendidikan dijalankan. Sebagaimana biasanya, akan dijumpai beragam wajah kesiapan yaitu ada yang benar-benar siap, ada yang siap tetapi kurang percaya diri, ada yang bersiap sebisanya, bahkan ada yang belum siap. Perbedaan tersebut menarik dikaji melalui psikologi terapan. Sebab, kesiapan bukan hanya persoalan kelengkapan administrasi, tetapi juga menyangkut pemahaman instrumen, kepemimpinan, kerja sama, serta kondisi psikologis warga sekolah atau madrasah. Dalam The Fearless Organization, Edmondson (2019) menekankan pentingnya keamanan psikologis agar anggota organisasi berani menyampaikan persoalan, belajar dari kesalahan, dan melakukan perbaikan. Prinsip ini relevan dalam membangun budaya mutu pendidikan.
_Ragam Wajah Kesiapan: Dari Percaya Diri hingga Tidak Siap_
Wajah pertama adalah sekolah atau madrasah yang benar-benar siap. Dokumen tertata, pembagian tugas jelas, guru memahami praktik pembelajaran, dan tenaga kependidikan mampu menjelaskan tanggung jawabnya. Mereka tidak perlu sibuk menciptakan kesan sempurna karena bukti yang ditampilkan berasal dari pekerjaan sehari-hari. Wajah kedua adalah sekolah yang sebenarnya siap, tetapi kurang percaya diri. Dokumen tersedia dan kegiatan berjalan, tetapi guru masih gugup ketika diwawancarai atau khawatir jawabannya dianggap salah. Mereka membutuhkan simulasi, komunikasi yang menenangkan, dan penguatan keyakinan diri, bukan tekanan tambahan.
Wajah ketiga adalah sekolah yang bersiap sebisanya. Kesibukan baru meningkat menjelang visitasi; dokumen dikumpulkan tergesa-gesa dan pembagian tugas kurang terencana. Sementara itu, wajah keempat adalah sekolah yang belum siap, baik secara administratif maupun substantif. Dokumen sulit ditemukan, pemahaman instrumen terbatas, dan praktik perbaikan mutu belum berjalan konsisten. Keempat kondisi tersebut tidak semestinya langsung menjadi dasar untuk menghakimi warga sekolah. Sebaliknya, perbedaan kesiapan perlu menjadi bahan refleksi mengenai kualitas kepemimpinan, budaya kerja, dan dukungan yang tersedia. Kecemasan perlu diatasi dengan pendampingan, ketidakteraturan dengan manajemen yang lebih baik, sedangkan ketidaksiapan mendasar membutuhkan perbaikan yang nyata.
_Kesiapan Sejati: Integritas, Mental, dan Budaya Mutu_
Kesiapan menghadapi visitasi tidak cukup diukur dari banyaknya dokumen atau rapinya ruangan. Yang lebih penting adalah kesesuaian antara dokumen, penjelasan warga sekolah, dan praktik pendidikan yang benar-benar berlangsung. Panduan resmi BAN-PDM menempatkan dokumentasi, deskripsi kinerja, wawancara, dan observasi sebagai bagian dari proses akreditasi (BAN-PDM, 2025). Karena itu, kepala sekolah atau madrasah perlu membangun tim kolaboratif, membagi tanggung jawab secara proporsional, memeriksa bukti berdasarkan instrumen, serta memberi kesempatan kepada guru untuk berlatih menjelaskan kinerja secara jujur. Persiapan juga harus memperhatikan kesehatan fisik, istirahat, dan pengelolaan kecemasan. Tidak ada manfaatnya dokumen tampak sempurna apabila warga sekolah bekerja dalam tekanan berlebihan atau terpaksa menyampaikan hal yang tidak sesuai kenyataan.
Dalam perspektif Islam, kesiapan merupakan bagian dari ikhtiar dan tanggung jawab. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar orang beriman memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Ayat ini mengingatkan bahwa evaluasi seharusnya mendorong perencanaan dan perbaikan, bukan sekadar kesibukan menjelang penilaian. Rasulullah saw. juga bersabda, “Innallāha katabal-iḥsāna ‘alā kulli syai’in”, sesungguhnya Allah menetapkan ihsan dalam segala sesuatu (HR. Muslim, no. 1955). Semangat ihsan mengajarkan bahwa pekerjaan pendidikan perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan terus diperbaiki. Akreditasi pun seharusnya dijalani dengan integritas, bukan manipulasi data, rekayasa bukti, atau pengarahan jawaban yang menyesatkan.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa ragam wajah kesiapan sekolah/madrasah dalam visitasi akreditasi menunjukkan bahwa setiap sekolah atau madrasah memiliki kebutuhan pendampingan yang berbeda. Sekolah yang siap perlu mempertahankan konsistensi; yang kurang percaya diri perlu dikuatkan; yang bersiap sebisanya perlu membenahi manajemen; sedangkan yang belum siap memerlukan evaluasi mendasar dan dukungan berkelanjutan. Visitasi bukan panggung untuk mempertontonkan kesempurnaan, melainkan kesempatan untuk melihat kenyataan dan memperbaiki kekurangan. Ukuran keberhasilan bukan hanya bagaimana sekolah tampil ketika asesor datang, tetapi bagaimana peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang bermutu setiap hari. Sebab, akreditasi yang bermakna bukan sekadar kesiapan menghadapi penilaian, melainkan kesiapan seluruh warga sekolah untuk terus belajar, berubah, dan bertumbuh. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar