Mutiara Pagi: Ketika Jauh, Kita Baru Merasakan Nikmatnya Dekat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI • 11 Oct 2026 00:06 • Admin NA • 8 kali dibaca
Mutiara Pagi: Ketika Jauh, Kita Baru Merasakan Nikmatnya Dekat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada nikmat yang baru terasa berharga ketika ia tak lagi berada di sisi kita. Ada kehangatan yang baru kita rindukan setelah lama tak merasakannya. Ada kehadiran yang dahulu kita anggap biasa, tetapi ketika jarak memisahkan, justru itulah yang paling kita cari.

Begitulah kehidupan mengajarkan kita tentang arti sebuah kedekatan.

Ketika masih tinggal bersama orang tua, mungkin kita menganggap nasihat mereka sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan terkadang terasa membosankan. Namun, ketika mereka semakin tua, ketika rambut mereka memutih dan langkah mereka mulai melemah, kita baru menyadari bahwa suara yang dahulu sering kita dengar itu adalah salah satu suara paling berharga dalam hidup kita.

Ketika masih bersama seseorang yang kita cintai, mungkin kita tidak selalu pandai menghargai kehadirannya. Kita sibuk dengan urusan sendiri, terlalu asyik mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa menikmati seseorang yang telah lama berada di samping kita. Namun, ketika jarak datang, ketika pertemuan tak lagi mudah, barulah kita mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di tempat yang jauh. Kadang-kadang, ia pernah duduk di samping kita, menemani secangkir kopi, berbagi cerita sederhana, atau sekadar menanyakan kabar.

Kita sering sibuk mencari kebahagiaan yang belum datang, sampai lupa mensyukuri kebahagiaan yang sedang berada di hadapan.

Begitu pula dengan nikmat sehat. Saat tubuh masih kuat, kaki masih mampu melangkah, dan tangan masih leluasa bekerja, kita jarang memikirkan betapa berharganya semua itu. Kita berjalan tanpa banyak bersyukur, beraktivitas tanpa banyak merenung. Sampai suatu hari tubuh mulai melemah, langkah terasa berat, dan aktivitas sederhana membutuhkan perjuangan. Barulah kita memahami bahwa kemampuan untuk berjalan, berdiri, dan menghirup udara dengan lega adalah karunia yang tidak ternilai.

Jarak memang aneh. Ia bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Ia mengubah kehadiran menjadi kerinduan, kebersamaan menjadi kenangan, dan hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang ingin kita ulangi, meskipun kita tahu waktu tak selalu bersedia kembali.

Namun, tidak semua jarak diukur dengan langkah kaki. Ada jarak yang terbentang di antara dua hati, meskipun keduanya berada di bawah atap yang sama. Ada orang yang dekat secara fisik, tetapi jauh dalam perhatian. Ada pula yang terpisah oleh lautan, tetapi tetap dekat karena doa dan kasih sayang.

Sebab, kedekatan yang sesungguhnya bukan semata-mata tentang seberapa dekat seseorang berada, melainkan seberapa dalam ia hidup di dalam hati kita. (*/265)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 3 = ?
Berita Terkait