Pak Duki: Arsitek Modernisasi Universitas Lampung

ARTIKEL 11 Sep 2026 15:19 Admin NA 49 kali dibaca
Pak Duki: Arsitek Modernisasi Universitas Lampung

Prof. Admi Syarif, PhD.
Guru Besar Unila dan Penulis buku “_50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri_”

nataragung.id - Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Pada masa Prof. Alhusni Duki Hamim, SE, MSc, mana yang lebih banyak dibangun: sumber daya manusia atau infrastruktur?”

Jujur, saya akan mengatakan: pertanyaan ini tidak mudah dijawab.

Sebab, warisan kepemimpinan Pak Duki tidak hanya berupa apa yang dapat kita lihat dengan mata. Ada gedung, ada  kolam renang, ada infrastruktur. Tetapi ada pula sesuatu yang jauh lebih penting dan sering kali tidak terlihat: sistem, kelembagaan, budaya mutu, teknologi, dan manusia yang kemudian menjadi penggerak Universitas Lampung.

Karena itu, kalau hari ini kita mencoba membaca kembali sejarah Unila, saya melihat Prof. Alhusni Duki Hamim bukan sekadar sebagai rektor yang membangun fasilitas.

Beliau adalah salah satu arsitek yang meletakkan fondasi modernisasi Universitas Lampung.

Pada zaman Pak Duki, Unila memang membangun berbagai infrastruktur baru. Ada fasilitas-fasilitas yang monumental dan sampai sekarang menjadi bagian dari sejarah fisik kampus, termasuk kolam renang.

Tetapi menurut saya, akan terlalu sederhana kalau warisan Pak Duki hanya diukur dari berapa banyak bangunan yang berdiri pada masa kepemimpinannya.

Yang membuat sebuah universitas hidup adalah manusia di dalamnya, sistem yang mengaturnya, ilmu yang dikembangkan, serta budaya akademik yang dibangun.
Beliau mulai membangun sesuatu yang pada zamannya mungkin belum terlalu populer dibicarakan, tetapi dampaknya terasa sangat panjang:

Salah satu jejak penting masa Pak Duki adalah berkembangnya Pascasarjana Universitas Lampung. Pascasarjana ini merupakan simbol bahwa Unila  saat itu mulai berani naik kelas.

Universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan sarjana. Ia harus mampu menghasilkan doktor, peneliti, pemikir, dan pengembang ilmu pengetahuan.

Dan dari sinilah kemudian muncul kebutuhan yang lebih besar terhadap dosen-dosen berkualifikasi doktor, penelitian yang lebih serius, publikasi ilmiah, dan pengembangan berbagai disiplin ilmu.

Jejak lainnya adalah pengembangan UPT Pusat Komputer, yang dibantu oleh Bapak Anahori Djausal.

Hari ini kita mungkin menganggap keberadaan pusat teknologi informasi di universitas sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi kita harus melihatnya dalam konteks zamannya.

Internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Komputer belum berada di setiap meja. Digitalisasi belum menjadi kata yang begitu akrab seperti sekarang.

Namun Pak Duki sudah melihat bahwa universitas modern membutuhkan teknologi informasi sebagai tulang punggung pengelolaan institusi.

Kalau hari ini kita berbicara tentang sistem informasi akademik, data mahasiswa, administrasi digital, jaringan komputer, dan berbagai layanan berbasis teknologi, maka kita tidak boleh melupakan bahwa ada Pak Duki yang mulai meletakkan fondasinya.

Modernisasi memang sering kali dimulai dari sesuatu yang pada awalnya terlihat kecil.

Pak Duki juga meninggalkan jejak penting dalam pengembangan UPT Penjaminan Mutu.

Penjaminan mutu mengajarkan sebuah prinsip sederhana: universitas tidak boleh hanya bekerja; universitas harus memastikan bahwa yang dikerjakannya berkualitas.

Pada masa itu, Pak Duki telah mulai meletakkan cara berpikir bahwa Unila harus dikelola dengan standar, evaluasi, perbaikan berkelanjutan, dan ukuran kualitas yang jelas.

Hal yang sama terlihat dalam pengembangan lembaga penelitian dan lembaga pengabdian kepada masyarakat.
Unila didorong untuk tidak hanya menjadi tempat dosen mengajar dan mahasiswa belajar.

pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tiga pilar yang kemudian menjadi identitas utama perguruan tinggi.

Ada pepatah yang sangat kita kenal:

Gajah mati meninggalkan gading.
Harimau mati meninggalkan belang.
Manusia mati meninggalkan kenangan.

Karena itu, menurut saya, sangatlah pantas menyebut Prof. Alhusni Duki Hamim  sebagai “Arsitek Modernisasi Universitas Lampung”, bukanlah sekadar mantan rektor. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 2 = ?
Berita Terkait