Jihan Evaluasi Penanganan Karhutla, Kesiapan Personel dan Operasi

PEMPROV LAMPUNG • 19 Oct 2026 12:12 • Arif Natar • 24 kali dibaca
Jihan Evaluasi Penanganan Karhutla, Kesiapan Personel dan Operasi

nataragung.id, Bandar Lampung – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) masih menghadapi tantangan serius. Rapatnya tajuk pepohonan membuat upaya pemadaman dari udara belum optimal menjangkau permukaan lahan gambut. Karena itu, penguatan personel dan peralatan pemadaman darat menjadi langkah penting untuk mengendalikan kebakaran.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela meninjau penanganan karhutla sekaligus memastikan kesiapan personel dan peralatan pendukung di Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan, Minggu (18/10/2026).

Dalam penanganan karhutla di TNWK, sebanyak 350 personel gabungan dikerahkan, termasuk tambahan 200 personel dari unsur TNI. Dukungan operasional juga diperkuat melalui bantuan 15 unit nozzle dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menunjang pemadaman oleh tim darat.

Penguatan tersebut dinilai penting karena operasi pemadaman melalui udara atau water bombing menghadapi kendala kondisi vegetasi TNWK yang memiliki tajuk pepohonan rapat. Akibatnya, air yang dijatuhkan dari udara tidak selalu dapat menjangkau titik kebakaran di permukaan lahan secara optimal.

Kondisi ini membuat upaya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan dukungan udara. Personel di lapangan tetap memegang peranan penting untuk menjangkau titik api, melakukan pemadaman langsung, dan mencegah kebakaran meluas.

Tim gabungan pun terus mengintensifkan pemadaman melalui jalur darat dan udara dengan mempertimbangkan kondisi medan serta cuaca yang memengaruhi efektivitas operasi.

Jihan Minta Kesiapan Personel dan Peralatan Dipetakan

Di tengah upaya penanganan karhutla, Jihan meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mendata seluruh personel dan peralatan yang siap dikerahkan di setiap kabupaten/kota.

Pendataan tersebut diperlukan untuk mengetahui kapasitas penanganan karhutla secara menyeluruh, sekaligus memastikan dukungan dapat digerakkan secara cepat dan tepat sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah.

Jihan juga mengarahkan agar kemampuan penanganan dipetakan berdasarkan skala kebakaran, mulai dari kategori kecil, sedang, hingga besar.

Dengan pemetaan tersebut, kebutuhan personel, peralatan, dan dukungan operasional dapat disesuaikan dengan tingkat ancaman kebakaran. Langkah ini juga penting agar penanganan tidak hanya terpusat di TNWK, tetapi mampu mengantisipasi potensi karhutla di wilayah lain di Provinsi Lampung.

Operasi Modifikasi Cuaca Catat Sembilan Penerbangan

Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Lampung selama periode 11–18 Oktober 2026 mencatat sembilan sortie penerbangan dalam delapan hari pelaksanaan.

Operasi tersebut menggunakan satu pesawat Cessna Caravan 208B EX yang berpangkalan di Bandara Radin Inten II. Dalam pelaksanaannya, OMC memanfaatkan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 4.800 kilogram dry ice sebagai bahan penyemaian awan.

Penyemaian NaCl pada 11–13 Oktober berhasil memicu hujan. Namun, pergerakan angin menyebabkan hujan turun di Kota Metro dan Kecamatan Natar, bukan di kawasan TNWK yang menjadi sasaran utama operasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan modifikasi cuaca menghadapi tantangan tersendiri. Hujan yang terbentuk belum tentu turun tepat di wilayah yang membutuhkan, sehingga efektivitas operasi tetap dipengaruhi kondisi atmosfer dan arah pergerakan angin.

Karena itu, dukungan OMC perlu berjalan beriringan dengan kesiapan personel, peralatan, serta strategi pemadaman langsung di lapangan.

Titik Api Berkepercayaan Tinggi Nihil, Pemantauan Tetap Dilanjutkan

Pemantauan titik api di sejumlah wilayah Lampung juga terus dilakukan. Berdasarkan hasil evaluasi, jumlah titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi turun dari 11 titik menjadi nihil.

Meski demikian, titik api dengan tingkat kepercayaan sedang masih terpantau. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan tidak boleh dikendurkan, mengingat perkembangan kebakaran dapat dipengaruhi perubahan cuaca dan kondisi vegetasi di lapangan.

Jihan juga meminta agar informasi mengenai titik api dan polusi asap yang beredar di media sosial segera diverifikasi melalui pengecekan kondisi terkini di lapangan.

Langkah ini penting untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat benar dan sesuai keadaan terbaru. Foto maupun kabar lama yang kembali beredar tanpa konteks waktu dan lokasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta keresahan di tengah masyarakat.

Verifikasi informasi menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama ketika masyarakat mengandalkan media sosial untuk memperoleh perkembangan situasi di lapangan.

Koordinasi Lintas Instansi Jadi Kunci

Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat penanganan karhutla melalui pengerahan personel gabungan, dukungan peralatan, pemantauan titik api, serta koordinasi lintas instansi.

Penanganan yang efektif membutuhkan kombinasi strategi, mulai dari pemadaman langsung di darat, dukungan operasi udara, hingga upaya modifikasi cuaca sesuai kondisi yang memungkinkan.

Tantangan di kawasan TNWK menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan kesiapan menyeluruh dan respons yang sesuai karakteristik wilayah. Dengan dukungan personel yang memadai, peralatan yang tepat, serta koordinasi yang solid, upaya pengendalian kebakaran diharapkan semakin efektif untuk melindungi kawasan hutan dan masyarakat dari dampak karhutla.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 6 = ?
Berita Terkait