Mutiara Pagi: Merawat Yang Baik, Menyambut Yang Lebih Baik. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Ada sebuah ungkapan dalam Bahasa Arab yang amat mendalam maknanya:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Al-muhāfazhatu ‘alal qadīmiṣ-ṣāliḥ, wal-akhdzu bil-jadīdi al-aṣlaḥ.
“Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”
Ungkapan ini mengajarkan kepada kita sebuah sikap yang bijaksana dalam menghadapi perubahan zaman. Tidak semua yang lama harus ditinggalkan, sebab di dalamnya mungkin tersimpan ilmu, hikmah, pengalaman, dan nilai-nilai perjuangan yang tetap relevan sepanjang masa. Sebaliknya, tidak semua yang baru harus ditolak hanya karena berbeda dari kebiasaan yang selama ini kita jalani.
Tradisi yang baik perlu dirawat, bukan sekadar dikenang. Nilai-nilai perjuangan para pendahulu harus terus dihidupkan, bukan hanya diceritakan. Namun, ketika zaman berubah dan tantangan dakwah semakin beragam, kita juga dituntut untuk berpikir terbuka, mencari cara-cara baru, serta memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan dakwah Islam.
Yang kita pertahankan adalah nilai kebaikannya, bukan semata-mata bentuk lamanya. Yang kita sambut adalah kemaslahatan dari pembaruan, bukan kebaruan itu sendiri.
Di sinilah pentingnya kebijaksanaan. Kita tidak boleh kehilangan akar karena terlalu bersemangat mengejar perubahan. Namun, kita juga tidak boleh berhenti melangkah hanya karena merasa nyaman dengan apa yang sudah ada.
Dakwah membutuhkan keteguhan dalam prinsip sekaligus keluwesan dalam strategi. Akidah dan nilai-nilai Islam harus dijaga, sementara metode penyampaian, pola pembinaan, dan pendekatan kepada masyarakat dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman, selama tetap berada dalam koridor syariat.
Sebab, tantangan dakwah hari ini tidak selalu sama dengan tantangan kemarin. Generasi berubah, persoalan masyarakat berkembang, dan cara manusia berkomunikasi pun mengalami pergeseran. Jika dakwah ingin tetap hadir dan memberi pengaruh, para pengembannya harus mampu membaca zaman tanpa kehilangan arah perjuangan.
Pada akhirnya, kemajuan bukan berarti meninggalkan seluruh warisan masa lalu. Kemajuan adalah kemampuan mengambil pelajaran terbaik dari masa lalu, menjawab kebutuhan hari ini, dan menyiapkan jalan yang lebih baik bagi masa depan.
Merawat yang saleh dari masa lalu, memperbaiki yang kurang, dan mengambil yang lebih maslahat dari perkembangan zaman.
Itulah semangat yang perlu terus dihidupkan dalam perjalanan dakwah: berpegang teguh pada prinsip, terbuka terhadap perbaikan, dan senantiasa mengarahkan setiap langkah kepada kemaslahatan umat.
Semoga Allah membimbing langkah para pejuang dakwah agar tetap teguh menjaga nilai-nilai Islam, bijaksana menghadapi perubahan, dan istiqamah dalam mengemban amanah perjuangan. (*/271)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar